
Akira terlihat sangat kesal dan frustasi hingga menghantam pohon besar di hadapannya. Beberapa dedaunan keunguan itu mulai berguguran karena hantaman kuat dari Akira.
Namun daun-daun yang berguguran itu tiba-tiba saja mulai terlihat berkilauan dan bukannya jatuh, melainkan beterbangan di udara. Perlahan dedaunan ungu itu mulai berubah bentuk menjadi makhluk kecil yang menyerupai peri dengan sayap keunguan, namun sangat menakutkan dengan gigi yang runcing.
"Sial! Ada monster lagi!!" Akira kembali menggunakan kapak kuno miliknya dan mengayunkannya ke arah monster-monster kecil di hadapannya.
"Hiaathhh ..." Dai yang masih membawa pedang cahaya bulan milik Shu berusaha untuk menyerang monster-monster kecil yang beterbangan itu.
Namun saat ini pedang cahaya bulan milik Shu yang sedang digunakan oleh Dai hanyalah seperti sebuah pedang biasa saja dan tidak memiliki kekuatan spesial.
Hideo juga sudah mulai beraksi membantu Dai dan Akira. Namun jumlah monster peri itu bukannya semakin berkurang, malah semakin bertambah. Bahkan mereka bertiga kini benar-benar sudah terkepung.
"Sialan!! Kita terkepung!! Bagaimama ini, Bos Akira?" tanya Hideo masih berusaha untuk mengayunkan pedang miliknya untuk menyerang monster peri itu.
Namun belum sempat Akira menjawabnya, seekor monster peri sudah menempel pada leher Hideo. Dia melekat dengan kuat dan mulai menghisap darah Hideo.
"Argghhh!! Sialan!! Lepas, Monster jelek!!" pekik Hideo berusaha untuk melepaskan monster itu dari lehernya, namun monster itu tak bisa terlepas dan malah semakin kuat menempel dan menghisap leher Hideo.
Tubuh Hideo terlihat semakin memucat karena kehabisan darah. Semantara Dai dan Akira sama sekali tak memiliki kesempatan untuk menolong Hideo, karena saat ini masih cukup banyak monster peri yang menyerang mereka.
"Rupanya monster peri penghisap darah! Sial! Makhluk ini banyak sekali. Kita bahkan tak memiliki kesempatan untuk menolong Hideo! Cihh ... brengsek!!" Akira mengumpat kesal dan masih berusaha menyerang para monster peri penghisap darah itu.
"Aargghhh ..."
Hideo memekik kesakitan, hingga akhirnya setelah beberapa saat dia benar-benar sudah kehabisan darah dan mati sangat mengenaskan. Karena disaat tubuhnya mulai mengering, tiba-tiba tubuhnya mulai melebur begitu saja.
"Brengsek!!" melihat kematian tragis dari Hideo membuat Akira mengumpat keras dan langsung dipenuhi dengan amarah
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja salah satu dari monster peri penghisap darah itu mulai menempel pada lengan kiri Akira. Akira yang menyadarinya tentu saja berusaha secepat mungkin untuk melepaskan makhluk mengerikan penghisap darah itu, karena dia tak ingin kejadian yang sama seperti yang telah menimpa Hideo kini akan dialaminya.
Namun semakin berusaha Akira melepaskan monster peri penghisap darah itu, monster itu malah semakin kuat mencengkeram dan menghisap darahnya.
"Brengsek! Tidak ada pilihan lain selain melakukannya!" gumamnya frustasi.
"Dai!! Cepat potong tangan kiriku sebelum monster jelek ini menghisap seluruh darahku!" perintah Akira tak punya pilihan lain.
Karena saat ini satu-satunya cara untuk tetap bertahan hidup adalah dengan melakukan hal ini. Bagi Akira lebih baik kehilangan salah satu tangannya, daripada harus kehilangan nyawanya dan mati konyol seperti itu.
"Tapi, Bos Akira ..." sahut Dai yang masih berusaha untuk menghadapi para monster peri penghisap darah itu dengan ragu-ragu.
