Empress Of The Emperor

Empress Of The Emperor
Cp 27 | Perasaan Lelah Berujung Pasrah


__ADS_3

Han Mi terus terdiam dengan tangan yang digenggam oleh Kaisar Zhun. Lagi-lagi ia harus merasa diseret seperti seekor kambing. Mengikut kemana pun sang majikan membawanya.


"Naik," perintah Kaisar Zhun dengan dingin.


Han Mi menatap manik hitam itu sebentar, kemudian berpaling pada kereta kuda yang ada di hadapannya saat ini. "Tidak mau, ben gong ingin pulang sendiri saja," tolak Han Mi mentah-mentah seraya mencoba untuk melepaskan tangan kanannya dalam genggaman Kaisar Zhun.


Kaisar Zhun terdiam untuk sesaat. Tatapannya terus memperhatikan tangan kiri Han Mi yang sedang mencoba untuk melepaskan tangannya. Tidak lama berselang, Han Mi terpikirkan untuk menggunakan kekuatannya.


Sepertinya listrik kecil itu akan berguna, batin Han Mi. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum tipis.


Zrt.


Seketika itu juga Kaisar Zhun tersentak, hingga melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Han Mi. "Zhen tak akan tertipu lagi olehmu," tukas Kaisar Zhun cepat yang langsung meraih lengan kiri Han Mi ketika wanita itu ingin berlari darinya.


Argh! Sialan. Han Mi menghentakkan kaki kanannya dengan kesal. Tanpa berbicara, ia akhirnya mengikuti tarikan tangan Kaisar Zhun yang membawanya mendekat pada tangga di kereta kuda tersebut. "Naik sendiri atau ingin Zhen gendong?" Dua pilihan yang sama sekali tidak ada untungnya bagi Han Mi.


"Ben gong akan naik sendiri," jawab Han Mi cepat, yang kemudian langsung naik ke atas kereta kuda tanpa berbicara sepatah kata pun.


Waktu terus bergulir, kereta kuda kini telah tiba di pelataran Istana Kekaisaran. Han Mi yang merasa jengkel, memilih untuk terus terdiam selama perjalanan.


Selama itu pula ia merasa seperti sedang di dalam neraka. Suasana canggung yang menyeramkan membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


Belum lagi tingkah laku Kaisar Zhun yang tidak seperti biasanya, sungguh berhasil membuat Han Mi menjadi lebih waspada dan ingin terus menjauh dari pria bertubuh tinggi itu.


"Li Jianjun," panggil Kaisar Zhun.


"Ya Bixia. Apakah ada sesuatu yang harus hamba kerjakan?" tanya Jenderal Li yang sudah berdiri di dekat kereta kuda tersebut.


"Rahasiakan semua kejadian hari ini." Kaisar Zhun segera bangkit dan melangkah keluar dari kereta kuda tersebut, "jika ada sedikit berita yang tersebar keluar, maka bersiaplah untuk menanggung akibatnya, Zhen tak akan berbelas kasih pada siapa pun," ancam Kaisar Zhun dengan suara datar yang terdengar begitu mengerikan.


"Hamba mengerti, Bixia Huang di." Jenderal Li segera berlutut seraya memberikan penghormatan kepada sang Kaisar.


Han Mi yang melihat sang Kaisar telah turun sempurna segera berdiri, dan melangkah keluar dari kereta kuda tersebut. Netra birunya saling berpandangan dengan manik hitam milik Kaisar Zhun.


Perlahan kepalanya tertunduk memberikan penghormatan, kemudian berbalik setelahnya. Han Mi berniat untuk segera pergi dari sana, setidaknya ia ingin merasakan udara bebas tanpa adanya tekanan kuat dari pria itu.


Meskipun peluangnya kecil, aku tetap ingin berusaha menjalankan rencana itu ..., batin Han Mi seraya melangkahkan kakinya.


Kaisar Zhun yang melihat Han Mi mulai melangkah ke arah sebaliknya, segera meraih lengan kanan wanita tersebut. "Ke mana kau ingin pergi?" tanya Kaisar Zhun menusuk.


Han Mi tersentak, langkahnya seketika terhenti dengan lengan yang tertarik ke arah belakang. "Eeh!" teriaknya tertahan seraya menahan keseimbangan tubuhnya.


