
Nagi menceritakan semuanya kepada Shu. Dan semua itu sungguh sangat mengejutkan untuk Shu maupun para hunter lainnya. Ada beberapa dari mereka yang merasa kecewa, marah, namun ada yang merasa lega karena pada akhirnya semua ini sudah kembali membaik, meskipun karena insiden dan kelalaian dari Nagi di masa lalu ini telah memakan cukup banyak korban.
Sementara Shu tanya terdiam dan tak bisa berkata-kata. Dia masih cukup terkejut setelah mengetahui kebenaran ini. Bahkan karena fenomena aneh ini, dia sudah kehilangan salah satu temannya-Kiryu.
"Dasar keparat sialan!! Gara-gara kecerobohanmu di masa lalu dunia sudah hampir musnah!! Brengsek!!" geram Akira mulai menarik kerah pakaian Nagi.
"Akira, hentikan!" Yanshen segera menahan Akira karena melihat Nagi yang masih terlihat pucat dan belum sepenuhnya membaik.
"Jangan membuat keributan disini! Sebaiknya kita segera menemukan portal itu dan segera kembali ke dunia kita!" tandas Eren.
"Sekarang katakan pada kami! Dimana portal itu berada!" ucap Akira menatap tajam Nagi yang masih terduduk dan dibantu oleh Shu.
Namun belum sempat Nagi menjawabnya, sebuah cahaya menyilaukan mulai terpancar dari sisi samping mereka. Mereka mulai melihat ke arah sumber cahaya itu dan melihat sebuah portal yang sama persis dengan yang pernah mereka lalui saat mereka memasuki kota misterius yang hilang ini.
Ada senyuman penuh kelegaan terukir manis menghiasi wajah para hunter itu. Karena kini mereka mulai berfikir jika mereka akan segera kembali ke dunia mereka sebelumnya.
"Ayo! Kita harus segera meninggalkan tempat ini! Portal itu akan kembali membawa kita ke dunia kita!! Ayo!!" Akira berseru dengan bersemangat dan mulai memimpin untuk segera melewati portal itu.
Yanshen juga mulai menyusulnya.
"Ayo! Kita juga harus segera keluar dari tempat ini!" seru Eren bersemangat dan mulai melenggang mengikuti Akira dan Yanshen.
Yumeko dan Zoe juga mulai mengikuti mereka yang sudah melewati portal ajaib itu.
"Ayo, Kak! Kita juga harus segera meninggalkan tempat ini!" ucap Shu mengajak Nagi.
__ADS_1
"Portal ini hanya akan bertahan 1 jam sebelum tertutup dan tersegel sempurna. Kamu pergilah bersama dengan mereka, Shu." ucap Nagi menatap lekat Shu.
"Apa? Apa lagi yang ingin kakak lakukan? Kita harus segera keluar dari tempat ini, Kak! Kita harus keluar bersama! Ayah dan ibu sudah menunggu kita di rumah! Mereka sangat merindukan kakak! Mereka akan senang saat melihat kakak kembali!"
Ucap Shu tak mengerti dengan maksud ucapan dari Nagi.
"Kakak tidak bisa pergi sekarang ..." ucap Nagi lirih.
"Mengapa kakak tidak bisa pergi? Bukankah kakak sendiri yang mengatakan jika portal ini hanya bisa bertahan selama 1 jam sebelum tertutup dan tersegel sempurna? Jadi apa lagi yang sedang kakak tunggi? Jika kita tidak segera meninggalkan tempat ini, maka kita akan terkurung disini selamanya, Kak!"
Ucap Shu yang masih saja tak mengerti dengan pemikiran sang kakak.
"Shu, kamu segeralah keluar! Kakak akan menyusulmu setelah kakak menjemput sekelompok orang itu. Kamu masih ingat bukan jika masih ada sekelompok orang yang terjebak di kota hilang misterius ini? Kakak berjanji, kakak akan segera menyusulmu. Sekarang ... kamu pergilah ..." ucap Nagi dengan sepasang pupil kecoklatan yang bergetar menatap sang adik.
