
Selama beberapa saat Shu masih terdiam dengan nafas yang masih tidak beraturan, dia hanya menengadahkan wajahnya menatap Yumeko yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.
"Shu! Apa yang sebenarnya terjadi? Dan mengapa kamu keluar sendiri? Dimana kak Nagi?" kali ini Yumeko mendekati Shu dan bertanya kembali padanya.
"Kak Nagi sedang menjemput kelompok yang pernah kita temui di temlpat sebelumnya." jawab Shu lirih dan seakan tidak bertenaga.
"Apa? Menjemputnya? Bukankah portal ini tidak bisa bertahan lama?" tanya Yanshen yang sedikit mengetahui tentang portal itu.
"Benar. Kak Nagi mengatakan jika portal ini hanya bisa bertahan selama 1 jam saja." sahut Shu masih tak bertenaga.
"Tempat kelompok itu bersembunyi terletak cukup jauh? Lalu bagaimana jika waktunya tidak sempat? Ini sangat berbahaya! Kita harus menyusulnya!" ucap Eren mengkhawatirkan Nagi.
"Tidak, Eren. Sekalipun kita masuk kembali, itu tak akan bisa membantu sama sekali. Karena yang dihadapi saat ini bukanlah monster. Semua yamg diperlukan saat ini adalah keajaiban, dan sebaiknya kita mendoakan mereka agar segera kembali menyusul kita secepatnya." ucap Zoe meskipun dengan sangat berat.
Akhirnya mereka memutuskan untuk hanya menunggu di tempat itu yang berada tak jauh dari keberadaan portal itu.
Mereka terdiam dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Dua puluh menit berlalu, tiga puluh menit berlalu, empat puluh menit berlalu, lima puluh menit berlalu ... namun sampai saat ini tak ada tanda-tanda kehadiran dari Nagi dan sekelompok orang itu.
Dan tentu saja hal ini membuat semua hunter ini merasa semakin panik dan berpikiran buruk. Shu semakin merasa tak tenang dan sepasang netranya masih saja menatap ke arah portal ajaib yang memancarkan cahaya yang menyilaukan itu.
Lima puluh lima menit berlalu dan perlahan portal ajaib itu sudah semakin menjadi samar-samar, seolah-olah akan menghilang kembali. Shu yang melihat semua itu semakin panik dan malah ingin berlari mendekati portal ajaib itu.
"Hei, Bocah! Apa kamu sudah gila ingin memasuki portal ajaib yang sudah akan lenyap untuk selamanya itu?! Jangan bodoh!!" tandas Akira yang menahan tubuh Shu dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Kak Nagi masih ada di dalam! Aku tidak bisa membiarkan kak Nagi terkurung sendirian! Aku harus melakukan sesuatu! Lepaskan aku, Akira!!" Shu yang sudah hampir menangis kini menghempaskan kasar tangan Akira.
"Bocah bodoh!! Hentikan dia!!" pekik Akira.
Shu kembali mendekati portal ajaib itu dan segera diikuti oleh Zoe, Eren dan Yumeko. Sementara Yanshen sedang pergi untuk meminta banfuan warga setempat untuk menyediakan beberapa makanan dan tempat beristurahat untuk mereka.
"Shu! Jangan masuk lagi! Kak Nagi pasti akan bersedih dan sangat merasa bersalah jika kamu memasukinya lagi!" tandas Yumeko berusaha untuk menghentikan Shu.
"Shu, berhentilah!" kali ini Zoe berusaha untuk menghentikan Shu.
Namun Shu tak menghiraukan mereka semua dan kini malah menggunakan pedang cahaya bulannya yang masih memancarkan aura putih kebiruan.
Sebenarnya Shu tidak tau apakah oedang cahaya bulan bisa menahan portal ajaib itu untuk bertahan lebih lama atau tidak. Namun setidaknya dia harus mencobanya terlebih dulu.
