
"Kau telah mengetahui tentang tanda Zi Linhua itu, 'kan?" tanya Kaisar Zhun dengan santainya.
Suasana ruang yang sepi dan sedikit mencekam, membuat Han Mi merasa tegang di tempatnya. Terdiam bagai patung hias yang berada di luar Istana.
Setelah terdiam beberapa saat, Han Mi memberanikan diri untuk mengangguk sekilas. Menandakan bahwa ia mengerti dengan tanda lahir yang dimilikinya ini.
"Zi Linhua adalah sebuah tanda lahir keturunan klan Hēi’àn yang telah lama punah. Bergambar bunga teratai ungu dengan garis khusus tertentu yang sedikit memanjang ke arah bawah, tepat berada di leher bagian belakang," jelas Kaisar Zhun, "asal kau tahu, Zhen juga mengetahuinya, meskipun itu adalah sejarah yang sudah sangat lama terpendam."
Iblis yang mengerikan. Meskipun begitu, aku tetap tak ingin berada di dekatnya, batin Han Mi penuh tekad.
"Mulai saat ini, usahakan untuk mengendalikan kekuatanmu. Walaupun manusia biasa tak dapat melihatnya, tetapi jangan sampai ada seseorang yang mencurigaimu atau kau sendiri yang akan menanggungnya," ucap Kaisar Zhun tanpa menampilkan ekspresi sedikit pun.
Manik hitam itu menatap lurus ke arah luar jendela. Awan mendung yang pekat terlihat mulai bergelayut di langit malam, menandakan hujan akan turun dalam waktu dekat.
Kaisar Zhun bangkit dari duduknya, kemudian beralih menatap istrinya yang masih terduduk diam seperti patung. "Lebih baik kita kembali ke Istana sesegera mungkin," katanya yang kemudian tetap berdiri diam di tempatnya saat ini, menunggu reaksi dari sang Istri di hadapannya.
Zhun Qiang Duyi sangat aneh. Bagaimana ... kenapa ... sebenarnya apa-apaan sih ini? Seharusnya karakter dia di dalam komik itu sama sekali tidak berubah. Kekejamannya menetap sampai ia mati di akhir cerita nanti, tapi kenapa—
"Berdiri atau mati?" Suara tersebut terdengar pelan dan tanpa ekspresi apa pun yang tersirat di dalamnya. Namun, hal itu berhasil membuat Han Mi tersadar dan segera berdiri sesuai perintah.
Ku tarik kata-kataku barusan, dia enggak berubah sama sekali! jerit Han Mi. Netra birunya menatap terkejut ke arah Kaisar Zhun yang berdiri di sebelah kiri. "Ah!" serunya, kemudian menghindar sedikit ke arah sebaliknya.
Dengan santainya Kaisar Zhun memberikan isyarat supaya Han Mi melihat ke arah luar jendela.
Apa lagi? batin Han Mi sedikit kesal.
Han Mi yang melihat isyarat tersebut segera mengikuti ke arah manik hitam itu tertuju. Ia terdiam untuk sesaat melihat awan mendung di luar sana.
"Kalian harus segera kembali," gumam Han Mi yang kemudian menatap Kaisar Zhun, "tapi, aku akan tetap di sini," lanjutnya, kemudian menatap pada tubuh anak laki-laki yang terbaring di atas kasur.
Mendengar hal itu, senyum tipis yang semula tercetak di bibir Kaisar Zhun langsung menghilang. Tergantikan dengan tatapan tajam yang seakan dapat menembus kepala Han Mi. Suhu ruangan tiba-tiba saja terasa menjadi lebih rendah dari sebelumnya.
Han Mi yang merasakan dengan jelas hawa dingin mulai menyentuh kulitnya, segera melangkah secara perlahan, mendekat ke arah Lao Xue Yue.
"Aku harus menjaganya sampai ia tersadar," ucap Han Mi pelan, tetapi belum sempat ia sampai di dekat Lao Xue Yue, tangannya dicekal kencang oleh pria tinggi tersebut.
"Dia akan ada yang menjaganya. Kau harus segera kembali," ujar Kaisar Zhun seraya menarik lengan tersebut hingga si pemilik menghadap ke arahnya.
Han Mi menatap suaminya dalam diam. Tidak, itu bukan suaminya, melainkan suami Hwang Lien Tianba. Hening sejenak, hingga akhirnya ia memberanikan dirinya kembali untuk berbicara.
"Aku akan tetap di sini. Lagi pula, siapa yang akan menjaga dua anak kecil seperti mereka?" Han Mi kembali mengucapkan penolakannya.
