Empress Of The Emperor

Empress Of The Emperor
Cp. 10 | Keberuntungan atau Kesengsaraan?


__ADS_3

Lorong Istana Zuēwáng saat ini terlihat begitu sepi. Tak ada orang yang berlalu lalang sembarangan di sini, hanya ada beberapa prajurit Elang yang berjaga pada titik tertentu di Istana tersebut.


Hal ini dikarenakan Istana Zuēwáng yang merupakan kediaman sang Kaisar, memiliki pertahanan berlapis yang tidak dapat dianggap remeh.


Barak para prajurit Elang yang merupakan prajurit elit di bawah kepemimpinan tangan sang Kaisar langsung, diletakkan mengelilingi dinding luar Istana Zuēwáng. Sehingga, keamanan Istana tersebut sangatlah baik.


Privasi sang Kaisar sangat dijaga ketat, bahkan para Kasim yang bertugas di Istana Kaisar pun tidak dapat sembarangan keluar masuk. Mereka harus melewati pemeriksaan yang begitu ketat sebelum melakukan tugas di dalam Istana itu.


Pria tinggi yang masih mengenakan baju zirah lengkap dengan sebilah pedang lurus tersampir di pinggang kirinya terlihat sedang berjalan, di kawal oleh seorang Jenderal yang berada beberapa langkah di belakangnya.


"Bagaimana laporan dari para Jenderal lainnya di setiap Divisi*?" tanyanya tiba-tiba. Netra hitam pekat itu tertuju lurus pada lorong panjang yang berada di hadapannya.


Sejenak, Jenderal Li mengangkat kepalanya, menatap punggung sang penguasa agung yang berjalan di depannya dalam diam, kemudian segera menunduk kembali dan terus melangkahkan kakinya mengikuti Kaisar Zhun.


"Menjawab Bixia Huang di. Laporan dari 4 Jenderal di tiap Divisi* yang ikut berperang kali ini, telah hamba terima semua. Untuk saat ini, pasukan Kavaleri* kita yang tersisa ada 31.000 dan pasukan Infanteri* 27.500. Total keseluruhan pasukan yang selamat dalam perang kali ini ada 58.500 prajurit dan yang telah gugur sebanyak 3500 prajurit. Sekitar 4750 prajurit mengalami luka ringan dan 2500 mengalami luka berat."


Kaisar Zhun terlihat berpikir, mencerna isi dari laporan singkat yang telah disampaikan oleh Jenderal Li. "Ternyata lumayan juga," gumam Kaisar Zhun seraya terus melangkahkan kakinya.


"Setidaknya, kali ini pun tetap sama. Hanya memakan lebih sedikit korban. Bagaimana dengan laporan lainnya?" Lanjut Kaisar Zhun.


"Untuk 5 regu pasukan Kavaleri yang berangkat bersama kita telah berada di barak masing-masing, dan untuk beberapa prajurit yang mengalami luka, telah mendapat perawatan di Istana Zhìliáo oleh para Tabib Junior yang di atur langsung Tabib Gui An Shan dan juga Tabib Gui Wenyan," ucap Jenderal Li lagi. Tubuhnya menegak secara perlahan, pandangannya kini kembali menatap punggung sang Kaisar.


"Bagus, biarkan mereka beristirahat sampai lukanya pulih kembali."


"Satu hal lagi, Bixia. Beberapa saat yang lalu, Kekaisaran Wen mengirimkan sebuah surat dan upeti sebagai imbalan tambahan kepada Kekaisaran kita."


Kaisar Zhun memandang pepohonan yang berada di sebelah kanannya. "Baiklah, Zhen akan memeriksanya setelah jamuan makan malam."


"Baik, Bixia. Hamba mengerti." Jenderal Li kembali membungkukkan sedikit tubuhnya untuk memberikan sebuah penghormatan terakhir.


Setelahnya, suasana kembali hening. Hanya terdengar derap langkah berat yang mengiringi langkah pasti mereka di lorong yang berada di atas danau Hépíng. Terbentang luas melingkar dari sisi depan Istana Zuēwáng ke sayap kiri Istana tersebut.


