
Happy reading 💕
Jika degup jantungmu selalu berdentum tak karuan setiap kali kita bertemu, maka perbanyaklah beristighfar dan tundukkan pandangan.
Bisa jadi Allah tengah menguji kamu dengan rasa yang dinamakan cinta dan menguji saya dengan kesetiaan.
Mintalah pada Allah, agar Dia menghilangkan rasa yang tak semestinya dan menggantinya dengan rasa yang lebih indah.
-Ilham-
Sinta membaca berulang-ulang untaian kata yang tertulis di selembar kertas putih pemberian Ilham dan berusaha meraba maknanya.
Ia mengira, Ilham benar-benar memberikannya resep untuk penyakit jantung yang mungkin dideritanya. Namun ternyata ia salah.
Rupanya, Ilham memberi wejangan untuk hatinya. Hati seorang Sinta.
Hati yang teramat mencinta dan membuat degup jantungnya selalu berdentum tak karuan setiap kali bertemu dengan Ilham--pria tertampan sejagad jiwa.
Sinta tak kuasa menahan buliran bening yang menetes begitu saja ketika ia berhasil meraba makna yang tersirat dari tulisan itu.
"Ya Tuhan, kenapa Engkau beri rasa ini? Rasa yang selalu membuat jantungku dengan lancangnya berdegup tak karuan saat bertemu Dokter Ilham? Kenapa, Tuhan? Kenapa?" Sinta meremas kertas putih pemberian Ilham dan menekan dadanya yang terasa sangat ngilu.
Baru pertama kali ia mencinta. Namun langsung merasakan sakitnya patah hati karena cinta yang tak semestinya ia rasa. Mencintai orang yang salah--seorang Adam yang sudah memiliki kekasih.
Sindi yang baru saja masuk ke dalam kamar, seketika terkejut begitu mendapati Sinta tengah menangis sambil menekan-nekan dadanya.
Ia lalu bergegas menghampiri Sinta untuk mengetahui keadaan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
"Ta, kamu kenapa sih? Tumben banget kamu nangis? Kamu nggak lagi kerasukan jinnya Sumirah 'kan?" Sindi mencecar Sinta dengan deretan kalimat tanya sembari mendaratkan bobot tubuhnya di tepi ranjang--bersebelahan dengan Sinta. Seperti biasa, ia menyisipi perkataannya dengan candaan receh.
"Ngaco kamu, Ndi. Mana ada jin kerasukan jin?" Meski tengah menangis dan teramat bersedih, Sinta mengimbangi perkataan Sindi dengan candaan, sehingga membuat Sindi tertawa lepas.
"Astogeh, ternyata kamu jin, Ta? Pantesan --"
"Pantesan apa?"
"Kamu bisa datang dan pergi tanpa diundang ataupun diantar."
"Itu mah kamu. Jae-langkung!" Sinta berucap ketus sambil menyeka buliran bening yang membasahi wajah ayunya dengan jemari tangan.
"Muehhhehe, lagi nangis masih aja galak."
"Biarin!"
Sinta kembali berucap ketus dan membawa tubuhnya bangkit dari posisi duduk. Kemudian ia mengayun langkah ke arah jendela kamar.
Diremasnya kertas putih pemberian Ilham hingga menyerupai bola, kemudian dibuangnya ke luar jendela.
Tanpa Sinta sadari, kertas yang ia lemparkan itu mendarat cantik di bangku taman--tempat Nayla duduk saat ini.
__ADS_1
Sayang, karena Nayla tengah terpana menatap rasi bintang yang seolah membentuk wajah rupawan Zidan Arfa Rasydhan, ia tidak menyadari jika ada bola kertas yang mendarat tepat di sampingnya.
"Mulai detik ini, aku ingin menanggalkan cinta yang nggak semestinya aku rasa. Aku nggak bakal membiarkan jantungku dengan lancangnya berdegup tak karuan setiap bertemu denganmu." Sinta bermonolog lirih. Namun terdengar oleh Sindi yang sudah berdiri di belakangnya.
"Siapa yang kamu maksud, Ta? Dokter Ilham atau Kang Sayur yang handsome nya sejagad halu?"
"Dokter Ilham." Sinta menjawab singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sindi.
"Dokter Ilham? Memangnya apa yang udah dia perbuat sama kamu?" Sindi bertanya heran diikuti kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alisnya.
"Dia sudah membuat degup jantungku berdentum tak karuan, setiap kali kami bertemu."
"What? Jangan-jangan kamu naksir Dokter Ilham, Ta?"
"Iya. Aku memang naksir Dokter Ilham, Ndi. Dan bodohnya aku baru menyadarinya sekarang. Aku kira, aku mengidap penyakit jantung, karena setiap kali bertemu dengan Dokter Ilham jantungku berdegup tak karuan. Ternyata aku salah. Aku nggak menderita penyakit jantung, Ndi. Tapi --" Sinta serasa enggan untuk melanjutkan ucapannya, karena segumpal daging yang bersemayam di dalam dadanya kembali terasa sangat ngilu ketika teringat untaian kata yang ditulis oleh Ilham.
"Pasti kamu lagi patah hati 'kan, Ta? Kamu mencintai Dokter Ilham, sementara Dokter Ilham nggak membalas cintamu karena hatinya sudah dimiliki oleh wanita lain," tebak Sindi.
"Maybe. Aku rasa, aku memang sedang patah hati." Sinta menghela nafas dalam seraya mengusir rasa sesak yang kian meraja.
"Ta, kamu masih sangat muda. Ya, meski lebih mudaan aku sih --"
"Terus, apa hubungannya sama patah hati?"
