Empress Of The Emperor

Empress Of The Emperor
Cp. 12 | Perubahan Rencana Pertama


__ADS_3

Hari mulai menggelap. Han Mi yang telah melakukan jamuan makan malam, kini terduduk di pinggiran ranjangnya.


Setelah mengetahui bahwa suami Hwang Lien Tianba ternyata adalah Zhun Qiang Duyi, yang merupakan tokoh antagonis di dalam komik 'The Dark', membuat Han Mi bertekad untuk menjauhi Kaisar Zhun.


Begitu pun dengan saat ini. Han Mi telah bersiap untuk menjalankan rencana pertamanya. Dengan jantung yang berdegup kencang ia memandang pintu kamar peraduannya.


"Sepertinya ini sudah jam tidur, baiklah kalau begitu aku akan mengganti baju terlebih dahulu," ucapnya seraya bangkit dan berjalan menuju peti untuk menyimpan pakaiannya.


Namun, belum sempat Han Mi sampai di sana, sebuah suara dari arah luar membuatnya mematung di tempat.


"Liu Yi Ze memberikan hormat kepada Yang Mulia Permaisuri. Hamba datang bersama dengan Kasim Yu ingin menyampaikan pesan dari Bixia Huang di," kata Dayang Liu seraya memberikan salam penghormatan tepat di depan pintu masuk kamar peraduan sang Permaisuri.


"Aduh ... untuk apa si Kaisar Iblis itu kirim pesan segala?" gumam Han Mi menatap pintu kamarnya dengan horor. Perlahan, kakinya melangkah dengan perasaan gelisah yang menyelimuti hati.


"Aduh ... aduh ... ah, ya ampun, kenapa sekarang aku jadi sering ngomong aduh, aduh, begini sih?" Tubuhnya meluruh ke atas lantai, berjongkok dengan tangan memegang kepala. Mengacak surai hitam sepinggangnya dengan frustasi.


Dalam posisinya saat ini, Han Mi akhirnya memutuskan untuk bertanya, "Apa isi pesannya?"


"Menjawab Yang Mulia Permaisuri. Hamba adalah Kasim Yu, merupakan asisten Kasim Wu. Bixia Huang di mengatakan bahwa malam ini Bixia akan bermalam di Istana Zihuā."


"HAH?!" Han Mi langsung menutup bibirnya dengan rapat, "aih, kalau bersangkutan sama dia, kenapa mulutku ini jadi enggak bisa dikontrol juga sih." Lanjut Han Mi dengan suara pelan. Tangan kirinya menggaruk kembali kepalanya yang tidak gatal.


Sedangkan Dayang Liu dan Kasim Yu yang berlutut di depan pintu pun merasa terkejut, mereka saling berpandangan, ekspresi khawatir tercetak jelas di wajah masing-masing. "Yang Mulia! Apakah Anda baik-baik saja?!" tanya Dayang Liu dan Kasim Yu secara serempak.


"A—ah." Untuk sesaat, Han Mi terdiam di posisinya, "Ben gong baik-baik saja. Oh ya, berhubung Bixia akan bermalam di sini, tolong kalian berdua siapkan teh herbal dan juga dupa yang memiliki harum lembut dan menenangkan untuk Bixia Huang di."


"Baik Yang Mulia Permaisuri, Hamba dan Kasim Yu memohon undur diri untuk melaksanakan perintah." Setelahnya, Dayang Liu dan Kasim Yu memberikan penghormatan terakhir sebelum akhirnya bangkit dan pergi dari sana.


"Aku harus bagaimana?" tanya Han Mi dengan ekspresi wajah yang sudah kacau. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Kaisar Zhun akan datang ke tempatnya.


Sepengetahuannya, sesuai dengan alur dalam komik yang pernah ia baca. Tidak ada adegan seperti ini, terlebih lagi ... selama Kaisar Zhun menikah dengan Hwang Lien Tianba, Kaisar Zhun tak pernah berkunjung ke kediaman wanita itu.


"Aduh, aku harus bagaimana?!" jeritnya frustrasi. Tubuhnya segera bangkit, kakinya melangkah tidak tentu arah, mondar-mandir hingga membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan pusing, dan berpikir bahwa Han Mi terlihat seperti sebuah setrikaan.


"Rencana pertamaku adalah kabur dari tempat ini sesegera mungkin dan menjauh dari Kaisar Zhun si iblis sialan itu. Hwang Lien Tianba ... kau benar-benar telah menipuku, kebahagian apanya yang bisa kuambil di sini?! Ini tak ada bedanya dengan kehidupanku sebelumnya. Haish! Sialan!"


