Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 6


__ADS_3

Kedatangan dan penjelasan jendral Holing mengenai apa yang dialami putrinya tak lantas membuat kaisar Wei percaya begitu saja, ia tahu dari pancaran mata bawahannya sangat menyirat keseriusan, hanya saja argumen tanpa bukti yang kuat belum cukup mampu membuat kaisar Wei percaya perkataan jendral Holing walaupun apa yang ia katakan adalah kebenaran.


Sebagai seorang kaisar yang telah menjabat dan memerintah kerajaan cukup lama, ia dituntut untuk tetap teliti dan waspada. Ia tak boleh goyah atau mudah percaya begitu saja. Dunia pemerintahan dan politik yang ia tekuni bukanlah dunia yang menyenangkan, dunia yang menjeratnya ini adalah sebuah petaka yang mungkin bagi orang awam beranggapan pekerjaannya adalah sebuah anugerah.


Sayang apa yang mereka lihat tak selamanya indah seperti bangunan mewah yang menutupi segala kejahatan dan pertumpahan darah yang telah memakan banyak korban dalam bangunan mewah yang selalu mereka agungkan sebagai sebuah istana. Ditempat inilah banyak mengukir sejarah panjang banyaknya korban yang berjatuhan karena ambisi dan keserakahan manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka capai.


Sebagai orang yang besar ditempat mengerikan ini, kaisar Wei patut meningkatkan kewaspadaan terlebih usianya yang tidak lagi muda. Saat-saat seperti inilah ia diuji akan loyalitas dan kesetiaan para abdinya menjadi taruhan dan harus dipertimbangkan dengan bijak. Entah karena ujian ini menyangkut kesungguhan dan kesetiaan mereka, atau menyangkut kepalsuan dan kemunafikan mereka yang mereka tutup secara apik.


Kaisar Wei mendesah. Lamat- lamat ia memperhatikan dan mengamati jendral besar Holing yang di hormati dan disegani banyak orang, ia tak menemukan sebuah cela kebohongan dari pancaran matanya yang tajam dan tegas. Hal itulah yang membuat kaisar Wei berpikir ulang mempertimbangkan penjelasan jendralnya.


Mungkin saja apa yang dikatakan jendral Holing benar, namun kaisar Wei harus tetap waspada dan tak boleh mengambil langkah gegabah dan ceroboh yang akhirnya merugikannya. Maka dari itu kaisar Wei hanya memilih membantu jendral Holing sebisanya terlebih lagi kaisar Wei mulai putus asa mencari keberadaan putra mahkota Rui yang sampai saat ini tak ada kabar. Keberadaannya seakan ditelah bumi tanpa meninggalkan jejak apapun, hal itulah yang membuat kondisi tubuh kaisar Wei menurun memikirkan keberlangsungan kerajaan MingQi yang saat ini goyah tanpa adanya penerus yang sah.


"Maafkan Zhen yang tak mampu percaya perkataanmu sepenuhnya jendral besar Holing" kata kaisar Wei buka suara pada akhirnya setelah sekian lama bungkam dan merenung.


"Tapi saat ini keadaan dan kondisi dalam istana sedang sangat kacau karena keberadaan putra mahkota Rui yang sampai saat ini belum ditemukan" jeda kaisar Wei "mungkin perkataanmu benar, putrimu perlu perlindungan dari pihak kerajaan karena menjadi saksi mata atas kejadian penculikan putra mahkota, tapi--" kalimat kaisar Wei mengantung diudara, raut wajahnya yang penuh keriput berubah murung seakan jejak-jejak semangat hidup ikut lenyap seiring dengan tak adanya kabar baik dari pencarian putra sahnya "waktu terus berputar, keberadaan putra mahkota sampai saat ini belum menemukan titik terang padahal sudah berbulan - bulan lamanya Zhen memperketat pencarian di segala wilayah. Tidak ada hasil yang kita temukan hingga sekarang. Posisi kaisar tengah goyah terlebih kondisi Zhen mulai menurun akhir - akhir ini.


Walaupun putrimu mendapat perlindungan, pada akhirnya pelaku tidak akan pernah tertangkap. Kasus hilangnya putra mahkota akan hilang ditelan waktu, bukti yang kau miliki tidak cukup kuat untuk membawa para pelaku kejahatan menuju jalur hukum -- kaisar Wei mendesah.


