Empress Of The Emperor

Empress Of The Emperor
Cp. 17 | Alasan yang Sia-sia


__ADS_3

Terik mulai menunjukkan taringnya. Terlihat begitu menyilaukan di atas langit hari ini. Tak terasa satu minggu telah berlalu setelah kejadian Han Mi berpura-pura sakit perut di lorong Istana.


Akting kedua kalinya yang sengaja dilakukan Han Mi supaya ia tak datang menemui Kaisar Zhun di Istana Zuēwáng.


Maksud hati ingin menghindar, Han Mi malah mendapatkan sesuatu yang lebih mengerikan. Ia benar-benar merasa seperti hidup di dalam neraka untuk beberapa lama.


Karena nyatanya, tak hanya hari itu saja Kaisar Zhun meminta Han Mi untuk melayaninya—membantunya menyiapkan diri untuk berpakaian—melainkan, memintanya selama tujuh hari berturut-turut!


Entah mengapa Han Mi merasa ini adalah pengganti dari hukuman pengasingannya di Paviliun Piānlín waktu itu. Akan tetapi, seharusnya tidak menjadi seperti ini.


Ia telah diculik dan pikirannya selalu mengarah pada Kaisar Zhun. Bahwa pria pemilik wajah rupawan itulah yang telah membuatnya pingsan, lalu membawanya kembali ke Istana Zihuā.


Ah tidak, maksudnya bukan dia secara langsung, tetapi Kaisar Zhun lah yang memerintahkan bawahannya untuk melakukan hal tersebut.


ARGH. Kalau diingat-ingat lagi aku jadi tambah kesal! Lebih baik berada di paviliun berhantu itu saja daripada harus dekat-dekat dengannya, batin Han Mi frustrasi.


Langkahnya terus menyusuri lantai kayu yang di sisi kanan-kirinya terdapat pemandangan indah. Taman dan pepohonan, serta danau yang terbentang luas berhiaskan tanaman bunga teratai ungu yang indah.


Hal itu sukses membuat Han Mi terkagum. Walaupun, saat ini ia sedang dalam perdebatan batin memikirkan rencana melarikan diri selanjutnya.


Baiklah! Rencanaku kali ini pasti berhasil. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa menghindar darinya. Tenanganlah ... tenanglah Jung Han Mi. Sekarang kamu pasti bisa kembali ke Istana Zihuā dengan segera, batin Han Mi.


Han Mi terus mengikuti langkah Kaisar Zhun dari belakang. Menyusuri jalan batu yang sangat memanjakan mata di sekitar Istana.


Sebelumnya, mereka telah mengunjungi kediaman utama keluarga bangsawan Shen untuk meninjau kasus di lapangan.


Sejujurnya, Han Mi bahkan berpikir hingga beberapa kali perihal kedatangan mereka langsung ke tempat tersebut.


Kaisar Zhun yang merupakan seorang penguasa tertinggi di Kekaisaran Zhun, turun langsung ke lapangan hanya untuk memastikan kebenarannya?


Hey, bukankah hanya dengan menyuruh Jenderal atau Komandan Prajurit beserta bawahannya saja sudah cukup?


Akan tetapi, pemikiran Kaisar Zhun berbeda dari mereka semua. Ia adalah tipikal orang yang harus turun tangan langsung menangani permasalahan tersebut, terkhusus untuk permasalahan besar dan berpengaruh terhadap keberlangsungan Kekaisaran Zhun.


Sesampainya di Istana Kekaisaran, Kaisar Zhun memilih untuk segera kembali ke Istana Zuēwáng. Melakukan jamuan makan pagi yang tertunda kemudian beristirahat.


Suasana hening kembali tercipta, hanya terdengar derap langkah kaki yang memenuhi setiap lorong Istana yang mereka lewati.

__ADS_1


Jenderal Li yang telah usai melakukan tugas mengawal Kaisar Zhun, segera kembali melakukan tugas lainnya yang sempat tertunda.


Kini ... hanya menyisakan Kaisar Zhun dan Han Mi. Perasaan canggung sangat dirasakan oleh Han Mi, bukan karena permasalahan hati atau cinta.


Melainkan, lebih kepada rasa takut bahwa suatu saat ia dapat dibunuh oleh Kaisar Zhun secara langsung. Perasaan takut wanita yang mengenakan hanfu warna senada dengan suaminya itu, sangat berbanding terbalik dengan keadaan Kaisar Zhun yang terlihat biasa saja, acuh tak acuh seperti tak terganggu oleh apa pun.


Pembawaannya yang dingin dan selalu tenang bagaikan air, membuatnya terlihat berkarisma dalam balutan hanfu yang dikenakannya saat ini. Walaupun seperti itu, sama sekali tak mengubah pandangan Han Mi terhadap sang Kaisar.


Hal itu tetap saja terlihat mengerikan, meskipun sosok pria tinggi yang berada di hadapannya ... tak dapat dipungkiri lagi bahwa pria itu memiliki karismatik yang begitu besar. Penuh akan pesona menggirukan bagi kaum hawa.


Alisnya yang tebal, netra hitam pekat yang dapat membuat siapa pun merasa terintimidasi, hidung mancungnya, juga bibir tipisnya yang begitu seksi dengan warna merah muda alami, terbingkai bagai pahatan Tuhan yang paling sempurna di wajah oval tersebut.


