
Matahari mulai memperlihatkan sinarnya. Cicitan burung dan kokokan ayam terdengar bagai simfoni yang indah di pagi hari, memanjakan indra pendengaran siapa pun yang berada di sana.
Udara yang sejuk dan wangi tanaman herbal yang direbus dalam kuali, membuat sebuah aroma tersendiri yang masuk ke dalam indra penciuman. Begitu pun dengan suasana ramai yang tergambar jelas di ruang perawatan Istana Zhìliáo, meskipun ini masih pagi hari ... di Istana tersebut tetaplah menjadi Istana yang paling sibuk.
Hal ini dikarenakan, Istana Zhìliáo merupakan balai khusus pengobatan yang ada di Istana Kekaisaran Zhun. Istana ini di bangun khusus hanya untuk di ruang lingkup dalam tembok Istana Kekaisaran saja.
Saat ini, dikelola oleh Kakak-beradik dari keluarga bangsawan Gui yang sangat berpengalaman dalam bidang ilmu kesehatan, yaitu Tabib Gui An Shan dan Tabib Gui Wenyan.
Terletak pada sayap kiri dalam tembok Istana Kekaisaran, tepat di sebelah kiri Istana Zuēwáng, kediaman sang Kaisar. Di pisahkan oleh hutan pinus, pepohonan pinus yang menjulang tinggi membuat susana sejuk dan asri sangat terasa. Meskipun begitu, sinar matahari dapat tetap masuk dan memberikan cahaya yang cukup di atas Istana Zhìliáo.
Saat ini, Tabib Gui An Shan dan Tabib Gui Wenyan sedang terlihat begitu kewalahan mengatur para Tabib lainnya untuk menangani prajurit yang terluka.
Terlalu banyak pasien, sedangkan keseluruhan dari mereka hanya ada 80 Tabib yang bekerja di dalam Istana Kekaisaran. Terdiri dari 30 tabib tingkat atas, termasuk mereka berdua sebagai pengurus utama dan wakilnya, 25 Tabib tingkat menengah serta 25 Tabib tingkat pemula.
Para prajurit yang terluka ini hanyalah sedikit dari jumlah prajurit yang terluka secara keseluruhan. Di ruangan perawatan utama Istana Zhìliáo, hanya terdapat prajurit dari 5 regu pasukan kavaleri yang kembali secara cepat bersama Kaisar Zhun.
Sedangkan total keseluruhan pasukan yang dibawa untuk berperang membantu Kekaisaran Wen, berjumlah 62.000 prajurit di dalam 4 divisi dan masih dalam perjalanan menuju Istana Kekaisaran.
"Bagaimana keadaan di sana?!" tanya Tabib Gui Wenyan kepada asisten utamanya dengan sedikit berteriak dikarenakan posisi mereka yang cukup jauh.
Asisten utama Tabib Gui yang bernama Chen Ru Han itu melihat kembali data yang telah ia tulis. "Sejauh ini hampir semuanya terkendali! Akan tetapi ...." Lembar demi lembar ia balik secara cepat.
"Ada 7 prajurit yang tidak memiliki ketahanan tubuh terhadap racun!" Pandangannya langsung beralih ke arah Tabib Gui Wenyan yang tengah berpikir sambil menatap lantai.
Tidak memiliki ketahan tubuh terhadap racun ya? batin Tabib Gui Wenyan. Tangan kirinya terlipat di depan dada, sedangkan tangan kanan menyentuh dagu.
"Kemarilah sebentar!" tangan kanannya itu bergerak-gerak memberikan isyarat supaya Asisten Chen segera mendekat ke arahnya.
Sesampai Asisten Chen Ru Han di dekatnya, Tabib Gui meminta catatan yang ada di tangan asistennya. Selang beberapa detik ia membaca catatan tersebut, Tabib Gui langsung beralih menatap Asisten Chen. "Mereka dari pasukan Infanteri?" tanyanya dengan serius.