Hal itu menandakan bahwa mereka telah memasuki bagian sayap kiri dan sebentar lagi akan tiba di posisi dalam Istana Zuēwáng. Yang artinya, sebentar lagi mereka akan sampai di kamar peraduan Kaisar Zhun.


"Bagaimana kabar Jenderal Li Kangjian dan adik pertamamu, Li Ping Qiu?" tanya Kaisar Zhun tiba-tiba, seraya melihat pemandangan di sekitarnya.


"Fuqin* ... selama 7 bulan ini penglihatannya mulai memburuk. Entah bagaimana keadaannya saat ini, hamba belum menjenguknya kembali. Sedangkan Ping Qiu, hamba juga belum bertemu dengannya sesampai di Istana Kekaisaran."


Ya ampun ... ini orang benar-benar ya. Dia selalu saja begitu, batin Jenderal Li seraya menggaruk pipinya pelan.


"Nanti malam beristirahatlah, dan kunjungi kediaman utama Jenderal Li. Beritahukan pada adik pertamamu juga."

__ADS_1


Jenderal Li yang berjalan mengikut di belakang Kaisar Zhun hampir tersedak ludahnya sendiri. Bixia ini sebenarnya lagi kenapa sih?! jeritnya dalam hati.


"Bi—Bixia ... Anda ... serius?" tanya Jenderal Li sedikit takut. Aneh. Jenderal Li langsung mengernyitkan keningnya.


Sebelumnya, Kaisarnya ini tak pernah memberinya kelonggaran seperti itu, tetapi apa ini? Seperti sebuah harta yang jatuh secara tiba-tiba tepat di atas kepala Jenderal Li. Entah ia harus merasa senang, atau merasa sedih dengan sedikit kebaikan sang Kaisar kali ini.


"Jika kau tidak mau, Zhen dapat menariknya kembali." Kaisar Zhun menengok sekilas ke arah Jenderal Li yang sedang menampilkan ekspresi aneh di wajahnya, kemudian kembali menatap lurus ke arah lorong panjang yang berada di hadapannya.


Jenderal Li yang mendengar perkataan Kaisarnya barusan segera berjalan cepat ke depan Kaisar Zhun hingga memberhentikan langkahnya, seraya berkata dengan cepat, "Baiklah. Hamba memohon, tolong Bixia tidak menarik kembali kata-kata Bixia." Tangannya langsung terangkat, bertangkup rapat tepat di depan wajahnya.


Tangannya kini kembali berubah, dengan tangan kiri terkepal yang bertemu telapak tangan kanan, tubuhnya pun sedikit membungkuk. Memberikan penghormatan kepada Kaisar Zhun, da berkata , "Dengan senang hati hamba akan menerimanya. Mengunjungi kediaman utama Jenderal Li."


Ada kesempatan emas di depan mata, kenapa tidak diambil? Empat bulan kemarin rasanya sudah seperti di neraka! Di tambah lagi, tiga bulan sebelumnya aku tak sempat mengunjungi Fuqin di kediaman utama, batin Jenderal Li.


Kaisar Zhun yang melihat hal tersebut melangkah ke samping dan kembali berjalan menuju kamar peraduannya dengan santai. Tiga orang Kasim tengah berdiri di depan pintu kamar peraduannya dalam posisi siap menyambut kedatangannya.


Salah seorang Kasim yang terlihat sudah menua langsung melangkah maju, mendekat ke arah Kaisar Zhun dengan begitu sopan, kemudian berlutut di atas lantai kayu depan kamar peraduan Kaisar Zhun. Sedangkan dua kasim lainnya menunggu di belakang, tepat pada pintu kamar peraduan.


"Hormat kepada Yang Mulia Tuan Agung Kekaisaran Zhun, sang Dewa Peperangan," ucap ketiga Kasim tersebut secara bersamaan.


