Empress Of The Emperor

Empress Of The Emperor
Cp. 13 | Kekejaman Sang Suami


__ADS_3

Sebuah kepala tiba-tiba saja menggelinding dan berhenti tepat di kaki Han Mi. Wajahnya menatap ke arah Han Mi dengan sepasang mata melotot, serta darah segar yang berceceran keluar dari leher terputus itu.


Hal tersebut sukses membuat Han Mi terkejut bukan main. Tubuhnya seketika bergetar memandang kepala buntung dengan tatapan horor. Pemandangan yang sangat tak lazim ini benar-benar menyeramkan!


Suasana ruang takhta tarasa begitu mencekam, semuanya tertunduk diam dalam ketakutan yang teramat sangat menyelimuti setiap orang di sana.


Suhu udara yang terbilang dingin dan berbeda dari yang ada di luar ruangan semakin membuat Han Mi tak dapat berkata apa-apa. Membungkam mulutnya dengan begitu rapat.


I—ini ... apa ... yang terjadi? tanyanya dalam hati.


Secara perlahan Han Mi melangkah mundur, setidaknya berusaha supaya ia tidak menyentuh kepala tanpa badan tersebut.


Netra birunya sedikit bergetar menatap ke arah depan. Di mana ada sang Kaisar yang tengah berdiri, seraya menggenggam sebuah pedang turun temurun yang terlihat begitu mengerikan.


Bilahnya yang selalu terlihat mengkilat, kini berlumuran darah segar hingga menetes ke atas lantai, berceceran di dekat tangga dan depan kursi takhta. Darah yang tercecer ke mana-mana seakan menyatu dengan warna alas kain.


Jenderal Li yang sedari tadi berada di sisi kanan Han Mi, tetapi sedikit kebelakang, terlihat tidak terkejut sama sekali, seakan tidak ada apa pun yang terjadi di hadapannya saat ini.


Tubuhnya segera berlutut. "Hormat kepada Yang Mulia Tuan Agung Kekaisaran Zhun, sang Dewa Peperangan!" salam Jenderal Li dengan penuh penghormatan. Manik mata cokelatnya mengarah lurus pada lantai yang dipijak.


Kami datang di waktu yang sangat tidak tepat. Semoga saja tak terjadi hal aneh setelah ini. Do'a Jenderal Li dalam hati.


"Hamba datang sesuai perintah Bixia, mengantarkan Yang Mulia Permaisuri kemari," ucap Jenderal Li.


Han Mi yang melihat bahwa Li Jianjun telah berlutut dan memberikan penghormatan, dengan segera ia juga berlutut di sebelahnya.


"Hamba memberikan penghormatan kepada Yang Mulia Tuan Agung Kekaisaran Zhun, sang Dewa Peperangan. Hwang Lien Tianba telah datang menghadap Bixia Huang di." Suaranya terdengar pelan dan sedikit bergetar.


Kaisar Zhun mengibaskan pedangnya, darah yang semula menempel pada bilahnya kini terciprat semua ke atas lantai. "Bersihkan ini semua hingga tak tersisa," perintah sang Kaisar pada beberapa prajurit yang berjaga di sana.


Tanpa di duga, Kaisar Zhun tidak kembali menuju kursi takhtanya, melainkan berjalan menuju Han Mi yang sedang berlutut di samping Jenderal Li.


Perasaan takut terus menyelimuti Han Mi, apalagi saat mendengar derap langkah pelan itu mengarah padanya. Terdengar mendekat dan semakin mendekat, membuat detak jantungnya berpacu sangat cepat.


Suhu udara yang amat rendah dan semakin dingin terasa mendekat. Napasnya seketika menjadi terasa sesak. Sungguh, itu tidak dapat Han Mi bayangkan, bahwa betapa murkanya Kaisar Zhun saat ini.


Tiba-tiba saja Kaisar Zhun mengulurkan pedangnya ke arah depan, tepat di dagu Han Mi. Menuntun dagu wanita yang merupakan istrinya itu hingga terpaksa harus mendongak ke atas. Menampilkan iris berwarna biru yang terlihat begitu menenangkan, terbingkai indah di wajah oval tersebut.


