Escape From Hidden City

Escape From Hidden City
Saling Terpisah


__ADS_3

Nagi dan Yumeko masih berjalan menyusuri lembah bunga yang cukup luas itu. Beberapa monster penjaga elit Praetorian Guard itu sesekali masih berusaha untuk menyerang mereka berdua.


Beberapa kali para monster itu menyemburkan benang sutranya ke arah Nagi dan Yumeko. Mereka berdua mampu untuk bertahan dan menghindarinya dengan baik.


Namun tiba-tiba saja serangan selanjutnya, benang sutra itu mengenai kaki Yumeko dan mampu menyeret tubuh Yumeko beberapa meter ke belakang.


Dengan cepat Nagi menggunakan panah apinya untuk melukai dan memotong benang sutra itu. Namun percuma saja, senjata apapun tak akan bisa untuk mengalahkan benang sutra milik monster penjaga elit Praetorian Guard itu. Satu-satunya yang bisa mengalahkannya adalah tebasan dari pedang cahaya bulan.


"Aarggghh ..." Yumeko memekik dan masih berusaha untuk berpegangan pada apapun.


Hingga akhirnya Yumeko memutuskan untuk menggunakan pisau listriknya meskipun keadaannya saat ini cukup berbahaya. Kakinya masih terlilit pada benang sutra yang masih terhubung pada mulutnya, jika Yumeko mengalirkan arus listrik pada tubuh momster itu, itu artinya Yumeko juga akan merasakan sengatan listrik itu.


Namun saat ini tak ada pilihan lain selain melakukan hal itu. Karena Yumeko sudah semakin mendekati mulut dari monster pengawal elit Praetorian Guard yang sudah terbuka lebar dan bersiap untuk melahapnya untuk berevolusi.


Tepat saat kaki Yumeko hampir memasuki mulut sang monster pengawal elit Praetorian Guard itu, Yumeko segera mengayunkan pisau listriknya dan menghunuskannya pada mulut monster itu yang sudah semakin melebar.


Yumeko segera menyalakan saklar dan mengaktifkan arus listrik, sehingga arus listrik itu mulai mengaliri tubuh moster itu. Namun rasa sakit karena arus listrik itu bukan hanya dirasakan oleh monster itu saja. Melainkan juga dirasakakan oleh Yumeko sendiri.


"Yumeko hentikan!" pekik Nagi yang terlambat untuk menghalangi Yumeko melakukan hal itu.


Namun terlambat, Yumeko sudah melakukannya. Dan tubuhnya bergetar cukup hebat saat itu. Bahkan dia sudah terlihat seakan kehilangan kesadarannya.


SLAASHH ...


Tiba-tiba saja sebuah tebasan vertikal dengan cahaya putih kebiruan menyilaukan berhasil membuat benang sutra yang menjerat kaki Yumeko terpotong. Dan akhirnya rasa sakit yang dialami oleh Yumeko berhenti. Sementara seseorang mulai mengayunkan pedang cahaya bulannya untuk segera menyelesaikan monster pengawal elit Praetorian Guard yang sudah sekarat itu.

__ADS_1


"Yumeko! Apa kamu baik-baik saja?" Shu segera menghampiri Yumeko yang masih terjatuh di atas tanah.


Wajahnya terlihat cukup pucat, dan dia memuntahkan seteguk darah segar. Namun dia masih berusaha untuk tersenyum dan menjawab ucapan Shu, "Hhm. Aku baik-baik saja."


"Shu, bagaimana dengan yang lain? Apa mereka juga baik-baik saja?" tanya Nagi fokus menatap Shu.


"Aku tidak tau, Kak. Aku bahkan terjebak di sebuah danau sebelum aku mencapai tempat ini." jawab Shu seadanya.


"Semoga saja mereka baik-baik saja. Aku khawatir jika mereka harus berhadapan dengan monster Butterfly Queen." gumam.Yumeko lirih.


"Ya sudah. Kita juga harus segera mencari dan menemukan mereka..dan jangan sampai membiarkan para monster itu berevolusi. Ayo!" seru Nagi memutuskan.


Shu membantu Yumeko untuk berdiri dan segera menyusul Nagi yang sudah melenggang lebih cepat.


