
Happy reading 💕
Seusai menunaikan ibadah sholat subuh dan menghafalkan beberapa surah pendek, Nayla membantu Safa memasak menu sarapan pagi di dapur.
Hari ini, untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di dapur dan mengenal peralatan masak. Bahkan, untuk pertama kalinya juga ia memegang pisau dapur dan spatula.
Dengan sabar, Safa mengajari Nayla mengolah bumbu dan sayuran yang akan mereka masak. Mulai dari mencuci, mengupas, mengiris sayuran, dan menumis bumbu yang sudah dihaluskan.
Beberapa kali Nayla mengusap netranya dengan tisu saat mengupas kulit bawang yang menguarkan sensasi pedas. Beberapa kali juga ia mengaduh karena jari-jari tangannya terasa panas. Namun semua itu tidak membuat Nayla menyerah dan malah merasa tertantang untuk tetap melanjutkan perjuangannya 'memasak'.
Nayla baru mengerti bahwa memasak itu tidak semudah yang ia kira. Bahkan teramat sulit dan sangat menyiksa baginya.
Terbit rasa sesal di dalam hati, sebab ia sering menyia-nyiakan makanan hasil olahan tangan chef yang bekerja pada keluarganya.
"Nak Nayla, masukkan wortel dan kentangnya ke dalam panci! Pelan-pelan saja ya, supaya tangan Nak Nayla tidak kecipratan kuah panas!" tutur Safa. Ia memandu Nayla memasak sup kembang waru kesukaan Zidan.
Selesai memasak sup kembang waru, Safa memandu Nayla untuk membuat sambal tomat dan menggoreng tempe.
Tidak sampai dua jam, semua hasil masakan Nayla dan Safa tersaji di atas meja makan.
Nayla teramat girang dan bangga pada dirinya sendiri karena telah berhasil menyajikan masakan perdananya, meski dibantu oleh Safa. Ia berharap, Zidan menyukai semua masakan yang disajikannya itu.
Setelah menata piring dan sendok di atas meja, Safa meminta Nayla untuk memanggil Zidan dan Sadam yang tengah berbincang di taman belakang.
Dengan semangat 45, Nayla menunaikan permintaan Safa. Ia bergegas mengayun langkah menuju taman belakang untuk memanggil Zidan dan Sadam.
Ketika tiba di ambang pintu yang menghubungkan dapur dan taman belakang, tanpa sengaja Nayla mendengar pembicaraan Zidan dan Sadam. Rupanya kedua pria berbeda generasi itu tengah membicarakan rencana kepulangan Zidan ke kota kelahirannya, Solo.
Tiba-tiba tubuh Nayla terasa lunglai. Terbayang olehnya jika ia dan Zidan LDR.
"Nggak! Mas Zidan nggak boleh pulang ke Solo," ujar Nayla spontan.
Refleks, Zidan dan Sadam merotasikan kepala begitu mendengar suara Nayla. Mereka terkesiap saat menyaksikan tubuh Nayla lunglai dan hampir luruh ke lantai.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Mbak Nayla --" Zidan membawa tubuhnya bangkit dari posisi duduk dan bergegas menopang tubuh Nayla dengan kedua tangan kekarnya.
Sadam tidak tinggal diam. Ia segera membawa tubuhnya berdiri dan turut membantu Zidan untuk menopang tubuh Nayla.
Zidan lantas memandu Nayla untuk duduk di kursi taman. Sementara Sadam, ia bergegas membawa langkahnya menuju dapur untuk mengambil air putih yang ingin diberikannya pada Nayla.
"Mbak Nayla kenapa?" Zidan memecah hening yang sejenak menyelimuti mereka dengan melontarkan kalimat tanya yang ia tujukan pada Nayla. Tentu saja disertai raut wajah yang menyiratkan rasa khawatir.
"A-aku --"
Kruyuk ... Kruyuk ....
Terdengar suara jeritan cacing-cacing di dalam perutnya, sehingga Nayla urung melanjutkan ucapan yang sudah siap keluar dari pita suara.
Raut wajah Zidan seketika berubah saat mendengar suara yang berasal dari dalam perut Nayla. Kekhawatirannya sirna seiring lengkungan bibir yang menghiasi wajah tampannya.
Zidan meyakini bahwa suara 'kruyuk' yang berasal dari perut Nayla adalah suara penghuni perut yang tengah berdemo meminta asupan makanan. Zidan juga meyakini bahwa penghuni perut Nayla itulah yang membuat tubuh Nayla menjadi lunglai hingga hampir luruh ke lantai.
