Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 32


__ADS_3

Fan Hua memasuki pavilium utama kediaman Feng dengan membawa nampan berisi cemilan tambahan. Wanita cantik berusia awal 40an itu berpikir jika cemilan suaminya dan putra mahkota Rui kurang. Ia berpikir demikian dikarenakan keduanya sudah mengobrol cukup lama.


Saat ia telah melewati koridor samping yang langsung menuju taman, ia hanya melihat suaminya dan tak menemukan putra mahkota Rui.


"Dimana yang mulia putra mahkota?" Tanya Fan Hua meletakan nampan yang ia bawa di atas meja.


Jendral Holing menarik tubuh istrinya, ia memeluk istrinya erat dengan posisi dirinya masih duduk di kursi. Keduanya nampak sangat intim sehingga para pelayan yang berada disana memilih menyingkir.


Kepala jendral Holing kini sejajar dengan perut istrinya, ia mencium aroma tubuh Fan Hua dalam - dalam seraya menikmati keintiman mereka.


"Tuan apa yang anda lakukan? Jika yang mulia putra mahkota kembali, apa yang akan ia katakan nanti saat melihat posisi kita seperti ini" tegur Fan Hua berusaha melepas belitan tangan suaminya


Jendral Holing membenamkan wajahnya semakin dalam pada perut istrinya. Fan Hua jelas merasa geli dengan perbuatan jendral Holing yang tiba - tiba berubah manja.


"Tak usah khawatir. Putra mahkota Rui saat ini sedang menemui Ai'er. Dan jangan menyuruh atau memerintahkanku melepaskan pelukan ini. Biarkan aku bermanja - manja sebentar saja" jawab jendral Holing.


Fan Hua mendengus, ia mendumel dalam hati dan merutuki perkataan jendral Holing.


'Sebentar? Yang benar saja! Sebentar untuk anda adalah waktu yang sangat lama.Tunggu! Tuan mengatakan apa tadi? Yang mulia putra mahkota bertemu dengan putrinya'


Kedua bola mata Fan Hua terbelalak setelah mencerna penjelasan suaminya. Ia dengan histeris berkata "Anda membiarkannya?" Tanya Fan Hua tidak percaya.


"Tentu saja" tukas jendral Holing


"Kau tahu ia mengingatkanku dengan aku saat melamarmu dulu" Tambah jendral Holing yang semakin membenamkan kepalanya mencari kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan keduanya.


.


.


.


Disisi lain, Ai nampak sangat terkejut dengan kehadiran putra mahkota Rui. Terakhir mereka bertemu saat upacara penobatan yang berujung penangkapan para pendusta, pembohong besar dan juga para penghianat kerajaan Ming. Dan seingat Ai. Ia tak pernah di perlakukan hangat.


Sikap putra mahkota Rui sangat dingin. Namun entah mengapa ia merasa akrab dan terbiasa dengan hal itu. Mungkin sebagian gadis sebayanya akan merasa kecewa dan menyerah saat ia kembali bertemu namun diusir secara halus olehnya. Namun tidak dengan Ai. Ia bahkan merasa aneh dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia masih memikirkan pemuda yang dengan kejam dan dingin menyuruh bawahannya mengantarnya kembali pulang saat tak sengaja memasuki hutan di belakang kediaman keluarganya. Bagaimana ia bisa merindukan pemuda yang selalu membawanya dalam mara bahaya. Ai tidak tahu. Ia merasa sangat akrab dengannya dan hal itu membuat dirinya bingung dengan perasaannya sendiri.


Sebelum ia berada disini, Ai ingat. Ia menangisi nama putra mahkota Rui. Perasaan asing seperti rindu yang teramat besar, perasaan akrab seakan ia mengenal putra mahkota Rui begitu lama, juga dengan suasana ibukota MingQi yang seakan menyatu dengan dirinya seketika hadir dan membawanya pada kesedihan dan seketika cahaya terang membawanya kemari.

__ADS_1


"Nona.."


