
Suasana ruang takhta telah sepi, hanya ada Kaisar Zhun dan Penasihat Nianzu Wei yang masih berada di tempatnya masing-masing.
Kaisar Zhun masih terlihat rapih, berbalut hanfu khusus Kekaisaran berwarna emas dan merah yang begitu mewah, ia terduduk tak nyaman dengan tangan kanan membuka sebuah gulungan bambu berukuran sedang. Netra hitam pekat itu menatap serius tulisan bertinta merah yang tertera di sana.
Jari-jemarinya langsung menggenggam gulungan bambu tersebut penuh emosi. Seperti biasa, wajahnya yang selalu tanpa ekspresi itu sama sekali tak berubah. Walaupun, saat ini emosinya mulai terpancing. Rahangnya terlihat mengeras dengan napas yang mulai memburu.
Kaisar Zhun meraih cangkir teh porselen di dekatnya kemudian membantingnya penuh emosi ke arah lantai kayu hingga hancur dan berserakan. Pandangannya tertuju lurus pada pintu berukuran besar yang terbuka jauh di depan.
Dia berani melakukan hal tersebut kepadaku?! batin Kaisar Zhun.
“Nianzu Wei! Apakah kau telah menyiapkannya?” tanya Kaisar Zhun berusaha meredam sedikit emosinya yang mulai meledak.
“Menjawab Bixia Huang di. Semuanya telah disiapkan sebaik mungkin, Bixia.” Penasihat Nianzu yang berdiri tak jauh dari kursi takhta memberikan penghormatan ke arah sang Kaisar.
Jenderal Li yang akhirnya telah sampai di ruang takhta langsung berlutut dengan penuh tanda tanya seraya memberikan penghormatan di hadapan sang Kaisar.
“Hormat kepada Yang Mulia Tuan Agung Kekaisaran Zhun, Sang Dewa Peperangan. Li Jianjun datang memenuhi perintah.”
Brak!
Jenderal Li yang menunduk seketika terkejut dengan sebuah gulungan bambu yang terbuka di depannya. Ia melihatnya dengan bingung, kemudian memberanikan diri mengangkat wajahnya. “A—apa i—”
“Kau lihatlah,” perintah Kaisar Zhun menunjuk gulungan bambu yang berisi sebuah laporan di hadapan Jenderalnya.
Perlahan tapi pasti, Jenderal Li meraih gulungan tersebut. Menatapnya, kemudian membacanya dalam hati dengan saksama. Semakin ke kanan ia membaca laporan tersebut, keningnya semakin menampilkan kerutan yang tajam.
Ini ... kuyakin, ia pasti akan mati hari ini, pikir Jenderal Li
“Bixia ....” Jenderal Li menatap Kaisar Zhun yang kini tengah menatapnya tajam.
Tanpa berkata apa pun, Kaisar Zhun bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah kiri dengan tekanan luar biasa yang menguar dari tubuhnya, membuat suasana di dalam ruang takhta semakin terasa mencekam.
“Zhen akan berganti pakaian terlebih dahulu. Lalu, kita segera berangkat menuju tempat yang tertera dalam laporan itu.”
Meskipun terkejut, Jenderal Li berusaha menjawab Kaisar Zhun, “Ba—baik Bixia.”
Ia bahkan sampai turun langsung menangani hal ini, pikir Jenderal Li.
Dalam diam Kaisar Zhun terus melangkahkan kakinya di atas jembatan kayu yang menghubungkan Istana Wēiyán dengan Istana Zuēwáng.
Netra hitam pekat itu terlihat menatap lurus ke depan, begitu tajam hingga membuat Zhang Junda yang bersembunyi di balik bayangan seakan tak dapat bernapas dengan baik.
“Zhang Junda, Zhen memberikan sebuah tugas untukmu,” ucap Kaisar Zhun seraya terus berjalan, “lenyapkan Shen Gao Manjue malam ini juga, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun,” perintah Kaisar Zhun tegas.
Suhu di sekitar yang terasa hangat, kini berubah menjadi dingin, mengiringi langkah Kaisar Zhun hingga ke kediaman pribadinya.
