
Perlahan Shu yang masih terduduk mulai menarik kembali pedang cahaya bulan itu. Sementara pandangannya masih menatap lekat monster bungkuk yang perlahan mulai berhenti berputar, sehingga serangan duri beracun itu mulai berkurang seiring pergerakannya yang berkurang.
Namun angin kencang masih dirasakan oleh mereka dan menerbangkan beberapa benda di sekitar mereka, hingga akhirnya sebuah perisai kuno berbentuk lingkaran terhempas begitu saja dan hampir mengenai Shu.
KLANG ...
TRANG ...
Beruntungnya Shu menyadari semua itu dan masih bisa menahannya dengan pedang cahaya bulan. Dan tiba-tiba saja dia mulai mendapatkan sebuah penerahan dan segera metaih perisai kuno dengan simbol tiga lingkaran yang saling bersatu pada beberapa sisinya di bagian dalamnya. Dan di sisi luar perisai itu di ada simbol dua ekor naga.
Shu segera berinisiatif untuk menggunakan perisai tersebut untuk melindungi dirinya saat mendekati monster bungkuk. Kini dia mulai mendekati monster bungkuk itu dengan tangan kiri yang membawa perisai tembaha kuno itu, sementara tangan kanannya juga sudah bersiap dengan membawa pedang cahaya bulan.
Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Shu menabrakkan dirinya dengan perisai kuno itu menabrakkan pada tubuh monster bungkuk itu. Lalu dia segera mengayunkan pedang cahaya bulan itu untuk mengenai dada kiri sang monster bungkuk, dimana di tempat itulah batu kristal berwarna kebiruan itu tertanam.
Namun, monster tingkat sedang sangatlah kuat dan tak bisa dengan mudah untuk dikalahkan. Selain kuat, monster bungkuk ini juga cukup cepat. Bahkan dia bisa menghindari serangan dari Shu, hingga serangan dari pedang cahaya bulan itu malah mengenai tangan tangan monster bungkuk itu. Karena dia menahan serangan dari Shu.
GROARRR ...
Monster bungkuk ini melolong mendekati wajah Yuji dan menjadi sangat sangat dekat. Wajahnya yang terlihat hancur dan beberapa bagiannya seperti meleleh begitu mengerikan, gigi-giginya juga terlihat tajam hingga membuat Shu sedikit beringsut ketakutan.
__ADS_1
Namun rasa takut dan ngeri itu hanya beberaoa detik saja dirasakan oleh Shu, karena dalam detik-detik berikutnya, dia mulai menepis semua rasa takut itu. Shu memperkuat serangannya dan perlahan mendorong pedang cahaya bulan itu, hingga kini hanya menyisakan beberapa inchi saja dari pecahan batu kristal kebiruan yang tertanam pada dada kiri sang monster bungkuk.
GROAARR ...
Monster bungkuk itu masih menahannya, namun yang mengejutkan adalah tiba-tiba saja monster bungkuk itu membuka mulutnya lebar-lebar, bahkan semakin lama semakin melebar. Dia bersiap untuk melahap Shu.
"Shu, diam dan jangan bergerak!" teriak seorang pria yang sukses membuat Shu menahan setiap pergerakannya, atau jika bergerak sedikitpun, maka Shu juga akan berada dalam bahaya.
Yeap, itu adalah teriakan dari Nagi, yang saat ini sudah mengarahkan busur panah dengan bagian ujung panah yang sudah menyalakan kobaran api. Setelah mengatakannya, Nagi segera melepaskan sebuah anak panah berapi itu da tepat mengenai mulut sang monster bungkuk yang sudah terbuka lebar.
JLEBB ...
Setelah mendapatkan serangan dari Nagi, monster bungkuk itu segera melepaskan pedang milik Shu dan mundur beberapa langkah. Dia memegangi busur panah itu dan segera menariknya kuat.
Karena merasa marah, moster bungkuk itu kini bersiap untuk mendekati Shu dan ingin menyerangnya. Namun belum sempat penyerangan itu terjadi lagi, tiba-tiba sebuah mobio van hitam yang sudah cukup ringsek dan jelek melaju dengan cepat ke arah monster bungkuk itu, hingga akhinya mobil van hitam itu menabrak monster bungkuk itu dengan sangat keras hingga monster bungkuk itu terjepit dan menabrak sebuah gedung.
