Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 7


__ADS_3

"Kau kembali kemasa lalu karena keinginan terbesar hatimu sendiri"


Kalimat itu terus terngiang - ngiang dan terus berputar seperti kaset rusak dalam pikirannya, kalimat itu terus saja mengganggu dan mengusik tidur lelapnya.


Ia tak tahu, keinginan terbesar dalam hidupnya adalah kembali mengulang kehidupan di masalalu dimana jiwa rengkarnasi dan hatinya masih sulit melupakan setiap kenangan yang terekam dan tersimpan dengan begitu apik dalam memori ingatannya sebelum ia kembali hidup dikehidupan selanjutnya.


Ai tak tahu, mengapa keinginan terbesarnya adalah hidup kembali dimasa yang beratus - ratus tahun telah berlalu, dibandingkan hidup dimasa depan dimana semua yang ia inginkan akan selalu ia dapatkan kecuali kebahagiaan dan kasih sayang dari keluarganya.


Dalam tidurnya Ai terus memikirkan apa alasan khusus ia begitu ingin berada dimasa lalu, walaupun takdir sudah mengatakan tak ada alasan khusus keberadaannya kembali di dinasti Ming kerajaan MingQi. Namun tetap saja Ai sangat sulit menerima kenyataan bahwa keberadaannya disini murni karena keinginannya sendiri.


Ingatan masa lalu yang diberikan sang penguasa dimensi, ruang dan waktu sama sekali tak membantu banyak. Ia hanya mengingat ingatan-ingatan dasar seperti nama kekuarga, tempat yang pernah ia kunjungi, sekolah tempat ia menimba ilmu, orang - orang yang pernah ia temui, kejadian - kejadian yang tidak begitu penting yang pernah ia lalui.


Hanya saja di antara banyaknya ingatan yang ia miliki, hanya satu ingatan yang Ai rasa sangat tak asing. Di ingatannya, ia pernah menyaksikan sebuah kejahatan yang mana pada akhirnya ia berhasil membantu orang tersebut selamat, namun setelah semua itu, perlahan hidupnya yang tenang mulai berubah sejak ia menyelamatkan orang tersebut.


Kehidupan Ai selalu dibayangi oleh orang - orang yang ingin mencelakai dan membahayakan nyawanya, entah karena alasan apa, yang Ai tahu mungkin itu semua ada hubungannya dengan orang yang pernah ia selamatkan.


Merasa bahwa melanjutkan tidur akan berakhir percuma dengan pikiran yang terus berkecamuk dalam kepala yang terus mengusik dan mengusir lelahnya secara paksa, Ai memilih bangun dan mendudukan dirinya di atas peraduan tak lupa memberi bantal di belakang punggungnya agar ia mampu bersandar di kepala peraduannya.


Ai menatap sekelilingnya, nuansa kayu yang bercampur ukiran - ukiran rumit khas perumahan tradisional jaman dahulu sangat kental dan terasa sangat hidup di kamar yang kini telah resmi menjadi miliknya.


Walaupun sangat berbeda jauh dengan kamarnya yang dua kali lebih besar di masa depan, Ai tak mampu menyuarakan ketidak sukaannya karena hal tersebut. Sebab kini ia bukan lagi Feng Ru Ai di masa depan dengan segala kemewahan yang ia miliki, melainkan kini ia telah menjadi Feng Ru Ai di masa lalu, putri dari seorang jendral besar yang dihormati dan di segani.


Mungkin akan sulit beradaptasi dengan suasana masalalu yang masih begitu kental dengan budaya dan peraturannya yang ketat, namun Ai tidak memiliki pilihan lain selain menerima takdir dan keinginan terbesar hatinya yang menjebaknya dimasa lalu untuk selama - lamanya.


.


.


.

__ADS_1


Seorang wanita awal usia 40an yang masih nampak cantik dengan balutan baju kebesaran seorang permaisuri terus saja hilir mudik di depan seorang pemuda berusia 24 tahun yang mulai nampak jengah menyaksikan wanita yang melahirkannya terus mondar mandir dihadapannya.


"Ibu, tidak bisakah ibunda tenang?" Tanya pemuda itu


"Bagaimana ibunda bisa tenang? Pembunuh bayaran itu sama sekali tidak becus menjalankan tugas dan perintah Ben gong!" Geram permaisuri kedua Mu Li Lien


Pemuda yang duduk dihadapannya menampilkan raut wajah tenang, ia tahu apa yang membuat ibundanya begitu sangat marah dan ketakutan disaat yang bersamaan. Semua itu tidak jauh dari masalah adiknya, putra mahkota Rui yang sampai saat ini identitasnya masih di pertanyakan.


Tiga bulan telah berlalu semenjak insiden penculikan dan pembunuhan yang direncanakan oleh ibundanya, selama tiga bulan itu pula adiknya itu dinyatakan hilang tepat saat malam pesta jamuan dan penyambutan untuk para petinggi perang dan prajurit yang menenangkan wilayah selatan setelah memperebutkan tanah yang akan memperluas wilayah kerajaan yang dimenangkan kerajaan MingQi.


