
Nagi mulai mengatur strategi untuk penyerangan kali ini dan segera memberikan instruksi untuk timnya maupun untuk tim Akira. Namun rupanya hal ini cukup membuat Akira tak terima, karena mengira Nagi sedang berusaha untuk mengaturnya.
"Apa kamu bilang?! Apakah kamu sedang berusaha untuk mengatur dan memerintahkanku?!" Ucap Akira dengan nada tidak suka, bahkan dia beralih menatap Nagi dengan ekspresi menyebalkan.
"Disini kita harus bekerja sama. Tidak ada yang merasa paling hebat, tak merasa diatur atau apapun itu. Yang terpenting disini adalah kita menyatukan kekuatan kita dengan satu tujuan yang sama. Dan kita harus segera mengalahkan monster Butterfly Queen itu." ucap Zoe menengahi dengan bijak.
"Ccckk ... ya sudah! Ayo segera lakukan saja! Aku juga sudah mulai bosan hidup di dunia ini. Aku juga ingin segera kembali." sahut Akira.
"Baiklah. Aku akan fokus untuk menyerang Praetorian Guard bersama dengan Hideo, dan kedus gadis itu. Ayo! Serang!" seru Dai kembali menatap Akira untuk meminta persetujuan.
"Ckk ... baiklah-baiklah!! Ayo segera lakukan dengan baik!" sahut Akira tak ada pilihan lain.
"Baik. Aku dan Yumeko akan menghadapi para monster pengawal Praetorian Guard sisi barat dan selatan. Sedangkan Hideo dan Dai menghadapi sisi timur dan utara. Bagaimana?" tanya Eren menatap dai dan Hideo secara bergantian.
"Baik. Aku setuju! Ayo mulai pergerakan kita!" seru sahut Dai bersemangat.
Namun belum sempat mereka bergerak kembali, beberapa monster pasukan elit Praetorian Guard sudah kembali menyadari keberadataan mereka. Dan mereka sudah bersatu membentuk sebuah tombak besar melesat ke arah para hunter itu.
Shu reflek mengayunkan pedang cahaya bulan miliknya dan memberikan tebasan vertikal hingga mengenai monster itu dan membuatnya tubuh para monster Praetorian Guard itu melebur.
Tak mau menyia-nyiakan keadaan saat ini, kini mereka semua segera bergerak sesuai dengan tugas masing-masing, seperti yang telah diinstruksikan oleh Nagi.
Nagi segera meluncurkan puluhan anak panahnya yang sudah dialiri dengan api dan mengarahkannya pada sang monster Buterfly Queen.
Sementara Zoe, Shu dan Akira juga sudah semakin mendekati monster Butterfly Queen. Mereka menggunakan senjata mereka untuk berusaha menyerangnya. Namun sang monster Butterfly Queen itu mulai mengepakkan sayap besarnya dan terbang tinggi.
Dalam sekali kebasan sayapnya saja, sudah menimbulkan angin kencang yang mampu menerbangkan benda apapun di sekitarnya. Shu dan yang lainnya menancapkan senjata mereka masing-masing di dalam tanah dan menggunakannya untuk berpegangan.
Dan tiba-tiba saja mereka semua sudah berada di tempat yang berbeda dan saling terpisah seorang diri. Kebanyakan dari mereka berada di dalam hutan luas yang dipenuhi dengan tanaman bunga di bawah langit yang gelap.
Namun bukan hanya di satu tempat saja. Karena Shu saat ini malah sedang berada di atas sebuah perahu kecil di tengah-tengah sebuah danau yangbsangat luas dengan air yang tenang. Air itu berwarna gelap dan sekitarnya dipenuhi dengan kabut.
__ADS_1
"Tempat apa ini? Bukankah sebelumnya aku berada di dungeon monster Butterfly Qween? Lalu mengapa tiba-tiba saja aku berada di tempat ini? Lali dimanakah yang lain?" gumam Shu sambil mengamati sekitarnya.
"Apakah ini adalah jurus ilusi milik monster Butterfly Queen? Harusnya benar. Namun bagaimana aku harus mengalahkan jurus ilusi ini?" gumamnya lagi berusaha untuk berpikor keras.
SWOSSHH ...