Dengan berani Han Mi menyentak tangan Kaisar Zhun, tetapi usahanya tak membuahkan hasil. Tanpa berkata apa pun Kaisar Zhun segera menarik lengan Han Mi untuk mengikutinya secara paksa.
"Bixia! Tolong lepaskan tangan ben gong," kata Han Mi seraya melangkah terburu mengikuti langkah besar milik sang Kaisar.
"Jadi, sekarang kau telah kembali menggunakan kata itu. Apakah kau telah sadar akan posisimu?" tanya Kaisar Zhun dingin, kakinya terus melangkah menuju pintu di ruangan tersebut dengan tangan yang menyeret Han Mi bagai seekor hewan peliharaan.
"A—ah, ti—tidak bukan ... itu ...," ucap Han Mi tergagap. Aih! Bagaimana bisa aku menggunakan kata 'ben gong' itu lagi sih?!
__ADS_1
Jenderal Li yang melihat pintu ruangan terbuka, segera menutup kembali pintu tersebut dan mengikuti sang Kaisar. Eh? Ada apa lagi ini? tanya Jenderal Li dalam hati. Ia menatap aneh ke arah pria muda yang sedang diseret oleh Kaisarnya.
Sejak kapan Kaisar Zhun mau bersentuhan dengan orang asing? Ah! Aku lupa, jawabannya sudah pasti sejak tadi, dia bahkan melakukannya sebanyak dua kali dengan orang yang sama, batin Jenderal Li seraya terus mengikuti langkah dua orang di hadapannya itu.
Hening menyelimuti mereka. Sedangkan kaki terus melangkah ke depan. Membawa mereka menyusuri lorong demi lorong yang ada di sini, sampai akhirnya mempertemukan mereka dengan Tabib Qing dan Lao Bong Yue.
"Daren sudah ingin pergi?" tanya Tabib Qing melihat dua pria muda itu dengan satu orang pengawal yang berjalan sedikit cepat di belakang sana.
Han Mi yang melihat Kaisar Zhun hanya terdiam dan tidak berniat untuk membalas ucapan pria tua itu, segera memutuskan maju ke depan untuk membalas.
Tangannya terangkat ke arah depan—kepalan tangan kanan yang bertemu dengan telapak tangan kiri—untuk memberikan sedikit sifat sopan santun, meskipun masih ada tangan Kaisar Zhun yang mencengkeram pergelangan tangan kirinya, Han Mi menghiraukannya begitu saja.
"Benar Tabib Qing. Tuan ini dan saya akan kembali ke kediaman. Sebelumnya terima kasih telah membantu saya. Oh ya, maaf saya merepotkan lagi, pria muda ini memohon kepada Tabib Qing supaya menjaga Lao Xue Yue hingga pulih kembali. Untuk pembayaran perawatan, telah saya lunasi setelah kembali berbelanja tadi." Han Mi tersenyum ramah kepada pria tua itu.
Melihat ada sedikit keraguan di wajah Tabib Qing, Han Mi kembali melanjutkan ucapannya, "Tabib tenang saja, nanti akan ada seseorang dari Daren ini yang menjemput Lao Xue Yue dan Lao Bong Yue untuk kembali ke kediaman mereka," kata Han Mi seraya menunjuk ke arah pria bertubuh tinggi di sebelahnya.
"Baiklah, jika seperti itu Tabib ini akan menjaganya sesuai keinginan Anda." Tabib Qing menunduk seraya mengangkat tangannya seperti yang Han Mi lakukan tadi. Kemudian perlahan menurunkannya lagi.
Setelah perbincangan mereka selesai, Han Mi, Kaisar Zhun dan Jenderal Li yang berdiri di paling belakang memberikan salam kepada Tabib Qing, sebelum melanjutkan langkahnya ke arah yang berbeda dengan Tabib Qing dan Lao Bong Yue.
Di sela-sela itu, Han Mi menyempatkan diri untuk memberikan lambaian perpisahan pada Lao Bong dan sebuah senyum lembut mengembang di bibirnya, begitu pun dengan anak laki-laki tersebut, ia menampilkan cengiran khasnya juga membalas lambaian tangan Han Mi.
"Baik-baik dengan Tabib Qing, ya," pesan Han Mi dengan suara lembut.
Lao Bong yang mendengarnya segera membalas dengan sebuah anggukan antusias. Perasaannya saat ini dalam keadaan bahagia karena bisa bertemu dengan orang seperti Han Mi.
Lao ge, seandainya saja kamu sudah tersadar. Kamu juga pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku, meskipun paman itu adalah laki-laki, tapi ia mirip seperti a niang*.
