Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 24


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, namun masalah antara putri jendral Holing dan para putri pejabat pemerintah kerajaan MingQi tak kunjung surut diperbincankan para penduduk di ibukota MingQi. Permasalahan mereka bahkan semakin memanas dikarenakan pihak para pejabat tak kunjung meminta maaf atas masalah yang putri mereka ciptakan. Sedangkan untuk pihak jendral Holing, mereka kini seakan menutup akses menerima tamu terlebih untuk para pejabat yang memiliki urusan dan masalah dengan kediaman Feng.


Selama seminggu pula, Ai tak diberi izin keluar dari kediaman. Selama itu pula, Ai terus merengek dan menggerutu karena merasa bosan seminggu berada di pavilium Lan dan melakukan kegiatan yang berulang.


"Ayah..., aku ingin keluar. Aku bosan dirumah terus!" Rengek Ai


Jendral Holing dengan tegas menggeleng "Ayah akan mengizinkan Ai'er keluar menghirup udara segar jika masalah antara kediaman Feng dan para putri pejabat pemerintahan selesai. Ayah takut, akan ada beberapa orang lagi yang akan mencelakai Ai'er. Terlebih lagi saat ini masalah dan urusan kita antara para pejabat pemerintah tak kunjung surut di perbincangkan khalayak ramai. Apakah Ai'er sanggup menjadi bahan perbincangan mereka?" Tanya jendral Holing yang langsung mendapat gelengan dari Ai.


"Tentu saja aku tidak suka!"


"Nah, maka dari itu mei mei tetap tinggal dirumah saja" sahut Qiang yang langsung membuat Ai cemberut.


"Ini tidak adil. Mengapa aku harus dikurung hanya karena kesalahan mereka?" Gerutu Ai tidak terima dengan apa yang ia alami.


Ai benci dengan para pejabat pemerintah yang tak kunjung datang meminta maaf pada kediaman Feng, ia juga benci dengan sikap keluarganya yang terus memperpanjang masalah ini. Menurut Ai, jika mereka tak ingin meminta maaf, tak perlu berurusan dengan meraka lagi dimasa depan. Tak perlu memperpanjang masalah ini hingga berlarut - larut. Sebab, terlalu banyak hal yang membuat keluarganya rugi, terlebih lagi dirinya.


Keluarganya telah rugi waktu, sedangkan Ai harus merasakan terkurung dalam sebuah sangkar emas dengan penjagaan ketat untuk kesekian kalinya. Ai tak tahu, mengapa hatinya begitu menginginkan terjebak dan tinggal selama - lamanya di masa lalu. Padahal baik di masa depan ataupun masa lalu, Ai tak pernah lepas dengan apa rasanya harus terbelenggu dan terkurung dalam sebuah sangkar emas. Ini memuakan. Sangat memuakan. Tak bisakah ia bebas melakukan apa yang ingin ia lakukan? Jika tau pada akhirnya ia akan mengalami hal yang sama, mengapa harus membawa dirinya ke masa lalu jika di masa depan tidak jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan sekarang.


.


.


.


Disisi lain, tepanya aula utama di istana MingQi. Para mentri dan pejabat tengah berkumpul membentuk sebuah barisan sesuai dengan posisi dan kedudukannya masing - masing.


Siang ini, mereka kembali gencar mengajukan permohonan pengangkatan kaisar baru. Mereka dengan kulit tebal mereka memohon untuk pengunduran diri kaisar Wei. Apa yang mereka lakukan jelas menunjukan mereka berada di jalur yang berlawanan dengan pendirian kaisar Wei saat ini.


Dalam hati, kaisar Wei berdecih. Raut wajah tidak suka masih nampak di wajah tuanya yang penuh dengan keriput. Ini adalah sebuah penghinaan. Bagaimana bisa para mentri dan pejabat memintanya turun dari takhtanya? Bukankah mereka tengah melakukan aksi 'penggulingan' terhadapnya? Apa yang mereka lakukan jelas adalah sebuah kudeta! Jika saja bukan putra kesayangannya yang meminta, tentu saja kaisar Wei tak akan memberikan takhtanya pada seorang pangeran yang lahir dari seorang selir tingkat dua yang kini telah merangkak menjadi permaisuri karena harus mengisi kekosongan yang terjadi untuk posisi permaisuri selama bertahun - tahun.


Jika bukan permintaan putra kesayangannya, kaisar Wei jelas tidak akan tinggal diam diperlakukan seperti ini. Dulu mereka menyanjung dan memujinya, sekarang mereka seakan berada di atasnya dan meminta dirinya untuk mundur dan menyerahkan takhtanya.

__ADS_1


Apakah hal ini nampak seperti sebuah candaan bagi mereka? Ketamakan akan harta dan kekuasaan membuat mereka buta sehingga memilih memasukan diri mereka pada bahaya. Tidakah mereka tahu, apabila mereka salah mendukung sang pewaris takhta yang tengah bertarung memperebutkan kursi kekaisaran, bukan hanya nyawa mereka yang lenyap, tapi seluruh keluarganya akan ikut terseret dengan pilihan mereka.


"Zhen akan menerima permintaan kalian!" Putus kaisar Wei yang membuat seluruh penghuni ruangan terkejut.


'Ayahanda sudah melakukan permintaanmu, sekarang ayah serahkan semuanya padamu'


.


.


.


Para mentri dan pejabat pemerintah jelas terkejut dengan perkataan kaisar Wei. Bagaimana kaisar Wei yang di kenal sebagai kaisar keras kepala, dingin dan kejam secara bersamaan itu menerima permohonan mereka. Padahal mereka tau jelas jika kaisar Wei bukanlah orang bodoh yang tak menangkap maksud dari desakan dan permohonan mereka setiap waktu.


