Empress Of The Emperor

Empress Of The Emperor
Cp 02 | Sebuah Ancaman


__ADS_3

Hari telah berganti, netra cokelat itu menatap lurus ke arah luar jendela dari ruang perpustakaannya. Sekarang adalah akhir pekan, tetapi ia harus tetap terkurung seperti ini untuk waktu yang tak dapat ditentukan.


Terus berada di dalam apartemen, penjara milik Baek Ho Shik yang sudah membuatnya ingin melakukan segala hal gila hingga membuatnya mati. Akan tetapi, Han Mi berhasil menekannya, dan memilih untuk menghabiskan waktu kesendiriannya di dalam apartemen dengan membaca berbagai macam buku yang ada di perpustakaan pribadinya.


“HAN MI. Kita akan ke tempat kerjaku sekarang juga! Ayah dan ibu ingin mampir sekalian melihatmu!” seru Ho Shik dari arah ruang tamu.


Tanpa membalasnya Han Mi bangkit, kemudian segera berjalan keluar dari perpustakaan dengan tatapan kosong. Kantung mata berwarna sedikit gelap itu masih terlihat menghiasi wajah cantiknya. Surai panjang berwarna cokelat yang sedikit tak terawat membuatnya terlihat semakin kacau.


“Pasti ulahnya lagi, ‘kan?” tanya Han Mi pelan, lebih kepada diri sendiri.


Namun, apa yang barusan diucapkannya ternyata membawa sebuah petaka. Ho Shik yang tengah berdiri tak jauh dari Han Mi tiba-tiba saja berjalan mendekat dengan cepat, berdiri menghadang dan langsung menarik paksa dagu wanita itu hingga Han Mi terpaksa mendongak keras.


“Barusan kau bilang apa? Aku ini hanya menyampaikan apa yang diminta oleh orang tuamu, dan itu bukanlah keinginanku, ingat itu baik-baik!” tukas Ho Shik tepat di hadapan wajah Han Mi.


Tanpa ekspresi apa pun yang tampil di wajahnya, Han Mi menatap mata Ho Shik lurus. “Tak perlu seperti ini, aku akan menurut dan mengikutimu ke sana," katanya. Suaranya terdengar pelan. Han Mi benar-benar sudah lelah mengelak.


Fisiknya sudah sakit, begitupun dengan mentalnya. Sepertinya ia juga sudah sangat bodoh akibat ulah Ho Shik selama 6 bulan ini, atau ... jangan-jangan Han Mi memang sudah mulai gila? Entahlah.


Senyum pun sama sekali tak pernah Han Mi tampilkan. Ia telah berubah, kepribadiannya yang semula periang juga mudah berteman kini menjadi pribadi yang sangat pendiam. Han Mi lebih suka melamun dan menyendiri, mengurung dirinya di dalam perpustakaan setelah ia melakukan seluruh pekerjaan rumahnya.


Terkadang Han Mi juga sering berbicara sendiri ataupun berteriak kencang, kemudian melemparkan buku-bukunya dengan sekuat tenaga. Setelahnya, di saat ia mulai merasa tenang barulah akan merapikannya kembali seperti semula.


“Jika kau berbicara yang tidak-tidak di depan orang tuamu, aku tak akan segan-segan melakukan apa yang pernah kujelaskan padamu sebelumnya.” Ho Shik semakin menekan dagu Han Mi ke arah atas. Kata-katanya yang selalu saja mengandung ancaman, membuat Han Mi merasa tertekan.


Sekuat tenaga Han Mi menahannya, dan itu malah membuat lehernya sakit, tubuh Ho Shik yang memang tinggi lalu dagunya yang di tekan seperti ini membuat wanuta itu langsung meringis kecil. “Hssh ... aku mengerti,” balas Han Mi yang kemudian mengalihkan pandangan ke arah samping.