Zhen tak mampu menjanjikan hal yang banyak, tapi Zhen akan melindungi putrimu dari mara bahaya. Setidaknya jika jasad putra mahkota di temukan suatu hari nanti, putrimu dapat bersaksi dan menunjukan keadilan atas kematiannya" tambah kaisar Wei putus asa.


"Terimakasih atas kemurahan hati yang mulia, mendengar anda ingin melindungi putri jendral ini saja sudah lebih dari cukup. Hamba harap yang mulia putra mahkota segera ditemukan, sehingga anda bisa menjalani hari dengan tanang seperti biasa" kata jendral Holing tulus.


"Maaf telah menganggu waktu yang mulia, jendral ini mohon pamit undur diri" lanjut jendral Holing tak lupa membungkuk 90 derajat sebelum berbalik meninggalkan aula utama istana MingQi.


"Menurutmu, apakah masih ada harapan Zhen berharap jika Rui masih hidup?" Tanya kaisar Wei pada Kong Wen Lei yang merupakan tangan kanannya yang sedari tadi bersembunyi dibalik sekat pembatas ruangan sepeninggalan jendral Holing.


"Hamba rasa, yang mulia putra mahkota Rui memiliki peluang besar untuk tetap hidup dan bertahan" jawab Lei keluar dari persembunyiannya.


"Mengapa kau beranggapan demikian?" Tanya kaisar Wei menatap tangan kanannya.


"Karena yang mulia putra mahkota bukanlah pemuda yang selemah yang anda pikirkan"

__ADS_1


.


.


.


Qiang begitu terkejut saat menemukan adiknya terkapar diatas tanah yang kasar dan dingin dihalaman belakang kediaman mereka. Ia lantas segera mengangkat adik bungsunya dan membawanya menuju pavilium barat dan menidurkan kembali adiknya di atas peraduannya yang hangat.


Qiang tidak habis pikir, mengapa adiknya bisa berada disana. Seingat Qiang, ia sudah mengecek halaman belakang berulang kali, namun keberadaan adiknya tak ia temukan. Qiang tak tahu berapa lama ia meninggalkan kediaman keluarga Feng sampai tak jika mungkin saja ada persembunyian baru dihalaman belakang kediaman mereka.


Awalnya Qiang tadinya hanya hendak mengambil kudanya yang berada dihalaman belakang kediaman guna memperluas pencarian adiknya di ibukota MingQi, tapi siapa yang menyangka, ia menemukan adiknya dalam keadaan tak sadarkan diri diatas jalan setapak halaman bekalang kediaman mereka.


Sepanjang perjalanan menuju pavilium Lan yang berada di bagian barat dari pavilium utama, Qiang lebih banyak diam. Pikirannya berkelana jauh memikirkan masalah - masalah yang berturut - turut menghampiri adiknya dalam sehari. Biasanya Ai tidak akan menghilang sebanyak dua kali dalam satu hari, Ai biasa hilang dari pengawasan dan penjagaan mereka ketika ia keluar kediaman namun tidak terulang hingga dua kali.


Ai memang sering menghilang dan berujung pulang membawa luka, namun rentan kejadian itu selalu memiliki jarak yang lumayan jauh dan lama.


Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadiam dimana Ai menghilang bertepatan dengan penculikan putra mahkota Rui yang menggemparkan ibukota MingQi di malam penyambutan dan perjamuan akan keberhasilan para petinggi militer dan prajurit dalam merebut wilayah selatan melawan kerajaan YongXi. Sejak kejadian itu, sudah terhitung 5 kali Ai selalu dibanyang - bayangi mara bahaya yang mengancam nyawanya.


Mungkin mereka cemas jika Ai membongkar kejahatan mereka sehingga mereka ingin melenyapkan adiknya, atau mungkin mereka dilanda pertarungan batin dimana tingkat keselamatan dan kematian putra mahkota Rui masih menjadi ketakutan terbesar untuk mereka sebab sampai saat ini putra mahkota Rui belum di temukan dalam keadaan hidup ataupun dalam keadaan mati. Mungkin hal itulah yang membuat mereka cewas, khawatir dan ketakutan sehingga meneror adiknya yang lemah tak berdaya dalam ketakutan dan celaka.


