
"Yang mulia, mengapa anda hanya berdiam diri saja? Padahal saat ini pangeran Rong bahkan sudah bergerak mencari dukungan disaat posisi tahta kaisar masih goyah karena ketidak beradaan yang mulia putra mahkota" tanya Xiao Tong yang merupakan tangan kanan pangeran kedua, pangeran Ming Wen Yan.
Pangeran Yan yang sibuk membaca di kursi santai dekat jendela kamarnya lantas menurunkan buku bacaanya dan menatap Tong yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri dengan tatapan setenang air yang mengalir.
"Untuk apa membuang - buang waktu berharga Ben Wang untuk hal yang tak pasti?" Tanya pangeran Yan
"Kakak kedua adalah pewaris sah yang telah digariskan takdir mendapat posisi kaisar kelak, dan Ben Wang tak ingin ikut campur dalam masalah pemerintahan dan politik kerajaan yang menyusahkan" tegas pangeran Yan
"Kau tahu Tong, apa yang sudah ditakdirkan menjadi milikmu akan tetap menjadi milikmu. Dan apa yang sama sekali tidak di takdirkan menjadi milikmu akan membawamu pada kehancuran" jelas pangeran Yan penuh makna.
"Intinya anda tak berniat memperebutkan tahta?" Tanya Tong tidak percaya denganĀ junjungannya yang sama sekali tidak berambisi dengan kekuasaan.
"Hmm, itu hanya buang - buang tenaga. Ben Wang lebih memilih hidup seperti ini tanpa perlu membuang tenaga dan pikiran bersaing dengan kakak pertama dan kakak kedua" jawab pangeran Yan acuh lalu melanjutkan bacaannya.
Tong hanya mampu melongo saking tidak percayanya dengan pangeran Yan yang lebih memilih menyandang status sebagai pangeran selamanya, ketimbang ikut bersaing memperebutkan tahta dan posisi tertinggi kerajaan.
.
.
.
Disisi lain, Yong terus saja menguap disela - sela penjelasannya. Ia sekuat tenaga mempertahankan kesadarannya agar tuntutan penjelasan yang putra mahkota Rui pinta cepat selesai dan ia bisa melanjutkan tidurnya yang tertunda dengan lelap.
"Lalu apa yang kakak Lie katakan?" Tanya putra mahkota Rui mulai memasuki topik pembahasan istana dalam
"Gege Lie belum memberitahukan yang mulia kaisar mengenai keberadaan kita, gege masih menyembunyikannya, mungkin gege menunggu waktu yang tepat sebelum memberitahukan masalah ini kepada yang mulia. Huawwaamm.. -- Yong menguap lebar -- terlebih lagi saat ini istana dalam masih kacau akan hilangnya anda. Posisi tahta kaisar kini tengah goyah. Banyak perdana mentri dari berbagai fraksi mulai bergerak membuat aliansi dukungan untuk para pangeran yang ingin maju memperebutkan posisi anda yang tengah kosong. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan pertimbangan gege Lie belum memberitahukan yang mulia tentang kita yang berhasil selamat, kondisi istana yang tidak stabil juga kondisi yang mulia yang semakin menurun menjadi bahan pertimbangan gege. Gege Lie takut keberadaan kita bocor dan tersebar disaat kondisi istana dalam tengah lengah" jelas Yong panjang lebar.
"Ayahanda terlalu kebiasaan memikirkan Ben gong sehingga kondisinya menurun" dumel putra mahkota Rui.
"Pinta kakak Lie untuk terus mengawasi asupan makanan dan tonik kesehatan untuk ayahanda, Ben gong takut, mereka mulai bergerak untuk melenyapkan ayahanda secara perlahan" perintah putra mahkota Rui yang diangguki setengah sadar oleh Yong.
"Kau dengar Yong?" Tanya putra mahkota Rui memastikan sahabatnya tetap mendengar penjelasannya.
"Hmm" balas Yong dengan gumaman
"Tks, Ben gong tidak yakin kau mendengar dan menyimaknya dengan baik" decak putra mahkota Rui
__ADS_1
"Berhentilah mengangguku Rui" kata Yong mengibas-ibaskan tangannya mengusir putra mahkota Rui "sebaiknya kau beristirahat sekarang, ini sudah larut. Kau juga butuh istirahat, terlebih lagi selain kau akan bersaing memperebutkan tahta, kau juga akan bersaing memperebutkan wanita yang sama" Yong menguap "mengapa kau tidak pernah bisa lepas bersaing dengan pangeran Rong, tidak masalah kekuasaan dan tahta, tidak pula dengan masalah wanita" gumam Yong setengah sadar.
Putra mahkota Rui yang jelas tahu bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik, juga kesadarannya yang masih sepenuhnya terjaga seketika membeku ditempatnya. Rahangnya mengetat, bibirnya menakup rapat. Warna kulitnya yang putih kini telah berubah memerah saat mendengar perkataan Yong yang mampu membuat setiap darah yang mengalir di pembuluh darahnya berdesir hebat.
Pangeran Rong selalu saja ingin merampas apa yang seharusnya menjadi miliknya, dan putra mahkota Rui jelas tidak akan membiarkan ia merebut segala yang telah ia klaim sebagai miliknya terutama wanita incarannya, Feng Ru Ai.
.
.
.
Seharusnya Ai tidak perlu terkejut ketika ia terbangun dari tidurnya, ia langsung disambut oleh sapaan para pelayan yang akan membantunya membersihkan diri. Hal ini jelas tidaklah jauh berbeda dengan kehidupannya dimasa depan. Setiap pagi Ai juga akan mendapat perlakuan yang sama dari para pelayan yang bekerja dirumahnya, hanya saja saat ini Ai belum terbiasa. Suasana dimasa lalu dan dimasa depan jelas sangat berbeda.