"Zhen tidak mengizinkan kau untuk pergi terlebih dahulu," ucapnya tepat di hadapan wajah Han Mi, dan setelahnya kejadian yang sangat Han Mi tidak inginkan pun kembali terjadi.

__ADS_1


Kaisar Zhun menarik paksa lengan Han Mi hingga wanita bertubuh kurus itu mengikutinya sedikit terseok-seok.


Kedua matanya pun melotot dengan sempurna, menatap tajam punggung berbalut hanfu dengan warna hitam dan merah itu. Rasanya Han Mi benar-benar ingin membunuhnya saat ini juga.


Ah ... aku sudah merasa lelah dengan semua ini. Setelah dipikir-pikir lagi, semua usahaku gagal total. Sekalipun berhasil, ia tetap dapat menemukanku. Memang pertemuan yang enggak disengaja sih, tapi semua itu seakan telah diatur sedemikian rupa supaya kami bisa bertemu, batin Han Mi.


Han Mi terus saja terdiam dengan lengan yang digenggam erat oleh Kaisar Zhun. Pemandangan indah yang berada di sekitar mereka terasa begitu hampa. Nyatanya, itu tidak dapat menggantikan perasaan galau pada diri Han Mi saat ini.


Tuhan pun sepertinya memang turut andil dalam semua kejadian ini. Haah ... aku benar-benar sudah pasrah. Sudahlah, dia mau ngapain pun ya bodo amat. Asalkan si Iblis enggak membunuhku, kurasa itu enggak masalah. Sebanyak apa pun aku berusaha untuk melarikan diri darinya, pada akhirnya aku akan kembali ke dalam sangkar mengerikan ini, 'kan? tanya Han Mi dalam hati. Bibirnya menampilkan senyum getir saat mengingat nasibnya itu.


Sungguh malang sekali. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Hidupnya selalu saja tidak berjalan sesuai keinginannya, dan itu membuat Han Mi pasrah dengan semua keadaan ini. Karena setidaknya, entah mengapa ia merasakan bahwa kehidupannya di sini akan lebih baik dari sebelumnya.


Han Mi juga tidak tahu kenapa, tetapi perasaan itu terasa kuat di dalam hatinya. Ia merasa bahwa di sini akan menemukan kebahagiaan yang diinginkannya, dan sama seperti apa yang diucapkan Hwang Lien Tianba di alam bawah sadar Han Mi kala itu.


Akan tetapi, yang menjadi permasalahannya adalah, Han Mi tidak tahu persis di mana tempat tersebut. Entah di dalam sangkar mengerikan ini atau di luar sana.


***


Langit malam telah terlihat di atas Kekaisaran Zhun. Bergelayut manja dengan bulan purnama yang menghiasinya. Sinar keperakan yang terlihat indah dipandang mata, memberikan setitik cahaya dalam kegelapan malam yang sunyi di Istana Kekaisaran.


Tak terasa lima hari telah berlalu begitu cepat. Semua kejadian yang ada di Istana Kekaisaran pun seakan tidak ada habisnya. Satu masalah selesai, muncul masalah yang lainnya.


Begitu seterusnya dan sama seperti saat ini, Kaisar Zhun terduduk di atas sebuah alas empuk di depan meja kamar peraduannya.


"Menjawab Bixia, hamba telah melaksanakannya sesuai perintah. Semuanya aman terkendali dan tak ada satu pun yang mencurigainya," jelas Zhang Junda cepat.


"Bagus. Kau berjagalah di sekitar, sepertinya Zhou Heng sudah mulai menampakkan dirinya," ucap Kaisar Zhun pelan.


"Baik Bixia. Jika seperti itu, hamba memohon untuk undur diri."


Tanpa berkata apa pun Kaisar Zhun mengangkat tangannya, memberikan sebuah isyarat bahwa Zhang Junda sudah dapat meninggalkan ruangan tersebut.


Dalam sekejap mata pria muda itu telah menghilang, menyisakan embusan angin yang terasa sejuk di tengah malam yang sunyi.


Sedangkan di sisi lain. Han Mi terlihat merasa amat bosan. Ia sama sekali tidak dapat tertidur, hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar peraduannya.