Ia sudah muak menatap Ho Shik dalam jarak sedekat ini, apalagi netra hitam itu. Sungguh rasanya Han Mi ingin mencongkel bola mata tersebut kemudian memakannya seraya tertawa kencang.


GILA, batin Han Mi.


Dengan gerakan kasar Ho Shik melepaskan dagu wanita tersebut, dan meninggalkannya begitu saja. “Aku akan memberimu waktu 10 menit untuk bersiap. Gunakan pakaian tertutup dan jangan sampai luka itu terlihat, atau kau akan tahu konsekuensinya nanti,” ancam Ho Shik lagi tanpa berbalik sedikit pun.


Aku sudah lelah ... Baek Ho Shik. Aku sudah pasrah dengan semuanya. Melaporkanmu pun aku tak bisa melakukannya lagi. Membunuhmu? Aku bukan manusia yang dapat melakukan hal seperti itu. Aku benar-benar tak berguna dan bodoh! batinnya frustrasi.


Han Mi hanya terdiam. Sebelum suaminya benar-benar melakukan hal gila lain kepadanya ia memilih untuk melangkahkan kaki tersebut menuju kamar, lalu bersiap-siap.


Kau bahkan telah memiliki segala sesuatunya daripada aku, tapi ... untuk apa kau membalas dendam pada keluargaku, memangnya apa yang telah kami lakukan? Baek Ho Shik, sialan, pikir Han Mi lagi.


...***...


Derasnya hujan masih mengguyur daerah di sekitar Istana Kekaisaran Zhun. Suasana semakin mencekam, saat apa yang mereka cari tak kunjung ditemukan juga.


“Ha—hamba ... memohon ampun kepada Bixia* Huang di* Kekaisaran Zhun,” ucap ketiganya penuh dengan rasa takut yang menyelimuti.


Suara gesekan sebuah pedang yang ditarik keluar dari tempatnya langsung membuat ketiga prajurit tersebut bungkam hingga memejamkan mata serapat mungkin. Mimpi buruk yang sangat ingin mereka hindari pun akhirnya terjadi.


Kaisar Zhun telah menarik pedangnya, dan itu pertanda yang sangat buruk. Lebih buruk dari kilat yang tengah menyambar di sana-sini. “Zhen* hanya meminta sebuah laporan, bukan permintaan maaf kalian,” kata Kaisar Zhun tanpa ekspresi sama sekali. Suaranya terdengar seperti biasa. Namun, begitu menyeramkan dan sangat jelas di tengah derasnya hujan.


Hal itu langsung membuat ketiga prajurit yang bersujud di atas tanah becek semakin gemetar menahan perasaan takut yang teramat sangat. Berbagai rapalan do’a bahkan mereka ulang secara terus menerus di dalam hati.

__ADS_1


Ayunan pedang yang begitu cepat seperti kedipan mata membuat embusan angin kencang timbul dari pedang milik sang Kaisar, menghempas apa pun yang ada di sekitar. Tetesan air hujan yang berada di hadapannya seketika terbelah saat pedang tersebut meluncur dengan kecepatan kilat hingga menembus leher seseorang. Menancap pada batang pohon besar di depan sana.


Detak jantung seakan berhenti saat mendengar suara nyaring tersebut. Ketiga prajurit itu masih belum berani untuk membuka mata. Mereka mengira bahwa salah satu di antaranya telah mati.


"Periksa kembali sekitar hutan di belakang kalian," perintah sang kaisar dengan penuh wibawa. Kaisar Zhun mengusap kasar wajahnya dengan frustasi.


Sedangkan ketiga prajurit yang masih bersujud di atas tanah perlahan mengangkat kepala mereka, membuka mata kemudian menengok sedikit untuk melihat satu sama lainnya.


Kepala kami masih utuh! Syukurlah ... hidup Bixia Huang di, Zhun Qiang Duyi! Terima kasih wahai Dewa!


