Elegi Cinta Nayla

Elegi Cinta Nayla
Bab. 18


__ADS_3


Happy reading 💕


Suara gemericik air langit yang jatuh ke bumi mengiringi perjalanan Zidan menuju kota Jakarta. Kota tempat tinggal gadis yang teramat merindukannya--Nayla Arunnika.


Helaan nafas lega dan ucapan hamdalah terlafaz dari bibirnya begitu kereta api yang membawanya tiba di stasiun.


Zidan menginjakkan kaki di lantai stasiun, lalu mengedar pandangan ke segala arah untuk mencari keberadaan 4D yang telah berjanji akan menjemputnya.


Masih ingat siapa 4D?


Mereka adalah Dedi, Dude, Danu, dan Dwiki. Empat pemuda yang telah diangkat oleh Zidan sebagai murid, sekaligus saudara.


"Brother!"


Refleks, Zidan menoleh ke arah asal suara begitu mendengar suara khas salah seorang muridnya.


"Danu!" ucap Zidan diiringi sebaris senyum saat indera penglihatannya membentur wajah Danu.


"Yo'i, Bro." Danu menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan mengayun langkah--menghampiri Zidan.


Ia lantas mengambil alih koper dari tangan Zidan tanpa basa-basi.


"Biar saya bawa sendiri kopernya." Zidan meminta kopernya kembali. Namun Danu tidak mengindahkan dan tetap mempertahankan koper Zidan.


"Udah, gue aja yang bawa, Bro."


"Saya saja, Bro."


"Kaga usah ngeyel, Bro! Buruan lu kabarin Paman Sadam, biar beliau kaga' khawatir!"


"Sudah. Tadi sebelum keluar dari kereta, saya sudah menghubungi Paman Sadam. Oya, di mana 3D?"


"3D?" Danu bertanya heran dan menautkan kedua pangkal alisnya. Ia sungguh tidak mengerti 3D yang dimaksud oleh Zidan.


"Dedi, Dude, dan Dwiki. Katanya, mereka akan ikut menjemput saya," jawab Zidan.

__ADS_1


"Owh. Mereka udah ngumpul di rumah Paman Sadam. Ama calon bini lu juga."


"'Calon bini? Maksud kamu ... Mbak Nayla?"


"Ya iyalah, Bro. Mo siape lagi? Buruan yuk, gue anter ke rumah Paman Sadam! Biar lu bisa cepet melepas rindu ama do'i," ujar Danu sambil menaik turunkan kedua alisnya seraya menggoda Zidan.


"Ahai, pasti lu ama Mbak Nay bakal berpelukan kaya' Teletubbies," sambungnya--berceloteh.


"Astaghfirullah, ada-ada saja kamu, Bro! Saya dan Mbak Nay tidak boleh berpelukan, karena kami belum menjadi pasangan halal."


"Makanya, cepetan lu kawi-nin Mbak Nay, Bro! Biar lu boleh berpelukan ama do'i. Bukan cuman berpelukan, tapi lu ama Mbak Nay bisa tiap hari bikin adonan kue Susan." Danu tertawa lebar, sampai-sampai suara tertawanya mengalihkan atensi semua orang yang berada di stasiun, tak terkecuali atensi seorang pria berjaket hitam yang berdiri tidak jauh darinya.


"Danu!" ucap pria berjaket hitam itu sembari memperjelas penglihatannya dengan melepas kaca mata hitam yang bertengger di wajah.


Tanpa sengaja, Danu menoleh ke arahnya. Ke arah pria berjaket hitam yang ternyata sangat dikenal oleh Danu.


"Bos Duta." Manik mata Danu berotasi sempurna saat pandangan netranya membentur wajah Duta. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan bos sekaligus teman lucnut-nya itu.


Duta tersenyum menyeringai dan berjalan menghampiri Danu yang tengah berdiri mematung tanpa melepas tatap darinya.


"B-bos," ucap Danu terbata.


"Kurang ajar! Lu lagi!" Duta melayangkan tatapan nyalang dan mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Zidan. Ia bertambah geram kala teringat kejadian tempo hari--saat tubuhnya melayang dan masuk ke dalam truk sampah karena tendangan Zidan.


