
Semuanya terasa hampa ....
Semuanya terasa hening ....
Semuanya gelap dan terasa begitu menyakitkan ... menyesakkan dada hingga untuk bernapas pun terasa amat sulit.
Pengkhianatan yang terasa kental tersebar di mana-mana membuat hati berubah menjadi beku, meninggalkan sebuah lubang besar. Atau bahkan hancur tak bersisa, yang dapat menyiksa jiwa dan raga.
Nyatanya ... Ini tidaklah semudah seperti yang kau bayangkan, dan tidak semudah seperti kau membalikkan telapak tangan.
Itulah yang dirasakan oleh Jung Han Mi saat ini. Tubuhnya sedang duduk bersila di tengah kegelapan yang terasa pekat. Perlahan, ia membuka matanya.
"Aku di mana?" tanyanya dengan suara parau. Pandangannya tertuju lurus ke arah depan, di mana terdapat sebuah cahaya terang yang tiba-tiba saja muncul. Ingatan demi ingatan yang terasa sangat asing, berputar seperti sebuah film layar lebar yang terlihat jelas di depan sana.
Merasa ada yang aneh dengan wajahnya, Han Mi segera mengangkat tangan kanannya, kemudian menyentuh pipi yang entah sejak kapan sudah terasa basah. "Air mata—"
"ARGH!!!" erang Han Mi seketika saat ia merasakan nyeri dan sakit yang teramat sangat di dadanya. Kedua matanya terpejam rapat, mencoba menahan rasa sakit yang mendera hebat.
Kenapa bisa beg—
Han Mi langsung membungkukkan tubuhnya dengan tangan yang semakin mencengkeram lebih kuat, dan menekannya ke dalam. Berharap dapat mengurangi rasa sakit yang timbul.
Namun, hal itu sama sekali tidak berguna, rasa sakitnya semakin bertambah seiring dengan detaknya yang tiba-tiba saja terasa menjadi lebih kencang dan keras dari sebelumnya.
"Kamu telah melihat semuanya, bukan?"
Sia—pa ... itu? Suaranya sangat lembut dan menenangkan.
Masih sambil menahan rasa sakit, Han Mi memaksakan diri untuk membuka kedua matanya. Penglihatannya yang sedikit bergoyang dan juga buram, tertuju lurus ke arah bawahnya. Perlahan, ia memaksakan diri untuk mendongakkan kepalanya, melihat siapa pemilik suara tersebut.
"Siapa ... kau?" tanya Han Mi tertahan dengan susah payah. Suaranya terdengar serak dan bergetar.
"AAH!!" Lagi-lagi, rasa sakitnya bertambah hingga Han Mi tersungkur ke depan begitu saja. Tubuhnya bersujud di atas lantai kegelapan yang tak berujung, dengan kepala tertunduk dan dahi menempel pada lantai yang terasa dingin. Ia terus mencoba menjaga kesadarannya agar tetap stabil.
"Aku adalah si pemilik," jelasnya secara singkat.
Pemilik ... apa maksudnya?
__ADS_1
"Kamu pasti tahu bagaimana perasaan itu ... pengkhianatan, kebencian, kehancuran, kemarahan dan sebuah ancaman, tetapi sama sekali tidak dapat berbuat apa pun untuk mengelak. Kamu bahkan tidak bisa melakukan apa pun sesuka hatimu."
Dia benar, aku sudah merasakan semua itu. Tapi ... apa hubungannya dengan wanita ini?
Han Mi membuka kedua matanya, menatap lurus ke arah lantai berwarna hitam pekat yang ada di bawahnya. Kali ini pun juga sama, pandangannya mulai berputar tidak karuan, bahkan kepalanya mulai terasa berat dan sakit.
Derap langkah kaki terdengar mendekat, cahaya berwarna keperakan mulai terlihat jelas dari ekor matanya. Perlahan, ia mengok ke arah kiri dengan posisi tubuh masih bersujud di atas lantai.
Kedua matanya menatap sesosok wanita anggun yang amat cantik, rambut hitam pekatnya tertata rapih dengan gaya yang elegan, beserta hiasan rambut berwarna emas yang terlihat sangat berat dan juga mahal.
Wanita itu mengenakan hanfu berlapis yang merupakan sebuah pakaian tradisional di sebuah Kekaisaran, atau bisa dikatakan seperti sebuah jubah/pakaian resmi kerajaan yang sangat formal.
Pakaian itu terlihat sangat pas dengannya. Indah dan megah, seperti aura yang terpancar dari tubuh wanita tersebut.
"AA ... AARRGHH!" Han Mi kembali meringkuk kesakitan, "Tolo—AAAAH!" Han Mi mencoba untuk meminta tolong. Namun, rasa itu malah semakin menjadi-jadi saat ia mencoba untuk meminta bantuan.
