
"Liu Yi Ze memberikan hormat kepada Yang Mulia Tuan Agung Kekaisaran Zhun, sang Dewa Peperangan!" Dayang Liu yang berada di samping Han Mi langsung memberikan salam penghormatan kepada pria yang berdiri di seberang tempat duduk Permaisurinya.
Sungguh, kepala Dayang Istana Zihuā yang merupakan Dayang pribadi permaisuri, tidak dapat di anggap remeh begitu saja. Beberapa detik lalu Dayang Liu terlihat sangat ketakutan, tetapi sekarang ia mengucapkan kalimat tersebut dengan lancarnya dan sangat profesional.
Han Mi yang sejak tadi mematung, menatap ke arah pria yang merupakan Kaisar Zhun dan di panggil dengan Bixia Huang di itu.
Netra dengan iris berwarna hitam pekat milik Kaisar Zhun, sedari tadi tertuju lurus menatap Han Mi hingga membuat wanita tersebut merasa tak kuat dan memutuskan untuk segera menunduk.
Tatapannya amat menyeramkan. Mirip sekali dengan penggambaran karakternya di dalam komik, batin Han Mi
"Hamba mengucapkan selamat datang kembali kepada Bixia Huang di. Hamba juga mengucapkan selamat datang kembali kepada Jenderal Li dan Jenderal Shaoqing, serta Tabib Gui. Hamba amat bersyukur karena para Dewa telah memberikan berkah melimpah kepada Kekaisaran Zhun ini." Dayang Liu melanjutkan ucapannya dengan suara yang terdengar sangat tenang juga penuh hormat.
Sedangkan Han Mi? Saat ini masih duduk membeku dengan kepala tertunduk dalam seraya menatap tangannya yang sedang meremas hanfu berwarna putih miliknya.
Sialan. Hwang Lien Tianba, kau telah menipuku, kan!? batin Han Mi dengan amat kesal.
Di sela-sela ketegangan yang tercipta, tiba-tiba saja Shaoqing Yuwen memberikan salam penghormatan kepada Kaisar Zhun, "Hormat kepada Yang Mulia Tuan Agung Kekaisaran Zhun, Sang Dewa Peperangan." Suara Shaoqing Yuwen terdengar dari arah luar pintu kamar peraduan Han Mi.
"Aiyaaa ... Bixia, Putri ini memohon kepada Bixia. Tolong berikan keadilan untuk Putri ini," mohon Shaoqing Yuwen dengan suara yang terdengar manja.
Hal itu sukses membuat Han Mi tersentak hingga mengangkat kepalanya. Tanpa memedulikan bahwa di seberangnya ada Kaisar Zhun yang masih berdiri dalam diam seraya terus menatap ke arahnya.
Han Mi mengerutkan keningnya. Menatap tidak percaya ke arah Shaoqing Yuwen yang dapat Han Mi lihat sedikit dari sisi tubuh Kaisar Zhun.
Dia benar-benar melakukan hal itu?! Hey Shaoqing, apa kau gila?! batin Han Mi.
Netra biru itu terus menatap Shaoqing Yuwen dengan pandangan sedikit jijik, saat tiba-tiba saja Shaoqing Yuwen bersikap manja, menempel bagai lintah di lengan Kaisar Zhun.
"Putri menjadi seperti ini karena Yang Mulia Permaisuri telah memukuli Putri. Padahal, Putri ini hanya ingin memberikan ucapan selamat atas kesembuhan Permaisuri beberapa waktu yang lalu. Mohon Bixia untuk memberikan keadilan kepada Putri ini."
Kali ini bahkan Shaoqing berani menunjuk-nunjuk ke arah Han Mi yang sedang diam saja di tempatnya. Melihat hal itu, tentu saja membuat Han Mi memalingkan wajahnya ke arah kanan.
"Cuih, beraninya mengadu? Kamu enggak tahu aja dia kayak gimana," gumam Han Mi menggunakan bahasa Korea.
Di mana bahasa itu adalah bahasa yang selalu ia gunakan di kehidupan sebelumnya, dan sangat berbeda dengan kehidupannya sekarang yang lebih menuju pada bahasa China tradisional.
Meskipun awalnya Han Mi bingung bagaimana ia bisa menggunakan dan mengerti bahasa di dunia ini. Namun, pada akhirnya ia mendapatkan jawabannya, itu di karenakan Han Mi adalah orang yang dipilih langsung oleh Hwang Lien Tianba, dan sang Permaisuri telah mewariskan segalanya kepada Han Mi.
Tanpa di duga, dengan gerakan kasar, Kaisar Zhun melepaskan tangan Shaoqing Yuwen yang bergelayut manja di lengan kanannya itu. Wajahnya sama sekali tak menampilkan ekspresi apapun, dan itu membuat Han Mi semakin merasa ngeri saat melihatnya.