"Hamba mengucapkan selamat datang kembali di Istana Kekaisaran Zhun kepada Bixia Huang di. Hamba merasa bahagia, syukurlah Anda dapat kembali dalam keadaan selamat, Bixia."


Seorang kasim yang sudah terlihat sangat tua membungkuk memberikan hormat kepada Kaisar Zhun. Guratan kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya, meskipun begitu, tubuhnya masih tegap dan sehat.


Jenderal Li membungkuk seraya menunduk sedikit, memberikan sopan santun kepada Kasim Wu yang berusia sepuh itu.


Walaupun kedudukan sang Jenderal sangatlah tinggi dibandingkan dengan Kasim Wu, tetapi ia sangat menghormati orang tua. Terlebih lagi Kasim Wu adalah orang yang sering menjaga Kaisar Zhun dan dirinya saat mereka kecil.


Kasim Wu yang melihat hal tersebut segera menunduk penuh hormat kepada Jenderal Li, menandakan bahwa ia telah menerimanya kembali.


Kasim Wu beralih ke arah Kaisar Zhun seraya berkata, "Baik Bixia Huang di, hamba akan segera menyiapkannya. Hamba mohon undur diri terlebih dahulu kepada Bixia."


Kaisar Zhun hanya mengangguk singkat, Kasim Wu seketika melangkah mundur, menyingkir dari hadapan sang Kaisar dan memberikannya jalan untuk masuk ke dalam kamar peraduan.


Sedangkan kasim yang berada di sisi kedua pintu dengan sigap membukakan pintu tersebut seraya menunduk penuh hormat.


Kaisar Zhun yang sudah melangkah masuk ke dalam kamar peraduannya tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. "Li Jianjun, kau juga pergilah untuk beristirahat."


Jendral Li yang sedang berdiri mematung di tempatnya semula seketika tersentak. Ia menatap punggung tersebut dengan tatapan tak percaya. "Ampun, Bixia. Akan tetapi, Anda—"


"Pergilah," potong Kaisar Zhun dengan tenang dan cepat tanpa memedulikan kelanjutan ucapan Jenderal Li.

__ADS_1


Entah mengapa ini terasa menyeramkan, tetapi ternyata enak juga, batin Jenderal Li.


Tanpa berkata apapun, Kaisar Zhun memberikan isyarat menggunakan tangan kirinya supaya Jenderal Li segera pergi dari sana.


Jenderal Li yang melihat hal tersebut terdiam sejenak, kemudian kembali berbicara, "Baik, Bixia. Li Jianjun memohon untuk undur diri dari hadapan Bixia Huang di." Ia membungkuk seraya menunduk, memberikan penghormatan sebelum akhirnya meninggalkan kamar peraduan Kaisar Zhun.


Setidaknya, aku harus menikmati sedikit waktuku ini, batin Jenderal Li.


Sebuah senyum samar yang jarang ditampilkannya itu pun seketika muncul, menghiasi wajahnya yang terlihat sedikit sangar dengan codet di sisi rahang kirinya.


Namun, hal itu tak membuat ketampanannya menghilang, malah ... membuat karisma pada dirinya semakin menonjol.


.


.


Bersambung.


.


.


Glosarium :


* Divisi : Satuan militer yang besar (jumlahnya sampai puluhan ribu) yang biasanya lengkap dengan peralatannya.


* Pasukan Kavaleri : Pasukan berkuda atau kavaleri, berperan sebagai satuan yang mampu bergerak dengan cepat dalam skala besar sekaligus berfungsi sebagai penyerang kejut atau pendobrak yang akan membuka jalan bagi pasukan infanteri.


* Pasukan Infanteri : Infanteri merupakan pasukan tempur darat utama yaitu pasukan pejalan kaki yang dilengkapi persenjataan ringan, dilatih dan disiapkan untuk melaksanakan pertempuran jarak dekat.


*Fuqin : Ayah, cara anak memanggilnya secara formal.


.


.


Naskah :


Jakarta, 4 Juli 2020


Publish :

__ADS_1


Jakarta, 6 Agustus 2020


__ADS_2