
Siang ini matahari begitu terik. Han Mi terlentang malas di paviliun kecil yang ada di tengah danau belakang Paviliun Piānlín.
Tak terasa tiga hari telah berlalu dan selama itu pula ia merasa frustrasi. Namun, tetap mengisi waktunya dengan latihan fisik yang biasa dilakukan oleh Hwang Lien Tianba.
"Akting bodoh pembawa sial!" dengkus Han Mi kemudian meninju udara di hadapannya.
"Enak sih bebas dari si Kaisar Iblis, tapi ... apaan nih? Aku cuma dapat jatah makan dua kali. Udah gitu paviliun ini katanya berhantu? Argh! Si sialan itu kayaknya beneran mau bunuh aku secara perlahan, ya?"
Netra birunya menatap langit-langit paviliun yang berwarna cokelat. Kayu tua, tetapi masih terlihat begitu kokoh seperti tak termakan oleh waktu.
Sudah lama tak ditinggali, tapi seperti baru. Sebenarnya tempat macam apa ini? Hebat! pikir Han Mi. Tubuhnya perlahan bangkit, duduk menyandar pada batang kayu berukuran besar yang ada di sana.
Tatapannya seketika berubah sendu, menatap permukaan air yang berwarna keperakan, terlihat sangat menyilaukan hingga membuatnya sedikit menyipit.
Tiga hari sebelumnya, aku isi dengan latihan fisik. Namun, tetap saja aku benar-benar tak bisa berhenti untuk meratapi kemalanganku, juga keanehan yang mengganjal di hati saat terakhir kali bertemu dengannya. Bodoh! Memangnya apa gunanya aku memikirkan si iblis itu? batin Han Mi.
Napasnya kini terasa sesak kembali. Entah mengapa setiap membayangkan tatapan sendu dan senyum tipis serta ekspresi terakhir kali yang ditampilkan oleh Kaisar Zhun, itu berhasil membuat Han Mi menjadi kacau. Perasaan aneh yang saat itu ia rasakan selalu saja teringat kembali.
Dan, aku baru mengetahuinya bahwa perasaanku berhubungan dengan kekuatan asli milik Hwang Lien Tianba. Perasaan bimbang tak ada kepastian, itu membuat ilmu sihir dan tenaga dalamnya menurun drastis. Ia menekuk sebelah kakinya, kepalanya mendongak ke arah atas.
"Haah ...."
Han Mi langsung menepuk kedua pipinya lumayan keras hingga menimbulkan sedikit suara yang memecah keheningan di paviliun tersebut.
"Oke! Aku enggak bisa begini terus. Benar-benar harus memikirkan langkah selanjutnya. Ayolah Jung Han Mi, sekarang adalah waktunya untuk bergerak!"
Setelahnya, Han Mi berbalik, ia memilih untuk kembali menuju Paviliun Piānlín, dan beristirahat di kamarnya.
***
Malam semakin larut. Sesosok pria bertubuh tinggi berbalut hanfu warna merah dan emas yang tertutup jubah berwarna hitam, terlihat berdiri berdiam di balik bayangan kegelapan.
Tudungnya menutupi wajahnya hingga sebatas dahi, menampilkan mata berwarna hitam pekat yang begitu menyeramkan saat terkena sinar bulan.
Dengan santainya pria itu duduk menyandar pada sebuah kursi batu yang amat terawat di paviliun berukuran cukup besar di tengah danau, mengangkat satu kakinya hingga terlipat di atas paha.
Tangannya yang memegang sebuah kipas lipat terbuat dari bambu dan kertas berwarna putih ia pukulkan beberapa kali ke tangan kirinya.
__ADS_1
"Lakukan tugasmu sesuai perintah. Jika ia mengalami sedikit luka di tubuhnya ... tak ada kompensasi sama sekali untuk jiwamu," kata pria tersebut dengan suara tegas.
Manik hitamnya menatap tajam pada satu bawahan kepercayaanny yang sedang berlutut memberikan hormat di depan sana.
"Baik, hamba memohon untuk undur diri melaksanakan perintah."
"Hhm," deham singkat sebagai jawaban itu membuat pria di bawah sana segera membungkuk memberikan penghormatan terakhir sebelum pergi. Dalam sekejap mata ia telah menghilang, menyatu dalam bayangan kegelapan yang sangat dikenalnya.
Malam ini adalah malam bulan purnama, dan merupakan hari keempat sang Permaisuri berada di pengasingan tersebut. Sebuah senyum miring tersungging di bibir pria berjubah hitam itu.
Tatapannya yang tajam dengan ekspresi tak terbaca di wajahnya membuatnya terlihat begitu menyeramkan di bawah sinar keperakan sang rembulan.
"Aku tak percaya ... tetapi ia telah berhasil melakukannya. Perasaan ini, yang sudah terkunci rapat di pegunung es terdalam, ternyata telah terbangkitkan."