Meskipun telat menjawab mereka tetap melakukannya secara hati-hati. "Ba—baik, Yang Mulia Kaisar!" ucap mereka secara serempak dengan memberikan sebuah penghormatan penuh.


Semangat ketiga prajurit ini akhirnya telah kembali utuh setelah berjam-jam yang lalu melakukan pencarian di tengah gelapnya malam yang disertai hujan deras serta kilatan petir dan gemuruh menggelegar di sana-sini.


Lagi, Kaisar Zhun mengusap wajahnya yang berhiaskan air hujan. Menyibak ke atas beberapa helai rambut yang keluar dari ikat rambut yang tedapat mahkota kecil dan tusuk emas sebagai tanda kedudukannya yang agung. Tatapannya seketika terlihat kosong, seperti ada sesuatu yang telah hilang dari relung hatinya.


Aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku sendiri. Perasaan aneh seperti ini ... aku sungguh tak pernah merasakannya selama 6 tahun belakangan, batin Kaisar Zhun.


Kedua matanya beralih menatap ke arah tangan kanan yang terlihat pucat. Demi menyelamatkan takhta yang telah dipercayakan oleh Ayahanda Kaisar kepadanya, ia sudah merenggut ribuan nyawa manusia dengan tangannya sendiri.


Kaisar Zhun mengepalkan tangannya, matanya terpejam secara perlahan seraya mengingat kembali kejadian 7 tahun lalu. Di mana saat itu Kaisar Zhun hampir mati demi mempertahankan kursi takhta di Istana Kekaisaran yang penuh intrik.


Masih tercetak jelas dalam ingatannya. Saat itu langit begitu cerah, dan Kaisar Zhun yang masih berusia 20 tahun berlutut di tengah altar cukup luas dengan tiga tiang berukuran sangat tinggi di depan sana.


Di atas tiang tersebut terdapat dua buah cincin logam berukuran besar yang saling menyilang serta sebuah logam seperti bola besar terpasang tepat di tengahnya, terlihat seakan sedang melayang.


“SELANJUTNYA YANG MULIA KAISAR AKAN MELAKUKAN PROSESI MEMANJATKAN DOA KEPADA PARA DEWA,” jelas sang Penasihat Kekakisaran dengan suara lantang dari posisi teratas anak tangga. Tangannya segera menutup gulungan bambu yang berada di tangannya.


Kaisar Zhun yang berlutut di tengah altar segera melakukannya sesuai arahan yang telah dibacakan oleh Penasihat Kekaisaran. Suasana di sekitar Altar Jing Shànbie, sudah terasa khidmat sejak upacara di mulai beberapa waktu yang lalu.


Di tengah prosesi yang sangat khidmat nan sakral itu tiba-tiba saja suara kaki beberapa orang mendarat tepat di sebelah Kaisar Zhun, membuat ptia itu segera membuka kedua matanya dan terpaksa menghentikan aktivitas berdo'a.


Dengan gesit Kaisar Zhun menghindari setiap serangan yang ditujukan ke arahnya. Ia terlihat begitu lihai, tak kesulitan sama sekali meskipun hanya menggunakan tangan kosong.


Sejak wafatnya Ayahanda Kaisar dan Ibunda Ratu, Kaisar Zhun sudah memprediksi bahwa akan terjadi perebutan takhta Kekaisaran yang terjadi di antara para selir Ayahanda Kaisar, dan benar saja ... ternyata bentrok internal itu terjadi, mereka bergerak secara langsung saat upacara sakral Ui-Sin itu dilaksanakan.


Waktu bergulir dan semua kekacauan yang terjadi telah usai. Langit sudah berubah menjadi ke abu-abuan, tak lama setelahnya tiba-tiba saja hujan turun begitu lebat. Tubuh tanpa kepala yang sudah tak bernyawa tergeletak di mana-mana dengan darah yang masih mengalir dari potongan tersebut.


