
Nagi mulai bersiap dengan busur panahnya. Dia mengambil beberapa anak panah yang sudah dialiri oleh api. Dia mulai mengarahkan arah bidikannya pada bagian punggung dari monster Butterfly Qween itu.
Sementara Shu segera beranjak untuk semakin mendekati monster Butterfly Queen itu yang masih membelakanginya. Shu berjalan mengendap-endap dan mulai menaiki bebatuan agar lebih memudahkan dirinya saat menyerang monster Butterfly Qween itu.
SWUUSSHHH ...
JLEB ...
JLEB ...
KRAKK ...
Beberapa anak panah berapi melesat cukup cepat dan mengenai tepat pada batu kristal berwarna merah terang itu. Namun batu kristal itu masih hanya mengalami sedikit keretakan saja. Dan anak panah itu kembali terjatuh.
Namun dua anak panah berhasil dicabut oleh monster Butterfly Qween dan segera dihempaskan kembali ke arah Nagi dan Yumeko.
TRANG ..
Nagi berhasil menangkis serangan anak panah berapi itu.
Sementara Shu segera memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang monster Butterfly Qween itu. Dia melompat tinggi dari bebatuan itu dan mengayunkan pedang cahaya bulannya ke arah bahu sang monster Butterfly Queen, dimana baru kristal itu tertanam.
TRANG ...
KRAKK ...
Serangan Shu cukup sukses membuah retakan yang semakin parah pada batu kristal itu. Namun sayangnya disaat Shu ingin mengayunkan pedang cahaya bulannya lagi untuk menyerang kembali, monster Buterfly Qween itu malah menghempaskan sayap besarnya dengan cukup kencang dan membuat tubuh Shu terhempas jatuh.
Namun disaat itu juga, Nagi mulai melesatkan beberapa anak panah berapi miliknya untuk kembali menyerang pada titik yang sama.
__ADS_1
JLEB ...
KRAKKK ...
Kini retakan itu semakin parah dan disaat-saat terakhir, akhirnya Yumeko yang diam-diam sudah mendekati monster Butterfly Qween itu melompat tinggi setelah menaiki bebatuan itu dan menghunuskan pisau listriknya tepat pada batu kristal berwarna merah terang itu. Yumeko juga mengaktifkan aliran listriknya untuk mengakhiri monster Butterfly Qween itu.
Semuanya hampir saja berhasil dan sempurna untuk mengakhiri perjuangan mereka di X rank area ini. Namun sayangnya pada detik-detik terakhirnya, senjata Yumeko kehabisan arus listrik dan berubah menjadi senjata pisau biasa.
"Oh tidak ..." ucapnya lirih dan masih berusaha untuk menekan-nekan tombol saklar itu kembali. Tapi sayangnya semua hanya sia-sia saja, karena arus listrik yang tersimpan di dalam senjata itu kini sudah habis.
Sang monster Butterfly Qween yang sudah terlihat sekarat, terlihat sangat marah. Dia meraih bubuh Yumeko dan bersiap untuk melahapnya. Namun tepat disaat itulah tiba-tiba tubuh sang monster Butterfly Qween tiba-tiba melebur.
Dan rupanya Shu sudah menyerang kembali pada titik yang sama dengan pedang cahaya bulan miliknya. Hingga kali ini batu kristal berwarna merah cerah itu mulai pecah dan tubuh sang monster Butterfly Qween mulai melebur seperti debu yang berkilauan.
Sementara itu di tempat lainnya, terlihat Eren yang sudah berada di atas sebuah perahu kecil di tengah sebuah danau yang cukup luas. Saat itu adalah malam hari dengan langit gelap dan cuaca yang cukup dingin.
Beberapa saat yang lalu masih ada puluhan monster penjaga elit Praetorian Guard yang berusaha untuk menyerangnya. Namun tiba-tiba saja mereka malah menghilang tanpa jejak. Lenyap begitu saja.
BUGHH ...