"Kau akan ke ruangan Zhen terlebih dahulu," kata Kaisar Zhun yang terdengar lebih mirip seperti perintah bagi Han Mi.


Han Mi mengangkat kepalanya, menatap punggung pria di depannya dengan penuh tanda tanya. Ia hanya terdiam seraya terus melangkahkan kakinya di belakang Kaisar Zhun. Meskipun Han Mi terlihat seperti tak terganggu, nyatanya ... langkah kakinya saat ini terasa begitu berat untuk mengikuti Kaisar Zhun.


Han Mi yang mulai menyadari perkataan Kaisar Zhun barusan langsung menatap punggung di hadapannya dengan kesal.


APA-APAAN INI? Hey Iblis sialan, aku sudah berencana untuk kembali ke kediamanku! Sudah empat kali rencanaku gagal, masa iya yang kelima ini juga harus gagal? Oh ayolah! batin Han Mi frustrasi.


"Kau bisa beristirahat di tempat Zhen sejenak."


"Akan tetapi—"


"Zhen tidak menerima sebuah penolakan," potong Kaisar Zhun lagi yang langsung membuat Han Mi bungkam.


Ampun dah ... aku harus diam begini terus? batin Han Mi. Ia benar-benar ingin menangis, tetapi lagi-lagi tak ada air mata yang berhasil keluar. Sungguh mengenaskan, hasil karya Baek Ho Shik ternyata terus membekas hingga kehidupannya di sini.


Saat mereka ingin berbelok menuju jembatan penghubung antara ruang utama dengan ruang jamuan makan Kaisar Zhun, Kasim Wu yang sudah menunggu sedari tadi segera memberikan salam kepada Kaisar Zhun yang berada hampir dekat dengannya.


"Hormat kepada Yang Mulia Tuan Agung Kekasiaran Zhun, Sang Dewa Peperangan." Kasim Wu berlutut memberikan penghormatan penuh kepada sang Kaisar dan Permaisuri.


Kaisar Zhun yang melihat hal tersebut langsung memberhentikan langkahnya untuk sesaat, mendengarkan apa saja yang ingin disampaikan oleh Kasim tua tersebut kepadanya.


"Jamuan makan siang telah dipersiapkan, Bixia Huang di dan Yang Mulia Permaisuri dapat langsung menuju ruang jamuan makan," jelas Kasim Wu seraya bangkit berdiri dan bergeser untuk memberikan jalan kepada Kaisar Zhun juga Han Mi.


Kaisar Zhun menatap Kasim Wu yang masih memberikan salam penghormatan di bawah sana. "Hm," deham Kaisar Zhun sebagai jawaban singkat.

__ADS_1


Kaisar Zhun kembali melangkah, diikuti dengan Han Mi yang berjalan tak jauh di belakangnya, juga Kasim Wu dan Jenderal Li yang berjalan bersisihan di posisi paling belakang. Manik hitam itu seketika berlabuh pada pohon sakura yang berada di depan sana.


Pohon sakura yang lumayan tinggi dan terlihat sudah mulai berbunga, begitu indah dipandang mata. Harum khas bunga dan air danau tercium jelas saat semilir angin berembus menerpa mereka, menimbulkan kesan sejuk yang dapat menenangkan hati.


Suara gemericik air juga ketukan khas dari bambu berukuran sedang yang berada di atas batu tengah-tengah kolam—tepat berada di bawah pohon sakura tersebut—terdengar begitu nyaring di keheningan Istana Zuēwáng.


Suara-suara yang terdengar tak hanya menimbulkan sebuah kebisingan. Namun, memiliki sesuatu yang terasa menyenangkan ketika kau mendengarkannya secara langsung.


Perpaduan antara gemericik air, ketukan bambu dengan batu dan angin yang berdesir menggerakkan ranting-ranting serta dedaunan, terdengar bagai simfoni yang amat merdu, menusuk masuk ke indra pendengaran siapa pun yang berada di sana.


Termasuk Kaisar Zhun, ia dapat dengan jelas mendengar setiap bunyi yang berada di sekitarnya. Kemampuan yang sangat istimewa dan berbeda dari manusia lainnya ini adalah bawaan sejak lahir.


Tatapannya seketika berpindah ke arah kirinya dengan tergesa, tertuju lurus pada satu titik di kejauhan sana. Menatap tajam pada punggung seseorang yang berada di dalam hutan bambu ke sukaannya.


"Wu Shoushan," panggil Kaisar Zhun seraya memberhentikan langkahnya.


"Ya, Bixia? Apakah ada sesuatu yang harus hamba lakukan?" Kasim Wu menunduk pelan seraya mengangkat tangannya yang saling bertaut ke arah depan.


Han Mi dan juga Jenderal Li yang melihat ke arah pandangan Kaisar Zhun berlabuh, seketika terdiam. Menebak apa yang kira-kira sedang dipikirkan oleh sang Kaisar saat tadi tiba-tiba saja mengalihkan pandangan dengan gerakan cepat ke arah sisi sebaliknya.


.


.


Bersambung.


.


.


Naskah :


Jakarta, 10 Juli 2020


Publish :


Jakarta, 30 Agustus 2020

__ADS_1


__ADS_2