
Happy reading 💕
Nayla meraup udara dalam-dalam dan melafazkan basmallah sebelum masuk ke dalam kamar Rizal.
Perasaannya campur aduk. Antara takut, ragu, dan was-was.
Entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasa tidak yakin papanya akan menerima Zidan sebagai calon menantu.
Berbeda dengan Zidan. Ia tampak tenang dan seolah tidak merasa nervous sedikit pun.
"Assalamu'alaikum ...." Zidan mengucap salam disertai seutas senyum yang terlukis indah di wajah tampannya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Maria membalas salam yang diucapkan oleh Zidan dan turut menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, begitu juga Rumi.
Rumi terkesan dengan sikap Zidan yang teramat sopan, sehingga ia pun langsung menyukai Zidan dan teramat setuju jika Nayla memilih pemuda itu sebagai calon suami.
Lantas bagaimana dengan Rizal?
Rizal memasang wajah datar. Ia mengamati Zidan dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
Namun sepersekian detik kemudian, Rizal mengerutkan dahi, hingga kedua pangkal alisnya saling bertaut.
"Sepertinya, kita pernah bertemu. Tapi di mana?" Rizal berusaha mengingat-ingat wajah Zidan. Seolah ia pernah bertemu dengannya.
__ADS_1
"Kita memang pernah bertemu. Bukan hanya bertemu, tetapi kita pernah berbincang." Zidan menyahut ucapan Rizal tanpa keraguan sedikit pun.
"Ya, saya ingat. Kamu ban-dar ju-di dan pemilik Nig-ht Hotel 'kan?"
"Iya, benar sekali. Tapi itu dulu, sebelum saya memutuskan untuk berhijrah."
Rizal membawa tubuhnya bangkit dari posisi berbaring. Ia mengepalkan tangan dan melayangkan tatapan tajam ke arah Zidan. Kentara sekali ia teramat murka pada pemuda yang telah menjerat hati putrinya itu.
Sementara Rumi, ia terlihat sangat syok begitu mengetahui kebenaran tentang Zidan. Rumi sungguh tidak menyangka jika Zidan pernah menjadi seorang ban-dar ju-di dan pemilik Nig-ht Hotel. Hotel yang khusus disewakan oleh Zidan untuk berbuat zi-na.
"Kurang a-jar! Berani-beraninya kau mendekati putriku dan ingin menikahinya!" Suara Rizal terdengar menggelegar. Namun tidak membuat Zidan merasa takut sedikit pun.
Zidan sudah menduga sebelumnya bahwa orang tua Nayla akan murka padanya jika mereka mengetahui masa lalunya yang teramat kelam.
"Pa, tenang. Tahan emosi Papa. Berikan Nayla dan Mas Zidan kesempatan untuk berbicara --" Nayla berusaha menenangkan papanya, tetapi sia-sia. Rizal tetap tidak bisa menahan emosi dan malah semakin meluapkan kemurkaannya terhadap Zidan.
"Pa, Mas Zidan bukan pria breng-sek. Dia pria baik-baik --"
"Bagaimana kamu bisa mengatakan, ban-dar ju-di seperti dia ... pria baik-baik, Nay? Papa yakin, kamu sudah terkena mantra pemikat. Kamu sudah di jampi-jampi olehnya. Kamu harus sadar, Nay! Dia tidak sebaik dan sesempurna yang kamu tau."
"Pa, Mas Zidan memang seorang mantan ban-dar ju-di, tetapi dia sudah bertaubat. Mas Zidan sudah berhijrah. Dia sama sekali tidak menggunakan mantra pemikat, apalagi jampi-jampi yang nggak jelas, hanya untuk menjerat hati Nayla. Sama sekali TIDAK, Pa." Nayla berusaha membela Zidan dan menepis tuduhan papanya terhadap Zidan.
"Nay --"
"Maaf, bolehkah saya turut berbicara?" Kyai Hidayat menginterupsi, sehingga Rizal urung melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Saya Hidayat, guru sekaligus orang tua angkat Zidan," sambungnya seraya memperkenalkan diri.
Atmosfer hening sesaat menyelimuti seisi ruang. Tidak ada satu orang pun yang berbicara, begitu Kyai Hidayat turut membuka suara. Seolah mereka tunduk dan terhipnotis oleh aura Kyai Hidayat yang memancarkan kedamaian.
Meski sudah sepuh, wajah Kyai Hidayat terlihat cerah dan berwibawa, karena ia selalu menjaga wudhu dan menjaga ibadahnya sebagai seorang hamba.
"Nak Rizal, semua manusia pernah berbuat dosa. Tak terkecuali diri kita. Dan semua orang yang pernah berbuat dosa, berhak mendapatkan ampunan dari Allah, asalkan mereka memohon ampun dan bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, seperti yang telah dilakukan oleh Zidan," tutur Kyai Hidayat.
"Zidan memang pernah berbuat dosa. Bagi kita, dosa yang pernah dilakukan oleh Zidan itu teramat sangat besar, sehingga kita lupa bahwa 'mungkin' kita pernah berbuat dosa yang sama besarnya atau malah melebihi dosa yang pernah dilakukan oleh Zidan."
"Meski Zidan pernah menjadi seorang ban-dar ju-di dan pemilik hotel khusus untuk berzi-na, tidak ada alasan bagi kita untuk terus menerus menghakimi bahkan membencinya, karena ia telah menyadari dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Ia sudah memantapkan diri untuk berhijrah. Bahkan, ia telah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Ia tinggalkan masa lalunya yang kelam dan berusaha berbenah," imbuhnya.
"Nak Rizal, maafkan Zidan jika ia pernah berbuat salah, khususnya kepada Anda. Berikan Zidan kesempatan untuk membuktikan bahwa ia pantas bersanding dengan Nak Nayla. Ia pantas menjadi imam yang terbaik untuk Nak Nayla. Ia sanggup menjadi seorang suami yang mampu membimbing Nak Nayla dan mewujudkan rumah tangga yang harmonis. Sakinah, mawadah, warahmah."
Rizal bergeming. Ia berusaha menelaah perkataan Kyai Hidayat dan tampak berpikir.
Sisi hatinya membenarkan semua perkataan Kyai Hidayat. Namun sisi hatinya yang lain, serasa enggan untuk memaafkan dan menerima seorang mantan pendosa sebagai calon suami putrinya.
Disaat tengah berpikir, tiba-tiba Rizal teringat dosa besar yang pernah dilakukannya. Ia juga teringat perkataan seorang pepatah, "jika suatu malam kamu melihat seseorang berbuat dosa, keesokan harinya jangan memandangnya sebagai orang yang berdosa, mungkin saja pada malam harinya dia telah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, dan taubatnya itu diterima oleh Allah. Berkaca lah, mungkin saja dosamu lebih besar bila dibandingkan dosa orang itu."
Ya Tuhan, aku juga seorang pendosa. Sama seperti Zidan. Mungkin saja dosaku lebih besar bila dibandingkan dosanya. Aku belum bertaubat, sementara Zidan sudah bertaubat dan berusaha berbenah--Rizal bermonolog di dalam hati dengan bibir yang masih setia terbungkam.
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
__ADS_1
-Ayuwidia-