Hidung mancung dan bibir tipis berwarna merah alami yang terlihat sangat menggoda, membuat Kaisar Zhun menatapnya sejenak. Terdiam dalam angan-angan memabukkan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Sedangkan Han Mi yang merasakan dinginnya bilah pedang tersebut merasa sangat ketakutan. Ujungnya yang tajam kini tepat berada di depan lehernya.

__ADS_1


Jika Han Mi salah sedikit saja, ia dapat mati seketika. Pedang ini akan dengan mudah menembus lehernya hingga meninggalkan sebuah lubang menganga yang menyeramkan.


"Masih ingatkah kau dengan kejadian semalam?" tanya Kaisar Zhun seraya menatap pada mata biru tersebut.


Han Mi yang gemetar segera memaksakan dirinya untuk tetap fokus dan menjawab setiap pertanyaan sang suami. Menurutnya, untuk saat ini komunikasi adalah salah satu jalan yang bisa sedikit mengurangi kemungkinannya untuk terbunuh. Setidaknya, ia harus mencoba hal itu.


"Ya ... Bixia ...," balas Han Mi pelan. Kedua matanya tidak dapat terpejam, ia menatap lurus pada sepasang netra yang tengah menatapnya dengan datar, tanpa adanya ekspresi sama sekali.


Akan tetapi, itu tidak menghilangkan aura kegelapan yang tengah menguar dari tubuh sang penguasa, menandakan bahwa saat ini ia sedang dalam kemurkaannya, dan itu langsung membuat Han Mi menelan salivanya sendiri dengan susah payah.


"Zhen bukanlah orang yang dengan mudah mengasihani seseorang. Bukankah kau sudah mengetahuinya, bahwa Zhen sangat tidak suka dengan orang yang ceroboh, tidak tepat waktu, dan ... berbohong." Tatapan tajamnya semakin menghujam ke arah Han Mi, membuat wanita itu langsung memundurkan sedikit wajahnya.


Han Mi terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia kembali menjawab dengan perasaan yang bercampur aduk tidak jelas. "Ha—hamba mengerti ... Bixia."


Sial, aku termasuk ke dalam salah satu kriteria yang sangat dibencinya. Enggak, apa pun hukumannya akan kuterima, asalkan jangan kematian. Aku memohon kepada Tuhan, ataupun para Dewa yang menjadi kepercayaan para rakyat Kekaisaran Zhun, tolong selamatkan aku! Mohon Han Mi dengan sangat.


"Zhen menjatuhi hukuman pengasingan selama 7 hari kepada Permaisuri Hwang Lien Tianba di Paviliun Piānlín. Tak ada Dayang ataupun Kasim yang berjaga di sekitarnya. Makanan hanya akan di antarkan pada waktu yang ditentukan. Beberapa penjaga akan berjaga tepat di bawah kaki gunung Piānlín, dan tak ada yang boleh berkunjung dengan bebas tanpa seizin Zhen! " jelas Kaisar Zhun.


Hukuman telah dijatuhkan, dan Han Mi terpaku mendengarnya. Kedua matanya sedikit melotot tidak percaya bahwa ia tak akan mati hari ini. Namun, mendapatkan hukuman pengasingan, itu artinya Kaisar Zhun ingin membunuh Han Mi secara perlahan.


Itulah yang sejak tadi terus berputar di dalam kepala Han Mi. Pengasingan ke sebuah tempat terpencil. Pemberian makan hanya sesuai pada waktu yang dikehendaki oleh sang Kaisar itu sendiri.


"Apa? Paviliun Piānlín?!" suara terkejut terdengar dari arah belakang Kaisar Zhun, di mana di sana masih ada para Menteri dan Pejabat yang belum membubarkan diri.


Semuanya tidak percaya atas apa yang telah di dengar. Titah yang telah keluar dari mulut sang Kaisar memang sederhana, tetapi nyata itu sangatlah menyeramkan.


Meskipun mereka semua sangat ingin berbisik dengan seseorang yang berada di sebelahnya, tetapi mereka semua mengurungkan niat tersebut.


Kaisar Zhun bukanlah tipe orang yang akan mengampuni siapa pun dengan mudah. Sedikit saja kau berkata salah, maka saat itu juga kematian ada di depan matamu.