Ai tetap saja terkejut dengan keberadaan pelayan yang mengenakan pakaian hanfu yang membalut tubuh mereka dari sengatan matahari ataupun dinginnya hembusan angin yang menyapu permukaan kulit.
Ai memperbaiki posisi duduknya, ia sesekali menguap dan mengucek matanya yang terasa gatal. Sejujurnya Ai masih ingin memejamkan matanya, semalam ia kesulitan tidur karena terlalu banyak pikiran. Akhirnya ia baru bisa terlelap ketika hari telah memasuki dini hari.
Tidur Ai pun rasanya tidak cukup lama, Ai merasa ia hanya tidur sebentar. Waktu istirahatnya terganggu akibar suara yang di timbulkan para pelayan yang mulai melakukan aktivitas mereka di dalam kamarnya. Sadar jika melanjutkan tidur akan berakhir sia - sia, Ai memilih bangun dan mengumpulkan seluruh kesadarannya yang masih tercerai berai.
Terlebih lagi saat ini Ai merasa lapar, seingat Ai ia bahkan belum menyentuh makanan apapun sejak ia berada disini. Pantas saja selain karena terusik dengan suara aktivitas para pelayan, tidur lelapnya juga terganggu akibat perutnya yang merontak karena kelaparan.
"Aku lapar, bisakah kalian membawakanku makan?"
Seharusnya mereka tidak terkejut. Sayangnya para pelayan tak mampu menutupi keterkejutan mereka dengan permintaan yang tidak biasa dari nona muda mereka.
Biasanya nona mereka akan meminta disiapakan air hangat untuk berendam tak lupa dengan berbagai macam wewangian, atau biasanya nona muda mereka meminta mereka membawa nampan berisi air bersih yang selalu mereka siapkan lebih awal untuk membasuh muka. Tapi siapa yang menyangka, hari ini permintaan dan perintahnya sangat jauh berbeda dari kebiasaan nona muda mereka. Mereka yang sudah lama bekerja dengan nona Ai jelas merasa nona muda yang nampak sangat cantik walaupun tanpa riasan di wajahnya itu bukanlah nona muda mereka.
.
.
.
Wanita cantik berbalut sutra kualitas terbaik melangkah tergesa menyusuri lorong koridor pavilium Lan yang berada disisi barat pavilium utama kediaman Feng. Wanita cantik itu baru saja mendapatkan kabar dari pelayannya bahwa putrinya baru saja bangun, maka dari itu Fang Hua langsung saja melesat dan mengabaikan suaminya untuk memastikan kebenaran tersebut.
Saat pintu kamar Ai digeser, Fang Hua menghela nafas lega saat melihat putrinya tengah berkutat dengan makanan.
__ADS_1
Tunggu!
Ini aneh. Sejak kapan putrinya memiliki kebiasaan makan di pagi hari? Setahu Fang Hua, putrinya tidak memiliki kebiasaan tersebut. Walaupun Fan Hua selalu mengikuti jendral Holing yang bertugas di perbatasan, Zhong tidak pernah absen melakukan laporan mengenai pertumbuhan dan perkembangan putrinya ketika ia pergi.
Fang Hua yang merasa cemas dan ada yang salah dengan putrinya lantas berjalan mendekat, ia lalu menaruh telapak tangannya pada kening Ai yang sama sekali tidak panas ataupun dingin.
Ai yang mendapat perlakuan tak terduga dari ibunya lantas menghentikan suapannya, makanannya hanya tinggal separuh, namun rasa laparnya kini lenyap digantikan raut wajah bingung dan cemas yang di tunjukan oleh ibundanya yang entah mengapa nampak sangat lucu di mata Ai.
"Ai apakah kau sakit?" Tanya ibundanya memastikan
Ai yang mendapat pertanyaan tak terduga dan membingungkan dari ibundanya lantas mengernyit.
"Apa maksud ibu?"
Bukannya menjawab Ai malah balik bertanya dan hal itu membuat Fang Hua semakin khawatir.
"Ibunda rasa harus meminta pelayan memanggil dokter kerajaan sekarang, kau harus di periksa dengan baik karena tidak biasanya kau makan sepagi ini" kata Fang Hua yang akhirnya menjawab kebingungan Ai.
Ai yang mendengar hal itu lantas tertawa. Ibundanya sangat lucu. Bagaimana bisa hanya dengan ia melakukan kebiasaan diluar kebiasaan sebelumnya membuat wanita cantik dihadapannya khawatir dan begitu heboh dengan perbuhanannya. Lagian apa yang salah jika Ai makan disaat hari masih baru saja menyapa? Ia sangat lapar, tidak mungkin bukan ia menunggu hari beranjak siang sebelum mengisi perutnya? Bisa Ai pastikan setelahnya ia akan pingsan karena kelaparan.
"Ibu, aku lapar. Sejak kemarin aku belum makan. Apakah salah jika aku makan lebih awal untuk mengisi tenaga? Bukankan akan lebih merepotkan jika aku menunggu siang untuk mengisi perutku yang sudah sangat meronta, aku yakin Ayahanda akan murka jika tahu ibunda menghebohkan masalah sepele ini hanya karena aku melakukan sesuatu yang diluar kebiasaanku" jelas Ai setelah tawanya reda.
"Ibunda tahu" jawabnya cepat "hanya saja ibu sangat terkejut dengan apa yang baru saja ibu saksikan dengan mata kepalanya sendiri" lanjutnya mencebik.
"Jika begitu, mulai sekarang ibunda harus terbiasa. Aku bisa saja memberi kejutan lain dilain waktu" tukas Ai ambigu.
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
12 Oktober 2019