Empress Of The Emperor

Empress Of The Emperor
Cp 05 | Hwang Lien Tianba


__ADS_3

"Hwang Lien Tianba, kekaisaran kita meminta perlindungan pada Kekaisaran Zhun untuk menahan serangan dari Kekaisaran Jiang, dan syarat yang diajukan oleh Kekaisaran Zhun adalah, ia meminta salah seorang putri dari bangsawan tertinggi yang belum memiliki ikatan pernikahan dengan siapa pun untuk dikirimkan ke wilayahnya."


---------------


"Di Kekaisaran Wen, kita adalah salah satu keluarga bangsawan dari tiga bangsawan tertinggi. Di antara keenam putri bangsawan tertinggi, hanya ada tiga putri yang belum di tunangkan pada pria mana pun, dan ketiganya adalah putri Ayah semua."


---------------


"Kau tak bisa menolak! Jika Kekaisaran Wen tidak memenuhi syaratnya maka kita semua akan hancur. Kau juga pasti sudah tahu jika pasukan milik Kekaisaran Zhun adalah yang terkuat, dan paling di segani di antara kelima negeri kekaisaran yang ada."


---------------


“Ini adalah perintah Bixia Huang di*, dan kau harus melaksanakannya.”


---------------


"Orang tua gila macam apa yang akan mengirimkan putri mereka ke wilayah kaisar iblis Zhun itu? Sungguh tega sekali."


---------------


"Hwang Lien Tianba!"


---------------


"Sudah beberapa bulan sejak insiden dia tenggelam di sungai pada malam hujan deras itu, tapi tidak ada tanda-tanda perubahan. Kalau begitu, buang saja semua obat untuk penopang hidupnya itu! Tidak usah diminumkan padanya, lagi pula ia sudah tak ada kemungkinan untuk hidup. Kenapa masih dipertahankan saja!?"


---------------


"*Gongzhu*, mohon maaf Anda tidak dapat melakukan hal itu. Jadi, hamba memohon dengan sangat supaya Gongzhu Nianzu Hongli dan Gongzhu* Shaoqing Yuwen untuk kembali ke kediaman Anda."


---------------


"Kau berani mengusirku?! Aku adalah Gongzhu dari keluarga bangsawan tinggi ketiga di Kekaisaran ini."


--------------


PRANG!!!


---------------


"Tidak! Jangan lakukan itu Shaoqing Yuwen! Dengarkan aku terlebih dahulu!"


***


Berbagai macam ingatan milik Permaisuri Hwang tiba-tiba saja menghantam masuk ke dalam kepala Han Mi secara cepat, satu persatu ingatan bermunculan seperti sebuah kejadian yang ia rasakan sendiri.


Sungguh, ini begitu nyata.


Kini, Han Mi hanya dapat terdiam di tempatnya, seluruh tubuhnya mati rasa. Ingin bergerak ke kiri atau ke kanan pun ia tidak bisa. Membuka mata juga tidak bisa. Jangankan dua hal itu, menggerakkan seujung jari pun Han Mi tak kuat!


Perasaan sakit yang teramat sangat Han Mi rasakan sebelumnya, kini telah sirna. Tergantikan dengan tubuh yang tak berdaya terbaring di atas sebuah ranjang dengan warna dominan merah, dihiasi berbagai bunga cantik juga dupa wewangian yang tercium halus dan sangat menenangkan.


BRAAK!


“Shaoqing Yuwen, berhenti! Dengarkan aku terlebih dahulu.”


“Jiejie* tidak tahu? Huang hou* ini sudah tidak ada harapan hidup sama sekali, kenapa kita tidak membunuhnya sekarang saja?!”


PLAK!


“Jiejie ....”


“Liu Yi Ze, kami akan pergi. Jika ada perubahan pada Yang Mulia Permaisuri, segera beritahu Tabib Istana.”


“Baik ... Gongzhu Nianzu Hongli.”


Kenapa di sekitarku berisik sekali? Sudah mati pun aku tetap berada di antara keributan. Memangnya di akhirat seberisik ini, ya?

__ADS_1


Sekuat tenaga, Han Mi mencoba untuk bergerak, tetapi nihil dan akhirnya ia berusaha untuk berbicara. "Nngh ...." Hanya sebuah erangan kecil yang berhasil keluar dari bibir tipis berwarna merah muda alami itu.


Eh? Aku ... mulut sialan! Aku enggak bisa berkata apa-apa lagi!? batin Han Mi sedikit frustasi. Pada akhirnya, ia kembali terdiam. Bibirnya masih terasa kelu, dan hanya dapat mengeluarkan erangan kecil seperti tadi.


"Ah! Yang Mulia Permaisuri! Anda sudah sadar?" Sebuah suara yang terdengar asing mendekat ke arah Han Mi. Penuh akan syarat kebahagiaan yang tersirat di dalamnya.