"Benar, di karenakan kondisinya yang parah dan tak dapat bertahan cukup lama, pada akhirnya mereka diikutsertakan dalam 5 regu pasukan kavaleri Bixia Huang di. Prajurit ini berasal dari divisi Mukade, dalam regu Hyen." Asisten Chen langsung menunjuk beberapa baris catatan yang ditulisnya.
"Untuk prajurit yang lainnya, mereka tidak ada masalah." Lanjut Asisten Chen seraya menarik tangannya.
Netra dengan iris berwarna cokelat itu, mengarah pada hamparan prajurit yang sedang terbaring di atas alas yang sengaja di gelar pada aula utama terbesar Istana Zhìliáo.
"Hhmm ... kondisinya saat ini tidak ada perkembangan ...," gumam Tabib Gui masih membolak-balik kertas yang dipegangnya, membaca kembali secara cepat catatan milik 7 prajurit tersebut.
__ADS_1
Luka sayatan pedang di dada sebelah kanan, kaki, punggung, pinggang ... hhmm ... luka berubah warna, terdapat bercak yang berbeda dari luka seperti biasanya.
Ukuran pupil mengecil, mual dan muntah, detak jantung tidak teratur. Jadi, Kekaisaran Jiang sekarang sudah berpikir ke arah sana? Melumuri setiap persenjataannya dengan racun? batin Tabib Gui Wenyan.
"Hamba sudah memberi ramuan penawarnya sebanyak 2 kali, tapi ... sampai sekarang pun, jarak dua batang dupa dari pemberian ramuan kedua, sama sekali tak ada perubahan." Asisten Chen terlihat sedikit bingung.
Tabib Gui Wenyan yang mendengarnya sedikit terkejut, tangannya berhenti membalik kertas seraya menatap ke arah asistennya kembali. "Memangnya racun apa yang ada di tubuhnya?"
Kupikir ini adalah racun dari tanaman herbal Kacang Calabar*, yang merupakan tanaman herbal untuk menyembuhkan, tetapi jika dosis yang digunakan berlebihan dan tidak sesuai, maka dapat dijadikan sebegai racun.
"Racun dari biji tanaman jarak pagar, tapi menurut hamba racun ini tidak seperti biasanya," jawab Asisten Chen cepat.
Tabib Gui Wenyan mendongak, netra hitam itu menatap langit-langit aula yang ditopang oleh kayu-kayu besar berwarna merah darah. Ia terdiam untuk sesaat, memikirkan perkataan asistennya itu.
Racun dari biji tanaman jarak pagar, dan berbeda dari biasanya. Apakah penggunaan dosisnya naik sehingga berbeda dari yang kami ketahui? Atau ada penambahan tanaman herbal lain di dalamnya? batin Tabib Min Ho.
"Jika benar itu adalah racun dari biji tanaman jarak pagar. Maka kita tak dapat berbuat banyak. Tanaman jarak pagar itu, sampai sekarang pun aku belum menemukan penawar yang cocok. Walaupun begitu, sebisa mungkin kita tetap harus menyelamatkannya." Tabib Gui Wenyan menatap sebuah batang dupa yang menyala di depan sana.
"Masih ada waktu untuk menyelamatkannya. Berikan ramuan penawar yang seperti biasanya lagi, tapi tingkatkan dosis penggunaannya menjadi 2 kali lipat," kedua matanya beralih ke Asisten Chen.
"Jika dalam waktu satu batang dupa tidak ada perubahan setelah ia meminumnya, buat yang baru dan tambahkan tanaman herbal Cang Er Zi ke dalam resep ramuan obatnya." Lanjut Tabib Gui seraya menyodorkan catatan tersebut kepada Asisten Chen.
"Ya," balas Tabib Gui.
Setelahnya, Tabib Gui memijat pelipisnya seraya berjalan menuju pintu utama ruang perawatan di Istana Zhìliáo. "Da jie, aku ingin membuat ramuan untuk Bixia dulu. Aku titip tugasku di sini pada Da jie ya. Terima kasih," ucap Tabib Gui Wenyan saat melewati belakang Tabib Gui An Shan, yang merupakan kakak perempuannya itu.