Sedangkan Shaoqing Yuwen, yang kini berdiri di belakang Kaisar Zhun, terlihat sedang mengerucutkan bibirnya kesal. Karena usahanya kali ini pun gagal. Dengan tatapan tajam, Shaoqing Yuwen menatap Han Mi, memberikan isyarat bahwa ia selalu memperhatikan Han Mi kapanpun itu.
Han Mi sungguh tidak peduli dengan apa yang dilakukan Shaoqing Yuwen padanya barusan. Namun, tiba-tiba saja Han Mi merasakan hawa dingin di kulit hingga membuatnya menelan ludah dengan susah payah.
Napasnya menjadi sedikit sesak, dan perasaan aneh itu sungguh membuat Han Mi merasa tidak nyaman. Membuatnya ingin keluar dari ruangan ini sesegera mungkin.
Perasaan ini, aku tak mungkin salah, suasana hatinya sedang tidak baik. Aaah! Bodoh, kau belum memberikan salam padanya, pantas saja sejak tadi ia hanya memelototimu. Haish! batin Han Mi.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Han Mi bangkit dan berjalan sedikit ke arah samping, berlutut di atas lantai kayu kamar peraduannya.
"Ben gong memberikan salam kehormatan kepada Yang Mulia Tuan Agung Kekaisaran Zhun, sang Dewa Peperangan. Selamat datang kembali di Istana Kekaisaran Zhun. Ben gong amat bahagia karena Bixia serta yang lainnya kembali secepat ini dengan selamat," ucap Han Mi. Kepalanya tertunduk serta tangan yang terangkat di depan dahinya.
"Berdirilah," perintah Kaisar Zhun. Tidak ada ekspresi apa pun yang terpampang di wajahnya ataupun nada bicaranya, dan itu membuat Han Mi sedikit merasa lega. Hal ini dikarenakan, jika Kaisar Zhun seperti itu maka artinya Kaisar Zhun sedang dalam kondisi hati yang tenang.
Setidaknya, ia sudah lebih baik, setelah tadi aku merasakan bahwa ia akan murka karena ulah Shaoqing Yuwen, batin Han Mi merasa sedikit lega.
Perlahan Han Mi bangkit dengan kepala yang masih tertunduk. Dalam diam, sang Kaisar terus menatap Han Mi tanpa ada rasa ingin mengalihkan pandang ke arah lain. "Liu Yi Ze, bimbing Permaisuri ke ranjangnya," perintahnya pada Dayang Liu.
"Baik, Bixia." Dayang Liu memberikan penghormatan, sebelum akhirnya menghadap pada Han Mi yang berada di hadapannya. Dari arah samping, Dayang Liu meminta izin terlebih dahulu pada Han Mi, "Ampun Yang Mulia Permaisuri, izinkan hamba untuk menggenggam tangan Yang Mulia."
Han Mi yang berdiri dengan kepala tertunduk menengok ke arah kanan, memandang dengan sebelah alis terangkat. Ia sungguh bingung bagaimana harus menyikapinya. Hey, haruskah Han Mi tidur kembali? Ia bahkan tidak merasa mengantuk sama sekali.
"Zhen akan kembali ke Istana Zuēwáng," ucap Kaisar Zhun seraya berbalik, dan berjalan keluar dari kamar peraduan Han Mi, "Shaoqing Tong Mu, bawalah adikmu kembali ke kediaman Shaoqing." Lanjut Kaisar Zhun, tanpa menoleh sedikitpun.
Jenderal Shaoqing yang sedang menunduk, seketika mengangkat wajahnya. Namun, ia kembali menunduk seraya membalas ucapan Kaisar Zhun, "Baik Bixia, hamba akan membawanya kembali sesuai perintah."
Jenderal Li dan Tabib Gui yang berdiri di sebelah Jenderal Shaoqing, saling berpandangan. Mereka merasa aneh dengan tingkah laku sang Kaisar kali ini.
Permasalahannya adalah, Kaisar Zhun Qiang Duyi tidak pernah berperilaku lembut seperti ini. Menyuruh Permaisurinya untuk kembali beristirahat? Oh, apakah dunia sebentar lagi akan kiamat?!
Tabib Gui yang melihat Kaisar Zhun telah melangkah keluar segera menyenggol lengan Jenderal Shaoqing, supaya segera membawa Shaoqing Yuwen sesuai perintah Kaisar Zhun.
Kemudian, dengan segara Tabib Gui menarik lengan Jenderal Li. Namun, usahanya tidak berhasil, Jenderal Li menahan tangannya seraya mendelikan ke arah Tabib Gui.
"Hamba memohon undur diri, untuk segera kembali mengawal Bixia Huang di." Lanjut Jenderal Li seraya membungkukkan tubuhnya lebih rendah dengan tangan yang saling bertemu di depan dahinya.
Tabib Gui yang melihat hal tersebut seketika menepuk dahinya sendiri. Sial! Aku lupa memberikan salam penghormatan pada Permaisuri, batin Tabib Gui.