Sejenak Kaisar Zhun menatap wajah istrinya dengan begitu intens. Tanpa disadari ia menampilkan tatapan sendu, dan hal itu membuat Han Mi yang menatapnya sedikit mengerutkan kening. Merasa aneh dengan tatapan tersebut. Apa maksudnya ini? batinnya.


Perlahan Kaisar Zhun menarik pedangnya, dan segera berbalik. Akan tetapi, ada sesuatu yang sangat membuat Han Mi langsung terdiam setelahnya.


Enggak, ini enggak mungkin! Dia ... dia barusan, enggak mungkin dia tersenyum, 'kan? Lalu, apa maksud tatapan sendu dan senyuman getir itu?! HEY! Kaisar Iblis, apa maksudnya ini semua!? pikir Han Mi dengan per nuh frustrasi.


Han Mi terus menatap punggung yang merupakan suami Hwang Lien Tianba itu dengan ekspresi tidak percaya. Entah mengapa genangan air mata mulai menumpuk di matanya.


Perasaan aneh seketika menyerangnya, rasa nyeri dan sesak yang Han Mi tidak tahu apa itu. Namun, muncul secara tiba-tiba. Bukankah ini aneh? Kenapa aku jadi begini? tanyanya dalam hati penuh kebingungan.


"Antarkan Permaisuri ke Paviliun Piānlín. Gunakan tandu dan kawal Permaisuri dengan Dayang serta beberapa prajurit. Li Jianjun, kau juga ikut bersamanya hingga sampai di paviliun, kemudian kembalilah menghadap kepada Zhen," perintah Kaisar Zhun dengan suara yang sedikit rendah dari biasanya. Setelahnya, ia melangkah begitu saja menuju kursi takhta.

__ADS_1


"Baik Bixia. Hamba memohon untuk undur diri menjalankan perintah." Jenderal Li yang sedari tadi berada di sebelah Han Mi dengan posisi sedikit lebih ke belakang, segera memberikan penghormatan terakhir sebelum akhirnya ia bangkit dan menghampiri sang Permaisuri.


"Ampun Yang Mulia Permaisuri. Silakan berdiri, hamba akan mengantar Yang Mulia Permaisuri menuju Paviliun Piānlín." Jenderal Li membungkuk dengan kepala yang tertunduk penuh hormat.


"Ha?" Satu kata itu berhasil keluar dari bibir Han Mi begitu saja. Pandangannya tidak luput dari punggung Kaisar Zhun yang terlihat semakin menjauh.


Ia merasa lemas, perasaannya benar-benar menjadi kacau balau dan anehnya lagi, kenapa hanya dengan dua permasalahan itu Han Mi bisa menjadi seperti ini?


"Tolong bantu Ben gong berdiri," ucap Han Mi pelan.


"Baik Yang Mulia Permaisuri. Maafkan atas kelancangan hamba." Dengan sigap, Jenderal Li memberikan uluran tangannya untuk membantu Han Mi.


"Mari Yang Mulia Permaisuri."


Han Mi terdiam sejenak, tatapannya masihlah terpaku pada sosok Kaisar Zhun yang telah terduduk di kursi takhta dalam kegelapan yang selalu menyelimutinya. Pria itu seakan selalu tenggelam dalam dunia kelam yang tidak dapat digapai oleh siapa pun.


Tatapan mereka seketika bertemu. Memunculkan sebuah percikan aneh yang sama sekali tidak dimengerti oleh Han Mi ataupun Kaisar Zhun. Ekspresi Kaisar Zhun yang terlihat datar membuat Han Mi tidak berkutik.


Sepertinya hanya perasaanku saja, tapi ini Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan kepadaku? Kaisar Iblis sialan, batin Han Mi.


Tanpa berkata apa pun Han Mi memejamkan matanya. Tangan kirinya terangkat, sedikit menekan bagian dada kanannya dengan pelan, kemudian segera berbalik. "Antarkan Ben gong ke Paviliun Piānlín."


Tubuh ini adalah milik Hwang Lien Tianba, dan aku hanyalah seorang pengganti jiwanya yang telah hilang. Keputusanku pun sudah bulat. Akan kutinggalkan dia, juga Istana Kekaisaran yang mengekangku ini secepatnya.


.


.


Bersambung.


.


.


Naskah :


Jakarta, 07 Juli 2020


Publish :


Jakarta, 16 Agustus 2020

__ADS_1


__ADS_2