Memikirkan hal itu jelas membuat Qiang marah, mungkin ada baiknya jika ia memilih menjadi pejabat pemerintah kantor militer saja dibandingkan harus meninggalkan adiknya bersama ibunya dikediaman Feng yang kini telah dirasa tidak aman lagi. Bahaya bisa saja menyerang kedua wanita yang sangat ia cintai dan sayangi sewaktu - waktu ketika ia dan ayahnya melaksanakan tugas diperbatasan.


Mungkin tidak ada salahnya jika ia mendiskusikan hal tersebut kepada ayahnya terlebih dahulu demi mempertimbangkan keselamatan orang- orang yang sangat Qiang cintai dan sayangi, ia sama sekali tidak keberatan jika pada akhirnya harus mengorbankan pekerjaan impiannya selama ini.


.


.


.


Diatas peraduan, Ai nampak gelisah dalam tidur. Keringat dingin terus membasahi pelipisnya, ia terus mengingau mengumamkan kata 'Tidak!' berulang kali hingga membuat tiga orang yang menemaninya di kamar miliknya begitu khawatir dengan keadaan Ai yang nampaknya sedang bermimpi buruk.

__ADS_1


Mereka tidak tahu apa saja yang Ai lalui ketika mereka mendapat tugas dan perintah menjaga perbatasan dari serangan para musuh. Namun malam ini nampaknya mereka merasa terpukul dan bersalah meninggalkan Ai dalam asuhan dan pengawasan para pelayan yang sama sekali tak memberi mereka jaminan Ai baik-baik saja dilihat dari kondisinya yang saat ini membuat dada Huang Fan Hua sesak.


Huang Fan Hua yang merupakan wanita yang melahirkan gadis rapuh dan malang yang kini terbaring diatas peraduan tersebut nampak tak tega menyaksikan putrinya nampak tersiksa dengan mimpi buruk yang ia alami. Wanita yang usianya hampir memasuki umur 40an itu lantas menghampiri putrinya dan mengusap peluh dan keringat yang semakin deras keluar dari setiap pori - pori kulit putri kesayangannya.


Hua terus membisikan kalimat - kalimat penenang tepat di telinga putrinya, ia dengan begitu lembut membelai kepala putrinya yang juga telah basah oleh keringat dan terus berbisik dan berkata "Tenanglah Ai. Ibunda, ayahanda dan gegemu disini bersamamu. Kau jangan khawatir, sekarang tenanglah nak. Kami bersamamu sayang"


Seperti sebuah mantra ajaib, setelah mendengar bisikan dari ibundanya, Ai nampak lebih tenang. Nafasnya tidak lagi memburu hebat, kini ia mulai bernafas dengan teratur dan tubuhnya tidak lagi segelisah sebelumnya.


Setelah merasa putrinya telah tenang, Hua menghampiri jendral Holing dan Qiang yang duduk di kursi yang berada di tengah ruangan. Hua menatap kedua pria kesayangannya itu dengan mata yang memincing tajam menuntu sebuah penjelasan dari dua pria beda usia di hadapannya kini.


Hua yang biasanya nampak anggun dan lembut di hadapan para nyonya-nyonya bangsawan kini mulai menunjukan sisi tegasnya, sebagai putri dari mantan seorang jendral, Hua tahu ada yang tidak beres tengah terjadi akhir-akhir ini dan semua itu selalu saja putri kesayangannya alami.


"Katakan, diantara tuan atau Qiang'er, siapa yang ingin lebih dulu menjelaskan situasi yang Ai hadapi?" Tanya Hua


"Kalian jangan diam saja, aku bukan orang bodoh yang tidak tahu putrinya selalu mendapat mara bahaya serta celaka. Sekarang katakan, masalah apa yang membuat Ai terus menerus seperti ini?" Desak Hua yang membuat Qiang menunduk dalam sedangkan jendral Holing membuang muka karena tak ingin bersitatap dengan tatapan tajam istrinya yang nampak menakutkan.


"Jika tuan dan Qiang'er tak mau bicara, biar aku cari sendiri masalah dan penyebab apa yang membuat putriku selalu dalam bahaya!" Ancam Hua sungguh - sungguh.


.


.


.


.


.


TBC


11 Oktober 2019

__ADS_1


__ADS_2