Empress Of The Emperor

Empress Of The Emperor
Cp 28 | Kebenaran Di balik Semua Kejadian


__ADS_3

"Shifu*! Lihat ini, aku bisa melakukannya! Teknik ini sepertinya cocok denganku."


---------------


"Kamu memang berbakat dalam ilmu sihir Hwang Lien Tianba. Shifu bangga padamu."


---------------


"Aku sayang shifu! Shifu akan selalu berada dipihakku, kan?"


---------------


"Tenang saja Shifu akan selalu mendukungmu. Jadi, Lien tak perlu takut."


---------------


"Aku akan selalu ada di sini, Hwang Lien Tianba. Sejak pertama kali kau datang, bahkan hingga saat ini pun, aku telah menyaksikan bagaimana kau tumbuh dan berubah menjadi gadis yang begitu cantik juga menawan. Haruskah kau pergi sekarang juga?"


---------------


"Terima kasih atas semua bimbinganmu selama ini Shifu. Pada akhirnya, bukan Shifu yang meninggalkanku, tetapi aku yang pergi dari tempat pelatihan gunung Zhou ini."


---------------


"Tidak bisakah kau mengabaikannya dan tetap tinggal di sini? Aku akan membantumu berbicara pada Hwang Mo Fen."


---------------


"Tidak perlu. Shifu tetap di pegunungan Zhou ini saja. Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan urusanku."


---------------


"Kalau begitu, terimalah benda ini. Setidaknya aku akan mengetahui keberadaanmu jika kamu selalu membawa benda tersebut sepanjang hari."


---------------


"Lalu ... jika kamu membutuhkan bantuanku, segera salurkan saja kekuatanmu ke benda tersebut."


---------------


Han Mi terdiam seraya memegang kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit, seakan habis terhantam benda keras. Ingatan demi ingatan milik Hwang Lien Tianba berputar di dalam kepalanya secara cepat.


Perlahan ia membuka kedua matanya, menatap sosok pria berjubah biru tua dengan setengah wajah yang tertutup tudung jubah tersebut. Pria itu berdiri tanpa kesulitan sedikit pun di atas permukaan air yang tenang.


Angin kembali berembus, menerbangkan rambut Han Mi yang tegerai. Hawa dingin menusuk tulang langsung dirasakan olehnya, tiba-tiba saja ia menegang di tempat saat pria misterius itu membuka tudung jubah yang menutupi kepalanya.


Netra hitam yang begitu memikat dengan alis tebal dan hidung mancung, bibir merah muda yang terlihat penuh, serta rahang tegas yang terbingkai pada wajah oval tersebut benar-benar begitu memikat. Ketampanan lain yang baru Han Mi lihat selain milik sang Kaisar.


Tidak mungkin! Bukankah dia ..., batin Han Mi tak percaya menatap wajah pria tersebut. Bibirnya terkatup rapat dengan tatapan yang terus tertuju pada objek di depan sana.


Bersamaan dengan itu, angin terus berembus membuat Han Mi harus menahan dingin yang menusuk.


“Apakah kamu tidak merindukanku, Lien?” tanya pria tersebut dengan suara yang terdengar begitu lembut. Sungguh, saat ini juga Han Mi merasa seperti akan meleleh saat mendengar suaranya. Terbuai dengan alunan lembut yang memabukkan.


Akan tetapi, semua itu hanya khayalan belaka. Han Mi tetap harus bersikap waspada, walaupun ia telah mengetahui siapa pria tersebut, bukan berarti ia dapat bersantai begitu saja.

__ADS_1


“Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu sakit?” tanya pria itu lagi seraya berjalan perlahan ke arah Han Mi.


“Berhenti di sana!” seru Han Mi, kemudian menurunkan tangannya yang sedari tadi memegang kepalanya karena masih terasa sedikit sakit.


Pria itu menatap Han Mi dengan penuh tanda tanya. “Kenapa?” tanya pria tersebut.


“Shifu ...,” gumam Han Mi.


Bukankah seperti itu Hwang Lien Tianba memanggilnya? tanya Han Mi dalam hati. Ia tertunduk, menatap telapak tangannya yang terlihat begitu pucat.


