
Seorang Tabib wanita yang berusia sekitar 30-an dengan paras cantiknya, terlihat datang bersama Dayang Liu. Langkahnya yang ringan terhenti di depan sebuah meja bundar berukuran sedang di dalam kamar peraduan Permaisuri.
Tabib itu berlutut seraya menunduk dengan tangan kanan terkepal yang bertemu dengan telapak tangan kiri di depan dahinya. Memberikan sebuah penghormatan penuh kepada sang Permaisuri.
"Hormat kepada Yang Mulia Permaisuri Kekaisaran Zhun. Gui An Shan, datang untuk memberikan selamat kepada Yang Mulia Permaisuri atas kesembuhannya. Hamba merasa amat bahagia dengan kabar ini,” ucapnya dengan tegas.
“Angkat kepalamu,” perintah Han Mi seraya menaruh cangkir berisi teh bunga camomile di atas meja.
“Bagaimana perasaan Anda saat ini, Yang Mulia Permaisuri? Apakah sudah merasa lebih baik?"
"Lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih padamu yang telah merawat Ben gong selama empat bulan ini.” Han Mi tersenyum tipis.
Netra dengan iris berwarna birunya terlihat sedikit menyipit saat ia menampilkan senyum tersebut. Begitu indah dan anggun, seakan dapat menghipnotis mata siapa pun yang melihatnya.
“Syukurlah, hamba merasa sangat senang jika Yang Mulia Permaisuri merasa lebih baik. Itu sudah menjadi kewajiban hamba untuk merawat Yang Mulia selama tidak sadarkan diri. Akan tetapi ... karena tubuh Anda masih belum pulih sepenuhnya, untuk ke depannya hamba menyarankan kepada Yang Mulia Permaisuri supaya tak lupa untuk beristirahat. Jika Yang Mulia membutuhkan sesuatu, atau merasakan ada sesuatu yang aneh pada bagian tubuh tertentu, silakan segera panggil hamba untuk datang menghadap,” jelas Tabib Gui An Shan seraya kembali tertunduk.
“Baiklah, Ben gong mengerti, silakan kau beristirahat kembali. Maaf telah menyusahkanmu hingga saat ini.”
“Baik, Yang Mulia Permaisuri. Hamba memohon undur diri dari hadapan Yang Mulia. Semoga Permaisuri Yang Agung diberikan berkah umur panjang serta kesehatan yang melimpah oleh para Dewa.” Setelahnya, Tabib Gui An Shan bersujud sekali, kemudian menundukkan kepalanya seraya memberikan penghormatan terakhir sebelum ia berdiri.
Ya ampun! Hanya memberi penghormatan saja susahnya begini?
"A—ah, ya terima kasih." Han Mi mengangguk singkat dan hanya melihatnya berjalan hingga keluar dari ruangan ini.
Han Mi terdiam sejenak, netra dengan iris berwarna biru itu menatap pintu yang telah tertutup dengan sempurna. Sejujurnya, ia sangat menyukai apa pun yang berhubungan dengan sejarah era kerajaan seperti ini.
Akan tetapi ... setelah merasakannya secara langsung, ternyata tak semudah apa yang dulu pernah ia bayangkan. Nyatanya, semua ini serba menyusahkan, dan harus dilakukan sesuai dengan teori yang telah dipelajari dalam buku.
Boleh enggak sih, kalau aku memilih mau masuknya ke tubuh siapa gitu, sesuka hatiku? Kalau begini kan, aku juga yang repot, mana era kerajaan pula.
"Aku ingin duduk sebentar lagi. Liu Yi Ze, kau juga duduklah, kemari," kata Han Mi seraya menunjuk ke arah tempat duduk yang berada diseberangnya.
"Mohon ampun Yang Mulia Permaisuri. Menurut tata krama kesopanan Istana Kekaisaran, hamba tidak dapat duduk dalam satu meja yang sama dengan para anggota Kekaisaran. Hal seperti itu sangat lancang dan tidaklah sopan, karena akan melanggar peraturan yang ada.”
HAH?!