Tangannya terangkat, tubuhnya berlutut di atas lantai tersebut. "Hormat kepada Yang Mulia Permaisuri, hamba juga memberikan selamat atas kesembuhan Yang Mulia, dan memohon untuk undur diri secepatnya," ucap Tabib Gui penuh hormat.
Dengan segera ia merunduk memberikan penghormatan terakhir, dan segera bangkit. Mengikuti Jenderal Li yang sudah pergi terlebih dahulu.
Han Mi yang melihat hal tersebut semakin dibuat bingung. Ih, ini apaan sih? Mereka masih sempat-sempatnya di sini?! Kaisar Zhun sudah jalan duluan, yang ada mereka kena murkanya, batin Han Mi.
"Lebih baik kau bergegas, sebelum suasana hati Bixia Huang di berubah menjadi lebih buruk," kata Han Mi cepat. Netra biru itu menatap punggung Tabib Gui yang menghilang dibalik pintu kamar peraduannya yang terbuka.
"Aduh, yang benar saja. Aku harus menerima salam kayak begini setiap hari?" gumamnya menggunakan bahasa Korea. Ekspresi wajahnya seketika berubah lesu. Bahunya merosot begitu saja.
"Liu, tolong bantu aku ke sana." Mohon Han Mi seraya menerima uluran tangan Dayang Liu yang berada di sebelahnya. Namun, melihat tidak kunjung adanya pergerakan dari Dayang Liu, membuat Han Mi mengangkat wajahnya.
"Kamu—eh?" Han Mi seketika terdiam, saat mendapati ekspresi penuh kebingungan yang terpampang jelas di wajah Dayang Liu.
"Ya—yang Mulia, Anda dapat menggunakan bahasa kuno ... yang tak di mengerti sembarang manusia?" bisik Dayang Liu dengan sedikit terbata ke arah Han Mi.
BAHASA KUNO APANYA? jerit Han Mi dalam hati.
__ADS_1
"Ahaha—"
"Shaoqing Tong Mu memberikan salam kepada Yang Mulia Permaisuri. Hamba mengucapkan selamat atas kesembuhan Yang Mulia Permaisuri," ucap Jenderal Shaoqing seraya berlutut.
"Hamba pantas mendapatkan hukuman dari Yang Mulia Permaisuri!" Lanjut Jenderal Shaoqing seraya bersujud hingga terdengar suara cukup keras, yang menandakan bahwa dahi pria bertubuh sedang ini menyentuh lantai kayu lumayan kencang.
"Hah?" Han Mi melongo hebat dibuatnya. Dua bola matanya menatap terkejut ke arah Jenderal Shaoqing yang tengah bersujud, seraya menarik lengan Shaoqing Yuwen supaya ikut bersujud di sebelahnya.
"Ah, aku melupakan dua manusia ini," ucap Han Mi dengan suara pelan.
"Ini karena hamba tidak mendidik Adik hamba dengan benar, sehingga ia menjadi sangat tidak menghormati Yang Mulia Permaisuri."
"Aduh ...." Han Mi memijat sedikit pelipisnya, ia benar-benar merasa sakit kepala menyaksikan semua kejadian hari ini.
"Baiklah-baiklah, segera berdirilah kalian berdua. Ben gong sudah memaafkannya," ucap Han Mi cepat ke arah Jenderal Shaoqing.
Tatapannya seketika menajam, tertuju pada Shaoqing Yuwen yang bersujud di samping kiri Jenderal Shaoqing. "Akan tetapi, jika di lain waktu Ben gong masih melihat tak ada perubahan, tolong jangan salahkan Ben gong bertindak seperti tadi lagi."
Setelahnya, Han Mi sedikit menarik tangan Dayang Liu supaya bergerak membantunya menuju tempat tidur yang berada di sudut ruanganan. Dayang Liu yang mengerti segera melakukan tugasnya dengan cekatan.
"Hamba sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Permaisuri. Sekali lagi hamba mengucapkan terima kasih atas nama keluarga bangsawan Shaoqing. Hamba akan mendidiknya lagi dengan ketat. Terima kasih Yang Mulia Permaisuri."
SIALAN. Kenapa kau harus mengulangnya berkali-kali, sih?! Aduh kepalaku .... Han Mi kembali memijat pelipisnya dengan frustrasi.
"Shaoqing Tong Mu dan Shaoqing Yuwen memohon untuk undur diri dari hadapan Yang Mulia Permaisuri—"
"Ya, cepatlah kalian kembali. Ben gong ingin beristirahat," potong Han Mi cepat sebelum pria itu berbicara semakin panjang lagi.
Tanpa berkata apa-apa, Jenderal Shaoqing dan Shaoqing Yuwen segera bangkit, memberikan penghormatan terakhir sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamar peraduan sang Permaisuri.
.
.
Bersambung.
.
.
Naskah :
Jakarta, 02 Juli 2020
Publish :
Jakarta, 03 Agustus 2020
__ADS_1