Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 30


__ADS_3

**Author note : Seharusnya Bab 30 ini menjadi bab 35, hanya saja 5 Bab sebelum bab ini tidak saya publish baik disini ataupun di lapak sebelah 🙏 saya sudah usahakan bab sebelumnya dan bab ini tetap nyambung walaupun ada 5 bab yang terlewati.


5 Bab sebelum bab ini hanya ada dalam versi ebooknya beserta 5 extra bab-nya. Iya cerita ini udah dilirik penerbit, tapi saya tetap publish disini, kenapa? karena saya pengen cerita saya dinikmati banyak orang 🤭. Finally, happy reading and don't forget to VoMent ❤**


.


Pangeran Rong berhasil di tangkap dengan para orang - orang yang membantunya melarikan diri. Penangkapan pangeran Rong terjadi di kediaman keluarga militer Feng dan hal itu menggemparkan seluruh penduduk ibukota MingQi. Bahkan sebelum matahari naik, para penduduk berkumpul dan mulai memperbincangkan isu serta rumor yang beredar entah dari mana.


Tidak ada yang tahu mengenai rincian kejadiannya. Para penduduk hanya mendengar jika pangeran Rong berhasil di tangkap setelah berusaha ingin menculik putri jendral Holing. Dan untungnya berhasil di cega dengan penangkapan mereka. Selain itu kabar mengejutkan lainnya adalah sarjanawan Yu Su kini di asingkan karena membantu buronan dalam hal finansial, serta perumah pelacuran Qujin di kabarkan rata dengan tanah dini hari. Tidak ada yang tau siapa dalang dari perbuatan itu. Tapi saat mendengar bahwa orang - orang dari pelacuran Qujin yang membantu pelarian pangeran Rong sudah membuat para penduduk paham jika perbuatan itu dilakukan oleh orang - orang istana.


"Inilah resiko yang mereka hadapi jika membantu orang jahat. Pada akhirnya mereka akan mendapat ganjaran yang sama" kata seorang nyonya masih dengan balutan pakaian dalaman yang ia lapisi dengan sebuah mantel.


"Entah bagaimana nasib para ******* yang bekerja disana, yang jelas dengan tidak adanya tempat itu. Pria di sampingku ini tak akan lagi bisa bermain di tempat itu" sahut nyonya lainnya yang tak lupa menyindir suaminya yang tepat berdiri disampingnya.


Disisi lain, tepatnya di aula utama istana MingQi. Para penghuni istana digemparkan dengan keputusan kaisar Wei yang menjatuhankan pelaksanaan hukuman hari ini juga. Keputusan mutlaknya tak mampu di ganggu gugat. Hal itu sangat wajar di mata para pejabat. Sebab kasus melarikan diri pangeran Rong membuat penguasa MingQi itu tak ingin mengambil masalah apa lagi resiko jika pangeran Rong atau permaisuri Lien berusaha kabur dari penjara bawah tanah.


Akhirnya ketika matahari terbit, para penghuni kerajaan mulai disibukan dengan persiapan hukuman yang sangat tiba - tiba dan akan segera di laksanakan di depan gerbang pintu masuk istana. Para algojo bahkan telah bersiap dengan pakaian hitam yang melekat pada tubuh mereka serta dengan pedang besar, panjang dan mengkilat yang terus saja mereka asa selama menanti waktu penghukuman.


Suara gendang ditabuh dan dipukul hingga menghasilkan suara yang bertalu - talu. Pintu gerbang utama istana akhirnya terbuka dengan lebar. Beberapa prajurit mengawal pangeran Rong, permaisuri Lien, Muan, Menejer Chong, Chenyu dan pejabat yang membantu permaisuri Lien selama ini beserta keluargnya menuju tempat eksekusi.


Walaupun matahari baru saja menampakan dirinya, para penduduk MingQi tak ingin ketinggalan menyaksikan dan menonton tontonan yang menarik juga sangat mengerikan itu. Saat semua tersangka telah menempati posisi mereka masing - masing. Para algojo mulai meminum anggur merah dan mengelilingi mereka, setelah mengelilingi mereka beberapa kali. Mereka menyemburkan anggur merah yang mereka tampung di dalam mulut mereka pada pedang panjang, mengkilat dan dengan ukuran besar milik mereka sebelum mengayunkan pedang mereka dan...