"Nona Ai.." panggil Guang untuk kesekian kalinya


Ai tersentak dari lamunannya, ia lantas menoleh menatap Guang dengan tatapan bertanya. Guang yang menangkap maksud tatapan nonanya lantas bergumam tanpa suara dengan mengatakan 'yang mulia putra mahkota sedari tadi memanggilnya'


Ai sontak terkejut dengan apa yang Guang gumamkan. Ia lantas segera membungkuk 90 derajat dan memohon maaf atas kelancangannya. Putra mahkota Rui yang melihat hal itu tersenyum amat tipis karena kelakuan Ai yang sangat menggemaskan menurutnya, senyum yang ia terbitkan diwajah tampannya amat sangat tipis hingga tak ada seorang pun yang menyadarinya.


"Bangunlah nona muda Feng, atau ah, apakah sekarang Ben Gong harus memanggilmu nyonya Ming?" Tanyanya yang membuat Ai bingung sekaligus terkejut.


"Apa maksud anda?" Tanya Ai "apakah hamba akan menikah dengan keluarga kerajaan?" Tambahnya yang langsung angguki putra mahkota Rui yang berusaha menahan senyumnya.


Seperti perkataan jendral Holing. Ai belum mengetahui pemuda yang akan di sandingkan dengannya nanti. Mungkin tidak ada salahnya ia melanjutkan aksi dengan bermain - main dengan Ai yang nampak sangat cantik dan menggemaskan di matanya. Pantas saja, dulu pangeran Rong langsung jatuh cinta dengan wanitanya.


"Tentu saja, anda akan menikah dengan keluarga kerajaan" jawab putra mahkota Rui yang membuat Ai berpikir amat keras.


Siapa yang akan bersanding dengannya? Jika putra mahkota Rui baru saja menyebutnya nyonya Ming. Maka hanya ada 3 kemungkinan kandidat mempelai pengantin prianya. Pertama putra mahkota Rui, kedua pangeran Yan dan ketiga...


Ai lantas menggeleng. Tidak mungkin bukan jika anugerah pernikahan yang di terimanya untuk di jadikan selir kaisar Wei yang entah sudah keberapa. Ai mengenyahkan pikirannya itu. Mungkin ada baiknya jika ia bertanya pada putra mahkota Rui untuk menghilangkan pikiran buruknya.


Putra mahkota Rui menyeringai. Ia lalu berkata "Ben Gong tidak bisa memberi tahu nona muda Feng dengan siapa nona muda Feng menikah. Itu bukanlah sebuah kejutan jika Ben Gong memberitahu nona muda Feng" jawab putra mahkota Rui yang langsung membuat Ai merasa kecewa dengan pemikirannya jika putra mahkota Rui akan menjawab pertanyaannya.


"Tapi jika nona muda Feng penasaran, nona muda Feng hanya perlu menikah dengannya jika ingin mengetahui jawabannya"


.


.


.


Perkataan putra mahkota Rui terus saja berputar dalam pikirannya. Jujur saja gadis yang telah memasuki usia pantas menikah di masa lalu itu terus saja kepikiran dengan perkataan putra mahkota Rui, sehingga tak terasa hari - hari telah berlalu begitu cepat.


Feng Ru Ai adalah gadis yang tengah menatap langit - langit kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk. Ia terus memikirkan dengan rasa penasaran siapa pria ataupun pemuda yang akan ia nikahi.


Saat ia hendak menanyakan hal tersebut kepada kedua orang tuanya. Baik ayahnya, ibunya atau pun gegenya seakan menghindar darinya. Entah itu karena memang sibuk akhir - akhir ini, atau mereka hanya sedang berpura - pura menyibukan diri sehingga pertanyaan itu tak pernah ia lontarkan dan jawaban akan sosok yang akan ia nikahi tetap menjadi teka teki yang semakin hari membuatnya semakin penasaran.


Ai lantas bangun dan mendudukan dirinya di atas peraduan. Sedari tadi ia hanya menyibukan diri dengan rebahan dan mempelototi langit - langit kamarnya. Otaknya sedari tadi bekerja cukup keras saat memikirkan mengenai sosok pengantin prianya. Merasa pusing dengan hal itu akhirnya Ai memilih bangun.

