
Nagi yang kembali lagi bersama dengan kelompoknya merasa cukup aneh karena tidak melihat keberadaan Akira, Dai, dan Hideo. Pada awalnya Nagi masih berusaha untuk menangkis pemikiran buruknya dan berfikir jika mereka sedang pergi ke suatu tempat bersama.
Namun disaat Nagi melihat tas kecil hitamnya yang sedang terbuka, kini dia mulai merasa curiga kembali. Dia segera memeriksa isi di dalam tasnya. Dan rupanya pecahan batu kristal miliknya dan kelompok Shu sudah tidak ada di dalamnya.
Lalu secara naluri, Nagi segera mendekati Shu yang masih tertidur sangat lelap. Nagi memeriksa sesuatu di sekitar Shu, namun dia tidak melihat pedang cahaya api maupun perisai kuno milik sang adik.
Celaka! Ini semua gara-gara aku yang sudah lengah dan malah meninggalkan mereka. Kini kelompok Akira benar-benar sudah mencuri pecahan-pecahan batu kristal, bahkan pedang bulan serta perisai kuno milik Shu!
Batin Nagi mulai berdiri dan mengedarkan pandangannya untuk menatap sekitarnya. Namun kelompok Akira bahkan sudah tak terlihat olehnya.
"Kak Nagi, ada apa? Apa ada monster yang datang menyerang? Hoaammmm ..." Shu yang terbangun mulai bertanya kepada sang kakak yang terlihat sangat panik. Namun dia juga masih terlihat mengantuk hingga menguap panjang.
"Shu! Akira sudah mencuri pedang cahaya bulan dan perisai kuno milikmu! Dia bahkan juga mencuri pecahan batu kristal milik kita." seru Nagi yang sukses membuat kantuk Shu menghilang seketika.
Shu segera memeriksa sekitarnya, dan benar saja dia sudah tak melihat keberadaan dari pedang cahaya bulan serta tameng kuno miliknya.
"Sial! Jadi kita harus bagaimana, Kak? Kita harus segera mengejarnya!" ucap Shu panik karena telah kehilangan pusaka terkuat di dalam kota tersembunyi yang hilang ini.
"Benar. Kita harus segera mengejar mereka dan merebut kembali benda-benda itu! Bangunkan yang lainnya dan kita harus segera bergerak!" titah Nagi.
"Baik, Kak." sahut Shu langsung membangunkan teman-temannya.
"Hoamm ... ada apa, Shu?" tanya Zoe yang juga masih terlihat sangat mengantuk.
"Apakah ada yang datang?" tanya Eren mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sambil melihat sekitarnya.
"Akira dan teman-temannya telah mencuri pedang cahaya bulan dan perisai kuno milikku. Mereka juga mencuri pecahan batu kristal milik kita." sahut Shu yang kali ini sudah bersiap untuk segera pergi.
__ADS_1
"Apa?!" tanya Zoe, Eren dan Yumeko serempak dam terlihat sangat syok.
"Berandalan mesum itu benar-benar telah melakukannya rupanya! Cih ..." geram Eren terlihat sangat murka.
Dia sungguh tidak menyangka apa yang dikatakan oleh Akira kepadanya saat itu akan benar-benar dia lakukan.
"Apa maksudmu, Eren?" tanya Zoe tak mengerti.
"Ini semua adalah salahku! Harusnya aku tidak menganggap remeh ucapan Akira saat itu. Saat kita terjebak bersama di X rank area, dia pernah mengatakan akan merebut pedang cahaya bulan dan perisai milik Shu. Namun aku malah mengira ucapannya hanyalah sebuah lelucon dan tidak terlalu menganggap serius. Ini sungguh salahku ... maaf ..."
Ucap Eren merasa sangat bersalah dan sangat menyesal.
"Akira mengatakan semua itu padamu?" tanya Shu seakan terkejut bukan main.
Eren mengangguk samar dan kembali berkata, "Dia bahkan juga mengajakku untuk bergabung dengan kelompoknya dan mengkhianati kalian. Tentu saja aku menolaknya. Namun bodohnya aku karena hanya menganggap semua ucapannya saat itu hanyalah omong kosongnya saja. Aku benar-benar tidak berguna. Maaf ..." sahut Eren sungguh sangat merasa bersalah.