Crass!


Crass!


Crass!


Kepala mereka pun terpisah dari tubuh mereka dalam sekejap. Darah terus mengalir dan merembes keluar sehingga tubuh mereka yang hanya di balut pakaian tahanan yang di dominasi warna putri ternodai dengan warna merah darah.


Menyaksikan hal itu yang hanya berlangsung beberapa detik membuat beberapa orang terkejut, menjerit atau bahkan ada di antara mereka merasa mual dan tidak sadarkan diri. Walaupun demikian, kerumunan penduduk MingQi yang menyaksikan hal itu tak kunjung surut. Padahal penjatuhan hukuman mati kepada mereka telah selesai.


.

__ADS_1


.


.


Disisi lain, tepatnya di kediaman Feng. Ai menatap pavilium miliknya dengan tatapan tabjuk. Bagaimana bisa kamarnya sangat bersih padahal seingatnya semalam, di kamarnya ini tengah terjadi pertarungan sengit bahkan seingatnya Di Yu mengatakan jika pintu kamarnya rusak dan patah. Tapi nyatanya, apa yang ia lihat sama seperti terakhir kali ia tinggalkan.


Saat pertarungan itu terjadi, keluarganya harus mengungsi dan menginap semalam di sebuah pinginapan yang ada di ibukota. Sehingga Ai tak tahu bagaimana pertarungan itu terjadi dan berakhir. Ia beserta keluarganya hanya mendengar cerita dari laporan yang Di Yu sampaikan. Sebab hanya Di Yu yang tinggal di kediaman Feng selama mereka pergi memgungsi untuk kelangsungan rencana putra mahkota Rui yang meminta kerja sama dengan mereka.


"Kakak Di Yu, kau pasti berbohong bukan? Kediamanku bahkan tidak hancur dan berantakan seperti yang kau ceritakan" kata Ai


"Hamba tidak berbohong nona muda, kediaman anda memang seperti yang hamba ceritakan. Mungkin setelah pertempuran yang meninggalkan kekacauan itu, yang mulia putra mahkota Rui meminta bawahannya membersihkannya" bela Di Yu


Mendengar nama pemuda yang membuatnya menangis merasakan rindu hingga terbawa ke masa lalu. Seketika Ai merasa sangat ingin bertemu dengannya. Ai menatap langit pagi yang nampak cerah, ia lantas bergumam "aku merindukannya!"


Baru saja Ai mengatakan bahwa ia merindukan putra mahkota Rui, seketika Guan berlari menghampirinya dengan keringat bercucuran. Ai mengernyitkan keningnya bingung saat melihat kedatangan pengawalnya itu, ia lantas bertanya " Kakak Guan, ada apa?"


Dengan terengah Guan menjawab "seorang utusan kerajaan datang ke kediaman dan mengumumkan Titah yang mulia kaisar Wei yang memberi nona muda anugerah pernikahan!" Kata Guan tanpa jeda.


.


.


.


Utusan kerajaan yang mendatangi keluarga militer Feng dan menyampaikan sebuah dikrit pernikahan untuk putri jendral Holing kembali mengemparkan ibukota MingQi. Para penduduk mulai berlomba - lomba mencari informasi mengenai hal tersebut, terlebih rasa penasaran mereka dengan sosok yang akan disandingkan dengan Feng Ru Ai membuat mereka sangat gencar dan semangat mencari informasi tersebut.


Kecantikan dan keterampilan bela diri Feng Ru Ai masih membekas pada ingatan para penduduk ibukota MingQi. Juga bagaimana tegas dan sayangnya jendral Holing pada putrinya di saat ia bahkan membuat masalah antara putrinya dan para nona muda putri para pejabat berlarut - larut dalam masalah yang mereka ciptakan.


Bagi penduduk MingQi, pemuda yang akan bersanding dengan Feng Ru Ai melalui dikrit pernikahan jelas merupakan pemuda yang sangat beruntung. Ia bahkan tak perlu bersusah payah melawan dan bersaing dengan para pemuda lain yang hendak maju melamar nona Feng Ru Ai. Ini sungguh sebuah kemudahan yang membawa berkat.


Disaat para penduduk MingQi terus menerka dan menebak siapa pemuda yang akan bersanding dengan Feng Ru Ai. Disisi lain, tepatnya di kediaman Feng. Jendral Holing menerima gulungan surat resmi dari kaisar Wei mengenai anugerah pernikahan putrinya dengan tangan gemetar.