Sebuah senyum tersungging di bibir pria berjubah biru tua itu saat Han Mi memanggilnya. “Aku rindu padamu, bukankah sudah kubilang bahwa aku tak rela jika kamu memilih jalan itu?” Kakinya kembali melangkah perlahan di atas permukaan air, menimbulkan suara gemericik yang menggelitik telinga.


Apa maksudnya? Han Mi mendongak menatap sosok tersebut dengan sebelah alis terangkat.


“Aku tidak ingin kamu menukar jiwamu, dan pada akhirnya ... ritual itu gagal. Kamu tak sadarkan diri hingga tercebur ke dalam sungai. Jika saja saat itu Zhun Qiang Duyi tidak datang, aku pasti telah menyelamatkanmu,” jelas pria itu tanpa Han Mi minta.


Langkahnya terhenti, senyum yang semula muncul kini telah menghilang. Tatapannya seketika berubah sendu. Di dalam sana terlihat begitu banyak sekali penyesalan.


Hatinya seketika terasa nyeri saat mengingat bagaimana perasaannya yang terpendam sangat mendalam dan begitu lama. Belum lagi, ia tak dapat mengatakannya pada wanita itu secara gamblang.


“Kini, aku merasa bersyukur karena ternyata kamu selamat dan masih ada di dunia ini. Selama setahun aku telah mencarimu di mana-mana, tapi tak membuahkan hasil apa pun. Energimu dan juga benda yang telah kuberikan kepadamu kala itu, sama sekali tak dapat kurasakan, dan itu membuatku sangat frustrasi.”


Hening sejenak, sebuah senyum tulus tersungging kembali di bibirnya. “Ada satu hal yang selama ini aku tak bisa bilang kepadamu, Lien.”


Aku harus mengatakannya saat ini juga, batin pria tersebut. Ia telah memantapkan hatinya. Apa pun yang terjadi, entah itu penolakan ataupun penerimaan dari Han Mi, ia harus siap.


Keputusannya telah bulat, dan ia tak dapat mundur begitu saja. Penyesalannya kala itu, sungguh membuat dunianya runtuh, dan untuk pertama kalinya ia merasakan yang namanya kehilangan juga kehancuran di saat bersamaan.


“Apa itu, Shifu?” tanya Han Mi sedikit penasaran. Ia memilih untuk mengikuti alur permainan pria ini terlebih dahulu.


Setidaknya, Han Mi akan mendapatkan informasi lain yang tidak ia dapatkan dari ingatan Hwang Lien Tianba.


“Sejujurnya, aku tak memandangmu sebagai muridku,” kata pria itu seraya mengangkat tangan kanannya dan menggaruk pelan kepalanya, “aku memandangmu sebagai seorang wanita. Melihat bagaimana pertumbuhanmu dan kedekatan kita selama ini, berhasil membuatku tersadar akan perasaanku sendiri, bahwa ternyata aku menyukaimu. Bukan dalam artian kata sebagai seorang Shifu. Akan tetapi, sebagai seorang pria,” jujur pria itu.


Han Mi hanya terdiam, tidak menanggapi ucapan tersebut. Perkiraannya ternyata benar, ini adalah tentang perasaan yang terjalin tanpa sadar di antara mereka. Muncul secara alami, dan baru disadari setelah salah satu dari mereka menghilang.


“Aku tahu ini aneh, mungkin kau terkejut mendengarnya, tapi ... itulah yang sebenarnya. Aku sungguh menyayangimu,” ucap pria tersebut lagi.


Perlahan, Han Mi mendongak untuk menatap langit hitam yang berhiaskan sebuah bulan purnama. Cahaya keperakan yang begitu menenangkan, membuat Han Mi memejamkan matanya untuk sesaat.


Apa yang akan terjadi jika ia mengetahui bahwa jiwa dalam tubuh ini bukanlah Hwang Lien Tianba lagi? Akan tetapi, aku juga enggak bisa menyembunyikannya begitu saja, itu terlalu kejam untuknya. Mengetahui kenyataan juga tak mudah, pikir Han Mi merasa frustrasi.


“Haah ...," embusan napas pelan terdengar dari arah Han Mi, ia membuka matanya kemudian menatap ke arah depan.


