Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 11


__ADS_3

Setelah melakukan perdebatan yang cukup panjang dengan ibunya, akhirnya Fan Hua memberi putrinya izin keluar mencari udara segar.


Awalnya Fan Hua melarang Ai berkeliaran karena khawatir putrinya akan kembali dengan kondisi penuh luka, sayang Fan Hua dikalahkan oleh argumen keras kepala putrinya yang membuat Fan Hua harus menghela nafas pasrah membiarkan Ai keluar kediaman dengan syarat, ia keluar harus membawa JieBobo kemanapun ia pergi.


Ai tentu saja tidak masalah membawa JieBobo atau biasa mereka sebut Bobo, tapi Ai tak menyangka, jika Bobo yang harus ia bawa serta mencari udara segara adalah seekor serigala jantan berbulu putih lebat dan tubuh yang besar.


Awalnya Ai berpikir Bobo adalah wujud dari seorang manusia yang akan menjadi pengawal pribadinya hari ini, sayang pikiran dan peraduga Ai melenceng jauh dari kenyataan yang ada di hadapannya.


Bobo merupakan binatang langka peliharaan keluarga Feng, spesies serigala berbulu putih seperti Bobo jelas sangat sulit di temukan didaerah seperti kerajaan MingQi karena habitat asli serigala berbulu seputih salju dihadapannya kini berada jauh dikerajaan NinFeng yang berada dibawa bukit salju abadi dinasti Ming yang merupakan rumah para leluhur keluarga besar Feng berasal.


"Ibu, tidak bisakah aku pergi dengan Guang saja? Dia terlihat mengerikan dan menakutkan? Bagaimana jika ia lapar dan tiba-tiba menerkam dan memakanku?" Kata Ai ketakutan melihat serigala berbulu putih yang baru saja dibawa oleh ayahnya.


"Guang akan ikut bersama gege, jadi hari ini jika mei mei ingin keluar, mei mei harus pergi bersama Bobo"


Itu jelas bukan jawaban dari ibu ataupun ayahnya, tapi sahutan dari Qiang yang baru saja bergabung dengan mereka di halaman barat pavilium Lan milik Ai.


"Tks, kalau begitu. Aku tidak ingin keluar saja" kata Ai merajuk.


"Mengapa putri ayah cepat sekali berubah pikiran? Bukankah Ai sejak tadi bersikukuh ingin pergi keluar mencari udara segar, lalu kenapa sekarang membatalkan? Apa karena Ai tak ingin pergi dengan Bobo?" Tanya jendral Holing yang salah satu tangannya tidak pernah lepas mengelus binatang peliharaannya dengan sayang.


"Aku ingin pergi, tapi tidak dengan Bobo. Dia nampak sangat mengerikan dan aku takut!" Keluh Ai menyuarakan kekhawatiran dan ketakutannya.


"Tenanglah mei mei, Bobo adalah serigala jantan yang jinak. Cobalah bermain bersama terlebih dahulu, lagian apa yang kau takutkan dengannya? Sejak  mei mei masih merangkak, mei mei adalah bayi kecil perempuan pertama yang berani bermain dengan Bobo tanpa takut saat mengunjungi keluarga besar Feng dikerajaan NinFeng" jelas Qiang tak lupa membahas kenangan masa kecil Adiknya saat bermain dengan Bobo beberapa tahun terakhir. Saat itu Qiang yang berusia 8 tahun sangat ingat dengan jelas, adiknya yang baru berusia beberapa bulan sudah berani bermain dengan binatang buas.


"Benarkah?" Tanya Ai tidak percaya pasalnya ia adalah jiwa rengkarnasi dari masa depan. Ia tidak mendapat banyak ingatan dari masalalunya, ingatan - ingatan yang ia miliki hanyalah ingatan - ingatan dasar yang baru saja ia alami.


"Apa yang gegemu katakan benar Ai" jawab jendral Holing membenarkan. "Diantara kami, Bobo hanya lebih jinak dan akrab denganmu karena kalian sudah bersama sejak Ai masih bayi" tambah jendral Holing yang tak mampu untuk tidak membuat Ai menganga terkejut.


'Yang benar saja, jiwanya dimasa lalu bermain dengan binatang buas yang bisa saja membunuhnya kapan saja. Ini sungguh gila!' Jerit Ai dalam hati


.


.


.