Lagi, sudut bibir itu semakin melebar, membentuk sebuah senyuman yang tak pernah diperkirakan oleh siapa pun. Perlahan senyum itu terlihat samar seiring dengan bulan yang mulai tertutup oleh awan hitam di atas sana.
***
"Baiklah, aku sudah selesai," ucap Han Mi. Setelahnya, ia membuka pintu kamarnya, kemudian berjalan cepat melewati lorong paviliun yang gelap. Di sini, sama sekali tak ada penerangan dari obor ataupun lentera. Hanya ada cahaya bulan purnama yang menyinari Paviliun Piānlín.
Bukankah itu terlalu kejam untuk seorang Permaisuri yang memiliki kedudukan di sisi sang Kaisar? Akan tetapi, kenyataannya memang seperti itu.
Derap langkahnya yang semakin cepat dan terdengar memecah keheningan malam Han Mi hiraukan begitu saja. Angin malam pegunungan mulai berembus, menerpa tubuh Han Mi yang terus berlari, menimbulkan sensasi dingin menusuk tulang yang sungguh luar biasa menyiksa.
"Berhubung Hwang Lien Tianba memiliki ilmu sihir yang diturunkan oleh ayahnya. Bisakah kucoba untuk saat ini?" tanya Han Mi pada dirinya sendiri.
Kakinya terus berlari hingga berada di dalam hutan bambu menuju jalan turun pegunungan, seraya mengingat kembali kejadian yang pernah muncul di dalam ingatannya.
Hwang Lien Tianba ... izinkan aku menggunakan kekuatanmu, batin Han Mi.
Lama ia berlari, Han Mi akhirnya melihat beberapa penjaga di bawah sana. Langkahnya langsung terhenti seraya bersembunyi dibalik pohon besar yang tak jauh dari pintu masuk pegunungan ini.
Tangan kanannya segera terulur dengan telapak tangan mengarah ke depan. "Kōngqì. Shuǐ. Shǎndiàn," ucap Han Mi penuh penghayatan.
Dalam sekejap, delapan orang prajurit yang sedang berjaga di depan sana, seakan telah terkena serangan listrik dengan kekuatan yang cukup tinggi hingga tak sadarkan diri. Tubuh tersebut terjatuh begitu saja ke atas tanah.
Han Mi segera mengalihkan pandangnya pada kedua telapak tangannya yang telah berubah warna menjadi sedikit lebih pucat dari sebelumnya. Hal ini diakibatkan karena suhu rendah yang begitu menusuk.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya ini tak terlalu sulit," gumamnya. Manik biru itu menatap tajam ke arah depan, kakinya kembali berlari dengan sangat cepat keluar dari pintu masuk gunung Piānlín.
Secara perlahan ia mulai mengerti dengan kekuatan Hwang Lien Tianba, di tambah ... selama 3 hari sebelumnya ia telah melaluinya dengan latihan fisik secara ketat. Itu membuat gerakannya kini semakin lincah.
Namun, baru beberapa meter ia berhasil lari tiba-tiba saja sesosok pria menggunakan jubah berwarna hitam muncul dari balik bayang-bayang kegelapan, mendekat ke arahnya dari belakang.
Dengan gerakan yang sangat cepat, pria itu memukul bagian tengkuk Han Mi dengan lumayan kencang hingga tak sadarkan diri.
Hampir setengah wajah tertutup tudung jubah yang dikenakannya. Tangannya begitu sigap menangkap Han Mi secara hati-hati. "Mohon Yang Mulia Permaisuri memaafkan kelancangan hamba ini," ucap pria tersebut dengan suara rendah.
Suasana malam yang diterangi cahaya bulan purnama membuat pria ini dengan mudahnya melihat wajah sang Permaisuri. Wajah yang begitu cantik dan sangat berbeda dari wanita pada umumnya di Kekaisaran Zhun.
"Sungguh keindahan yang dapat membuat siapapun akan tergiur untuk memilikinya," ucapnya tanpa sadar. Pria itu terdiam sejenak seraya terus menatap wajah Han Mi.
Beberapa detik telah berlalu, hingga akhirnya ia tersadar akan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Sesuatu yang sangat dosa untuk dilakukan, yaitu memandang secara langsung istri sang penguasa Kekaisaran Zhun. Sosok agung yang menjadi pendamping dari Zhun Qiang Duyi.
"Sekali lagi, hamba memohon maaf atas kelancangan hamba ini."
Setelahnya pria itu pergi secepat kilat seraya menggendong tubuh Han Mi dengan penuh kehati-hatian. Berlari di balik kegelapan yang tercipta di sela-sela sinar keperakan sang rembulan.
.
.
Bersambung.
.
.
Naskah :
Jakarta, 07 Juli 2020
Publish :
Jakarta, 23 Agustus 2020
__ADS_1