Ini berhasil! Jika aku mengulurnya lebih lama lagi, maka seharusnya ini akan berhasil! Ayo, Kak Nagi! Segeralah kembali!
Batin Shu kembali melayangkan sebuah tebasan kuat dengan pedang cahaya bulan miliknya hingga membuat portal ajaib semakin terlihat lebih nyata kembali.
Teman-teman Shu merasa sedikit lega karena menyaksikan semua ini. Setidaknya masih ada sedikit harapan untuk Nagi dan sekelompok orang itu untuk bisa menyusul ke dunia ini.
Beberapa menit telah berlalu, dan Shu masih menggunakan cara yang sama untuk menahan portal ajaib itu agar masih bisa terlihat dan tidak menghilang. Hingga akhirnya pada menit ke 30, mulai terdengar derap langkah dari lebih dari 20 orang dan berasal dari balik portal ajaib itu.
Hingga akhirnya satu persatu orang mulai terlihat melewati keluar dari portal ajaib itu. Dan mereka adalah memang dari kelompok orang itu.
__ADS_1
Ada rasa lega dan bahagia menyelimuti diri Shu dan teman-temannya karena pada akhirnya mereka telah datang menyusul.
Satu persatu orang melewati portal ajaib itu dan orang terakhir yang melewatinya adalah seorang pria paruh baya. Tidak terlihat sosok Nagi diantara mereka. Dan hal ini kembali membuat Shu dan teman-temannya merasa cemas kembali.
Namun belum sempat Shu menanyakan soal keberadaan Nagi kepada kelompok itu, kini seorang pemuda yang sudah terlihat sangat lucat mulai melewati portal ajaib itu. Dan tepat disaat dia sudah berhasil melewatinya, tubuhnya ambruk dan tidak sadarkan diri.
Shu dengan cepat segera menangkap tubuh pemuda yang tak lain adalah Nagi itu. Dan disaat Nagi berhasil keluar dari portal ajaib itu, disaat itulah portal ajaib mulai menghilang sepenuhnya dan selamanya. Kota hilang yang misterius itu kini sudah benar-benar menghilang dari dunia ini.
...🍁🍁🍁...
Di dalam sebuah ruangan rawat VIP di St. Luke's International Hospital, terlihat seorang pemuda sedang terbaring lemah di atas brankar. Wajahnya masih terlihat pucat, dan beberapa perban juga melilit beberapa anggota tubuhnya.
Sementara di sampingnya ada seorang pemuda yang sedang menunggunya sambil menyibukkan diri dengan buku menggambarnya.
Dia adalah Shu yang sedang menjaga sang kakak yang sedang dirawat di rumah sakit. Dam Shu yamg sebenarnya memiliki hobi menggambar, kini mulai menggambar beberapa pemandangan yang pernah dia lihat di kota misterius yang hilang itu. Bahkan Shu juga terlihat menggambar beberapa monster, dan pedang cahaya bulan yang kini juga sudah lenyap bersamaan dengan lenyapnya portal ajaib saat itu.
Meskipun saat ini Shu juga terluka dan juga mengenakan pakaian rawat, namun luka-luka yang dia alami tidak separah luka yang dialami oleh Nagi.
Tidak aku sangka, semua itu adalah nyata dan sangat mengerikan. Namun pada akhirnya kita bisa kembali lagi ... meksipun ada beberapa dari kami yang telah tiada karena ulah para monster itu. Semoga kak Nagi baik-baik saja dan tidak terlalu terpuruk karena masalah ini. Dan semoga mereka juga tidak menyalahkan kakak ...
Batin Shu sesekali memandang wajah Nagi yang pucat dan belum sadarkan diri.
Setelah beberapa saat akhirnya jemari Nagi mulai bergerak diikuti dengan sepasang matanya yang mulai terbuka dengan lemah. Dia menatap atap dan sekelilingnya, hingga akhirnya dia mulai menatap Shu yang masih sibuk menggambar dengan buku sketch miliknya.
__ADS_1