Netra biru itu seketika terpaku pada sesosok bayangan yang melintas, terlihat dari jendela di sisi kirinya dan itu menandakan bahwa ada seseorang yang akan tiba di depan pintu dalam waktu singkat.


"Bixia Huang di telah tiba!" Sebuah suara seorang pria dari arah luar kamar peraduannya langsung membuat Han Mi semakin panik. Dengan tergesa kakinya melangkah menuju ranjang, berjalan mondar-mandir kembali seraya menggigiti kuku ibu jari kanannya.


"Kan, matilah aku—ah! Aku tahu apa yang harus kulakukan." Tanpa banyak berpikir lagi, Han Mi langsung meraih cangkir berisi air putih dan mencipratkan beberapa air tersebut ke wajah serta lehernya, tidak lupa juga sedikit ia cipratkan ke hanfu tidur berwarna biru muda yang dikenakannya saat ini.


"Sip!" Setelahnya, Han Mi segera naik ke atas ranjang, kemudian menarik selimut hingga sebatas pinggang. Tanpa sadar, Han Mi menggigit bibirnya hingga menimbulkan sedikit bekas berwarna merah.


"Sshhh. Oke, aku sudah siap. Saatnya perang," gumam Han Mi yang akhirnya meringkuk ke arah kiri, membelakangi pintu masuk kamarnya.


"Silakan Bixia," ucap Kasim Wu pada Kaisar Zhun.

__ADS_1


Kaisar Zhun yang melihat hal tersebut segera membuka pintu tersebut dan melangkah masuk ke dalam kamar peraduan sang Permaisuri.


Netra hitam pekat itu langsung tertuju lurus pada tubuh yang terbaring di atas ranjang. Terlihat sedang meringkuk menahan sakit.


Apa yang dilakukannya? batin Kaisar Zhun. Langkahnya perlahan mendekat pada Han Mi.


"Shh ... aduh ...," erang Han Mi pelan seraya menekan perutnya. Kumohon, semoga ini berhasil. Do'a Han Mi dalam hati. Dengan mata terpejam ia mencoba untuk menghayati peran yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Kaisar Zhun yang melihat hal tersebut terdiam di tempat, berdiri tepat di belakang tubuh Han Mi. Ekspresi terkejut mulai terlihat, tangan kanannya yang bebas perlahan terangkat ingin menyentuh bahu istrinya. Namun, ia sedikit ragu.


"Niang* ... niang ... a niang* ...." Lagi, Han Mi semakin terlihat begitu kesakitan, tubuhnya perlahan dibasahi oleh keringat yang muncul karena perasaan tegang.


Kaisar Zhun yang mendengar erangan dan rintihan Han Mi, seketika langsung menyentuh bahu wanita itu. "Apa yang terjadi?" tanya Kaisar Zhun panik saat ia membalikkan tubuh Han Mi.


Kedua matanya melotot sempurna, ia terkejut bukan main saat wajah dan tubuh Han Mi basah dengan keringat, bibirnya pun terlihat begitu memerah karena sedari tadi Han Mi menggigitnya tanpa sadar.


"Hey, Hwang Lien Tianba. Sadarlah!" panggil Kaisar Zhun dengan nada yang sedikit meninggi.


"Wu Shoushan!" panggil Kaisar Zhun, suara baritonnya langsung memecah keheningan malam di ruangan tersebut.


Kasim Wu yang masih berjaga sebentar sebelum memutuskan untuk pergi, seketika tersentak kaget. Tubuhnya segera berbalik dan membungkuk di sana. "Ya, Bixia?" tanyanya cepat dengan penuh penghormatan.


"Panggilkan Gui Wenyan sekarang juga!" perintah Kaisar Zhun tegas. Tangannya perlahan membaringkan tubuh Han Mi kembali di ranjang.


"Baik, Bixia."


Eh? Tunggu sebentar, tadi dia memanggil Gui Wenyan? Itu artinya Tabib Istana akan datang kemari? Jung Han Mi bodoh! Aduh, bodohnya dirimu! batin Han Mi.


Seketika itu juga Han Mi merasa tidak tenang, kepanikan mulai terlihat di wajahnya, keringat di tubuhnya keluar semakin banyak. Bahkan wajahnya pun perlahan mulai memucat.


Selang beberapa lama, Tabib Gui tiba di kamar peraduan Permaisuri dengan tergesa. Napasnya yang tersengal-sengal terlihat begitu kentara saat ia mulai berbicara.


"Gui Wenyan, haah ... menghadap ... kepada Bixia Huang di sesuai perintah," Tabib Gui berlutut beberapa langkah di hadapan Kaisar Zhun dengan penuh hormat.


"Kemarilah. Periksa dia secepatnya," perintah Kaisar Zhun yang langsung sedikit bergeser saat Tabib Gui perlahan mendekat. Pandangannya tertuju pada sang Permaisuri yang sedang meringkuk menahan sakit di perut.