Tunggu sebentar, Liu Yi Ze ini ... memang enggak salah sih. Semua tempat memiliki sebuah peraturannya tersendiri. Beberapa ingatan dari tubuh Hwang Lien Tianba ini sendiri, tentang peraturan ketat di dalam Istana Kekaisaran pun telah membuatku lebih paham akan hal itu. Walaupun begitu, aku tetap tidak peduli. Itu hanya berlaku untuk mereka, sedangkan aku? Enggak.
"Tidak apa-apa, cepat duduklah. Memangnya kamu tidak lelah kalau harus berdiri terus seperti itu? Lagi pula, orang yang berdiri terus seperti dirimu itu tidak baik untuk kesehatan, kakimu akan membengkak dan terkena penyakit,” ucap Han Mi sangat meyakinkan. Sejujurnya, ia sedang berusaha menakuti Dayang pribadinya itu.
“Ta—tapi Yang Mulia Permaisuri, tolong jangan paksa hamba untuk duduk dalam satu meja dengan Anda. I—itu menyalahi aturan.”
Sungguh keras kepala.
Netra dengan iris berwarna biru itu mendelik ke arah Dayang Liu, kemudian menunjuk tempat duduk kosong yang berada di seberangnya. “Ini perintah. Duduk di sana sekarang juga.”
"A—ah?!" Dayang Liu tersentak bukan main. Namun, secepat kilat ekspresinya dapat dikendalikan seperti semula. Seakan barusan tak pernah terjadi apa-apa.
“Ba—Baik Yang Mulia Permaisuri,” ucap Dayang Liu pada akhirnya. Kakinya berjalan ke arah kursi yang tadi ditunjuk oleh Han Mi dengan pasrah. Ia terlihat duduk dengan gaya yang pelan dan begitu anggun.
__ADS_1
Patut di contoh, dan tidak dapat diragukan lagi bahwa Dayang Liu adalah seorang kepala dayang di Istana Kekaisaran Zhun. Ia terlihat begitu berwibawa, anggun dan sopan.
"Duduk sebentar lagi ya, baru nanti aku akan kembali beristirahat," jelas Han Mi pada Dayang Liu yang duduk dengan kepala sedikit tertunduk.
"Baik, Yang Mulia Permaisuri. Hamba akan menunggu Anda." Dayang Liu menjawab sopan.
Hening mulai menyelimuti kamar peraduan sang Permaisuri. Han Mi yang ingin duduk dan sedikit meregangkan tubuhnya, perlahan kembali mengingat bagaimana ia bisa berada di tempat asing seperti ini.
Hwang Lien Tianba ini ... ia sendiri yang memberikan tempat ini padaku. Sejujurnya aku enggak begitu mengerti bagaimana caranya dia bisa memilih dan menarik rohku untuk menggantikannya, tapi yang jelas ... jika seperti itu, bukankah Hwang Lien Tianba enggak selemah yang orang lain pikirkan?
Han Mi menyanggah kepalanya menggunakan satu tangan, dengan tatapan yang tertuju lurus pada motif bunga teratai di atas meja.
Dan kalaupun dia dapat melakukan hal semacam sihir, kemungkinan dia memiliki sebuah kekuatan yang sangat besar, 'kan? Jika benar begitu, kenapa selama ini dia menyembunyikannya secara rapat, ya?
Akhirnya Han Mi bertanya pada Dayang pribadinya, “Liu Yi Ze, Aku adalah seorang Permaisuri, itu berarti aku memiliki seorang pendamping yang sangat berpengaruh, ‘kan?”
“Liu Yi Ze menjawab Yang Mulia Permaisuri. Benar sekali, Anda adalah seorang permaisuri yang mendampingi Bixia Huang di*,” balasnya dengan suara lembut dan penuh hormat.
Bixia Huang di ... menurut ingatan Hwang Lien Tianba, itu artinya adalah, Yang Mulia Kaisar. Hhm ... Kaisar, ya*?
“Siapa nama kaisar itu?” tanya Han Mi seraya memainkan cangkir teh yang berada di hadapannya.
“Nama asli Bixia Huang di ....” Ucapannya berhenti, dan itu membuat Han Mi mengangkat kepalanya hingga pandangan mereka bertemu. Dayang Liu memilih untuk segera menunduk.
“Katakan,” perintah Han Mi cepat.