Angin kuat berhembus dan menyapu tubuh Shu. Dan dia sudah bersiap dengan mangacungkan pedang cahaya bulan di depan dadanya.
SWOSH ...
Angin kencang itu berhembus kembali, namun berbeda arah. Hingga akhirnya Shu segera berbalik, karena angin itu herhempus menyapu bagian belakang tubuhnya.
Kabut gelap yang begitu pekat ini sungguh membuat jarak pandangan Shu sangat terbatas dan kurang bisa lebih teliti mengawasi sekitar. Dia bahkan mencoha untuk mengayunkan pedang cahaya bulan itu beberapa kali ke sekitarnya.
Namun semua itu hanya sia-sia saja. Hanya ada udara kosong di sekitarnya. Dan dia tak menemukan keberadaan monster kupu-kupu di sekitarnya.
"Sial! Jika terus seperti ini, hanya akan membuang-buang waktu saja. Ataukah memang itu tujuannya? Memisahkan kita dan menghambat kita dengan menggunakan satu persatu dari kita untuk berevolusi?" gumam Shu menyimpulkan.
Sementara itu di tempat lainnya ...
Yumeko terjebak seorang diri di dalam lembah bunga yang luas namun berkabut tebal itu. Dia masih bersiaga dengan membawa senjata pisau listrik yang merupakan pemberian dari Shu sebelum Shu menemukan pedang cahaya bulan.
Tempat Yumeko berada saat ini juga cukup lias dan hening. Seperti hanya ada dirinya seorang diri di tempat ini.
GROAARRR ...
Tepat dari arah belakan Yumeko, dia mendengarkan suara lolongan beberapa monster kupu-kupu. Dengan dada yang sudah semakin berdegup lebih keras, Yumeko berbalik dan mengacungkan pisau listriknya.
Terlihat ada 2 monster pengawal elit Praetorian Guard yang sudah terbang melesat cepat ke arahnya. Yumeko menguatkan dirinya dan mulai mengayunkan pisau listriknya ke arah kedua monster pengawal elit Praetorian Guard itu.
SRRTT ...
__ADS_1
TRANG ...
SRRTT ...
Serangan dari Yumeko ditahan dengan tangan salah satu monster pengawal elit Praetorian Guard itu. Bahkan salah satu monster pengawal elit Praetorian Guard itu kini mulai menyemburkan benang sutranya dan berhasil merebut pisau listrik milik Yumeko. Hingga akhirnya kini Yumeko tak bersenjatakan apapun lagi.
Gadis itu semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dan dia mulai melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah. Bayangan kedua monster pengawal elit Praetorian Guard itu semakin terlihat dekat melalui sepasang mata Yumeko.
"Ti-tidak ... seseorang tolong aku ..." gumamnya lirih, san pada langkah mundur berikutnya malah membuat dirinya terjatuh di atas tanah yang tidak rata itu.
BRUGHH ...
Yumeko semakin ketakutan disaat kedua moster pengawal elit Praetorian Guard itu membuka mulutnya yang semakin melebar seolah sudah bersiap untuk menjadikannya sebagai santapannya.
Tubuh Yumeko semakin gemetaran dan dia mulai memejamkan sepasang mata bulatnya karena ketakutan.
JLEBB ...
JLEBB ...
Namun tiba-tiba saja dua anak panak berapi meluncur dan mengenai mulut kedua monster penjaga elit Praetorian Guard itu. Serangannya itu juga tepat mengenai batu kristal biru milil kedua monter itu, sehingga membuat kedua monster itu binasa untuk beberapa saat.
"Kak Nagi ..." ucap Yumeko setelah membuka sepasang matanya dan melihat sosok Nagi yang sudah berdiri di hadapannya.
Nagi memungut kembali pisau listrik milik Yumeko lalu berbalik dan memberikan kembali untuk Yumeko. Bahkan Nagi juga mengulurkan tangannya untuk membantu Yumeko bangun kembali.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Nagi datar.
"Hhm. Terima kasih, Kak." ucap Yumeko dengan tulus.
"Hhm. Ayo kita segera cari yang lainnya. Dan kita harus bisa menghancurkan ilusi ini." sahutnya mulai melenggang kembali.
__ADS_1