Tiba-tiba saja ada seseorang yang melompat memasuki perahunya dan berada tepat di belakangnya. Perahu kecil itu sempat terombang-ambing karena kedatangan sosok yang melompat itu.
Eren segera berbalik dan mengacungkan tombak miliknya ke arah sebuah siluet hitam yang tinggi dan besar dan membawa sebuah kapak besar.
"Siapa kamu?! Jangan mendekat!!" ucap Eren dengan berhati-hati.
Sosok itu mulai membuka penutup kepalanya, hingga akhirnya wajahnya mulai terlihat meskipun masih sangat remang-remang di bawah temaram sinar rembulan ini.
"Akira?" gumam Eren merasa cukup lega karena menyadari sosok itu adalah Akira.
__ADS_1
Akira menyeringai dan berkata, "Apa kamu merqsa bahagia dan merasa lebih tenang karena bertemu denganku, Gadis cantik?"
"Ckkk ... tentu saja! Kita adalah satu kelompok saat ini! Tentu saja bertemu dengan rekan satu kelompok akan membuatku merasa lebih tenang." jawab Eren seadanya dan mulai menatap sekelilingnya, khawatir jika tiba-tiba saja ada monster kupu-kupu yang akan kembali menyerangnya.
Lagi-lagi Akira tertawa lirih dan mulai mendekati Eren.
"Kamu tenang saja, Gadis cantik. Kalau ada aku, monster-monster jelek itu tak akan akan ada yang berani mengganggumu." ucap Akira kembali tertawa dan menggoda Eren.
"Cih ... dasar mulut besar!" gerutu Eren malas.
"Hei, bagaimana jika kamu bergabung denganku saja setelah ini? Aku berjanji padamu akan selalu menjaga dan melindungimu." ucap Akira memberikan sebuah penawaran.
"Setelah ini? Apa maksudmu? Apa kamu berniat untuk berpisah dengan kelompokku setelah kita berhasil membuka gate menuju Raja monster?" tanya Eren mulai menerka-nerka dan menatap Akira dengan sepasang mata yang memicing.
"Hhm. Sepertinya akan seperti itu. Aku akan kembali bergerak bersama dengan Dai dan Hideo. Namun jika kamu bersedia bergabung bersama dengan kami, maka aku akan dengan senang hati menerimamu, Gadis cantik." ucap Akira tersenyum penuh misteri menatap Eren.
"Shu, Zoe dan Yumeko adalah teman satu universitasku. Kami sejak awal selalu bersama, maka kami juga akan tetap bersama sampai akhir! Kami akan tetap bersama dan akan selalu saling menjaga!" ucap Eren menandaskan dengan penuh keyakinan.
Akira tertawa kecil menatap hamparan air luas di hadapannya.
"Padahal aku jauh lebih kuat dari mereka. Namun kamu masih tetap memilih untuk bersama dengan mereka. Apakah karena mereka telah memiliki pedang cahaya bulan itu? Bagaimana jika aku berhasil merebut pedang cahaya bulan dari bocah itu? Apa kamu akan tetap memilih untuk tetap bersama dengan mereka? Merebut dan mengambil pedang cahaya bulan dari bocah itu, bagiku adalah sangat mudah." ucap Akira begitu meremehkan.
Mendengar ucapan dari Akira, sontak saja membuat Eren beralih menatapnya dengan tajam.
"Apa maksudmu?! Apa kamu ingin merebut pedang cahaya bulan dari Shu?!" ucap Eren tak habis pikir.
Akira terdiam tak menjawabnya. Dia hanya tersenyum miring menatap danau dengan air berwarna gelap di hadapannya itu.
"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi! Shu yang sudah berhasil menemukan pedang cahaya bulan itu! Dialah yang berhak atas pedang cahaya bulan itu!" ucap Eren kembali menandaskan.
__ADS_1
Tiba-tiba Eren melihat sebuah daratan yang tiba-tiba saja berada di dekat perahunya. Dia segera melompat keluar dari perahu itu dan memutuskan untuk mencari jalannya sendiri.