“Hamba memohon ampun kepada Yang Mulia Permaisuri. Di Kekaisaran Zhun ... tidak ada yang boleh menyebut nama asli Bixia, terkecuali ... dalam acara-acara sakral yang ada di Kekaisaran Zhun.”
“Lalu, selama ini bagaimana kalian semua memanggilnya?” tanya Han Mi dengan bodohnya karena merasa kesal.
Sepenting itukah nama asli milik seorang kaisar?
Tiba-tiba saja Dayang Liu mengangkat kepalanya seraya menatap Han Mi dengan intens, hingga membuat Han Mi tersentak dan menegakkan tubuhnya. “A—ada apa?!”
“Yang Mulia, Anda ... apakah saat tercebur ke dalam sungai, kepala Yang Mulia terbentur sesuatu? Hamba merasa ada sesuatu yang salah di sini,” kata Dayang Liu seraya menunjuk ke arah kepalanya sendiri.
“Eh? A—ah!” Matilah kau Jung Han Mi. “Mu—mungkin waktu itu sedikit terbentur, tapi aku lupa karena setelahnya aku tak sadarkan diri. Hehe ....” Sebuah cengiran terpampang jelas di wajah Han Mi. Telunjuk tangan kirinya terangkat dan segera menggaruk pipinya yang tak terasa gatal.
Ekspresi seriusnya seketika berubah menjadi khawatir. “Apakah hamba perlu memanggil Tabib Gui An Shan kembali ke sini?” tanya Dayang Liu.
“Tidak perlu, kamu duduklah saja,” kedua mata Han Mi menatap ke arah Dayang Liu dengan serius, “dengarkan baik-baik, saat ini hanya ada kita berdua, jadi ... tolong jawab pertanyaanku yang tadi itu. Siapa nama asli Kaisar di sini, dan sedang apa dia saat ini?”
“Tapi Yang Mulia, Anda—” Dayang Liu segera mengangkat kepalanya.
“Aku dalam keadaan baik, hanya saja lupa dengan nama asli milik Bixia Huang di, maka dari itu aku menanyakannya padamu. Ayo, beritahu aku. Toh, di sini tak ada orang lain, selain kita berdua.” Sebuah senyum tipis tersungging di wajah Han Mi, hingga membuat matanya yang sipit sedikit tertarik.
“Hamba menjawab Yang Mulia Permaisuri. Bixia ... saat ini sedang pergi berperang di perbatasan Barat Daya untuk menepati perjanjian dengan Kekaisaran Wen. Membantu Kekaisaran Wen yang akan diserang oleh Kekaisaran Jiang. Lalu setelahnya, Bixia pergi mengurus permasalahan yang cukup membuat resah di benteng Kekaisaran yang ada di perbatasan Timur Laut Kekaisaran ....”
“Kemudian?”
__ADS_1
“Bixia memberikan perintah untuk melakukan semua itu hanya dalam waktu 5 bulan, dan sampai saat ini baru terhitung 4 bulan, jadi masih tersisa satu bulan lagi sebelum Bixia tiba di Istana Kekaisaran,” jelas Dayang Liu.
Tersisa satu bulan lagi ... di mana saat itu aku akan bertatap muka denganmu, sosok asli Bixia Huang di sang penguasa tertinggi di Kekaisaran Zhun ini.
Aku sama sekali enggak punya ingatan Hwang Yu Rei tentang wajah ataupun bagaimana sosoknya. Sama sekali enggak ada ... jadi, sejujurnya ada sedikit rasa penasaran juga ingin melihatnya segera. Hehehe.
“Nama asli milik Bixia adalah Zh—”
BRAK!
SEKARANG APA LAGI?
.
.
Bersambung
.
.
Glosarium :
*Ben gong : Saya/aku, digunakan oleh seorang permaisuri, selir, putra/putri mahkota.
* Bixia : Baginda/Yang Mulia, salah satu cara memanggil kaisar.
* Huang di : Kaisar.
.
.
Yuhuu~
Gimana nih? Kalian masih semangat?
Besok akan ada tamu yang datang lagi loh! 😁
Jadi, ditunggu yaw, sampai jumpa di chapter selanjutnya!! 👋🏻👋🏻
.
.
Naskah :
Jakarta, 29 Juni 2020
__ADS_1
Publish :
Jakarta, 07 Juli 2020