"Yang mulia, apakah anda sedang lelah, atau anda sedang sakit. Mengapa anda kini menyetujui permintaan kami?" Tanya seorang perdana mentri yang nampak curiga dengan persetujuan kaisar Wei.


"Mengapa kau bertanya seperti itu? Bukankah kalian yang mendesak Zhen untuk turun dari takhta? Lalu apa lagi sekarang? Mengapa kalian selalu saja curiga, mengeluh bahkan protes pada Zhen. Padahal Zhen bahkan sudah mengikuti permintaan kalian!"


"Setelah mendengar permintaan kalian, Zhen mulai mempertimbangkan pangeran Rong. Hari ini, Zhen memilih menyetujui permintaan kalian dengan mengangkat pangeran Rong menjadi kaisar selanjutnya secepatnya" tambah kaisar Wei mengumumkan keputusannya.


Setelah mengumumkan keputusannya mengenai pengangkatan kaisar selanjutnya yang jatuh pada pangeran Rong. Kaisar Wei lantas meninggalkan aula utama istana MingQi di ikuti penasehat sekaligus pengawal pribadinya Lie, juga rombongannya.


Saat kaisar Wei telah pergi, para mentri dan pejabat tak kunjung bubar. Entah mengapa, mereka merasa ada hal yang kurang mengenakan tentang hal ini. Padahal seharusnya mereka senang dengan keputusan kaisar Wei yang memilih turun takhta secepatnya, karena itu berarti ambisi mereka akan kekayaan, harta, kekuasaan dan kedudukan sebentar lagi akan tercapai. Tapi nyatanya, mereka malah merasakan firasat buruk tentang kedepannya.


.


.


.


Disisi lain, tepatnya di depan gerbang kediaman jendral besar Holing. Terdapat lima buah kereta mewah yang berjajar rapi. Kereta - kereta itu jelas merupakan milik para pejabat, bangsawan atau pedangang kaya raya yang nampak bertandang kerumah jendral besar yang disegani dan ditakuti di ibukota MingQi. Entah dengan maksud dan tujuan apa.

__ADS_1


Harusnya para penduduk sekitar yang merupakan para tetangga jendral besar Holing sudah terbiasa akan hal itu. Pasalnya ada banyak orang yang akan mengunjungi kediaman Feng dengan maksud mencari dukungan, meminta bantuan, memperbaiki cirta keluarga mereka dengan memuji dan menjilat, atau memang tulus memberi pujian atas keberhasilan, kemenangan dan kepulangan jendral Holing dan prajuritnya dari medan pertempuran.


Namun hari ini nampak berbeda dari hari biasanya. Mereka para nyonya - nyonya pejabat dan bangsawan yang tinggal satu pemukiman di jalan Quon yang merupakan perumahan termahal di ibukota MingQi sangat tahu jika kereta - kereta itu milik kediaman Li, kediaman Fu, kediaman Tang, kediaman Pei dan kediaman Wong saking seringnya mereka berintraksi bersama. Terlebih lagi para pelayan dari kelima kediaman pejabat pemerintahan itu nampak sangat femiliar dimata mereka.


"Nampaknya, mereka baru saja akan menyelesaikan masalah dengan putri jendral besar Holing" kata seorang nyonya dari kediaman pejabat Liu.


"Kurasa anda benar nyonya Liu" balas nyonya dari kediaman bangsawan Chu.


"Sayangnya mereka datang begitu terlambat. Jendral besar Holing pasti sudah sangat murka dengan mereka semua" tambah nyonya Chu yang langsung disetujui para nyonya - nyonya pejabat dan bangsawan yang berkumpul bersamanya di depan kediaman Liu yang berhadapan dengan kediaman Feng.


Tak beselang berapa lama setelah nyonya Chu berkata seperti itu. Kepala pelayan Zhong dari kediaman Feng keluar dari gerbang dan menyampaikan pesan dari jendral besar Holing.


"Katakan pada nyonya kalian, jendral besar Holing saat ini tak menerima tamu dari keluarga kediaman manapun dikarenakan sibuk melatih para pasukannya" kata kepala pelayan Zhong pada para pelayan dari kediaman para pejabat pemerintahan yang ingin menemui jendral Holing dan nyonya Fan Hua.


Para pelayan itu mengangguk dan menyampaikan hal itu pada junjungan mereka, tak berselang berapa lama kereta - kereta itu bergegas pergi. Entah karena nyonya dari para pejabat pemerintahan itu tengah dilanda kemarahan atau rasa malu, kepala pelayan Zhong yang melihat hal itu hanya menghela nafas berat.


Masalah ini akan menjadi masalah yang sangat panjang. Sebab jendral Holing tak akan melepas mereka semua dengan mudah. Terlebih lagi, mereka datang untuk memohon maaf dan menyelesaikan masalah ini begitu lambat. Jendral Holing dan keluarga Feng sudah terlanjur murka.


Satu hal yang kepala pelayan Zhong khawatirkan adalah nasib nona mudanya jika masalah ini semakin berlarut - larut. Itu berarti, nona Ai akan tetap tinggal di kediaman Feng hingga masalah ini selesai. Entah bagaimana reaksi nona mudanya? Seminggu saja tinggal di kediaman Feng, ia terus saja mendumel dan mengerutu. Lalu apa yang akan nona mudanya lakukan jika ia akan terkurung di kediaman Feng dalam jangka yang tak di tentukan? Kepala pelayan Zhong tak mampu membayangkan hal apa yang nona mudanya akan lakukan.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


27 November 2019


__ADS_2