
"Mengapa kau lama sekali?" Tegur putra mahkota Rui saat melihat sahabatnya baru saja memasuki ruang kerjanya dengan raut wajah yang sulit untuk putra mahkota Rui artikan.
"Dia.., di- a.. dia nona muda yang selama ini kita cari" kata Yong terbata.
"Apa maksudmu?" Tanya putra mahkota Rui tidak mengerti dengan ucapan sahabatnya yang sangat membingungkan.
"Dia nona muda yang selama ini kita cari!" Tekan Yong sangat jelas tertangkap di telinga putra mahkota Rui.
"Dia nona muda yang menolong kita dari mara bahaya beberapa bulan yang lalu. Dia adalah putri bungsu jendral besar Feng Hongli yang seharusnya kita lindungi dari para penjahat sejak kejadian dimana dia menyelamatkan kita saat pesta penyambutan dan penghargaan untuk para petinggi militer yang berhasil memenangkan perbatasan selatan melawan kerajaan YongXi" jelas Yong tanpa jeda
Putra mahkota Rui tertengun, jantungnya seakan berhenti berdetak saat ini juga. Penjelasan Yong sangat mengejutkan, hal itulah yang membuat putra mahkota Rui sulit percaya jika takdir mempertemukan mereka dengan mudah.
Nona muda yang menyelamatkan nyawanya ternyata begitu dekat dengannya, nona muda yang tak ia ketahui namanya namun telah terukir dengan jelas wajah ayu dan cantiknya dalam hati dan setiap ingatan dalam memori yang ia simpan ternyata sangat dekat dengannya tanpa ia sadari.
Nona muda yang berhasil mencuri perhatiannya, nona muda yang berhasil memenuhi segala pikirannya sejak beberapa bulan yang lalu semenjak ia dikabarkan menghilang tanpa jejak, nyatanya hanya berjarak beberapa meter dari tempat persembunyiannya. Mengapa mereka begitu bodoh mencari keseluruh tempat yang jauh, padahal nyatanya mereka hanya terpisah jarak beberapa meter. Keberadaannya sangat dekat, namun mereka tak pernah berpikir mencari keberadaannya di tempat terdekat dengan wilayah mereka.
Pantas saja ia merasa femiliar dan tidak asing dengan nona muda tersebut, karena nyatanya ialah nona muda sang dewi penyelamat yang selama ini mereka cari.
"Lalu rencana apa yang akan anda ambil yang mulia? Saat perjalanan pulang kemari, aku mendapat kabar jika jendral Holing menemui yang mulia kaisar untuk meminta bantuan untuk keselamatan nona muda Feng sebagai saksi mata yang menyaksikan kejadian beberapa bulan yang lalu" tambah Yong yang membuat putra mahkota Rui langsung meliriknya cepat.
"Biarkan saja, dengan ayah yang juga turun tangan melindungi nona muda Feng, itu berarti akan semakin kecil cela mereka untuk mencelakai nona muda Feng" jawab putra mahkota Rui
"Lalu bagaimana dengan keberadaan kita? Kita sudah sejauh ini bertahan dan bersembunyi demi mengumpulkan bukti - bukti kejahatan mereka. Apakah semua ini akan berakhir sia - sia dengan ikut campurnya yang mulia kaisar?" Tanya Yong putus asa saat membayangkan usaha mereka akan berujung kesia-siaan.
"Kau tak usah khawatir, selama nona muda Feng bungkam tentang pertemuan tak terduga kita hari ini, tidak akan ada yang tahu keberadaan kita. Buktinya bahkan sudah berbulan - bulan waktu berlalu, tapi pihak kerajaan belum mampu menemukan keberadaan kita. Status kita masih dinyatakan hilang, dan bisa saja seiring berjalannya waktu keberadaan kita mulai terkikis dengan peraduga banyak orang bahwa kita telah tiada" jeda putra mahkota Rui mengambil nafas "dengan kabar bahwa kita telah tiada, bukankah akan sangat menguntungkan kita menangkap para pengkhianat yang ingin menggulingkan ayahanda dan merebut tahta Ben gong? Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat, sebelum menjalankan rencana melempar satu batu dan merobohkan dua musuh sekaligus" tambah putra mahkota Rui tak lupa menyeringai kejam.