“Yang Mulia!?" Suaranya terdengar begitu panik, seraya menggoyang pelan punggung tangan Han Mi.


"Yang Mulia ... hamba mohon sadarlah." Wanita yang mengenakan hanfu berwarna abu-abu muda serta warna putih pada bagian listnya, semakin merasakan sesak di dadanya saat melihat tak ada jawaban dari sang Permaisuri.


Kini, hanya terdengar isak tangis dari samping kanan tubuh Han Mi. Wanita itu terlihat begitu sedih seraya terus menatap tubuh Permaisuri yang tertidur di hadapannya.


“Yang Mulia ... hamba mohon, sadarlah ....” Ucap wanita itu masih menggenggam tangan sang Permaisuri.


Han Mi yang tak bisa apa-apa hanya terdiam. Akan tetapi, entah kekuatan dari mana pada akhirnya ia mencoba kembali untuk membuka kedua matanya secara perlahan, dan usahanya kali ini berhasil!


Sinar terang yang menyilaukan masuk ke dalam retina mata, membuatnya langsung memejamkan matanya kembali dan membukanya dengan sedikit menyipit. Pandangannya yang buram tertuju lurus ke arah atas, seraya masih beradaptasi secara perlahan.


Dengan suara yang terdengar sedikit bergetar, wanita itu berucap sangat bahagia dari arah samping Han Mi, “Yang Mulia! Anda sudah sadar?! Syukurlah ... hamba sangat berterima kasih kepada para dewa!"


Perlahan, Han Mi sudah dapat melihat dengan jelas. Ia sedikit memiringkan kepalanya ke arah kanan, melihat siapa sebenarnya wanita yang berada di sebelahnya itu. Netra dengan iris berwarna biru itu menatap seorang wanita paruh baya yang sangat terlihat cantik dan anggun.


“Yang Mulia Permaisuri, Anda benar-benar telah tersadar ....” Kata wanita itu kembali, seraya menghapus air matanya dengan sebuah senyum bahagia yang mengembang di bibirnya.


Eh?! Tolong tunggu sebentar, sepertinya ada yang salah di sini? Barusan ... dia bilang apa?


“Y—Yang Mulia ... apanya!?” tanya Han Mi terkejut dengan suara parau. Tatapanya tertuju lurus pada netra dengan iris berwarna hitam yang ada di hadapannya.


“Ya? Yang Mulia, mari hamba bantu untuk duduk.” Wanita paruh baya ini seperti tak menghiraukan ucapan Han Mi barusan, dan lebih memilih untuk membantunya duduk.


Han Mi terdiam, ia menurut begitu saja pada wanita yang terlihat begitu berpendidikan di sampingnya ini. Setelah selesai, netra dengan iris mata berwarna biru itu menatap lurus pada wanita yang kini sedang melangkah mundur beberapa langkah.


Kepalanya tertunduk begitu pun dengan tangannya yang terlipat rapi di depan perut, membuatnya terlihat sangat profesional.


Tunggu sebentar, kenapa ... penglihatanku berbeda dari sebelumnya? Mataku ini enggak pernah bisa melihat dengan jelas begini. Dan—


“Apakah dunia akhirat seperti ini?” tanya Han Mi langsung pada wanita yang berdiri di hadapannya.


“Ha?—Ampun Yang Mulia, ba—bagaimana mungkin Anda berkata demikian? Anda masihlah hidup, dan sekarang sedang berada di kamar peraduan yang ada di Istana Zihuā. Lalu ... hamba ini adalah Liu Yi Ze, Dayang pribadi Anda. Yang Mulia tidak melupakannya, ‘kan?”


Netra dengan iris berwarna biru itu seketika terpaku pada wanita paruh baya tersebut, ia sama sekali tidak mendengarkan ucapan dari wanita yang bernama Liu Yi Ze, dan lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya pada pakaiannya sendiri.


Han Mi menatap tak percaya pada hanfu berwarna putih dengan sulaman bunga teratai, serta list (seperti bagian lengan, ujung kaki, dan kerah) berwarna keemasan yang dikenakannya.


Tu—tunggu sebentar! Tidak mungkin kan, kalau aku—


Melihat gelagat aneh dan kepanikan yang tergambar jelas di wajah sang permaisuri, Dayang Liu segera bertanya dengan penuh kekhawatiran, “Yang Mulia Permaisuri, apakah Anda baik-baik saja?”


Aku hidup kembali Hebat! Do’a mustahil itu ternyata terkabulkan.


Hening sejenak, Han Mi hanya menatap sepasang mata yang terlihat sedikit sipit itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Hingga akhirnya Han Mi menghela napas panjang.


“Baiklah, apa yang sebenarnya telah terjadi padaku sebelum terbangun?” tanya Han Mi pada akhirnya, berusaha untuk menerima kenyataan yang terjadi saat ini.