"Anda ingin memilih tangan kanan atau tangan kiri? Kalau anda memilih tangan kanan, maka saya akan segera mengirim anda ke rumah sakit. Tapi kalau anda memilih tangan kiri, saya akan mengirim anda ke alam lain," ucap Zidan dengan nada suaranya yang terdengar santai, tetapi penuh penekanan dan sukses membuat tubuh Duta bergetar hebat.


"Lu-lu, ngan-ngancem gua?"


"Saya tidak mengancam anda. Saya hanya memberi anda dua pilihan."


"Lu-lu, pas-pasti nye-nyesel. Gu-gua bakal balas den-dam. Bu-bukan cu-cuma masukin lu ke truk sam-sampah. Ta-tapi ba-bakal ngi-rim lu ke ne-raka." Duta berusaha memberanikan diri melontarkan ancaman yang ditujukannya pada Zidan. Namun, ia tidak bisa mengendalikan rasa takut yang kian meraja dan membuat tubuhnya semakin bergetar hebat. Tanpa ia sadari, celananya sudah basah kuyup karena hujan lokal--ompol.


"Ya elah. Kaga' kebalik, Bos? Bukan elu yang bakal ngirim guru gue ke neraka, tapi guru gue yang bakalan ngirim elu ke neraka, Bos. Udah dech, lu tobat aja kaya' gue ama temen-temen. Kita hijrah. Kita berubah jadi orang baek, biar bisa kumpul bareng di surga," ujar Danu dengan gayanya yang terlihat sok bijak.


Rasa takutnya terhadap Duta seketika lenyap saat mengetahui bahwa pria berkepala botak itu teramat takut pada sang guru--Zidan Arfa Rasydhan.


"Heleh! Cuh!" Duta menyemprot wajah Danu dengan ludahnya, hingga membuat Danu terpancing emosi.

__ADS_1


"Elu --" Danu menarik kerah jaket Duta dan meluapkan amarahnya dengan melayangkan bogeman mentah ke pipi Duta.


Lagi-lagi Zidan tidak tinggal diam. Ia menangkis, lalu mengibaskan tangan Danu.


Duta bernafas lega, sebab ia terselamatkan dari bogeman mentah yang dilayangkan oleh Danu.


Bukannya berterima kasih pada Zidan yang telah menolongnya, Duta malah melenggang pergi.


"Bro, ngapain lu halangin gue? Ntu orang udah ngludahin muka gue."


"Istighfar, Bro! Orang seperti itu tidak usah diladeni. Doakan saja, supaya Allah memberinya hidayah," tutur Zidan sambil mengusap bahu Danu seraya menenangkannya.


"Astaghfirullah. Sumpah, mood gue jadi rusak gara-gara ntu orang."


"Sudah! Yuk, segera antar saya ke rumah Paman Sadam, supaya rindu saya pada Mbak Nayla segera terobati." Zidan mengalihkan topik pembicaraan agar Danu tidak terus-menerus terbawa emosi.


"Ceileh. Hayuk lah!" balas Danu.


Zidan dan Danu lantas mengayun langkah menuju tempat parkir sambil berbincang.


Sesekali Zidan menyelipi candaan receh yang berhasil membuat Danu mengudarakan tawa dan sekejap melupakan kejadian yang membuat mood nya benar-benar rusak.


"Awas! Lu pada bakal gua aduin ke Bos Jordan, biar lu pada ditembak mpe meninggoy," monolog Duta sembari keluar dari tempat persembunyiannya--tong sampah.


🍁🍁🍁🍁


Bersambung ....


Assalamu'alaikum Kakak-kakak terkasih. Maaf beribu maaf, karena author masih belum bisa UP rutin. 🙏


Meski belum bisa UP rutin, insyaallah author usahakan mengetik kisah 'Elegi Cinta Nayla' ini hingga end.


Mohon doanya, semoga author diberi kesehatan dan kemudahan dalam berhalu.


Terima kasih teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan menunggu UP Nayla. See you again. Sampai bertemu di bab selanjutnya. 🥰🙏


Wassalamualaikum .....

__ADS_1


-Ayuwidia-


__ADS_2