__ADS_1
“Baik, Bixia,” jawab Zhang Junda pelan. Ia langsung menghilang bersama embusan angin kencang yang muncul.
***
Cahaya jingga mulai terlihat di langit, menandakan hari mulai sore. Han Mi yang masih berada di pasar bersama anak laki-laki bermarga Lao itu, terus berjalan mencari kebutuhan yang diperlukan untuk anak yang telah ditolongnya.
“Apakah masih ada yang harus kita beli?” tanya Han Mi pada Lao Bong Yu.
“Enggak! Maksud aku ... enggak ada lagi. Paman sudah membeli semua yang kami perlukan. Jadi, ini saja sudah sangat lebih untuk Lao ge dan aku,” jujur Lao Bong ke arah Han Mi, “bisakah kita pulang saja, paman? Aku ingin segera bertemu dengan Lao ge,” lanjutnya dengan memohon.
Aah ... sungguh persaudaraan yang sangat erat, batin Han Mi.
Sebuah senyum tersungging di bibir Han Mi, menatap lembut anak laki-laki berusia 5 tahun di depannya itu. “Baiklah, ayo kita kembali ke Tabib Qing!” kata Han Mi riang, seraya berdiri dari posisi jongkoknya dan segera menggenggam tangan kanan Lao Bong.
“Ayo!” seru Lao Bong tak mau kalah.
Keceriaan yang sudah sangat lama Han Mi tak rasakan, membuatnya terus menampilkan senyuman. Merasakan kehangatan yang terasa merindu akan masa lalu.
Sungguh, sejak menikah dengan Baek Ho Shik, ia ingin sekali merasakan sesuatu seperti ini. Sudah lama menikah dengan Dokter bedah jantung itu, Han Mi sama sekali tak memiliki seorang keturunan.
Perasaan sesak yang begitu menyakitkan perlahan mulai merangkak naik melalui celah di hatinya. Sebuah ingatan di mana saat itu Han Mi sedang hamil, pertama kalinya mereka berdua diberi keturunan, dan itu benar-benar membuat Han Mi bahagia tak terkira.
Namun, penolakan yang ditunjukkan sang suami membuatnya hancur, apalagi saat Ho Shik berhasil menggugurkan kandungan dalam perut Han Mi. Dunia Han Mi seketika hancur saat itu juga.
Netra birunya tertuju lurus pada jalanan pasar yang banyak kios-kios saling bergantian untuk berdagang di sisi kanan dan kiri. “Haah ....” Han Mi menghembuskan napas pasrah. Sudahlah, itu hanya kehidupan masa lalu. Lebih baik aku terfokus pada kehidupanku saat ini, batin Han Mi.
Han Mi terus melangkah dengan tangan kiri menggenggam tangan Lao Bong. Selama berbelanja tadi, Han Mi telah menanyakan banyak pertanyaan kepada Lao Bong.
Namun, itu belum semuanya. “Lao Bong, apakah kamu tahu siapa orang yang sering memberimu makanan?” tanya Han Mi pelan.
“Lao Bong enggak tahu. Satu minggu sekali, tiba-tiba saja penyimpanan di dapur kami sudah penuh dengan makanan dan minuman, yang enggak pernah kami lihat sebelumnya. Selalu saja seperti itu, tapi ... sudah seminggu sejak kemarin, dapur kami kosong.” Anak laki-laki itu menatap wajah Han Mi dari posisinya, kemudian mengalihkan ke arah depan, di mana jalan itu mulai terlihat semakin ramai.
“Aku kelaparan dan Lao ge bilang akan mencari makanan untukku. Namun, karena Lao ge enggak balik juga akhirnya kususul, dan ternyata ....” Tiba-tiba saja Lao Bong mengusap matanya menggunakan lengan tangan kiri, yang sedang menggenggam sebuah kantung berisi makanan yang tadi mereka beli.
Han Mi yang mendengar Lao Bong menghentikan ucapannya, menatap anak laki-laki tersebut. Tatapannya berubah sendu, perlahan ia melepaskan genggaman pada tangan kanan Lao Bong, kemudian mengusap puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang, seraya terus melangkah.