__ADS_1


Karena merasa bosan, akhirnya Ai memilih keluar kediaman Feng. Tentu saja ia keluar tidak sendiri, ia keluar bersama Bobo yang senang tiasa menjaganya di sampingnya.


Saat ini karena tak tahu ingin kemana, akhirnya Ai menjatuhkan pilihan mencari udara segar dibelakang kediaman Feng saja. Hutan yang berada dibelakang kediaman Feng sangat indah untuk disia-siakan, terlebih lagi tempatnya yang sepi dan juga tenang tentu saja menjadi poin utama mengapa Ai lebih memilih mencari suasana baru disana.


Kepergian Ai dari kediaman Feng tidak ada yang tahu, para pelayan ataupun pengawal bahkan tak ada yang menyadari kepergian nona mudanya. Tentu saja mereka tidak tahu. Saat ini jam makan siang, para pengawal dan pelayan tengah menurunkan kewaspadaan dan pengawasan mereka di kediaman Feng untuk beristirahat sejenak. Terlebih lagi mereka berpikir nona muda mereka tengah merajuk dan tak ingin pergi keluar karena bukan Guang yang menemaninya, alhasi mereka sama sekali tidak tahu jika nonanya kembali berubah pikiran dan keluar kediaman tanpa sepengetahuan mereka.


"Aku tidak tahu, ternyata dibalik wajah mengerikan dan membawa gertakan ketakutan yang mengetarkan hati, kau juga dapat bersikap semanis ini" kata Ai mengelus bulu lebat Bobo dengan begitu gemas.


Saat ini mereka berdua menikmati suasan hutan yang tidak jauh dari halaman belakang kediaman Feng. Saat keduanya asik menikmati semilir angin yang berhebus, Bobo yang sedari tadi berbaring di samping Ai yang duduk bawa sebuah pohon pinus sambil meluruskan kakinya kedepan seketika bangun saat pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki dari kejauhan mendekat kearah mereka.


Bobo yang merupakan serigala militer yang terlatih dengan sigap memasang posisi waspada. Wajahnya yang tenang nampak memancarkan kilatan membunuh, suara geraman dan raungan yang mengertakan siapa saja menggema di segala penjuru hutan.


Suara Bobo yang begitu keras dan nyaring membuat Ai yang sempat memejamkan mata lantas terjaga dan menatap Bobo dengan tatapan bertanya namun memasang gestur tubuh waspada.


"Bobo ada apa?" Tanya Ai pada Bobo yang terus menggeram menatap sosok pemuda dari kejauhan dengan tatapan nyalang dan waspada.


Ai yang menyadari tatapan binatang peliharaan keluarganya lantas mengikuti arah pandang Bobo yang kini tertuju pada pemuda asing yang tidak jauh dari tempat mereka.


Seketika ingatan dimana sekumpulan orang berpakaian hitam yang berusaha mencelakai dan ingin membunuh Ai berulang kali terlintas , seketika tubuh Ai menjadi lemas dan seketika ia merasakan tubuhnya menggigil ketakutan.


.


.


.


Ai yang merasa yang dirinya terancam dalam bahaya menguatkan dirinya untuk segera beranjak bangun walaupun tubuhnya kini tengah gemetar ketakutan. Kilasan - kilasan banyangan pria - pria berpakaian serba hitam dengan sebuah pedang mengkilap yang siap menebas lehernya kapan saja mulai berselewaran dalam pikirannya.


Instingnya memintanya untuk segera beranjak pergi melarikan diri dari tatapan pemuda yang menatapnya tajam penuh aura membunuh yang pengintimidasi. Walaupun jarak mereka lumayan jauh, Ai mampu merasakan aura membunuh menguar dari tubuh pemuda itu dengan begitu pekat sehingga mampu mengoyahkan setiap tulang dan persendian Ai.


Ai tak tahu, sejak kapan ia berlari dan berteriak memanggil Bobo untuk segera mengikutinya pergi dari suasana yang tiba - tiba mencekam hanya karena keberadaan sosok pemuda yang tidak jauh dari tempatnya. Naluri dan instingnya yang bergerak lebih cepat terus memaksanya pergi jauh dari tempat itu, dan satu - satunya tujuan yang paling aman untuk berlindung dari mara bahaya yang akan mengancamnya adalah kediaman kekuarganya, kediaman besar keluarga jendral Feng Holing.