Ayahandanya terus mencari putra kebanggaan yang selalu ia eluh-eluhkan dan terlalu ia manjakan karena kondisi fisiknya yang lemah dibanding dirinya pangeran pertama Ming Shi Rong ataupun adik keduanya, pangeran kedua Ming Wen Yan.


Kaisar Wei memperlakukan putra mahkota Rui berbeda dari mereka karena fisiknya yang lemah, selain itu putra mahkota Rui merupakan buah cinta kaisar Wei dengan permaisuri pertama, mendiang permaisuri Hua Ning Yue yang sampai kapanpun tak mampu terhapus atau tergantikan dihati kaisar Wei.


Sebagai anak pertama yang lahir dari permaisuri kedua, pangeran Rong jelas merasa cemburu dan juga iri dengan kasih sayang yang di dapatkan putra mahkota Rui yang sangat berbeda dengan kasih sayang yang ia dapatkan dari kaisar Wei.


Namun sekarang pangeran Rong tidak peduli lagi dengan kasih sayang kaisar Wei yang nampak membeda - bedakan mereka. Sebab saat ini pangeran Rong hanya ingin fokus dengan perebutan kursi tahta kekaisaran terlebih lagi saat ini sang pewaris sah masih diragukan keselamatannya. Entah ia masih bernyawa atau kini sudah tinggal tulang belulangnya saja.


"Biarpun demikian, para pembunuh itu juga tak berhasil melenyapkan nona muda kediaman Feng!" Bantah permaisuri Lien.


"Untuk apa kita melenyapkan nona muda kediaman Feng, nona muda kediaman Feng bahkan terlalu polos untuk memasuki urusan kita. Biarkan saja nona muda Feng tetap hidup, akan lebih baik jika kita membiarkan bunga itu terus berkembang" jeda pangeran Rong menerawang " ia akan sangat membantu dan berguna dimasa depan jika terjadi pernikahan yang akan menguatkan posisi Ben Wang karena kedudukan keluarganya" tambah pangeran Rong yang langsung membuat permaisuri Lien yang sedari tadi mondar mandir berhenti tepat dihadapan putranya dengan tatapan memincing curiga.


"Jangan katakan jika kau ingin memanfaatkan keluarga Feng untuk memuluskan perebutan tahta yang terjadi dalam istana?" Tebak permaisuri Lien


"Mengapa tidak?" Tanya pangeran Rong tersenyum penuh makna.


.


.

__ADS_1


.


Yong baru saja kembali kemanor putra mahkota Rui ketika malam sudah beranjak semakin larut. Ujung pakaiannya tersapu tertiup angin malam yang berhembus kian kencang. Pepohonan yang rindang bergoyang seiring dengan berjatuhannya dedaunan yang dihempas angin dengan paksa dari cabang dan dahannya.


Raut wajah Yong nampak sangat lelah, setelah seharian ia mencari informasi baik dari dalam istana ataupun informasi diluar istana yang beredar dikhalayak ramai para penduduk.


Yong bisa saja memerintahkan para prajurit khusus yang merupakan abdi setia yang dilatih khusus olehnya dan putra mahkota Rui untuk mengantikan tugasnya, sayang informasi yang ia cari semuanya jelas mengenai nona penyelamat hidup mereka tiga bulan yang lalu, dan ini merupakan tugas yang amat sangat penting.


Selain itu, hari ini Yong juga harus bertemu dengan saudaranya secara diam - diam guna saling menukar informasi mengenai kekacauan yang terjadi didalam istana. Siapa lagi yang Yong temui jika bukan tangan kanan berhati dingin kaisar Wei, Kong Wen Lie.


"Semua ini adalah informasi pribadi nona Feng Ru Ai yang anda butuhkan yang mulia" kata Yong menyerahkan beberapa buku informasi yang ia salin dari pemerintahan bagian publik sampai pada bagian arsip yang dirahasiakan pemerintah dan negara.


"Kau yang terbaik Yong" puji putra mahkota Rui saat membuka tiga buku tebal dihadapannya secara acak.


"Sudahlah, kau tak usah memujiku. Saat ini aku hanya butuh istirahat dan tak ingin di ganggu sebagai tanda terima kasih atas kerja kerasku hari ini" balas Yong mendudukan dirinya di kursi yang ada di tengah ruangan, ia tak lupa menaruh kepalanya di atas meja sambil memejamkan mata yang mulai semakin memberat.


Saat Yong baru saja akan bergabung dengan alam bawa sadarnya, putra mahkota Rui dengan seenaknya mengganggu dan mengusik tidurnya dan berkata "kau masih hutang beberapa penjelasan mengenai informasi yang terjadi di istana Yong!" Kata putra mahkota Rui memperingati.


Seketika Yong mengumpat dan memaki dalam hati. Yong benci sahabatnya yang terlalu teliti dan tidak sabaran seperti putra mahkota Rui yang bahkan tak memberinya jeda untuk istirahat bareng sejenak.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


11 Oktober 2019


__ADS_2