Toh, jika Han Mi mengatakan yang sejujurnya mereka pasti tidak akan percaya, dan kalaupun mereka percaya lalu mengetahui bahwa di dalam tubuh ini bukanlah roh sang Permaisuri Hwang Lien Tianba, kemungkinan besar Han Mi akan mati saat itu juga.


Dayang Liu seketika mengerutkan keningnya, merasa asing dengan gaya bicara sang Permaisuri. Aneh, kenapa Yang Mulia menggunakan kata, ‘aku’ dan bukannya Ben gong*?


Han Mi yang melihat hal tersebut, ikut menaikkan sebelah alisnya seakan sedang bertanya, ‘Ada apa?’


Hening sejenak, hingga akhirnya Han Mi mulai menyadari apa yang membuat Dayang Liu seperti itu. Ya, itu pasti karena perbedaan gaya bahasa yang barusan Han Mi gunakan berbeda dengan yang biasa digunakan oleh Hwang Lien Tianba.


Sial!


“Ben gong ... aku hanya ingin sedikit merasakan kelonggaran. Sepertinya, berbicara menggunakan bahasa yang tak terikat dengan kekaisaran cukup menarik juga,” ucap Han Mi berusaha senatural mungkin.


"Y—ya? Ah ... menjawab Yang Mulia Permaisuri, Anda tidak sadarkan diri hampir selama 4 bulan setelah jatuh ke sungai dan tenggelam di sana. Saat itu, tubuh Anda terseret arus sungai yang sedang dalam kondisi deras, kemudian Anda di temukan tersangkut pada batang pohon yang ada di dasar sungai," jelasnya pada Han Mi.

__ADS_1


Pembawaannya yang terlihat elegan juga sangat terdidik dengan posisi tubuh berdiri tegap, juga kepala sedikit tertunduk dan tangan yang terlipat di depan perutnya. Sungguh, ini adalah pemandangan langka yang tak pernah Han Mi bayangkan sebelumnya.


Ini sung—


"Hwang Lien Tianba ...."


Ah! Ingatan ini muncul kembali.


Perlahan, Han Mi mulai mengerti dengan kondisinya, ingatan sebelumnya yang terlihat sangat nyata itu ternyata adalah milik Hwang Lien Tianba yang merupakan seorang putri bangsawan dari Kekaisaran Wen.


Putri ini ternyata dikirim untuk dijadikan tawanan. Namun, sesampainya di Kekaisaran Zhun ia malah dijadikan sebagai Permaisuri Kaisar Zhun, dan itu sama sekali tak tertera dengan jelas dalam surat perjanjiannya. Sungguh ironis sekali.


Demi sebuah perdamaian dan juga bantuan militer untuk Kekaisaran Wen, wanita ini menjadi tumbalnya. Ia harus menanggung semua manusia yang hidup di dalam Kekaisaran Wen seorang diri.


Pernikahan politik.


Meskipun Han Mi datang dari abad modern yang sangat berbeda jauh dan juga tidak menikah secara paksa seperti ini, tetapi sedikit banyak Han Mi mengetahui bagaimana perasaannya jika dinikahkan dengan paksa, lalu tak memiliki pilihan selain menerimanya atau ... kau akan mati.


Jadi, kita berada dalam satu kapal yang sama, Hwang Lien Tianba, batin Han Mi.


“Ah!” Han Mi segera menyentuh perutnya secara refleks, pipinya bersemu merah merasa malu saat tiba-tiba saja perutnya sedikit mengeluarkan bunyi.


Sebuah senyum tipis terbentuk di bibir Dayang Liu. “Ampun Yang Mulia Permaisuri ... hamba akan segera menyiapkan jamuan makan untuk Anda.”


Ini memalukan, tapi aku memang butuh makan sesegera mungkin.


“Baiklah, aku akan menantikannya.”


“Baik, Yang Mulia Permaisuri.” Secara bersamaan, Dayang Liu menunduk memberikan penghormatan pada Han Mi dan berjalan keluar dari sana, yang kemudian segera melaksanakan tugasnya.


Mulai sekarang ... aku harus memperbaiki gaya bicaraku, juga menyesuaikan diri secepat mungkin supaya terlihat seperti Hwang Lien Tianba.


Di dunia ini, namaku adalah Hwang Lien Tianba dan bukan Jung Han Mi lagi. Tenang saja, aku akan berusaha semampuku untuk memainkan peranmu ini, Permaisuri Hwang.


.


.


Bersambung.


.


.


Glosarium :


* Bixia : Baginda/Yang Mulia, salah satu cara memanggil kaisar.


* Huang di : Kaisar.


* Huang hou : Permaisuri.


* Gongzhu : Putri.


* Jiejie : Kakak perempuan.


* Ben gong : Saya/aku, digunakan oleh seorang permaisuri, selir, putra/putri mahkota.


.


.


Naskah :


Jakarta, 28 Juni 2020


Publish :

__ADS_1


Jakarta, 06 Juli 2020


__ADS_2