Lie yang merupkan pemuda yang menatap Ai dari kejauhan dengan tatapan tajam dan membunuh seketika mengerjap saat melihat nona muda itu pergi meninggalkan tempat dengan gerakan yang sangat cepat. Lie tak menyangka, nona muda yang hendak ia dekati itu memiliki reflek yang cepat saat menyadari adanya bahaya yang akan menghampirinya.


Selain itu, Lie juga masih tak percaya dengan penglihatannya bahwa memang benar hutan dibawa kaki bukit barat memiliki siluman besar yang ternyata adalah seekor serigala putih. Lie berpikir jika rumor burung itu hanyalah opini publik untuk menakut - nakuti penduduk ibukota MingQi, siapa menyangka, disiang bolong seperti ini ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri dan lebih gila dari itu semua, siluman serigala putih itu bersama seorang nona muda cantik. Mungkinkah nona muda itu juga adalah jelmaan siluman? Jika memang ia Lie patut merasa merinding.

__ADS_1


Saat Lie masih termenung menatap tempat yang baru beberapa menit yang lalu seorang nona muda tinggalkan dengan raut wajah yang ketakutan, sebuah tangan besar tiba - tiba saja menepuk salah satu pundak Lie sehingga menyentaknya dari lamunan.


"Gege Lie, mengapa kau melamun disini?" Tegur Yong, pemuda yang berhasil menyentaknya dari lamunan.


Lie mengerjap, ia lantas menoleh kebelakang menatap Yong dengan menampilkan raut wajah 'sejak kapan kau berada disana?'


Yong yang menangkap raut wajah terkejut saudaranya lantas memutar bola matanya jengah, ia lalu menjawab pertanyaan yang ditunjukan melalui raut wajah saudaranya dengan berkata "Aku sudah disini sejak sepuluh menit yang lalu, gege saja yang tidak menyadari keberadaanku" jawab Yong


"Aku bahkan mendengar sangat jelas jika gege Lie ingin membasmi nona muda Feng, karena keberadaannya ditempat persembunyian yang mulia putra mahkota Rui yang begitu mengejutkan gege" tambah Yong yang sontak membuat saudaranya terkejut.


"Selama itu?" Tanya Lie tidak percaya


"Hm" jawab Yong dengan gumaman "yang mulia putra mahkota Rui memintaku menjemput gege, kalau - kalau gege tersesat di tengah hutan. Tapi siapa yang menyangka, gege Lie nyaris memiliki niat membunuh orang yang berjasa dalam hidup yang mulia putra mahkota Rui" tambah Yong menggeleng dramatis.


"Apa maksudmu?" Tanya Lie tidak mengerti perkataan adiknya


"Nona muda yang baru saja hendak gege Lie ingin lenyapkan adalah nona muda yang menyelamatkan kami tiga bulan yang lalu saat insiden itu"


Jawaban Yong jelas sangat mengejutkan, tubuh besar Lie seketika membeku ditempat. Ia baru saja hendak ingin membunuh orang yang tak bersalah, terlebih lagi orang yang  berhasil menyelamatkan sang pewaris sah kerajaan MingQi. Sungguh biadab sekali pemikirannya barusan, bagaimana ia bisa memikirkan hal jahat dan kejam itu terhadap nona muda yang telah menyelamatkan harapan kerajaan MingQi yang tengah dilanda kekacauan perebutan tahta yang masih hangat dibicarakan kini.


"Sudahlah, jika gege merasa bersalah dengan niat gege Lie yang hampir mencelakai nona Feng. Ada baiknya di masa mendatang ketika gege Lie melihatnya, gege Lie bisa membalas niat buruk gege Lie padanyanya dengan cara menjaganya dari marah bahaya" kata Yong yang seakan tahu sudaranya tengah merenungi dan mengoreksi dirinya dari penyesalan akan timbulnya niat buruk ingin mencelakai Ai.


"Ayo kemanor, yang mulia putra mahkota Rui sudah menunggu gege Lie sejak tadi!" Tukas Yong menarik paksa Lie dari tempatnya berpijak untuk segera beranjak menuju manor persembunyian putra mahkota Rui secepatnya, pasalnya Yong tak ingin membuat putra mahkota Rui murka menunggu lebih lama terlebih lagi suasana hati junjungannya sedang buruk hari ini. Bisa gawat jika putra mahkota Rui murka, tentu saja kemarahan junjungannya akan berimbas padanya juga.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


13 Oktober 2019


__ADS_2