"Tidak apa ... tidak apa ... menangislah, Paman ada di sini," ucap Han Mi pelan.
Lao Bong yang mendengar suara lembut itu, langsung terbayang akan kedua orang tuanya yang telah tiada. Membuatnya semakin menangis kencang.
***
Tanpa berkata apa pun, Kaisar Zhun berjalan dengan mantap menuju pintu masuk ke tempat pengobatan Tabib Qing, diikuti dengan Jenderal Li yang berjalan satu langkah di belakangnya.
“Tidak perlu memberitahukan peringatan kedatangan Zhen. Hari ini kita datang sebagai orang biasa,” ucap Kaisar Zhun terus melangkah masuk.
__ADS_1
“Baik, Bixia.” Dengan patuh, Jenderal Li menunduk penuh penghormatan kepada Kaisar Zhun.
Suasana sepi menyambut mereka sesaat setelah berada di dalam aula tersebut. Derap langkah milik Kaisar Zhun dan juga Jenderal Li memenuhi aula kediaman Tabib Qing—yang mana pada bagian depannya merupakan aula pengobatan yang sengaja di buat secara khusus.
Seorang pria muda terlihat mendekat seraya membungkukkan sedikit tubuhnya, dengan tangan yang terangkat ke arah depan menyambut kedatangan pelanggannya.
“Selamat datang Daren, adakah yang bisa saya bantu?” tanya seorang pria muda yang mengenakan hanfu berwarna putih dengan rambut panjang, diikat menggunakan sebuah pita dan tusuk rambut berwarna hitam.
“Kudengar, baru saja ada pasien anak kecil yang dibawa ke tempat ini. Tunjukkan jalannya kepadaku,” ucap Kaisar Zhun secara langsung. Kini, ia tidak menggunakan kata Zhen, dikarenakan sedang dalam penyamarannya.
Pria tersebut sedikit mengangkat wajahnya, ekspresinya terlihat ramah, meskipun sejujurnya ia sedikit merasa aneh.
Bagaimana—
Melihat tak ada jawaban dari pria tersebut, tanpa sadar Kaisar Zhun mendelik tajam ke arah pria muda itu. “Panggilkan Tabib Qing untuk menghadap,” perintah Kaisar Zhun.
Menyeramkan! jerit pria tersebut dalam hati. “Ba—baik Daren, tolong tunggu sebentar. Saya akan memanggilkan Tabib Qing,” kata pria muda itu dengan terburu.
Tubuhnya sedikit membungkuk untuk memberikan hormat sebelum akhirnya berbalik, dan berjalan cepat menuju salah satu pintu yang berada di balik sebuah meja panjang, dengan banyak laci-laci tersusun rapih yang tertanam di dinding berukuran besar di sebelahnya.
“Ampun Bixia, apakah hamba harus menunggu di sini saja?” tanya Jenderal Li dengan suara rendah tepat di sebelah kanan, sedikit ke belakang Kaisar Zhun.
“Tidak, kau akan ikut masuk dengan Zhen,” balas Kaisar Zhun seraya melipat tangannya di depan dada dan menunggu kedatangan Tabib Qing dengan sabar.
“Baik, Bixia.” Jenderal Li menganguk sekilas kemudian menegakkan tubuhnya kembali.
Di kejauhan, sebuah pintu yang berbeda dari yang lainnya terbuka, menampilkan seorang pria tua bersama pria muda tadi. Terlihat berjalan mendekat menuju Kaisar Zhun.
Tatapan ramah yang di miliki pria tua itu tertuju lurus pada Kaisar Zhun yang terlihat seperti biasanya, wajah tanpa ekspresi dan tatapan mata yang tajam.
Pria ini ... bukanlah orang sembarangan, batin pria tua itu setelah merasakan aura yang sungguh luar biasa memancar dari tubuh Kaisar Zhun.
.
.
Bersambung.
.
.
Naskah :
Jakarta, 16 Juli 2020
__ADS_1
Publish :
Jakarta, 17 September 2020