Empress Of The Emperor

Empress Of The Emperor
Cp 03 | Akhir atau Awal?


__ADS_3

Han Mi terlihat duduk merenung di kursi belakang mobil sedan. Netra cokelat terangnya terasa memanas, tetapi tak ada satu pun air mata yang dapat keluar. Dengan perasaan yang bercampur aduk Han Mi meremas tangannya seraya menahan diri supaya tidak lepas kendali.


Suara desahan yang masih saja muncul dan masuk ke indra pendengarannya benar-benar membuat Han Mi kembali emosi. Rahangnya terlihat mengeras, dengan wajah yang mulai memerah.


Sungguh! Han Mi itu adalah istri sahnya Baek Ho Shik, tetapi pria itu kembali bercumbu dengan wanita lain di depan matanya. Di dalam mobil, dan saat ini Han Mi sedang duduk di kursi belakang!


"*C*hagiya ... sudah, bukankah kau—" Han Mi semakin meremas jari jemarinya dengan kesal seraya mendengarkan dua percakapan manusia di depannya tanpa minat


"Bukankah kau ingin bertemu dengan mertuamu?” tanya wanita asing itu yang terlihat sangat menikmati permainan Ho Shik seraya terus mengeluarkan suara desahan yang terdengar menjijikan di telinga Han Mi.


“Biarkan saja dia. Sekali lagi, kita akan menyelesaikannya.” Ho Shik menatap lurus wanita tersebut seraya mengedipkan sebelah matanya.


“Tapi ist—”


“Jangan kau sebut dia lagi,” balas Ho Shik dingin.


SIALAN! Teriak Han Mi dalam hati. Ia semakin merasa muak. Entah sudah berapa kali Han Mi mengumpat. Ho Shik benar-benar telah berhasil menyulut api yang ada dalam diri Han Mi.


“Ayah dan ibu tak suka menunggu, kuyakin mereka telah sampai di sana sekitar 5 menit yang lalu,” ucap Han Mi tanpa pikir panjang. Tatapannya tertuju lurus pada pemandangan dibalik kaca jendela mobil. Menatap padang rumput yang membentang luas di luar sana.


“Ck!” decak Ho Shik seketika. Ia ingin marah, tetapi ucapan Han Mi ada benarnya juga. Jika mereka tak sampai tepat waktu, maka ia sendirilah yang nantinya akan repot mengurus mertuanya itu.


Pada akhirnya, Ho Shik menyelesaikan hal gila tersebut bersama wanita simpanannya dengan cepat dan langsung melajukan mobil sedan hitam itu kembali. Namun, sungguh nahas ternyata sampai di sinilah akhir kebencian Han Mi terhadap suaminya. Sepertinya Tuhan lebih mengerti akan perasaan Han Mi.


Tuhan juga lebih menyayangi Han Mi dibandingkan mereka semua yang hanya bisa merusak, dan saat itu juga Han Mi merasa sangat bahagia karena akhirnya Tuhan telah menjawab segala do’a yang dia panjatkan.


“AAAAHH! HO SHIK!” jeritan wanita simpanan Ho Shik yang terdengar sangat memekakkan telinga, langsung membuat Han Mi memejamkan kedua matanya.


Han Mi sangat mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Sama seperti wanita sialan itu, tetapi suaranya tercekat ditenggorokan, sampai-sampai ia terkejut dan hanya bisa diam dengan apa yang terjadi selanjutnya. Bergerak membuka pintu mobil pun sama sekali tak akan sempat. Kejadiannya berlangsung begitu cepat.


“Haish!”


Di depan sana, ada sebuah mobil lain yang melaju kencang dari arah berlawanan, dan langsung menabrak mobil yang dikendarai Ho Shik. Bahkan, hingga terguling menabrak pagar pembatas dengan keras, yang kemudian terjun bebas dan tercebur begitu saja ke dalam laut.


Perlahan Han Mi membuka matanya saat merasakan tubuhnya sedikit melayang. “Ternyata, seperti inilah akhir hidupku,” gumam Han Mi, seraya menatap ke arah samping kirinya, di mana terdapat lautan yang begitu luas terbentang di bawah mereka.


Byur!


Han Mi yang memang tak dapat berenang sama sekali, hanya bisa pasrah akan apa yang selanjutnya terjadi. Lagi-lagi ... ia hanya bisa pasrah.


Bodoh!


Sedangkan Ho Shik, dengan cekatan menolong wanita selingkuhannya itu dibandingkan menolong Han Mi, yang notaben adalah istri sahnya.


“Ho—”


Blup ... blup ....