"Sebaiknya kita segera mencarinya! Seharusnya mereka belum terlalu jauh. Ayo!" ajak Nagi mulai memimpin mereka untuo pergi.
Mereka meninggalkan kastil tua itu dam segera mencari kelompok Akiradi area sekitar mereka.
...🍁🍁🍁...
Sementara itu di tempat lainnya, tiga orang terlihat sudah mulai memasuki sebuah tempat terbuka yang lapang dan dipenuhi dengan kabut asap putih dan terlihat seperti awan.
Di tempat itu ada sebuah pohon besar dengan daun-daunnya yang berwarna keunguan. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak ketika merasa jika mereka sudah berada cukup jauh dari kelima orang yang baru saja ditinggalkannya.
"Huft ... kita istirahat saja dulu! Kita sudah berada cukup jauh dari mereka. Seharusnya mereka tak akan bisa mengejar kita." ucap Akira mulai duduk bersandar pada pohon berdaun keunguan itu.
__ADS_1
"Tapi bos, Nagi itu sangat cerdas dan peka. Jika dia cepat menyadari semua ini, pasti dia akan segera menggerakkan mereka semua untuk mengejar kita." celutuk Hideo.
"Ya. Kau benar, Hideo. Nagi memang sangat cerdas dan peka. Bahkan dialah yang tersulit untuk dikelabuhi. Sangat beruntung dia pergi saat itu, disaat teman-temannya sedang tertidur. Sehingga kita bisa mengambil pusaka serta pecahan kristal milik mereka." ucap Akira mulai meraih sebuah pedang pusaka dengan wajah yang sangat berbinar.
Lalu dia segera menariknya dari sarung pedangnya. Namun senyuman penuh binar itu tiba-tiba membeku dan perlahan memudar ketika melihat pedang cahaya bulan itu tak lagi memancarkan cahayanya seperti saat Shu memakainya.
"Apa yang terjadi? Mengapa pedang ini tidak memancaekan cahayanya?"
Ucap Akira bertanya-tanya kebingungan dan mulai berdiri kembali lalu mengacungkannya ke depan dan mengayunkannya beberapa kali. Namun pedang cahaya bulan itu tetap saja masih tak memancarkan cahaya apapun.
"Cih ... sialan!! Dasar rongsokan ini!!" geram Akira kesal dan membanting pedang cahaya bulan itu hingga terjatuh di atas lantai.
KLAANGG ...
Karena merasa penasaran Dai mulai memungutnya dan mencoba menggunakan pedang cahaya bulan itu. Namun tetap saja pedang cahaya bulan itu tidak memancarkan cahayanya.
Dai juga mencobanya dengan menggunakannya bersama perisai kuno itu. Namun dia juga tidak bisa menciptakan perisai ajaib seperti yang pernah Shu lakukan sebelumnya dengan mengkombinasikan pedang cahaya bulan bersama perisai tembaga itu.
"Ataukah jangan-jangan pusaka-pusaka ini hanya bisa digunakan oleh Shu saja? Mengapa kita tidak bisa menggunakannya sama sekali?" gumam Dai menyimpulkan.
"Aku rasa memang seperti itu. Sungguh membuang-buang waktu saja! Jika seperti ini, maka semua pusaka ini sama saja dengan pusaka biasa lainnya. Tidak berguna dan hanya seperti rongsokan! Ughh!!" geram Akira lagi.
Karena merasa sangat kesal, Akira mulai menghantam pohon berdaun keunguan itu dengan sangat kuat.
BUAKKK ...
Beberapa dedaunan keunguan itu mulai berguguran karena hantaman kuat dari Akira. Namun daun-daun yang berguguran itu tiba-tiba saja mulai terlihat berkilauan dan bukannya jatuh, melainkan beterbangan di udara.
__ADS_1
Perlahan dedaunan ungu itu mulai berubah bentuk menjadi makhluk kecil yang menyerupai peri, namun sangat menakutkan dengan gigi yang runcing.