"Hamba akan mulai melakukan pemeriksaan," ucap Tabib Gui dengan sopan ke arah Kaisar Zhun dan juga Han Mi yang sebenarnya sedang dalam kondisi panik bukan main, tetapi ia harus terus menjalankan aktingnya ini.


Han Mi yang masih mengerang kesakitan, menyempatkan diri untuk membuka sedikit matanya. Menatap ke arah Tabib Gui yang sedang terduduk di tepi ranjang seraya memegang pergelangan tangan. Memeriksa denyut nadinya, apakah ada masalah atau tidak seperti yang terlihat saat ini.


"Aah ... sakit ...." Matanya sedikit mengalihkan pandang ke arah belakang Tabib Gui, di mana Kaisar Zhun tengah berdiri dalam diam. Tatapan tajamnya tidak luput dari pergelangan tangan sang Permaisuri yang sedang digenggam oleh Tabib Gui.


Sepertinya aku bisa memberikan sedikit kode pada si Gui Wenyan ini, harap Han Mi dalam hatinya.


Di saat Han Mi tengah berusaha untuk menarik perhatian pada Tabib Gui, dengan cara menyolek pinggang kanan pria muda itu menggunakan tangan kirinya, tiba-tiba saja pandangan mereka bertemu dan itu berhasil!


Tujuan utama Han Mi tercapai, tetapi ... ketika Han Mi memberikan isyarat menggunakan matanya, dengan cara mendelik pada pria itu kemudian berpaling pada tangannya yang sedang diperiksa, lalu kembali lagi pada manik mata milik Tabib Gui. Namun, tetap saja pria itu tidak mengerti apa maksud dari kodenya barusan.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Han Mi mengedipkan sebelah matanya supaya Tabib Gui mengerti dan mau berbohong tentang hasil pemeriksaan itu.


Sebuah senyum tersungging di bibir Tabib Gui saat melihat hal tersebut. "Hamba telah selesai Yang Mulia Permaisuri."


Wah, sialan ... dia malah senyum! Han Mi semakin mendelik tajam ke arah Tabib Gui, tetapi ia urungkan dengan cepat saat Kaisar Zhun menatap ke arahnya.


"Bagaimana?" tanya Kaisar Zhun yang segera mengalihkan tatapannya ke arah wajah Tabib Gui.


"Menjawab Bixia. Yang Mulia Permaisuri dalam keadaan baik, dan tidak ...." Tabib Gui sengaja menggantungkan ucapannya. Pandangannya seketika berpaling pada Han Mi yang sudah terlihat begitu pucat.


"Lanjutkan," perintah Kaisar Zhun tidak sabar.


Han Mi kembali melotot ke arah Tabib Gui, tetapi Tabib Gui menghiraukannya begitu saja dan memilih untuk menghadap pada Kaisar Zhun. "Yang Mulia Permaisuri tidak sakit apa pun," kata Tabib Gui pada akhirnya.


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Han Mi tidak dapat berkutik lagi. Bibirnya langsung terkunci rapat dan tidak mengeluarkan suara-suara kesakitan lagi.


Kaisar Zhun yang kini berdiri di sisi ranjang menghadap langsung pada Han Mi yang masih saja meringkuk. Tatapan tajam Kaisar Zhun menghujam langsung pada wanita itu. "Jelaskan kepada Zhen."


Han Mi semakin mematung di tempatnya, ruangannya yang semula hangat kini terasa menjadi lebih dingin. Napasnya pun terasa amat berat.


Ini adalah sebuah malapetaka, sejak kapan Kaisar Iblis ini meminta sebuah penjelasan?! Dia kan biasanya main hakim sendiri! jerit Han Mi dalam hati.


"Jika kau tidak berbicara juga, maka kita lanjutkan saja besok. Saat ini Zhen sedang lelah. Tidak ingin membahas apapun. Zhen akan membahas kejadian ini besok pagi di ruang takhta setelah penyampaian keluhan para Pejabat dan Menteri selesai." Tanpa ekspresi apapun yang terlihat, Kaisar Zhun masih menatap tajam pada Han Mi yang kini menatapnya balik dengan ekspresi tidak percaya.


A—apa-apaan ini?! Bagaimana bisa dia membahas masalah personal dengan istrinya di ruang takhta!?


.


.


Bersambung.


.


Glosarium :


* Niang/a niang : Ibu, salah satu cara memanggil ibu. Biasanya dipasangkan dengan die/a die.


.


.


Naskah :


Jakarta, 06 Juli 2020


Publish :

__ADS_1


Naskah, 15 Juli 2020


__ADS_2