
Setelah monster samurai bermata 6 itu menyerang, malam itu mereka tak bisa kembali beristirahat. Mereka hanya memanggang beberapa ikan dengan api unggun dan mengisi perut untuk memulihkan energi.
Setelah matahari semakin meninggi, mereka mulai melanjutkan perjalanan kembali untuk menyisiri wilayah Raja monster ini.
Namum tiba-tiba saja ada sebuah rombongan yang menyusul mereka. Dan rupanya itu adalah salah satu rombongan yang pernah ditemui oleh Akira sebelumnya.
Kelompok mereka hanya terdiri oleh 3 orang saja. Tiga orang pemuda yang mengenakan pakaian aparat kepolisian. Dan semenjak kedatangan mereka, tiba-tiba saja Akira dan Dai bersembunyi di belakang tubuh Zoe dan Shu.
"Ada apa? Mengapa kalian bersembunyi dari mereka? Apa mereka berbahaya?" tanya Eren mulai mengacungkan tombaknya di depan tubuhnya.
Begitu juga dengan Nagi, Shu, Zoe, dan Yumeko yang juga sudah mengacungkan senjata mereka masing-masing untuk bersiaga.
"Mereka tidak berbahaya. Mereka adalah salah satu kelompok yang pernah aku ceritakan kepada kalian. Dan mereka juga terjebak bersamaan dengan kami saat itu." sahut Akira yang masih berada di belakang tubuh Shu.
"Lalu untuk apa kalian bersembunyi seperti itu?" selidik Eren dengan sepasang mata yang memicing menatap curiga Akira dan Dai.
"Kami tidak sedang bersembunyi! Kami hanya ..." elak Akira terpotong.
"Atau jangan-jangan mereka adalah aparat polisi yang terjebak di kota hilang yang misterius ini karena mengejar kalian para cabul saat itu?" potong Eren menyimpulkan.
Namun belum sempat Akira menjawabnya, kini ketiga pria berpakaian seragam aparat polisi itu sudah menghampiri kelompok Shu dan menyapanya.
"Siapa kalian? Apa kalian juga terjebak di dalam kota misterius yang hilang ini juga?" tanya salah satu dari mereka menatap kelompok Shu secara bergantian.
"Benar. Lalu siapa kalian?" jawab Nagi masih mewaspadai mereka.
__ADS_1
"Kami juga seperti kalian." sahutnsalah satu dari mereka mulai menatap Shu dan pedang cahaya bulan milik Shu. "Kalian pasti yang telah menghancurkan X Rank area bukan? Karena salah satu dari kalian telah berhasil menemukan pedang cahaya bulan yang begitu legendaris itu." imbuhnya masih menatap lekat Shu.
Akira tersenyum miring dan akhirnya mulai memperlihatkan dirinya dengan berani di hadapan ketiga pria berseragam aparat polisi itu.
"Kalian jangan coba-coba untuk mencuri pedang cahaya bulan itu dari bocah itu! Karena pedang cahaya bulan itu hanya akan mengeluarkan kekuatan ajaibnya jika hanya bocah itu yang menggunakannya! Jika sampai ada orang lain yang berusaha untuk menggunakannya, maka pedang cahaya bulan hanyalah sebatas rongsokan saja!"
Ucap Akira memperingatkan ketiga pria itu.
"Cckk. Kamu pikir kami ini orang seperti apa? Justru aku lebih khawatir jika kamu yang sudah berusaha untuk mencuri pedang cahaya bulan itu dari anak ini." balas salah satu pria itu memojokkan Akira.
"Kurang ajar! Di dunia asal mungkin kalian adalah aparat kepolisian! Tapi di tempat ini kalian bukan siapa-siapa! Siapa yang kuat, makan dia akan mendominasi! Aku bisa saja melenyapkanmu, Yanshen!" geram Akira kegeraman.
"Cckk. Diamlah kamu, Akira! Lihatlah keadaanmu saat ini! Bahkan kamu sudah kehilangan salah satu tanganmu!" celutuk Eren kesal.
"Cihh!!"
"Aku adalah Yanshen. Mereka adalah anak Tao dan Shozo." ucap Yanshen memperkenalkan dirinya.