"Hhm," deham Tabib Gui An Shan tanpa menoleh dari kertas di genggamannya.
Setelahnya, Tabib Gui terus melangkah keluar dari sana. Berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi.
Dari seluruh Istana yang lebih kecil dari Istana lain di dalam tembok Istana Kekaisaran. Istana Zhìliáo lah yang merupakan salah satu Istana dengan suasana sangat sejuk dan asri.
"Jika si gunung es itu masih menunda untuk meminum ramuan herbalnya. Lihat saja ... aku akan membuat ramuannya menjadi lebih pahit dari sebelumnya," gumam Tabib Gui saat ia telah sampai di dapur khusus untuk memilih dan meracik ramuan milik Kaisar Zhun.
Bangunan ini berada terpisah dari bangunan utama Istana Zhìliáo, tepat berada di sayap kanan, tetapi masih di dalam tembok pembatas Istana Zhìliáo.
Di bagian depan dapur khusus untuk meracik ramuan herbal kaisar, terdapat beberapa rumpun bambu yang sangat terawat. Begitu indah memanjakan mata.
__ADS_1
"Baiklah, tinggal kurebus dalam kuali ini. Argh! Ya ampun, kenapa aku harus melakukan hal ini lagi?!" jerit Tabib Gui frustasi. Ekspresinya seketika berubah masam, bahkan ia seperti ingin menangis.
Bagaimana tidak? Lagi-lagi ia harus menjaga kuali untuk merebus tanaman herbal milik sang Kaisar selama 2 batang dupa yang terbakar, dan itu sudah berhasil membuat Tabib Gui merasa frustasi. Padahal selama 4 bulan di medan perang kemarin, ia harus melakukan hal itu setiap hari.
"LIHAT SAJA KAU, AKAN KUCEKIK LEHERMU ITU KALAU TIDAK MEMINUMNYA DENGAN SEGERA." Tabib Gui menunjuk-nunjuk kuali untuk merebus tanaman herbal seperti orang tidak waras, dengan sebuah senyum miring yang tersungging di bibirnya.
Di lain sisi, Han Mi segera mundur kembali dengan tangan yang menarik Dayang Liu saat mendengarkan teriakan tersebut. Kedua wanita itu bersembunyi ke dalam semak-semak yang berada di dekat pintu masuk. Netra biru yang terlihat begitu jernih itu menatap tajam ke arah satu titik.
"Dia itu kenapa sih? Seperti orang gila saja," gumam Han Mi.
"Menjawab Yang Mulia Permaisuri. Mungkin, Tabib Gui sedang merasa frustrasi," sahut Dayang Liu. Pandangannya segera beralih pada sang Permaisuri, "ngomong-ngomong, Yang Mulia ... kenapa kita bersembunyi di sini?" tanya Dayang Liu penuh kebingungan.
"Eh, kok?" Han Mi berbalik, menatap Dayang pribadinya dalam diam untuk beberapa saat. Sial, karena refleks aku sampai bersembunyi di sini, batin Han Mi.
"A—ah! Entah mengapa aku ingin melihatnya, " ucap Han Mi asal, tangannya menunjuk ke arah di mana Tabib Gui berada, "menyelesaikan umpatannya itu." Lanjut Han Mi.
Seketika ia berbalik ke arah depan seraya menepuk dahinya keras. Refleksnya itu memang bagus, tetapi tidak seperti ini juga. Untuk apa ia bersembunyi di semak-semak?
Han Mi kan hanya ingin memeriksakan sedikit keluhan kesemutan di tangannya pada Tabib Gui An Shan, juga berjalan-jalan mencari udara segar untuk paru-parunya yang sudah lama tidak menghirup udara bebas.
Lalu, kenapa ia malah bersembunyi?!
.
.
Bersambung.
.
.
Naskah :
Jakarta, 05 Juli 2020
Publish :
__ADS_1
Jakarta, 12 Agustus 2020