
Samar-samar terdengar desahan dari sebuah ruangan, dan hal itu benar-benar telah mengusik seorang wanita berusia 26 tahun yang tengah tertidur di ruang perpustakaan miliknya. Dengkuran halus yang di keluarkan wanita ini seketika berhenti. Perlahan tangannya bergerak, kemudian segera menutup ke dua telinganya.
"Sial ... aku ...," ucapnya dengan suara parau. Matanya perlahan terbuka menampilkan netra cokelat terang yang sangat indah.
Tubuhnya terlihat begitu lesu dengan guratan kelelahan terpancar jelas di wajah, kantung mata berwarna sedikit gelap turut menghiasi wajah oval tersebut.
"Tolong jangan menggangguku lagi, Baek Ho Shik," gumamnya kesal. Dengan pasti ia bangkit dari posisi tidur, merasakan dadanya yang mulai sesak kembali.
Wanita ini bernama Jung Han Mi. Sebuah nama yang telah diberikan oleh kedua orang tuanya dengan perasaan amat bahagia ketika ia dilahirkan di dunia ini. Sebuah dunia yang begitu luas dan terlihat sangat menyenangkan, tetapi lagi-lagi itu berbeda dengan yang terjadi sekarang.
Kehidupannya sangat berbanding terbalik 360 derajat setelah ia menikah dengan Baek Ho Shik. Pria yang memiliki tubuh indah dengan otot-otot atletis yang sangat dirawatnya. Ia adalah seorang dokter bedah jantung di rumah sakit Zhùfú daerah Irwon-dong, Gangnam-gu, Seoul.
"Kali ini, apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?" gumam Han Mi. Langkah gontainya membawa Han Mi keluar dari ruang perpustakaan seraya menahan semua perasaan tertekan yang membuatnya hampir gila.
Di tambah lagi dengan suara menjijikan yang semakin terdengar jelas saat ia telah tiba di depan pintu kamar. Sungguh, Han Mi benar-benar ingin berteriak seraya mengahancurkan apa pun yang ada di sana, atau bahkan melemparkan sebuah pot keramik ke kepala pria yang membuatnya kesal.
Tangannya yang bergetar akhirnya terulur, menggenggam gagang pintu kamar tidur di hadapannya dengan detak jantung yang semakin berpacu kencang, serta suara-suara aneh yang terus masuk ke indra pendengaran.
Aku ... aku sudah tahu jawabannya, tapi kenapa tanganku, batin Han Mi.
Wanita itu menatap tangannya sendiri yang penuh luka lebam juga sayatan di mana-mana. Secara hati-hati ia menekan kenop pintu tersebut kemudian mendorongnya sedikit, memberikan sebuah celah untuknya melihat keadaan di dalam sana.
Dan, apa yang dilihatnya benar-benar membuatnya terdiam. Dadanya terasa semakin sesak dan nyeri. Rahangnya mengeras menahan emosi yang memuncak.
Adegan yang biasanya hanya mereka lakukan berdua, kini tidak lagi. Ho Shik melakukannya bersama wanita lain. Han Mi benar-benar tak pernah membayangkan hal itu, terkecuali beberapa waktu yang lalu.
Dari celah kecil tersebut Han Mi dapat melihatnya dengan jelas, sepasang manusia itu sedang saling berpelukan tanpa mengenakan sehelai benang pun. Bahkan, suara erangan yang sangat mengganggu di telinga Han Mi semakin terdengar menjadi-jadi memenuhi ruangan tersebut.
Wanita dengan surai hitam sepinggang yang sedikit acak-acakan itu sama sekali tak terlihat akan menangis, malah sebaliknya. Han Mi terlihat begitu marah. Wajahnya perlahan mulai memerah. Dengan gerakan kasar ia menendang pintu tersebut hingga terbuka lebar.
Emosinya sudah memuncak. Ia tak bisa menahannya lagi. Beberapa detik berlalu, dan ternyata apa yang barusan dilakukan Han Mi sama sekali tak mengusik Ho Shik. Pria itu terus melakukan aktivitas gilanya bersama wanita lain.
"Hiraukan saja dia," ucap Ho Shik disela-sela desahan yang tercipta bersama wanita yang kini berada di bawahnya.
Dasar orang gila! maki Han Mi dalam hati.
"Dasar pria brengsek. Setelah kau melakukan semua hal keji terhadapku, sekarang kau melakukan hal ini secara terang-terangan? Masih tidak puaskah kau menghancurkan hidupku, Baek Ho Shik! Masih kurangkah semua itu, atau kau ingin aku mati saja barulah kau merasa terpuaskan? Kau tahu? Aku sudah lelah dengan semua ini! Aku sudah muak! SIALAN!" seru Han Mi menggebu-gebu.