Jendral Holing tidak merasa takut. Ia juga tidak merasa gugup saat menerima dikrit itu. Tapi jendral Holing gemetar karena marah. Ia marah dengan keputusan kaisar Wei yang seenaknya menentukan pernikahan putrinya. Ia marah dengan keputusan dan datangnya perintah yang secara tiba - tiba, dan ia marah pada dirinya sendiri karena tak mampu berbuat apa - apa.

__ADS_1


Menentang titah kaisar sama dengan pemberontakan dan penghianatan. Selama ini keluarga Feng mengabdi dengan sumpah setia dari generasi kegenerasi. Tak ada sejarah buruk satu pun mengenai keluarga Feng. Mereka semua bersih dari masalah apapun. Namun saat jendral Holing memegang dikrit itu. Ada pancaran amarah besar di kilatan kedua matanya. Ada perasaan hendak menolak dan memberontak akan keputusan sepihak kaisar Wei yang muncul secara tiba - tiba pada dirinya.


Selama ini jendral Holing begitu menjaga putrinya, ia sangat menyayangi putrinya melebihi apapun. Ia yang membesarkan dan menafkahi putrinya. Lantas mengapa pihak kerajaan begitu ingin campur tangan dengan masalah pernikahan putrinya padahal disini ialah orang tua yang membesarkan Bao-yu (mutiara berharga) nya.


Jendral Holing hanya ingin putrinya menikah dengan pemuda yang mencintainya. Pemuda yang bahkan tak akan pernah mengambil selir ataupun pelayan yang melayani tuannya di atas peraduan. Ia hanya ingin putrinya menjadi satu - satunya wanita terhornat dalam kediaman pemuda itu. Tapi semua harapan dan inginnya lantas musnah hanya dengan sebuah gulungan dikrit dari kerajaan.


Baik jendral Holing maupun Fan Hua menatapa datar utusan kerajaan. Tak ada raut wajah bahagia atau kehagatan yang mereka pancarkan. Bahkan saat utusan itu pergi, raut wajah mereka tak berubah.


"Bagaimana bisa yang mulia menurunkan dikrit pernikahan untuk Ai'er, padahal wanita inilah yang mengandung dan melahirkannya" kata Fan Hua berang


"Tuan, apakah kita pernah berbuat salah ataupun membangka? Mengapa putri kita harus mendapat ganjaran itu? Tidak cukupkah dengan kita mengabdi dengan kerajaan? Mengapa mereka begitu lancang menentukan pernikahan putriku seenaknya?" Teriak Fan Hua tidak terima.


Fan Hua tidak terima. Ia sungguh tidak terima putrinya harus menikah secepat ini, walaupun mereka sadar tak mungkin Feng Ru Ai selamanya akan bersama mereka terlebih usianya sudah memasuki usia pantas menikah. Namun walaupun usia Ai sudah menginjak 18 tahun, tapi bagi mereka Ai masih putri kecil mereka.


"Tenangkan dirimu. Sebaiknya kita pikirkan masalah ini dengan kepala dingin" kata jendral Holing menenangkan.


"Ibu mana yang bisa tenang jika mengetahui putrinya akan dinikahkan secara paksa lewat perintah dari yang mulia kaisar? Ibu mana yang rela putrinya akan menikah dengan pemuda yang bahkan tidak mencintainya? Ibu mana yang tidak takut dan tidak khawatir jika putrinya akan terluka dan menderita? A-aku takut, aku takut putriku akan bersaing dengan wanita lain ketika suaminya kelak akan mengambil selir atau seorang pelayan yang akan melayaninya di atas peraduan, hiks.. hiks.." Fan Hua mengeluarkan semua kekhawatiran dan ketakutan yang ia rasakan mengenai masa depan Ai kedepannya.


Saat jendral Holing ingin menenangkan istrinya, tiba - tiba sebuah suara femiliar lebih dulu menyela dan memotong kalimatnya yang hendak keluar.


"Ben Gong tidak akan pernah mengambil selir ataupun pelayan untuk menghangatkan peraduan Ben Gong. Karena bagi Ben Gong, Feng Ru Ai bahkan sudah lebih dari cukup!"


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


19 Desember 2019


__ADS_2