Semilir angin berembus menerpa tubuhnya, rambut yang tergerai berterbangan mengikuti arah angin. Di sana terlihat begitu sepi, tidak ada satu pun orang yang terlihat. Perlahan Han Mi kembali menutup pintu kamarnya dan berjalan di sepanjang lorong Istana Zihuā.


Dengan bertelanjang kaki ia menyusuri lantai kayu yang terasa dingin. Kedua matanya menikmati pemandangan dengan cahaya remang-remang yang tersaji di sekitarnya.


Cahaya keemasan yang terpancar dari lentera di sisi lorong dan juga obor yang terpasang di beberapa titik taman, terlihat begitu menenangkan jiwa.


“Udara di sini masihlah sangat sejuk dan terasa segar. Sungguh berbeda sekali dengan di sana. Kehidupan malam yang gemerlap, dipenuhi asap serta dentuman musik dan suara kendaraan yang memekakkan telinga. Lalu lintas padat dan orang-orang setengah sadar yang berjalan limbung di jalanan. Haah ... itu benar-benar memuakkan, membuat pusing kepala saja,” gumam Han Mi.

__ADS_1


Langkahnya terhenti tepat di atas sebuah paviliun kecil di tengah-tengah danau. Netra biru miliknya menatap lurus ke atas langit. Menikmati sinar bulan purnama berwarna keperakan yang sangat menyenangkan.


“Saat ini aku masih hidup, tapi tak tahu besok akan jadi seperti apa. Bisa saja saat pagi datang, ternyata kepala dan tubuhku sudah terpisah satu sama lain. Argh! Sial, kenapa aku harus masuk ke dunia peperangan yang penuh intrik begini sih!? Dan bagusnya Kaisar Zhun tak memiliki satu selir pun. Setidaknya itu mengurangi bebanku,” lirihnya.


Han Mi mengalihkan pandangannya ke arah danau yang terbentang luas di sekitarnya, pantulan bulan purnama terlihat begitu nyata di atas permukaan danau tersebut.


Perlahan ia terduduk di atas batang kayu khusus yang berada di dekatnya. Tangannya yang bebas terulur masuk ke dalam air danau. “Dingin!” Han Mi langsung menarik tangannya.


“Ini serius air danau? Kenapa dingin kayak air es? Sungguh aneh, cuaca di sini memang dingin, tapi bagaimana bisa air danau lebih dingin dari cuaca yang kurasakan?” Tangannya menyentuh dagu kemudian mengusapnya secara perlahan. Sejenak ia memikirkan sesuatu.


Cukup lama hingga akhirnya ia menaruh tangannya di atas pagar pembatas yang berada di hadapannya, menyandar disana seraya menangkup kepalanya dengan satu tangan.


Pandangannya itu tertuju ke dalam air danau, seakan ia dapat melihat isi dari danau tersebut. “Yang kurasakan tadi, itu perasaan aneh macam apa?” gumamnya lagi.


Semilir angin yang terasa dingin, tetapi sangat menyegarkan tiba-tiba saja berembus, menerpa tubuh Han Mi yang berbalut hanfu tidur tipis berwarna biru-putih.


Embusan angin kencang tiba-tiba saja menerpanya. Sesosok pria bertubuh tinggi muncul di depan sana bersamaan dengan angin kencang yang kembali berembus. Memberikan sensai aneh yang terasa kental.


Sosok tersebut berdiri tegak di atas permukaan air danau dengan tubuh yang berbalut jubah bertudung biru tua. Wajahnya tersembunyi dibalik tudung tersebut. Membuatnya terlihat begitu misterius.


Han Mi yang melihat pemandangan itu langsung menegakkan tubuhnya. Memandang sosok tersebut dengan penuh waspada.


"Zhou Heng memberikan salam kepada Permaisuri Hwang Lien Tianba," salam pria tersebut dengan penuh penghormatan. Tangannya terangkat dengan kepala yang tertunduk.


Perlahan pria itu menegakkan tubuhnya, manik hitamnya tertuju lurus pada Han Mi yang terdiam dengan ekspresi kaget di dalam paviliun. "Lama tidak berjumpa, Hwang Lien Tianba," sapa sosok tersebut dengan suara lembut ke arah Han Mi.


.


.


Bersambung.


.


.


Naskah :


Jakarta, 22 Juli 2020.


Publish :


Jakarta, 30 September 2020.

__ADS_1


__ADS_2