"Lakukan dengan cepat! Monster peri penghisap darah ini tak akan pernah melepaskan mangsanya, sebelum mangsanya mati karena kehabisan darah. Cepat lakukan, Dai!! Aku tidak mau mati konyol sekarang!!" perintah Akira dengan suara yang semakin menggelegar.
"Ba-baik, Bos Akira!"
"Aaarrghhh ..." Akira memekik kesakitan, namun dia merasa sangat lega karena saat ini monster peri penghisap darah itu kini sudah terlepas dari tubuhnya.
Darah segar mengucur deras dari potongan tangan kiri Akira hingga membasahi pakaian dan tanah. Lalu dengan cepat dia segera membungkus tangan kirinya dengan sebuah kain untuk membantu menghentikan pendarahan.
Sementara Dai masih sibuk untuk menghadapi puluhan monster peri penghisap darah itu seorang diri. Namun bagaimana seorang diri bisa menghadapi mereka semua? Dai benar-benar semakin terdesak saat ini. Dia juga semakin kewalahan.
Namun tiba-tiba saja ada sekelompok rombongan yang mulai mendatangi mereka dan semakin mendekati mereka. Pada awalnya kabut asap yang berbentuk menyerupai awan-awan itu menghalangi penglihatan, namun akhirnya setelah semakin mendekat, Dai mulai melihat jika sekelompok rombongan itu adalah kelompok Shu.
Sebenarnya ada perasaan lega yang Dai rasakan saat ini. Namun tak bisa dipungkiri, dia juga merasa bersalah karena sudah mencuri beberapa barang berharga milik Shu. Bahkan dia juga mencuri kumpulan pecahan batu kristal milik kelompok Shu.
Nagi, Zoe, Shu, Eren dan Yumeko mulai membantu menyerang puluhan monster peri penghisap darah itu.
__ADS_1
"Lemparkan pedang cahaya bulan itu padaku!" teriak Shu saat menyadari pedang miliknya tak berguna dengan sempurna ketika digunakan oleh Dai saat ini.
Pada awalnya Dai terlihat ragu dan beralih menatap Akira yang saat ini hanya bisa terduduk dengan wajah pucatnya. Namun Akira tak memberikan tanggapan apa-apa ketika Dai menatapnya.
Hingga akhirnya Dai memutuskan untuk mengembalikan pedang itu untuk Shu kembali. Dai melemparkan pedang cahaya bulan itu untuk Shu dan Shu segera menangkapnya.
Tepat ketika pedang itu mulai berada pada genggaman Shu, pedang cahaya bulan itu kembali memancarkan cahayanya yang menyilaukan putih kebiruan.
Semua orang merasa sangat lega. Bahkan Akira juga merasakan hal itu, meskipun dirinya sangat malu untuk mengakui semua itu. Namun sebenarnya Akira cukup merasa malu karena telah melakukan perbuatan nekat untuk mencuri pedang cahaya bulan serta perisai kuno milik Shu.
"Tebasan Cahaya Bulan!! Hiattthh ..."
Shu mengayunkan pedang cahaya bulan itu beberapa kali dan berhasil mengakhiri para monster peri penghisap nyawa itu dengan cukup cepat
Pertempuran ini diselesaikan lebih cepat ketika Shu dan teman-temannya datamg menghadapi para monster itu.
"Yumeko! Tolong bantu bos Akira! Bos Akira terluka cukup parah karena tangan kirinya terpotong! Cepat lakukan sesuatu! Bos Akira semakin pucat karena kehilangan banyak darah!" seru Dai berharap Yumeko akan mau untuk menolongnya.
Yumeko terdiam dan malah beralih menatap Shu, Nagi dan Zoe seolah meminta persetujuan dari mereka.
"Lakukan, Yumeko! Kita tidak bisa membiarkannya dia begitu saja." perintah Zoe.
Yumeko mengangguk dan berkata, "Baik."
"Seseorang bantu aku untuk memindahkannya di dekat pohon!" imbuhnya mulai mendatangi Akira dan mengalungkan salah satu tangan Akira pada bahunya.
Dai segera melakukan hal yang sama di sisi lainnya, dan mereka mulai memapah Akira untuk mendekati pohon.
__ADS_1