"Semoga apa yang anda katakan benar terjadi" balas Yong dengan raut wajah sedikit lega.
"Ah, sebelum kau pergi, Ben gong ingin memintamu mencari informasi mengenai putri bungsu jendral Holing, Ben gong begitu penasaran dengan nona muda Feng" kata putra mahkota Rui tanpa diduga-duga membuat sahabatnya Yong melongo tidak percaya.
Bagaimana bisa disituasi rumit yang mereka hadapi ini, sahabatnya bisa memikirkan rasa ketertarikan pada seorang nona muda? Sangat sulit untuk Yong percaya bahwa pemuda ajaib yang seusia dengannya itu adalah sahabat sekaligus junjungannya.
.
__ADS_1
.
.
Sepeninggalan pemuda yang mengantarnya pulang ke kediaman keluarga Feng, Ai hanya terus menunduk dan memperhatikan jalanan setapak yang ia lalui.
Pikirannya saat ini berkecamuk dan berkelana entah kemana. Apa yang ia alami begitu rumit dan memusingkan. Ia butuh sebuah pegangan, ia butuh sebuah sandaran. Bebannya kali ini begitu berat, Ai tak mampu menanggungnya sendiri. Ia butuh teman yang mampu membantunya dan memberinya solusi keluar dari kebuntuan yang ia hadapi, ia butuh seseorang yang mampu menemaninya keluar dari tempat yang asing dan tidak ia ketahui kini.
Tapi siapa yang akan membantunya, menolongnya, membimbing ataupun menemaninya? Selamanya Ai hanya sendiri. Sendiri melawan sakit, sendiri melawan lelah, sendiri melawan keputus asaan, sendiri bangkit dari keterpurukan dan penderitaan yang berkepanjangan.
Hidupnya selalu suram, hanya ada kegelapan yang selalu menemani langkahnya. Tidak ada seorang pun yang membantunya dapat lepas, kecuali dengan ia berusaha sendiri mencari jawaban tanpa harus menunggu keajaiban yang belum pasti datang untuk kedua kalinya.
Sayang, walaupun Ai bertekat mencari jawaban atas keberadaannya di tempat asing yang terasa akrab di hatinya, ia juga butuh sebuah petujuk agar memudahkan ia mencari alasan mengapa keberadaannya bisa terlempar dimasa dan waktu yang tidak ia ketahui.
Saat Ai berusaha memikirkan dimana ia akan mendapat petunjuk, langkahnya tiba - tiba berhenti saat jalan setapak yang ia lalu kini berubah menjadi gelap. Ai lantas mendongak dan mengangkat wajahnya, ia menatap pemandangan halaman belakang kediaman keluarga Feng yang asri perlahan ditutupi oleh suatu benda berwarna hitam yang seakan - akan mengurung Ai didalam ruangan gelap tersebut.
Ai berlari dengan panik, ia meraba sekitarnya karena dalam ruangan tersebut sama sekali tak ada satupun pencahayaan. Ai dengan hati - hati melangkah cepat dengan tangan terulur kedepan untuk mengantisipasi jika saja ia menabrak sesuatu di hadapannya.
Tubuhnya bergetar hebat, tangisnya seketika pecah ketika menghadapi keputusasaan. Ai tak tahu, kesalahan apa yang pernah ia buat dimasa lalu atau dimasanya, mengapa masalah yang rumit dan membingungkan selalu saja menghampirinya?
Ai terduduk lemas diatas permukaan lantai yang gelap, ia menekuk kedua lutut dan memeluknya erat. Wajahnya yang sembab ia benamkan disela - sela pelukannya. Saat ini ia sendiri. Sendiri dalam ruangan gelap dan perasaan yang amat ketakutan.