“Zhou Heng. Bukankah itu namamu?” tanya Han Mi pelan seraya menatap lurus pada manik hitam yang terlihat sedikit memantulkan cahaya keperakan bulan purnama.


Pria itu membeku di tempat, ia menatap balik netra biru milik wanita tersebut. “Kau bukan Lien ...,” ucapnya saat melihat adanya perbedaan dari ucapan serta nada bicara yang Han Mi tunjukkan saat ini.


Pancaran sinar matanya berbeda, batin pria yang dipanggil Zhou Heng oleh Han Mi.


Angin berembus kembali, menerpa apa pun yang berada di sana. Permukaan danau yang tenang perlahan mulai beriak.


Han Mi menatap air tersebut dalam diam. Merasakan sensai dingin dan alunan simfoni yang terdengar bagai musik di indra pendengarannya.


“Aku tak bisa membalas pernyataan cintamu karena aku bukanlah Hwang Lien Tianba,” ucap Han Mi secara gamblang tanpa tahu mara bahaya apa yang akan menantinya di depan.

__ADS_1


Whoosh!


“Kenapa kau tak mengatakannya sedari awal?!” desis Zhou Heng. Rahangnya terlihat mengeras, ekspresi marah terlihat jelas di wajahnya. Tangannya yang dingin mencengkram leher wanita di bawahnya semakin erat.


Pria ini dapat bergerak cepat sekali, batin Han Mi. Ia memegang tangan tersebut dengan kencang, berusaha untuk melepaskan cengkeraman kuat dari lehernya. “Aakkh!”


“Kau tahu? Duniaku telah hancur hanya karena ia sudah tak sanggup menahan semua beban itu sendirian, hingga merelakan hidupnya untuk memanggil jiwa sepertimu dari dunia lain! Merelakan semuanya ... ia bahkan meninggalkanku begitu saja tanpa memberikan sebuah penjelasan!” seru Zhou Heng. Pria berusia 30-an itu terlihat begitu kalap, emosinya membuncah tak terkendali.


“A—aku juga—khh.” Han Mi terus menepuk tangan pria tersebut dengan kencang.


Sialan, dia benar-benar ingin membunuhku! jerit Han Mi dalam hati. Melihat bahwa pria yang berada di hadapannya ini telah kehilangan akal. Han Mi segera mengeluarkan kekuatannya.


Zrt!


Dengan sekali percobaan Han Mi berhasil mengeluarkan teknik petir yang sebelumnya pernah ia pakai.


Namun, kali ini ia menggunakan kekuatan listrik yang cukup besar, hingga Zhou Heng melepaskan cengkeramannya secara paksa dan mundur beberapa langkah.


Melihat adanya peluang Han Mi segera bangkit dari tidurnya, dan terduduk di atas lantai paviliun tersebut. “ZHOU HENG!” geram Han Mi seraya terbatuk-batuk.


Emosinya perlahan benar-benar mulai tersulut, dan kali ini ia sudah tidak dapat menahannya sama sekali.


“Memangnya kau pikir aku juga mau datang ke dunia ini, hah?!” sembur Han Mi dengan wajah yang terlihat memerah. Selamat, kali ini aku sungguh marah! batin Han Mi. Netra birunya menatap tajam ke arah pria tersebut.


“Jangan bersikap egois! Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi pikirkan juga bagaimana dengan Hwang Lien Tianba dan aku yang dipanggil ke sini!” ucap Han Mi penuh emosi masih dengan terbatuk beberapa kali.


.


.


Bersambung.


.


.


Glosarium :


* Shifu : guru. Shifu adalah suatu sebutan yang mengikatkan antara pengajar dengan yang diajar dan ikatan itu memiliki tanggung jawab besar, antara lain membimbing perkembangan moral dan mental si murid serta harus menjadi orang tua yang mengayomi.


.


Yooo chuy!


Sebelumnya mohon maaf jika masih ada typo, karena saya self editting-nya sambil ngantuk-ngantuk, alias setengah sadar. Wkwkwk.


Yuk ah, jangan lupa krisar yaaw.


Sampai jumpa di next chapter! 👋🏻😊


.


Naskah :


Jakarta, 23 Juli 2020.

__ADS_1


Publish :


Jakarta, 07 Oktober 2020.


__ADS_2