Elegi Cinta Nayla

Elegi Cinta Nayla
Bab. 11


__ADS_3


Happy reading 💕


"Bawa Zidan kemari!" pinta Rizal dengan suaranya yang terdengar lirih. Namun terdengar oleh Nayla.


"Papa ingin tahu bagaimana wajah dan kepribadian pemuda yang telah lancang menjerat hati putri papa," sambungnya diiringi senyum tipis yang terlukis samar di wajah pucat nya.


"Baik, Pa. Nayla akan membawa Mas Zidan ke kamar ini untuk menemui Papa. Tapi Papa harus janji sama Nayla! Papa nggak akan berucap dan bersikap kasar pada Mas Zidan. Papa nggak akan menyuruh Mas Zidan untuk meninggalkan Nayla, apalagi sampai mengancamnya."


"Papa tidak bisa berjanji, Nay. Tergantung bagaimana penilaian papa nanti terhadap Zidan."


"Nayla yakin, Papa akan menyukai pribadi Mas Zidan, karena Mas Zidan pemuda yang sangat sopan, sederhana, cerdas, memahami syariat agama, dan pastinya teramat berbeda dengan Jordan."


"Itu menurut penilaianmu, belum tentu menurut penilaian papa."


"Nanti jika Papa sudah bertemu dengan Mas Zidan, Nayla yakin ... penilaian Papa terhadap Mas Zidan akan sama dengan penilaian Nayla."


"Hm, semoga saja, Nay."


"Iya, Pa. Semoga."


"Ya sudah, segera bawa Zidan kemari, sebelum papa berubah pikiran!"


"Ogeh, Pa," ucap Nayla. Tentu saja diiringi sebaris senyum yang menampakkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi.


Nayla lantas beranjak dari posisi duduk, lalu melabuhkan kecupan tanda sayang di dahi Rizal sebelum ia keluar dari kamar.


Rizal bergeming. Ia teramat speechless saat Nayla tanpa aba-aba melabuhkan kecupan sayang di dahinya, sebab baru kali ini Nayla melakukannya.


Rupanya kecupan yang dilabuhkan oleh Nayla membuat Rizal tersadar bahwa putri semata wayangnya itu teramat menyayanginya.


Rizal juga tersadar, bahwa pelukan Nayla menciptakan rasa bahagia di jiwa dan mampu menenggelamkan keangkuhan hati.

__ADS_1


Selepas Nayla berlalu pergi, Rizal merutuki dirinya di dalam hati, sebab selama ini ia dan Rumi telah abai pada putri mereka dan lebih mementingkan urusan bisnis. Rizal merasa teramat menyesal, karena ia tidak pernah memeluk dan mencurahi putrinya dengan kasih sayang.


Yang Rizal tau, putrinya hanya butuh dimanjakan dengan kemewahan, bukan curahan kasih sayang darinya, maupun dari Rumi.


"Ehem." Ilham sengaja berdehem untuk mengalihkan atensi Rizal.


"Maaf, Tuan. Saya harus segera kembali ke rumah sakit, karena ada pasien yang sudah menunggu. Jaga pola makan Tuan dan minumlah vitamin yang sudah saya resep kan. Sekali-kali, berlibur lah bersama keluarga atau hang out bersama rekan Tuan. Jangan terus menerus bekerja agar pikiran dan badan Tuan tidak terlalu letih ataupun mengalami stres," tuturnya seraya menasehati Rizal.


"Iya, Dok. Terima kasih."


"Sama-sama, Tuan Rizal."


Setelah berpamitan pada Rumi dan Maria, Ilham membawa langkahnya--keluar dari kamar Rizal, diikuti oleh Sinta yang berjalan di belakangnya.


"Eng, Dok. Ada yang ingin saya tanyakan pada Dokter. Boleh tidak, Dok?" Sinta memberanikan diri membuka suara, meski ia harus menahan gejolak rasa yang memenuhi relung kalbu.


Seketika Ilham menghentikan ayunan langkah begitu mendengar ucapan Sinta. Kemudian ia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan gadis berparas manis itu.


"Dok --" Pita suara Sinta tercekat saat wajah rupawan Ilham memenuhi ruang pandang, sehingga ia tidak kuasa melanjutkan untaian kata yang ingin diucapkannya.


"Eng, a-nu ... Dok. Kenapa setiap bertemu dengan Dokter Ilham, aliran darah saya seolah terhenti dan degup jantung saya berdentum-dentum tak karuan. Apa mungkin, itu tandanya saya menderita penyakit jantung, Dok?"


Ilham tertawa kecil dan menggeleng pelan. Ia teramat geli mendengar ucapan Sinta yang menggelitik telinga.


"Dok, saya bertanya serius."


"Ya, saya tahu. Jujur, saya bingung harus menjawab apa?"


"Dokter tidak harus menjawab sekarang. Nanti atau besok saja setelah Dokter memeriksa keadaan jantung saya."


"Hmm, baiklah. Karena saya harus segera kembali ke rumah sakit, saya belum bisa memeriksa Nona Sinta sekarang. Tapi, saya akan memberi resep mujarab untuk Nona Sinta."


"Resep mujarab?"

__ADS_1


"Heem."


Ilham menulis sesuatu di secarik kertas putih, lalu menyerahkan kertas itu pada Sinta.


"Bacalah resep ini di kamar, ketika Nona Sinta beristirahat!"


"Baik, Dok. Saya akan membacanya nanti malam. Tapi kalau saya tidak bisa membaca tulisan tangan Dokter, saya akan membawa resep ini langsung ke apotik dan menyerahkannya pada apoteker."


"Saya jamin, Nona Sinta pasti bisa membacanya sendiri, tanpa harus datang ke apotik dan bertanya pada apoteker."


Sebelum Sinta sempat membalas ucapannya, Ilham berlalu pergi dari hadapan gadis itu dan berjalan menuju halaman mansion--tempat mobilnya terparkir.


Sinta bergeming dan menatap punggung Ilham hingga menghilang dari pandangan mata.


"Sin, kenapa bengong?" Suara Nayla sukses mengalihkan atensi Sinta. Sontak, Sinta pun menoleh ke arahnya.


"Eh, Non Nayla."


"Jangan bengong! Lebih baik, kamu segera membantu Sindi menyiapkan makan siang untuk Papa dan Mama. Mereka berdua belum makan siang 'kan?"


"Astogeh, iya Non. Saya sampai lupa."


"Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Papa pasti sudah menunggu kami."


"Iya, Non."


Nayla lantas mengayun tungkai, meninggalkan Sinta dan memandu para tamunya berjalan menaiki anak tangga--menuju kamar Rizal.


Meski dihinggapi oleh perasaan takut, Nayla berusaha menepis rasa itu dan melafazkan pinta di dalam hati.


Ya Allah, hilangkan lah rasa takut ini. Mudahkanlah urusan hamba dan luluhkan lah hati Papa, sehingga Papa mau menerima Mas Zidan sebagai calon menantunya.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Bersambung ....


-Ayuwidia-


__ADS_2