"Mbak Nayla lapar ya?" Zidan kembali melontarkan tanya. Namun kali ini disertai sebaris senyum. Bukan lagi raut wajah yang menyiratkan kekhawatiran.
Kruyuk ... Kruyuk ....
Dengan lancangnya penghuni perut Nayla kembali memperdengarkan suara, sehingga membuat Nayla teramat malu pada Zidan dan urung melanjutkan ucapannya.
"Mbak Nayla mau sarapan sekarang? Saya ambilkan ya?" Zidan menawari Nayla dengan tutur katanya yang terdengar lembut tanpa memudar senyum.
Di mata Nayla, ketampanan Zidan bertambah seribu kali lipat ketika pemuda idaman hatinya itu tengah tersenyum.
Bukannya menjawab ataupun membalas ucapan Zidan, Nayla malah terpaku menikmati pahatan tampan yang tersuguh di hadapannya itu.
Nayla kian terjerat pesona sang pemuda idaman karena perlakuannya yang teramat manis dan tutur kata yang terdengar lembut di telinga.
"Ehem." Zidan sengaja berdehem untuk menyadarkan Nayla. Namun sayang, usahanya itu sia-sia. Nayla tetap dalam mode terpaku dengan sebaris senyum yang membingkai wajah cantiknya.
Tanpa sadar, bibir Zidan memuji sepasang netra Nayla yang tampak bening dan indah ketika manik mata mereka tidak sengaja saling bertaut.
__ADS_1
Zidan segera memalingkan wajah dan melafazkan istighfar di dalam kalbu begitu tersadar dari kekhilafan yang telah dilakukannya. Ia lantas berjalan menjauh dari Nayla dan menyusul Sadam yang masih berada di dapur.
"Mas Zidan, tunggu!" pinta Nayla dengan sedikit berteriak. Ia bergegas membawa tubuhnya berdiri, lalu berlari kecil mengejar Zidan.
Sesampainya di dapur, Zidan dan Nayla tercengang. Mereka tercengang karena tanpa sengaja menyaksikan adegan sweet yang dilakukan oleh Sadam dan Safa.
Rupanya, Sadam lupa untuk mengambil air putih yang ingin diberikannya pada Nayla dan malah beradegan sweet dengan Safa di dapur.
Sepasang Adam dan Hawa yang tak lagi muda itu saling berpeluk erat sembari memejamkan netra. Seolah keduanya tengah menghirup aroma cinta yang teramat wangi dan memabukkan.
Sepersekian detik kemudian, Sadam dan Safa membuka sepasang netra mereka dengan perlahan. Keduanya saling menatap dan melempar senyuman.
Tanpa aba-aba, Sadam melabuhkan kecupan dalam di dahi Safa, lalu berganti di bibir kekasih halalnya itu.
Zidan melafazkan istighfar di dalam hati dan segera memalingkan wajah. Kemudian ia bergegas membawa langkahnya keluar dari dapur dan disusul oleh Nayla yang berjalan di belakangnya.
"Astaghfirullah. Ada apa dengan paman dan bibi? Kenapa mereka beradegan mesra di dapur?" Zidan bermonolog lirih. Namun terdengar oleh Nayla.
"Ya terserah paman dan bibi, Mas. Mau beradegan mesra di mana pun ya sah-sah aja. Toh rumah ini 'kan rumah mereka, bukan rumah kita." Nayla menimpali ucapan Zidan dengan melirihkan suara, sehingga terdengar seperti bisikan.
"Tapi, paman dan bibi tidak biasanya beradegan mesra seperti itu di dapur --"
"Ya, mungkin saja paman dan bibi sedang khilaf, Mas. Atau mungkin, paman dan bibi sengaja menunjukkan kemesraan mereka di hadapan Mas Zidan, supaya Mas Zidan segera menikahi aku. Jadi, kita bisa bermesraan seperti mereka. Mencecap indahnya cinta. Ya 'kan, Mas?"
Zidan bergidik dan melafazkan istighfar saat mendengar ucapan Nayla. Ia lantas mengayun langkah tanpa menanggapi deretan kata yang diucapkan oleh gadis itu.
"Mas Zidan tunggu!" Nayla berteriak dan membawa kakinya berlari untuk menyusul Zidan. Namun Zidan tidak mengindahkan teriakan Nayla dan terus membawa kakinya melangkah.
"Mas Zidan ... Arghhh ...."
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
-Ayuwidia-
__ADS_1