Apakah ia akan terjebak diruangan gelap dan hampa itu sendirian? Apakah selama ini kesendiriannya dimasa depan belum cukup sehingga takdir kembali membuatnya sendiri dalam ruangan gelap, hampa dan memberi getaran ketakutan padanya? Jika hidupnya akan sangat hampa dan semenyedihkan ini, mengapa sejak awal Ai harus hidup didunia?
Pikiran dan pertanyaan - pertanyaan itu terus berputar dalam kepala Ai yang seperti kaset rusak. Tubuhnya yang bergetar hebat perlahan mulai berhenti, namun tidak dengan tangisnya. Isakan Ai terhenti sesaat ketika tiba - tiba suara dibalik kegelapan menggema.
"Mengapa kau menangis?"
Ai mendongak dan mengangkat wajahnya, ia baru saja mendengar seseorang bertanya padanya namun yang Ai dapatkan hanyalah kegelapan yang menyelimuti sekitarnya.
"Si..apa disana?" Tanya Ai dengan suara serak.
"Kau tidak perlu mengetahuiku, keberadaanku disini bersamamu hanya sebentar" jawabnya.
__ADS_1
"Mengapa?" Tanya Ai
"Mengapa kau hanya menemaniku sebentar? Tidak bisakah kau menemaniku dalam waktu yang lama? A-ku, aku benci dan takut sendirian" aku Ai menyeka air matanya.
"Aku tidak bisa menemanimu dalam waktu yang lama, sebab kita berada didunia dan dimensi yang berbeda. Singkatnya aku tidak memiliki wujud seperti kalian" jelasnya
"Keberadaanku disini hanya untuk memberitahumu alasan mengapa kau bisa terlempar di dinasti Ming kerajaan MingQi. Mungkin kau bingung Ai, tapi kau memang sudah ditakdirkan berada disini. Hidupmu sepenuhnya disini, didinasti Ming, di kerajaan MingQi dan dikeluarga terhormat dan terpandang Feng.
Tidak ada alasan khusus keberadaanmu disini, karena pada kenyataannya hatimu lebih memilih kembali kemasa lalu dibanding dimasamu sebenarnya seharusnya berada.
Hatimu sendiri yang meminta dibawa kemasa lalu, hatimu sendiri yang meminta untuk kembali ditakdirkan menginjak tanah yang sangat sulit kau lupakan dalam ingatan sebelum jiwamu berengkarnasi di kehidupan selanjutnya.
Kau sendiri yang meminta kembali kemari, maka dari itu, aku mengabulkan permintaanmu. Permintaan yang sangat sulit dan bersyarat bahwa ketika kau kembali maka tidak ada lagi jalan bagimu untuk pulang kemasa depan. Ini adalah konsekuensi dari keinginan terbesar yang terpendam dalam hatimu.
Sekarang inilah kehidupanmu sesungguhnya, nikmatilah kehidupanmu sekarang karena kau sudah tidak memiliki pilihan selain menikmati kententuan hati dan takdirmu. Tenang saja, aku akan memberimu sebagian dari ingatan masa lalumu. Mungkin akan sangat sakit, tapi percayalah, ingatanmu ini akan membantumu menjalani hidupmu dimasa - masa yang akan datang" jelasnya panjang lebar.
Ai tidak tahu harus berkata apa, ia begitu terkejut dengan fakta yang ia dengar. Saat ia hendak ingin mengajukan protes ketidak relaannya terjebak dimasa lalu, sebuah cahaya terang lebih dulu merenggut kesadarannya.
Cahaya itu berusaha menerobos memasuki tubuh mungilnya, rasa panas, sakit dan perih tak terbantahkan yang Ai rasakan. Tak kuasa menahan sakit, Ai pun menjerit kesakitan dan setelahnya, gelap dan dingin mulai menyapanya.
.
.
.
.
.
TBC
10 Oktober 2019
__ADS_1