Kakinya terhenti beberapa langkah di dekat kasur berukuran king tersebut. Persetan dengan kematian, Han Mi benar-benar merasa marah dan tak memikirkan konsekuensi atas tindakannya barusan.
Tanpa Han Mi duga, Ho Shik menghentikan aktivitasnya. "Tunggu sebentar ya sayang," kata Ho Shik pada wanita yang kini sedang terlentang, tertidur dengan kaki yang terangkat.
Setelahnya, tanpa sehelai benang pun Ho Shik turun dari ranjang. Netra biru itu menatap Han Mi tajam. "Kau berani memanggilku seperti itu?" tanya Ho Shik seraya meraih kasar dagu Han Mi untuk mendekat ke arah wajahnya.
"Ingat ini baik-baik Jung Han Mi yang sangat aku cintai. Ini adalah hidupku, dan kau adalah milikku, sampai kapan pun hanya akan menjadi milikku seorang. Jika kau masih menentangku, maka ... aku akan memasuki tubuhmu itu di atas ranjang seraya menyayat setiap jengkal bagian tubuh ini secara perlahan." Ho Shik menghentikan ucapannya, sebuah senyum miring terlihat jelas di wajah tersebut.
Tangan kirinya mulai meraba dengan gerakan sensual mulai dari sisi pinggang kanan Han Mi hingga turun ke bagian bokongnya.
__ADS_1
"Menikmati bagaimana ekspresi wajahmu yang tengah terlihat menggairahkan saat menikmati persetubuhan kita, bersama dengan rasa pedih yang amat menyakitkan dari sayatan di sekujur tubuh," lanjut Ho Shik tanpa menghilangkan senyum meremehkan yang membuat Han Mi sangat ingin merobek mulut tersebut sesegera mungkin.
"Jadi, menurutlah. Ingatlah kedua orang tuamu itu, atau mungkin ... kau ingin melihat mereka kujadikan mainan yang sangat menggairahkan?"
Han Mi yang berdiri dengan kepala mendongak, terlihat meringis kesakitan. Tangan Ho Shik semakin keras menekan dagunya. Pria kurang ajar! maki Han Mi dalam hatinya.
"Lagi pula, ini adalah tempatku bermain. Aku berhak melakukan apa pun yang aku suka, dan kau? Kau hanyalah istri pemuas nafsuku, aku menikah denganmu untuk membalas dendam. Ingat itu baik-baik!" Suaranya memang terdengar menggoda dan manis. Namun, begitu mengancam di saat yang bersamaan, hal itu membuat Han Mi menatapnya tak percaya.
Netra cokelat itu menatap Ho Shik yang ada di hadapannya dengan intens. Berharap masih ada sedikit celah yang menampilkan sisi pria ini saat masa-masa dulu ketika mereka berpacaran. Akan tetapi, semua itu hanyalah khayalan belaka.
Pria yang berada di depannya saat ini benar-benar adalah orang gila. Tidak! Sebenarnya sudah sejak awal Baek Ho Shik menyembunyikan kebenarannya, dan sebelum pria itu mendapatkan targetnya ia memainkan sebuah peran yang sangat menggiurkan bagi para wanita mana pun.
Tanpa berkata lagi Han Mi menyingkirkan tangan Ho Shik yang masih menekan dagunya dengan gerakan kasar. Untuk beberapa saat Han Mi terdiam seraya menatap sendu ke arah Ho Shik, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar tersebut.
Sungguh, kau benar-benar menyedihkan. Membuatku seperti ini selama hampir 6 bulan setelah menikah? Bukankah itu terlalu kejam!? Aku sudah lelah, dan tak ingin jadi mainanmu lagi! batin Han Mi.
...***...
Angin berembus kencang menerpa seluruh pepohonan hingga menimbulkan simfoni yang terdengar begitu merdu, tetapi juga menegangkan. Saat ini bumi terlihat begitu kalut. Awan mendung bergelayut manja di atas langit malam dan siap mencurahkan segala isi hatinya.
Di tambah dengan kilat yang saling menyambar satu sama lain di langit luas, memberikan seberkas cahaya terang di tengah gelapnya malam.
Gemuruh petir tiba-tiba saja menggelegar hebat, memecah keheningan yang tercipta. Rintik air perlahan turun dan semakin lama hujan semakin deras mengguyur bumi yang sedang dalam keadaan mencekam.