Sialan. Ini ... kenapa bisa begini!?
"Aku merasa, kamulah yang pantas memiliki semua itu. Karena kamu adalah manusia dengan keteguhan hati yang luar biasa. Di dunia itu, kamu telah berhasil lulus dari semua perasaan tersebut. Maka ...." wanita itu menggantungkan kalimatnya, seraya berlutut tepat di sebelah kiri Han Mi.
"Aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi, dan waktuku hanya tersisa sedikit. Maka dari itu aku memilihmu secara langsung, dan melakukan pemanggilan untuk menggantikanku. Karena aku tahu ... kamu layak mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Kamu berhak mendapatkan kebahagianmu yang hilang, dan mengembalikannya kesisimu saat ini."
Apa mak—
"TID—ARGH!” erang Han Mi lagi, dan kali ini ia mencoba untuk menahannya kembali. Namun, itu hanyalah sebuah khayalan belaka, bahwa rasa sakit yang mendera akan segera hilang.
Bukannya hilang, kini rasa sakit itu semakin menyebar ke seluruh tubuhnya, dan rasanya seperti ingin meledak. Terasa panas juga ngilu di saat yang bersamaan.
Aku ....
"Aku titipkan semua orang di sana yang tidak beruntung kepadamu. Kau, seseorang yang dapat bangkit untuk bertindak sesuka hati. Lakulanlah, hingga kau merasakan kehidupan yang sesungguhnya seperti yang kau impikan. Rasa nyaman, bahagia, senang, kebebasan dan balas dendam. Keluarkan semua isi hatimu yang sesungguhnya, kemudian balaslah semuanya."
Hening sejenak, Han Mi terdiam diposisinya saat ini.
"Setelahnya, kamu akan melihat sesuatu yang amat alami mendekat secara perlahan dengan rasa yang tak terduga. Bahkan ... suatu saat, itu akan membuatmu sangat merindukan kejadian tersebut.”
Han Mi memejamkan kedua matanya erat seraya mendengarkan apa yang wanita misterius itu katakan. Tangannya masih dengan setia menekan tepat di bagian dada sebelah kiri.
__ADS_1
“Di balik itu semua ... ada seseorang yang secara perlahan mulai berubah, membuka pintu besi berlapis bajanya dengan tanpa sadar. Gunung es yang menjulang tinggi dan tebal itu perlahan mulai mencair, menampakkan isi yang sesungguhnya. Ia akan selalu mendukungmu serta menyayangimu atas apa pun yang telah kamu lakukan, tidak peduli harus merenggut nyawanya sekalipun, ia tetap akan melindungimu.”
Hening kembali, dan tiba-tiba saja suara derap langkah wanita misterius itu perlahan terdengar menjauh.
“Hati yang telah membeku begitu lama pada akhirnya akan merasakan perubahan secara perlahan menuju kehidupan yang baru. Selamat tinggal, wahai perempuan cantik bernama Jung Han Mi. Aku amat berterima kasih kepadamu. Kutitipkan dia kepadamu. Selamat tinggal ...."
Suara lembut yang sungguh terdengar menenangkan itu benar-benar telah menghilang seiring dengan cahaya keperakan yang perlahan mulai meredup. Menyudahi percakapannya dengan Han Mi.
Kini, hanya ada keheningan yang mendalam tercipta di sekeliling. Rasa sakit di seluruh tubuh masih sangat jelas Han Mi rasakan. Pandangannya kembali bergoyang hebat, dan mulai semakin memburam.
“Sebenarnya ... apa yang terjadi di sini? Perkataannya aneh, dan aku sungguh tak mengerti. Terlebih lagi ... bukankah aku telah mati karena tenggelam—ARGH!” Untuk yang kesekian kalinya, Han Mi merasakan sakit yang teramat, rasa panas yang menyebar diseluruh tubuh.
Han Mi benar-benar telah kehilangan kendali sepenuhnya dengan tubuhnya sendiri, hingga ia tersungkur dan tergeletak di atas lantai kegelapan tersebut dengan posisi tertidur miring. Kegelapan pekat dan kesunyian yang menyeramkan, mulai masuk ke dalam kesadarannya.
Tanpa diduga, sebuah kilat berwarna emas tiba-tiba saja terlihat di depan sana dan menyambar langsung di dahi Han Mi. Bersamaan dengan itu, ia merasakan sebuah gravitasi yang sangat kuat menekan tubuhnya hingga tidak sadarkan diri.
.
.
Bersambung.
.
Glosarium :
* Hanfu : Busana tradisional bangsa Han Tionghoa yang berasal dari Tiongkok.
.
Naskah :
Jakarta, 27 Juni 2020
Publish :
Jakarta, 05 Juli 2020
__ADS_1