Bau anyir amat tercium di sekitar Altar Jing Shànbie. Genangan darah bercampur air hujan yang berwarna merah pekat itu benar-benar akan membuat siapa pun bergidik ngeri.


Bagaimana tidak? Warna merah pekat yang menggenang di sekitarnya seakan tengah memanggilmu untuk tenggelam bersama ke dalamnya. Sungguh luar biasa, Kaisar Zhun yang masih terbilang di usia muda, dapat membereskan kekacauan seperti ini dalam waktu singkat, dan sama sekali tak terlihat kesulitan.


Tubuhnya yang tinggi dengan berbalut hanfu khusus Kekaisaran berwarna putih juga dihiasi sulaman naga benang emas yang terlihat sangat mewah nan sakral kini sudah tak rapi lagi. Tubuhnya telah basah bermandikan darah, dan air hujan.


Netra hitam pekat tersebut menatap sekitarnya dengan tatapan kosong. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi sama sekali, dan itu sungguh menyeramkan.


Kaisar Zhun mengibaskan pedang tersebut, tubuhnya sedikit merendah untuk mengambil sarung pedang yang tergeletak di atas tanah kemudian memasukkan pedang miliknya ke dalam sarung pedang yang barusan diambil.


Tangan kanannya terangkat, mengusap wajahnya secara asal. Noda darah menghiasi wajahnya yang sudah terlihat pucat. "Pada akhirnya, aku melakukan hal ini ...," gumam Kaisar Zhun seraya menatap beberapa sisa bawahannya yang masih hidup sedang bersujud penuh rasa takut di tengah derasnya hujan.

__ADS_1


"WAHAI KALIAN SEMUA YANG MASIH TERSISA. Zhen sangat mengetahui kinerja dan pengabdian rela mati yang telah kalian lakukan untuk Ayahanda Kaisar dan Ibunda Ratu ...." Kaisar Zhun terdiam sesaat, pandangannya tertuju lurus pada keadaan di bawah altar.


"Zhen akan memilih kalian semua yang tersisa. Siapa pun yang akan terus mengabdi pada Ayahanda, dan kini mengabdi dengan menyerahkan jiwa dan raga kalian kepada Zhen, Zhun Qiang Duyi sang penguasa baru Kekaisaran Zhun ini, maka akan Zhen jaminkan kehidupan yang layak dan kedudukan yang tak tergoyahkan ...." Kaisar Zhun sengaja menggantungkan ucapannya.


Tatapannya seketika berubah menjadi tajam juga sangat mengerikan. "Akan tetapi, jika sedikit saja kalian terlihat telah melakukan suatu percobaan untuk menggulingkan Zhen dari takhta ini ... janganlah berharap sedetik kemudian kepala itu masih berada pada tempatnya."


Setelahnya semua hal tersebut seakan usai begitu saja. Walaupun demikian, berkat kejadian hujan berdarah itu kini Kaisar Zhun dikenal sebagai Kaisar yang kejam dan bengis bagaikan sesosok iblis.


.......


.......


...Bersambung....


.......


.......


...Glosarium :...


...* Bixia : Baginda/Yang Mulia, salah satu cara memanggil kaisar....


...* Huang di : Kaisar....


...* Zhen : Saya/aku, salah satu cara Kaisar menyebut dirinya di depan orang lain....


.......


...Yuhuu!...


...Alhamdulillah chapter 2 sudah selesai....


...Terima kasih sudah mau mengikuti EOTE versi baru ini. Wkwkwk....


...Jika ada yang ingin memberikan krisar, monggo ... langsung tulis aja di kolom komentar, tapi ... harus menggunakan bahasa yang baik dan sopan yow!! 😁🙏🏻...


...Sampai jumpa besok ya! 😉👋🏻👋🏻...


.......


.......


...Naskah :...


...Jakarta, 25 Juni 2020...


...Pusblish :...


...Jakarta, 26 Juni 2020...

__ADS_1


__ADS_2