Kesedihan yang tak terbendung lagi, membuatnya seakan mengerti dengan kondisi yang sedang terjadi di bumi saat ini
"REGU ARON CEPAT CARI DI DALAM HUTAN! REGU TRESAN CARI DI HILIR SUNGAI," perintah salah satu komandan prajurit secara tergesa.
Kilat masih saling menyambar di mana-mana. Membuat siapa pun akan menjadi waspada di tengah malam yang sangat kacau.
"REGU HYEN PERIKSA DI HULU SUNGAI," perintah komandan tersebut lagi, pada regu yang baru saja kembali tanpa adanya perkembangan laporan.
Tangannya yang sedang menggenggam sebuah pedang seketika turun secara perlahan. Raut wajah pucatnya yang berhiaskan air hujan langsung bertambah buruk saat ia melihat sosok tegap penuh keagungan sedang berjalan mantap ke arahnya.
Tekanan yang menguar dari sosok tersebut sungguh luar biasa hebat. Netra hitam milik komandan itu tak mungkin salah lihat. Itu adalah atasannya.
Sosok tersebut berjalan seraya menatapnya dengan tajam, kilatan kemarahan tercetak jelas di kedua mata dengan iris berwarna hitam pekat.
Komandan prajurit itu segera menundukkan kepalanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat sosok tersebut telah berdiri sempurna di hadapannya.
Tiga prajurit yang berada di belakang komandan tersebut segera jatuh berlutut dengan satu kaki terlipat, seraya menundukkan kepalanya secara serempak.
Tangan kanannya terkepal dan bertemu telapak tangan kiri, tepat berada di hadapan dahi si prajurit hingga lengan mereka terangkat membentuk sebuah siku yang sempurna. Ini adalah bagaimana cara mereka memberikan salam penghormatan khas Kekaisaran Zhun.
"Ho-hormat kepada Yang Mulia Tuan Agung Kekaisaran Zhun, Sang Dewa Peperangan," seru mereka berempat dengan suara bergetar di tengah derasnya hujan.
Suhu di sekitar mereka seketika berubah semakin rendah, terasa dingin dan menyesakkan dada. Membuat siapa pun tak akan berani mendekat atau bahkan hanya mengangkat sedikit wajah mereka di hadapan orang paling berkuasa ini.
__ADS_1
"Kau ...."
"Hargh—"
Satu tendangan berhasil mengenai komandan prajurit tersebut hingga terpental jauh ke samping dan menabrak pohon di kejauhan sana. Darah segar terlihat mengalir dari pelipis komandan itu, turun perlahan hingga akhirnya bercampur dengan air hujan.
Hal itu berhasil membuat ketiga prajurit tersebut terdiam mematung, tatapannya tertuju lurus ke atas tanah becek yang dipijaknya. Mereka sama sekali tak berani, meskipun itu hanya untuk mengangkat sedikit wajah.
"Katakan kepadaku tentang laporan terbarunya," perintahnya tanpa ekspresi apa pun yang tercetak di wajah pria berbalut zirah perang berwarna hitam dan merah.
"...." Hening, dari beberapa prajurit itu, tak ada yang berani untuk menjawab. Hanya terdengar suara hujan deras yang cukup memekakkan telinga.
Dengan tubuh yang bergetar hebat ketiga prajurit itu langsung bersujud di atas tanah seraya menelan air liur mereka dengan susah payah. Mereka sama sekali tak berani untuk melapor keadaan terbaru. Pasalnya, selama beberapa jam ini mereka tak mengalami perkembangan sedikit pun dan masih sama seperti sebelumnya.
Suasana semakin mencekam saat langkah kaki yang terdengar samar di tengah derasnya hujan mulai mendekat. Di tambah dengan perubahan suhu dan suasana di sekitar saat kedatangan sosok agung ini, benar-benar membuat mereka tak dapat menahannya lagi.
Napas terasa sesak hingga berbicara pun tak bisa, suara mereka tercekat di tenggorokan seperti ada sesuatu yang menahannya. Sungguh, salah satu dari mereka tak ada yang berani untuk bergerak sedikit pun.
Aku tak ingin kepalaku hilang. Mohon ampuni kami, Bixia Huang di! batin para prajurit di sana.
.......
.......
...Bersambung....
.......
.......
...Glosarium:...
...*Zhen (Chn): Saya/aku, salah satu cara kaisar menyebut dirinya di depan orang lain....
...*Bixia (Chn): Baginda/Yang Mulia, salah satu cara memanggil kaisar....
...*Huang di (Chn): Kaisar....
.......
.......
...Naskah :...
...Jakarta, 23 Juni 2020...
...Publish :...
__ADS_1
...Jakarta, 30 Juni 2020...