Han Mi segera menampilkan ibu jari kanannya ke arah Lao Bong, sebelum akhirnya mereka pergi menjauh. Setidaknya ia sudah dalam keadaan yang ceria. Haah ..., batin Han Mi merasa lega.
Tidak berselang lama, mereka bertiga akhirnya tiba di pintu masuk aula perawatan. Kaisar Zhun yang ingin membuka pintu tersebut langsung menghentikan gerakannya.
Tubuhnya mematung di tempat, merasakan sebuah kehadiran sosok yang tidak asing di sekitarnya. Terasa amat pekat dan ia merasa bahwa posisinya tidak jauh dari sana.
Dia ada di sini. Kali ini aku harus dapat menangkapnya, batin Kaisar Zhun. "Li Jianjun, dia sedang ada di sekitar sini," ucap Kaisar Zhun sangat serius. Suaranya begitu rendah, terdengar pelan seperti orang yang sedang berbisik.
Jenderal Li yang mendengarnya semakin terdiam, Kaisarnya berbicara tidak seperti biasanya dan itu membuat Jenderal Li menatap tajam ke arah punggung tersebut.
Ia berbicara seperti itu, berarti yang di maksud adalah .... "Baik Bixia," balas Jenderal Li cepat yang kemudian berlari tanpa suara ke arah belakang. Mencari pintu keluar lain untuk menemukan keberadaan orang yang di maksud oleh sang Kaisar.
***
Tepat di atas atap bangunan yang ada di seberang aula perawatan, dua orang pria dengan menggunakan jubah bertudung terlihat sedang menunggu dalam keheningan.
Seorang pria dengan tinggi sekitar 181 centimeter terlihat berdiri seraya melipat tangannya di depan dada. Sedangkan pria satunya yang merupakan prajurit bayangan dari pria itu, tengah berlutut dengan satu kaki seraya terus memantau sekitar.
Kehadirannya yang kental, amat terasa di balik pintu tersebut. Sungguh membuatku merasa rindu, batin pria dengan tinggi 182 centimeter itu.
"Bersiaplah, aku sudah merasakannya. Namun, ada kehadiran sosok yang kuat di sebelahnya. Pria ini ... aku tak ingin berurusan dengannya. Setelah mereka keluar, kita harus segera menjaga jarak," ucap pria berbalut hanfu putih yang di double menggunakan jubah bertudung warna biru tua.
__ADS_1
"Baik Daren." Prajurit bayangan yang sedang berlutut dengan satu kaki di sebelahnya terus memantau keadaan di bawah sana.
Menatap ke arah sekitar dengan waspada. Walaupun begitu, ia masih menyimpan tanda tanya besar tentang siapa sebenarnya orang yang ingin Tuannya ini hindari.
"Zhun Qiang Duyi," gumam pria dengan jubah bertudung biru tua itu, yang langsung membuat prajurit bayangannya tersentak terkejut.
Apa!? "Daren, bukankah itu ...."
"Maka dari itu aku menyuruhmu untuk bersiap. Sebisa mungkin kita harus menghindari kontak fisik dengannya." Tatapan matanya masih tertuju lurus pada pintu kayu di bawah sana.
Ia menjadi waspada saat melihat bahwa pintu tersebut mulai terbuka sedikit, dan tiba-tiba saja langsung terbuka sepenuhnya hingga menampilkan Kaisar Zhun dan Han Mi yang bersiap melangkah keluar dari sana.
Ah, ternyata memang kau ... Hwang Lien Tianba, batin pria tersebut merasakan kelegaan yang tiada tara.
Bola mata yang terlihat begitu memikat dengan hidung mancung dan bibir seksi yang terpahat sempurna, serta rahangnya yang tegas, di tambah sebuah senyum bahagia yang muncul menghiasi wajahnya, berhasil membuatnya terlihat begitu memukau.
Kini, ia seakan telah hidup kembali, sesaat setelah pria tersebut melihat wanita itu yang ternyata masihlah ada di dunia ini.
"Kita pergi," perintah pria berjubah biru tua itu seraya menghilang dalam sekejap mata bersama dengan embusan angin yang datang.
Aku akan segera menjemputmu Hwang Lien Tianba, batin pria tersebut.
Hanya menyisakan hawa kehadirannya yang mulai terasa memudar terbawa embusan angin yang datang menyusul kembali. Menyapunya hingga tidak bersisa.
.
.
Bersambung.
.
.
Glosarium :
* A niang (China) : Ibu, salah satu cara anak memanggil Ibunya. Biasanya dipasangkan dengan die/a die.
.
.
Naskah :
Jakarta, 21 Juli 2020.
Publish :
Jakarta 23 September 2020.
__ADS_1