__ADS_1


Ai mendesah nafas berat. Hari ini adalah hari kelima setelah kedatangan putra mahkota Rui yang meninggalkan tanda tanya besar di benaknya. Hanya tinggal sehari lagi. Hari pernikahannya di selenggarakan dan hal itu semakin hari membuat Ai terus kepikiran.


"Kakak Guang.. aku tidak mungkin menikah dengan yang mulia kaisar Wei bukan?" Tanya Ai pada Guang yang sedari tadi menemaninya di dalam kamarnya.


Hari ini hanya ada Guang. Di Yu sedang menemani Qiang di kantor urusan kemiliteran. Akhir - akhir ini pengawalnya yang satu itu terus menerus mengikuti gegenya. Hal itu tentu saja karena permintan dan perintah Qiang langsung. Sedangkan Di Yu menerima semuanya dan memilih menuruti dan mengikuti Qiang kemanapun ia pergi. Maklum saja, Di Yu memiliki sikap bebas. Ia sangat muda bosan hanya untuk tinggal di satu tempat. Maka dari itu, ketika gegenya mengajaknya keluar. Ia dengan semangat pergi setelah mendapat izin darinya.


Berbanding terbalik dengan Guang. Ia bukan tipe pria yang suka keluyuran seperti Di Yu. Ia cenderung pendiam juga sangat penurut. Menurutnya berdiam diri di kediaman Feng lebih menyenangkan di banding mengelilingi ibukota MingQi bersama Qiang yang akhirnya membuatnya lelah. Kadang Ai selalu bertanya, apakah ia tidak bosan terus berada di kediaman Feng? Jika itu adalah ia, dapat dipastikan jika Ai pasti sudah kabur tanpa izin kedua orang tuanya ketika tak mampu lagi menahan rasa bosan yang seakan - akan membunuhnya ketika ia hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun.


"Pengawal ini tidak yakin" jawab Guang pada akhirnya.


Seharusnya Ai tahu jika pada akhirnya Guang akan menjawab hal itu. Tidak ada alasan untuk Guang menjawab 'tidak'. Kemungkinan ia akan menikah dengan kaisar Wei atau dengan putranya terlalu besar. Empat puluh persen kemungkinan ia menikah dengan kaisar Wei, tiga puluh persen kemungkinan ia menikah dengan putra mahkota Rui dan tiga puluh persen lagi kemungkinan untuk menikah dengan pangeran Yan. Diantara ketiga kandidat itu, Ai berharap jika dia adalah putra mahkota Rui. Setidaknya ia sudah memiliki perasaan mendalam dengan pemuda itu. Masalah saling mencintai atau tidak, biarlah menjadi urusan nanti. Setidaknya ia akan berusaha memperjuangkan perasaannya. Namun jika itu bukan putra mahkota Rui, Ai tak yakin jika dirinya bisa ataupun mampu menerima kenyataan dengan muda.


"Nona"


Panggilan Guang berhasil menarik perhatian Ai sepenuhnya. Guang yang tahu jika nona mudanya sedang dalam suasana hati buruk ingin membantu mengembalikan suasana hati nonanya.


"Apakah anda tak ingin kesuatu tempat? Pengawal ini akan menemani anda, kemanapun anda ingin pergi" kata Guang berusaha mengajak nonanya untuk keluar dan mencari udara segar seraya berharap itu dapat membantu mengembalikan suasana hatinya.


Ai lantas menggeleng. Ia tak ingin pergi kemanapun. Tubuh dan pikirannya cukup lelah, ia sangat lelah memikirkan sosok pengantin prianya yang masih menjadi teka teki besar untuknya. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah istirahat. Ia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya dari semua ini.


"Mengucapkan terima kasih atas pengertian kakak Guang. Tapi hari ini aku tak ingin pergi kemana pun. Aku hanya akan tinggal dikamarku dan beristirahat. Kakak Guang dapat keluar dan beristirahat juga" balas Ai yang di maklumi Guang.


Guang sadar. Selain mencari udara segar untuk menghibur diri dari masalah yang menerjang. Kadang kita juga butuh waktu sendiri untuk istirahat.


.


.


.


.


.


TBC


25 Desember 2019

__ADS_1


__ADS_2