Meskipun suara dan raut wajahnya terlihat tegas dan dingin, namun sebenarnya itu adalah dirinya yang sebenarnya.
Mereka saling berkenalan dan memutuskan untuk bergabung bersama lalu melanjutkan perjalanan menyusul Akira dan Dai.
Karena tak ada hal lain saat ini yang bisa mereka lakukan kecuali bersama-sama menyatukan diri untuk mengalahkan sang Raja monster dan menyelamatkan dunia ini dari ancaman monster dan kehancuran.
"Kalian baru saja datang dan terjebak di kota hilang yang misterius ini. Namun kalian sudah menemukan pusaka ajaib pedang cahaya bulan. Itu sungguh sangat luar biasa. Bahkan kalian sudah bisa meruntuhkan X rank area dan mengalahkan kerajaan monster kupu-kupu. Luar biasa!"
__ADS_1
Ucap Shozo merasa takjub akan pencapaian kelompok Shu disaat mereka sedang menempuh perjalanan bersama.
"Ini hanya kebetulan saja kok. Karema aku juga menemukan plakat bintang pengunci peti itu dengan tidak sengaja." sahut Shu merendah.
"Tidak! Tidak! Pedang itu hanya akan bisa ditemukan oleh orang yang hanya ditakdirkan bersamanya. Bahkan pedang cahaya bulan itu hanya akan bisa digunakan oleh orang tersebut saja." sahut Tao juga begitu antusias.
"Benar. Aku pernah mendengar akan hal itu. Dan itu artinya kamu adalah orang yang ditakdirkan itu, Shu. Dan kamu adalah orang yang bisa mengalahkan Raja monster." ucap Yanshen menambahkan.
"Kalau boleh tau apa saja yang kalian ketahui tentang tempat ini?" tanya Zoe melirik Yanshen tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Seperti yang telah kalian lihat sebelumnya. Tempat ini adalah sebuah kota misterius yang hilang dan tak terdeteksi dari dunia kita. Karena pada dasarnya portal itu telah membawa itu ke dunia misterius lainnya. Dan tempat dimana kita berada saat ini adalah tempat terakhir yang harus kita takhlukkan agar kita bisa menyelamatkan dunia dari ancaman monster, serta agar kita bisa kembali ke dunia kita." jawab Yanshen seperti yang dia ketahui.
"Dan sebenarnya sampai saat ini aku masih tidak mengetahui, darimana monster-monster itu berasal. Dan mengapa tiba-tiba saja mereka menyerang kota hilang yang misterius ini dan membuat portal untuk menerobos ke dunia manusia?" gumam Zoe lirih.
Dan sebenarnya hal itu cukup mengganggu pikirannya selama ini. Hanya saja sampai saat ini Zoe masih belum bisa menemukan sebuah jawaban yang bisa menjawab rasa penasaran di dalam hatinya puas.
Sebenarnya Shu, Eren dan Yumeko cukup penasaran juga mengenai hal ini. Mereka terdiam dan tak sabar untuk menantikan ketika Yanshen menjawabnya.
"Mengenai itu aku sendiri juga tidak tau pastinya seperti apa? Namun ada yang aneh. Monster itu memiliki pecahan batu kristal yang membuatnya kuat dan tak mudah untuk dikalahkan. Seolah-olah mereka telah dirancang dan diciptakan oleh seseorang. Namun ini hanya pemikiranku saja." sahut Yanshen menghela nafas selama beberapa saat.
Nagi yang mendengar percakalan mereka hanya melirik mereka sekilas dan masih tak mengatakan sepatah kata apapun. Kemudian Nagi semakin mempercepat langkah kakinya dan mulai mendatangi sebuah pohon besar yang berada tak jauh dari mereka berada saat ini.
Dia memeriksa dan mengelilingin pohon itu seolah-olah telah menemukan sebuah kejanggalan dengan pohon besar berdaun hijau pada umumnya itu.
"Ada apa, Kak Nagi?" tanya Shu yang sudah menyusulnya bersama hunter lainnya.
__ADS_1
Namun belum sempat Nagi menjawabnya, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan yang cukuo melengking.
"Aarrgggghhhh ..."