Sementara itu di tempat lainnya, Dai dan Hideo terlihat sedang berada di tengan lembah bunga juga. Namun hanya ada mereka berdua saja di tempat ini.


"Aku juga tidak tau. Tiba-tiba saja aku berada di tempat ini bersamamu. Dan kamu malah pingsan saat itu. Dan kamu malah baru sadar ... huft ... sungguh sangat merepotkan." sungut Dai kesal.


"Semoga bos Akira baik-baik saja." sahut Hideo malah mengkhawatirkan Akira.


"Bos Akira sangat kuat dan cerdik. Tenang saja! Bos Akira pasti akan baik-baik saja. Sekarang kita harus memikirkan diri kita. Kita harus tetap bisa bertahan saat menghadapi para monster jelek itu! Jangan sampai kita kalah begitu saja!" ucap Dai mulai bangkit dari duduk santainya dan mulai mengamati sekitarnya.


"Kau benar! Kita harus membuktikan jika kita anak buah dari bos Akira yang tidak lemah. Dan kita juga harus segera menyusul bos Akira!" ucap Hideo yang juga mulai menyusul Dai.


Baru saja beberapa meter berjalan bersama, tiba-tiba saja mereka mulai merasakan aura yang sedikit berbeda. Dai dan Hideo segera bersiap dengan senjata masing-masing dan mengacungkannya di depan dada.

__ADS_1


KIIKKK ...


GROAARR ...


SWOOSHH ...


Lolongan kuat yang cukup memekakkan telinga mulai terdengar dan membuat Hideo dan Dai menutup telinganya dengan salah satu tangannya.


Dan hanya dalam hitungan detik saja, kini sudah terlihat monster Butterfly Queen yang terbang membumbung tinggi di udara. Pandangangannya menatap dingin ke arah kedua pria itu dan penuh dengan intimidasi.


Sang monster Butterfly Queen mulai mengangkat tangan kanannya ke udara, dan dalam sekejap saja puluhan monster pasukan elit Praetorian Guard mulai terbentuk di sekitar sang monster Butterfly Queen.


Sang monster Butterfly Queen mulai menggerakkan tangannya lagi ke arah Hideo dan Dai, dan seketika sekelompok monster penjaga tingkat elit Praetorian Guard itu segera melesat cepat ke atah Hideo dan Dai.


Kedua pria dewasa itu cukup syok dan terkejut karena serangan ini. Mereka hanya bersiap dan mengandalkan senjata mereka serta keberuntungan mereka kali ini.


Karena para monster itu adalah monster tingkat sedang dan bisa terlahir kembali meskipun sudah bersusah payah untuk membinasakannya. Sangat tidak mudah untuk mengalahkan mereka.


Kedua pria itu mengayunkan pedang dengan cukup lincah untuk melakukan pertahanan kali ini. Namun jumlah mereka sangat tidak sebanding. Bahkan kali ini Hideo sudah kehilangan pedangnya, karena salah satu dari monster penjaga elit itu berhasil merebutnya dengan menggunakan benang sutranya. Dan kini mereka hanya mengandalkan pedang milik Dai.


"Sialan! Bagaimana ini, Dai? Mereka sangat kuat dan tidak mudah untuk dikalahkan! Kita sudah terjebak dan sudah terkepung seperti ini." keluh Hideo sangat panik dan kali ini hanya bersenjatakan dengan sebuah ranting pohon yang baru saja dia temukan.


"Dai! Mungkinkah kita akan benar-benar akan berakhir sampai disini saja? Hiks ..." imbuh Hideo yang sudah terlihat sangat berputus asa karena keadaan mereka saat ini.


"Hideo, apa kamu ingat dengan pesan bos Akira untuk kita? Jangan sampai kamu melupakannya begitu saja! Selama ini bos Akira sudah sangat percaya dengan kita! Kita harus tetap bertahan apapun yang terjadi!"

__ADS_1


Tandas Dai menengadahkan wajahnya mengawasi pergerakan para monster itu dengan pandangan yang selalu mengekori. Sementara kedua tangannya semakin kuat mencengkeram pedang kuno yang juga dia temukan di kota misterius yang hilang ini.


__ADS_2