Seorang pria berpakaian serba hitam keluar dari van hitam itu lalu mendekati monster bungkuk itu. Pria itu segera menyerang beberapa kalimonster bungkuk itu dengan menggunakan kapak kuno miliknya dengan sangat brutal. Hingga akhirnya monster bungkuk itu benar-benar berakhir.
Perlahan tubuhnya melebur bercampur dengan debu, dan hanya menyisakan sebuah pecahan kecil batu kristal putih yang berkilauan. Pria itu meraih pecahan itu dan segera menimpannya. Beberapa pria berpakaian hitam juga mulai turun dari van putih itu. Dan mereka menatap tajam ke atah Shu dan kelompoknya.
Sementara kelompok Shu juga mulai menatap waspada kelompok yang terdiri dari 3 orang itu. Namun meskipun kelompok itu hanya bertuga saja, mereka terlihat cukup kuat dan terampil. Penampilan dan perawakan mereka seperti anggota-anggota gangster yang menyeramkan dan memiliki banyak tato.
__ADS_1
Sang ketua dari kelompok itu yang baru saja melenyapkan monster bungkuk itu, kini melenggang beberapa langkah dan berada pada bagian paling depan dari kedua anggotanya.
"Siapa kalian? Apa kalian ada disini juga untuk melenyapkan para monster itu?" tanya sang ketua dari kelompok itu yang berambut gondrong dan memiliki banyak tato di sekujur tubuhnya. Wajahnya juga terlihat begitu menakutkan dan sangar.
Disaat Shu melangkah maju 2 langkah, tiba-tiba saja Nagi mengulurkan tangan kirinya untuk menahannya. Dan sepertinya Nagi cukup waspada dengan kehadiran dari kelompok pria dewasa itu.
"Benar. Kami terjebak di kota misterius yang hilang ini. Dan kami bertekad untuk mengalahkan para monster itu." jawab Nagi masih menatap lekat sang pemimpin kelompok tersebut.
Sang pemimpin sebenarnya sudah cukup lama memperhatikan kelima anak muda itu. Namun dia lebih sering menatap Shu, seolah-olah sedang mengincar Shu. Dan hal ini dirasakan oleh Nagi dan Zoe yang memiliki insting cukup kuat.
Bahkan Zoe kini juga mulai melangkah ke depan dan berhenti tepat di depan Shu, seolah-olah dia sedang berusaha untuk melindungi Shu.
Melihat tingkah Zoe dan Nagi yang sedang mewaspadai dan mencurigai kehadiran rombongannya, sang ketua dari kelompok itu tertawa menggelegar.
"Aku adalah Akira, dan mereka adalah Dai dan Hideo." ucap sang ketua dari kelompok mereka memperkenalkan diri dengan senyuman miring yang tertahan.
"Kami juga sama seperti kalian, kami terjebak setelah memasuki portal aneh. Dan kini kami harus menghadapi para monster sialan itu!" imbuh Akira mulai menyimpan kapak kunonya yang dia temukan di kota misterius yang hilang ini.
"Bagaimana jika kita bekerja sama saja? Tujuan kita semua adalah sama. Jika kita bersatu, mungkin kita bisa dengan lebih mudah mengalahkan mereka. Dan tentunya kita juga akan lebih kuat." imbuh Akira menawarkan hal tersebut masih dengan memperlihatkan ekspresi wajah yang sama.
Nagi, Shu, Zoe, Eren dan Yumeko terdiam menatap ketiga pria dewasa itu. Penawaran dari mereka memang sangat baik dan masuk akal, namun mereka masih terlihat begitu hati-hati untuk memutuskan hal ini. Karena entah mengapa mereka berlima merasa ada yang aneh dengan kelompok itu.
__ADS_1
Namun belum sempat salah satu dari mereka menjawab, tiba-tiba saja ada beberapa monster tingkat sedang mulai berdatangan dan sudah mengepung mereka.