Shu menggeleng kuat dan tak menyetujui semua ini.
"Tidak, Shu. Selama ini merekalah yang selalu menemani kakak di kota misterius ini sebelum kehadiran kalian. Kakak tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Lagipula ini adalah kesalaham dan tanggung jawab kakak. Semua kekacauan ini terjadi juga karena kelalaian kakak. Kakak tidak akan membiarkan mereka terjebak di kota hilang misterius ini. Kakak akan menyelamatkan mereka dan membawa mereka kembali!"
Tandas Nagi kekeh dengan keputusan yang sudah dia buat.
Lagi-lagi Shu menggeleng kuat dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. Bahkan beberapa detik Shu sudah benar-benar menangis di hadapan sang kakak.
"Kakak bahkan masih terluka seperti ini, Kak. Ini sangat berbahaya ..."
"Kakak baik-bajk saja. Lagipula semua monster itu kini sudah binasa. Kakak hanya akan kembali untuk menjemput mereka saja."
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan aku saja yang menjemput mereka. Kakak keluarlah lebih dulu dan pulihkan tubuh kakak." ucap Shu berharap Nagi akan menerima sarannya.
"Tidak, Shu. Ini adalah apa yang seharusnya kakak lakukan. Kamu kembalilah ... dan kakak akan segera menyusulmu."
Shu terdiam dan semakin melelehkan air mata hangatnya.
"Jangan menangis. Kamu itu kuat dan sangat berbakat. Kamu bahkan lebih kuat dan berbakat dariku. Pesanku untukmu adalah ... setelah kembali dan berkumpul bersama dengan ayah dan ibu ... jangan sekali-kali kamu menjadi anak yang menyusahkan mereka lagi. Bahagiakan mereka dan jadilah kebanggaan mereka ... karena mungkin selama ini kakak belum bisa menjadi seorang anak yang bisa dibanggakan oleh mereka. Kembalilah, Shu ..."
Ucap Nagi menepuk bahu Shu dan menganggguk pelan.
Shu semakin menangis dan langsung memeluk tubuh Nagi. Tangisan haru mewarnai suasana diantara kakak beradik ini yang akan kembali berbisah lagi.
"Pergilah, Shu ..."
Shu melepas pelukannya dan menatap sendu Nagi. Seakan Shu sedang berusaha untuk mengingat setiap detail dari wajah tampan sang kakak. Namum akhirnya Shu mengangguk lemah dan mulai melangkah mundur. Jemarinya yang masih bertaut dengan jemari Nagi perlahan terpisah dengan begitu berat.
Hingga akhirnya kini Shu benar-benar sudah melewati portal ajaib itu. Dan hal terakhir yang terlihat oleh Shu disaat dia meninggalkan kota hilang misterius adalah senyuman hangat Nagi.
Shu masih tak bisa menutupi kesedihannya ketika dia sudah berada di sebuah pedesaan Aiko Iyashu No Sato. Pedesaan asri yang terakhir kali dilihatnya sebelum dia memasuki kota hilang misterius ini.
"Shu! Ada apa denganmu!" tanya Zoe yang menyadari wajah Shu masih basah karena lelehan air matanya.
"Dimana kak Nagi?" imbuh Zoe karena hanya melihat Shu keluar dari portal seorang diri.
Shu masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan dari Nagi. Hatinya masih saja sesak dan perih ketika membayangkan hal yang buruk akan menimpa kakaknya di kota hilang misterius itu.
__ADS_1
"Shu! Apa yang sebenarnya terjadi? Dan mengapa kamu keluar sendiri? Dimana kak Nagi?" kali ini Yumeko mendekati Shu dan bertanya kembali padanya.
Shu masih terdiam dengan nafas yang masih tidak beraturan, dia hanya menengadahkan wajahnya menatap Yumeko yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.