Han Mi langsung menutup bibirnya menggunakan tangan kanan, percuma saja ia berteriak, saat ini ia sedang di dalam air dan membuka mulut adalah pilihan terburuk!

__ADS_1


Han Mi menatap Ho Shik yang berhasil keluar dari mobil. Dengan segera ia membuka pintu mobil yang ada di sebelah kirinya, dan ... itu berhasil! Akan tetapi, usahanya hanyalah sia-sia. Han Mi tak dapat berenang, di tambah lagi saat ini Han Mi sudah tak kuat menahan napas, tubuhnya terasa lemas.


Aku ... butuh oksigen ..., tegasnya dalam hati.


Lagi, meskipun itu sangat mustahil, Han Mi tetap mencobanya. Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk berenang ke permukaan, dan sama sekali tak membuahkan hasil apa pun.


Tangan kanannya segera menggenggam liontin kalung berbentuk ukiran dua naga emas yang saling melilit membentuk sebuah lingkaran. Kalung ini ... adalah sebuah kalung yang diberikan oleh seorang kakek tua aneh yang pernah Han Mi tolong.


Bahkan ... hingga akhir hidupku ... ia tak memedulikanku sama sekali. Kau tahu, Ho Shik? Itu benar-benar membuat hatiku hancur.


Sudahlah, mengharapkannya hanya akan membuatku benar-benar seperti orang yang sangat bodoh. Eh? Tidak, berkatnya aku ini memang sudah menjadi orang paling bodoh sedunia yang mulai tak waras.


Han Mi semakin lemah, dan tubuhnya perlahan semakin turun. Seakan kegelapan yang berada di bawahnya telah menyambut Han Mi dengan tangan terbuka lebar, dan penuh rasa kebahagiaan.


Pandangannya yang mulai perih juga memburam akibat air laut, tertuju lurus ke arah dua manusia yang sedang berenang naik ke permukaan, semakin menjauh darinya.


Aku sudah tak kuat lagi! Air laut yang masuk, rasanya sangat perih dan menyakitkan. Detak jantungku ... berdetak semakin lambat? Oh tidak!! batin Han Mi.


Genggamannya pada liontin dua naga emas itu mulai mengendur, netra dengan iris berwarna cokelat miliknya perlahan mulai terpejam.


Sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini, aku hanya ingin memohon satu permohonan terakhirku. Sekejap, ia kembali menggenggam erat liontin naga emas itu.


Jika ada yang namanya kehidupan setelah kematian, aku hanya ingin memiliki kehidupan yang damai dan dapat merasakan cinta yang tulus. Indahnya dicintai maupun mencintai seseorang tanpa adanya perlakuan kejam yang kurasakan seperti ini. Rasanya sangat menyakitkan.


Permohonan yang egois, ‘kan? Akan tetapi ... aku sangat berharap akan hal itu. Ahaha, aku benar-benar sudah gila. Tidak mungkin permohonan seperti itu akan terjadi! Karena sudah jelas, aku tak akan pernah hidup kembali. SELAMANYA.


Kedua matanya semakin terpejam rapat, kesadarannya pun mulai memudar. Kegelapan sudah dengan setia memeluk Han Mi begitu erat. Kini, hanya ada keheningan yang menyambutnya dengan suka duka.


Selamat tinggal ... dunia. Aku sangat mencintai kalian berdua ... ibu ... ayah dan, terima kasih Tuhan, aku merasa sangat bahagia ....


***


Malam semakin larut, hujan pun tak kunjung mereda. Di langit sama sekali tak ada tanda-tanda kilat dan guntur itu akan berhenti juga.


Semuanya terlihat semangat mencari secara bersama, meskipun tubuh telah basah dan menggigil terguyur dinginnya air hujan dan suhu rendah pada malam hari, mereka tetap harus mencarinya demi menjalankan perintah dari sang penguasa yang terkenal bagai iblis itu.


“Periksa mayatnya dan lacak dari mana asal penyusup ini,” perintah Kaisar Zhun tak terbantahkan seraya mencabut pedangnya.


“Ba—baik Bixia!” seru mereka secara serempak dengan suara yang bergetar.


Ketiga prajurit itu menatap ngeri ke arah tubuh malang penyusup di belakang sana yang menjadi sasaran empuk kemarahan sang kaisar. Pandangannya teralih ke arah leher yang kini terdapat sebuah lubang menganga dengan darah masih mengucur deras keluar dari luka tersebut.