"Gini lho, Ta. Jangan sia-siakan masa muda kita. Lebih baik, sekarang kita fokus dulu mengejar impian dan cita-cita. Kita berbenah dan berhijrah seperti Nona Nayla. Setelah kita berbenah dan berhijrah, insyaallah kita dipertemukan dengan pemuda saleh dan tampan seperti Mas Zidan," tutur Sindi--mode bijak.
"Mas Zidan paket komplit, Ndi. Sebelas dua belas dengan Dokter Ilham. Tapi meskipun demikian, Mas Zidan nggak bisa menandingi Dokter Ilham."
"Iyain aja dech. Aku sudah ngantuk. Mau bobok manis." Sinta memangkas ucapan Sindi dan berkeinginan menyudahi obrolan mereka.
"Bobok manis terus mimpiin Dokter Ilham --"
"Issshhh, nggak lah."
Sinta memutar tubuhnya, lalu berjalan ke arah ranjang, diikuti oleh Sindi yang berjalan di belakangnya.
Kedua gadis itu lantas merebahkan tubuh di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar.
"Ta, jangan mikirin Dokter Ilham lagi ya! Kapan-kapan kalau ada waktu, aku kenalin kamu sama abangku. Dia nggak kalah handsome kog kalau cuma dibandingin sama Dokter Ilham."
"Nggak usah dikenalin, Ndi. Aku udah pernah melihat wajah abangmu --"
"Ya 'kan lihatnya dari jauh. So, kamu belum melihat betapa paripurnanya ketampanan Bang Danu."
"Hilih. Hiperbola!"
"Yaelah, aku nggak hiperbola, Ta."
"Sak karepmu! Aku mau merem." Sinta memiringkan tubuhnya--membelakangi Sindi dan memaksa sepasang netranya untuk terpejam.
"Met bobok, Ta. Mimpiin Bang Danu ya!" Sindi berbisik tepat di telinga Sinta diikuti senyumnya yang terkembang. Ia lantas memejamkan sepasang netra dan mulai berlabuh ke negeri mimpi.
__ADS_1
Di saat semua penghuni mansion sudah tertidur lelap dan terbuai ke alam mimpi, Nayla masih terjaga dan enggan beranjak dari bangku taman.
Ia masih asyik menatap rasi bintang dan terlena dalam bayangan halu nya.
"Mas Zidan, aku kangen banget sama kamu. Aku pingin nyusul kamu ke Solo, tapi nggak dibolehin sama Papa dan Mama." Nayla bermonolog tanpa mengalihkan tatapan netra dari objek yang sedari tadi dipandangi-nya.
"Kelak kalau kita sudah menikah, aku nggak mau sedetik pun berpisah sama kamu, Mas. Aku bakal ikut kamu terus, ke mana pun kamu pergi," sambungnya.
"Kamu pulang ke Solo, aku ikut. Kamu ke masjid, aku juga ikut. Kamu ke luar negeri jadi TKI, aku pasti tetep ikut. Bahkan kamu masuk ke dalam kamar mandi pun, aku ikut Mas. Kalau perlu kita mandi bareng. Ahi hihi." Nayla terkekeh pelan karena teramat geli dengan ucapannya sendiri.
Terbayang olehnya jika ia dan Zidan berada di dalam kamar mandi yang sama, lalu mandi bersama tanpa melepas sehelai benang pun yang membalut tubuh mereka. Bisa dipastikan mereka akan kedinginan dan langsung masuk angin.
"Ahi hi, so sweet banget. Masuk angin bareng, terus kerik-kerik an dech." Nayla kembali terkekeh dan menempeleng kepalanya sendiri yang telah lancang membayangkan sesuatu yang belum pantas dibayangkannya.
"Udah malem, Mas. Aku mau boboks dulu ya. See you, Mas Zidan Arfa Rasydhan. Calon suamiku, kekasih hatiku di dunia dan akhirat," ucap Nayla sembari beranjak dari bangku taman.
Tanpa sengaja, jemari tangan Nayla menyentuh bola kertas yang dilempar oleh Sinta.
"Apa ini?" tanyanya heran.
Karena teramat penasaran, Nayla bergegas mengambil bola kertas itu dan segera membukanya. Lalu dibacanya perlahan--kata demi kata tulisan tangan Ilham.
Seusai membaca tulisan tangan Ilham, Nayla membuka gawainya yang bergetar.
Rupanya ada pesan masuk dari nomor baru. Entah nomor siapa, Nayla pun tidak tahu.
Pesan tersebut bertuliskan, Hati itu seperti gelas, makin banyak kamu isi dengan kecintaan kepada Allah, maka akan makin sedikit pula ruang yang tersisa untuk kecintaan terhadap makhluk-Nya. Boleh mencintai seorang insan, tetapi jangan melebihi cintamu pada Allah.
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
-Ayuwidia-
Sambil menunggu UP selanjutnya, Kakak-kakak bisa mampir ke karya author yang sudah end 😉🙏
Sinopsis:
Mohon bijak memberi bintang ⭐!!! Abaikan cerita ini bila kurang berkenan dengan alur ceritanya. Terima kasih 🙏
Di usianya yang masih sangat belia, Derana terpaksa menikah dengan Farel--pria yang sama sekali tidak ia cinta.
Bukan kebahagiaan yang Derana dapatkan setelah menikah. Namun kesengsaraan dan penderitaan.
Demi menikahi wanita lain, Farel tega membuang Derana.
Siapa sangka, setelah dibuang oleh suaminya, Derana bertemu dengan duda berparas tampan dan bergelimang harta.
Akankah kebahagiaan hadir di kehidupan Derana setelah bertemu dengan duda itu? Ikuti kisah Derana di "Derana, Istri Yang Terbuang"
__ADS_1