Menelan ludah terasa seperti menelan sebuah batu. Ketiga prajurit itu saling berpandangan penuh rasa takut. Kaisarnya benar-benar berjiwa iblis, tetapi ... terkadang 0,1 persen bagian dari 100 persen jiwa iblis milik Kaisar Zhun dapat berubah menjadi jiwa malaikat juga. Perbandingan yang sungguh mengerikan.


Setelahnya mereka segera berpencar, satu orang menolong sang komandan yang tergeletak di sebelah kiri, kemudian segera membawanya ke regu khusus bagian pengobatan. Sedangkan dua orang lainnya memeriksa tubuh penyusup yang sudah tak bernyawa di depan sana.


Sebuah kilat disertai gemuruh petir tiba-tiba saja menggelegar menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Sebuah teriakan terdengar samar dari kejauhan, teredam oleh derasnya hujan.


“BIXIA ... BIXIA HUANG DI!!!”

__ADS_1


Di sana terlihat sesosok prajurit yang lengkap dengan baju zirahnya, tengah berlari mendekat dengan napas yang tersengal-sengal. Kedua kakinya segera berhenti tepat di hadapan Kaisar Zhun.


Wajahnya yang terlihat sedikit pucat, tidak menghilangkan ketampanan yang dimilikinya. Tubuhnya membungkuk, netra dengan iris berwarna biru itu terlihat sipit, ia menatap lurus ke arah tanah becek di bawahnya.


Kaisar Zhun yang melihat hal tersebut hanya berdiri dalam diam, seraya memperhatikan tanpa minat ke arah prajuritnya yang sedang mengatur napas sambil menunduk.


Setelahnya, Kaisar Zhun segera mengalihkan pandangannya untuk menatap sesuatu di kejauhan sana, yang entah kenapa sangat menarik perhatiannya.


Ada perasaan kuat yang memaksanya harus datang ke arah sana sesegera mungkin. Bahkan ... perasaan itu, sampai dapat menembus hati Kaisar Zhun yang telah membeku dalam waktu lama.


Apakah itu adalah dia ... atau memang hanya perasaanku saja?


Prajurit tersebut menegakkan tubuhnya dan bersiap untuk berbicara, namun masih dengan beberapa tarikan napas yang sedikit tidak teratur, akibat berlari dalam jarak yang cukup jauh.


"Permaisuri! Haaaah ... kami menemukannya! Haaaah ... tepat di hilir sungai, tubuhnya tersangkut di batang pohon yang berada di dasar sungai. Ah! Bixia, Anda harus berhutang pada hamba untuk masalah yang satu ini. Haaaah ... ya ampun! Haah ....”


Netra dengan iris berwarna hitam pekat itu membelalak sempurna, tatapannya langsung tertuju pada prajuritnya.


“Kau serius, Li Jianjun!?” tanyanya sedikit tak terkendali. Jantungnya berdetak begitu kencang, hingga rasanya seperti ingin meledak!


"Hamba serius, haaah ... bahkan hamba akan memberikan seluruh uang hamba jika untuk Anda, eh? Tidak, tidak, hamba tak akan memberikannya, jadi tolong Bixia lupakan saja," balas prajurit yang merupakan seorang Jenderal bernama Li Jianjun itu seraya masih sedikit mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


Akhirnya, sekarang Kaisar Zhun tahu jawaban dari apa yang sedari tadi ia rasakan di kejauhan sana. Tanpa di duga, dalam sekejap mata Kaisar Zhun telah menghilang dari pandangan mereka berempat.


Menyisakan embusan angin kencang yang menerpa seluruh benda apa pun di dekat sana, hingga genangan air hujan pun terciprat ke segala arah.


Li Jianjun yang terkena imbas dari kelakuan kaisarnya, langsung mengusap wajahnya yang terciprat oleh genangan air dengan sedikit kesal. Belum lagi, hujan yang kini semakin bertambah deras, membuatnya mengusap wajahnya untuk yang kedua kali namun, nyatanya itu percuma saja.


"Dasar pria gila. Dia itu beneran enggak kira-kira kalau ngeluarin kekuatannya. Memangnya enggak bisa kalau dikontrol sedikit, apa ya?! Sudah tahu di belakang sana ada tiga bawahannya juga. Haish!” Gerutu Jenderal Li kesal.


Akan tetapi ... aku masih tak percaya jika dia bisa sekhawatir itu dengan Yang Mulia Permaisuri. Jadi ... apakah gunung es itu telah mencair?


.


.


Bersambung.


.


.


Naskah :


Jakarta, 26 Juni 2020


Publish :


Jakarta, 05 Juli 2020

__ADS_1


__ADS_2