
Ai menghela nafas lelah untuk kesekian kalinya. Siang ini ia berencana mengunjungi hutan yang berada di belakang kediaman Feng. Awalnya ia bertujuan untuk menemui pemuda yang selalu membuatnya kepikiran dan juga bingung secara bersamaan dengan perasaannya sendiri. Pemuda itu saat ini tinggal atau lebih tepatnya tengah bersembunyi di dalam hutan.
Sayang, nampaknya hari ini Ai harus menunda keinginannya. Pasalnya ibunya terus saja memaksa ia pergi bersama ibundanya untuk mengunjungi sebuah toko kain dan jahit yang ada di ibukota MingQi untuk membuat baju baru menyambut musim dingin yang akan datang.
Alhasil disinilah Ai berada sekarang. Ia berada di pusat ibukota MingQi dengan pengawalan ketat yang tentu saja menarik perhatian banyak orang karena para pengawal yang ikut bersamanya dengan Fan Hua mengenakan pakaian resmi prajurit militer.
Seharusnya Ai sudah biasa menjadi pusat perhatian banyak orang. Pasalnya dimasa depan pun ia juga selalu menjadi pusat perhatian banyak orang dikarenakan bodyguard yang selalu mengikutinya jelas menarik perhatian dan rasa penasaran banyak orang mengenai sosok dirinya. Namun walaupun demikian, tetap saja Ai merasa risih dan terganggu dengan tatapan dan juga bisikan - bisikan orang - orang yang tengah berlalu lalang di jalan setapak ibukota MingQi yang dengan jelas dan terang - terangan menatap dan mengkritik mereka yang saat ini berada dalam toko kain dan jahit terkenal di ibukota MingQi.
Segala bisikan, gunjingan dan sindiran yang terang - terangan dilontarkan dari para nyonya bangsawan ataupun dari para penduduk lainnya yang tengah berada di keramaian aktivitas ibukota MingQi yang nampak sibuk siang ini sangat mengusik Ai. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan hal itu, bagi Ai semua itu adalah makanan hari - harinya di kehidupannya di masa depan.
Namun ia belum terbiasa menerima bisikan, gunjingan dan juga sindiran yang dilontarkan seseorang secara terang - terangan seperti ini. Walaupun di kehidupan masa lalu ataupun masa depan tidak jauh beda mengenai masalah gosip dan kawan - kawannya, namun entah mengapa Ai tidak suka dengan sikap para penduduk MingQi yang begitu jelas menunjukan ketidak sukaannya dengan keluarga Feng.
"Ibunda, apakah kita masih lama? Aku tidak suka mereka menjelek - jelekan kita secara terang - terangan" keluh Ai
Fan Hua yang sibuk memilih kain musim dingin keluaran terbaru lantas menoleh menatap putrinya, ia lalu terkekeh dan menjawab "Ai'er, kau hanya perlu mengabaikan dan tidak mempedulikan mereka. Anggap saja mereka hanya angin yang berlalu" kata Fan Hua tenang dan bijak
"Tetap saja perkataan mereka sangat mengganggu. Apakah sebegitu tidak suka dan bencinya mereka dengan keluarga kita, sehingga mereka dengan jelas menunjukan sikap buruk seperti itu?" Tanya Ai dengan raut wajah yang menggelap
"Kau harus tau nak, kehidupan itu kejam. Iri hati, dengki dan benci seseorang terhadap pencapaian orang lain itu adalah penyakit yang membahayakan, baik membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. Saat ini kita berada di fase dimana seseorang akan merasa tersaingi dengan pencapaian yang keluarga kita raih, mungkin faktor iri dan benci mereka ada karena mereka tak mampu atau karena faktor lain" jelas Fan Hua "yang perlu kau lakukan saat ini, hanya bersikap biasa saja. Abaikan mereka, memusingkan sikap mereka terhadap kita sama sekali tidak menguntungkanmu" lanjut Fan Hua menasehati putrinya.
Apa yang dikatakan ibunya tentu saja sepenuhnya adalah hal yang benar. Tak ada gunanya ia memusingkan apa yang mereka katakan, Ai sama sekali tidak di untungkan, malah kebalikannya, ia di buat rugi dengan membuang - buang tenaga dan waktunya hanya untuk marah dan menggerutu oleh sikap kekanan semua orang yang dengan terang - terangan menunjukan ketidak sukaanya pada keluarga Feng.
Seharusnya Ai sadar, tidak sepenuhnya orang - orang yang ada di ibukota MingQi menyukai ataupun mendukung pencapaian keluarga Feng yang prestasi dan pencapaiannya sudah tak mampu lagi dihitung oleh jari. Hanya sedikit kemungkinan orang menyukai atau turut senang dengan apa yang mereka raih. Selebihnya tentu saja merasa tersaingi, tidak suka dan benci dengan pencapaian mereka. Walaupun Ai benci dengan sikap kekanakan mereka, yang perlu Ai lakukan adalah mengikuti nasehat ibunya.
.
__ADS_1
.
.
Dari siang hingga menjelang sore yang Ai lakukan hanyalah menemani ibunya memilih kain untuk musim dingin yang akan datang, dan setelahnya mengukur tubuhnya untuk di jahitkan pakaian musim dingin baru bersama dengan ibunya.
Setelah melakukan itu semua, Fan Hua, Ai dan beserta rombongan akan pulang kembali ke kediaman Feng. Mengetahui hal itu jelas membuah Ai mendesah nafas berat, hari ini sangat membosankan.
Bagaimana tidak? Seharian ia hanya duduk memperhatikan ibunya memilah dan memilih kain, setelah itu barulah ia mengukur untuk di jahitkan baju. Tidak ada yang istimewa, semuanya sangat membosankan. Awalnya Ai berpikir mereka akan pergi ketempat yang menyenangkan, nyatanya kenyataan tak sesuai dengan ekspestasi Ai. Harapnya yang mendambakan tempat menarik harus pupus dan berakhir dengan kekecewaan.
"Ada apa Ai'er?" Tanya Fan Hua yang menyadari perubahan raut wajah putrinya
"Ibu, bolehkah aku pulang agak sore? Aku ingin jalan - jalan sejenak di ibukota" kata Ai yang membuat Fan Hua menimbang - nimbang keinginan putrinya.
"Ibu tidak usah khawatir, aku tentu tidak akan pergi sendiri. Guang dan Di Yu akan ikut bersamaku" tambah Ai berusaha meyakinkan ibunya
"Baiklah, tapi pastikan kalian jangan pulang terlalu larut malam" kata Fan Hua yang langsung membuat wajah Ai nampak cerah dan berbinar.
Ai langsung saja memeluk ibunya dan terus mengucap kata terima kasih. Entah mengapa, hanya dengan mendapat izin seperti ini membuat Ai begitu senang.
"Guang, Di Yu.. mari kita pergi!" Seru Ai bersemangat
.
.
__ADS_1
.
Saat ini Ai mengisi tenaganya yang terkuras habis setelah beberapa jam yang lalu mengelilingi ibukota MingQi dan mengunjungi beberapa tempat bersama Guang dan Di Yu.
Sebuah kedai mie terkenal di ibukota MingQi menjadi pilihan Ai untuk mengisi perutnya yang sedari tadi meronta. Ai lupa jika seharian ini ia belum makan siang, begitu pula dengan dua pengawalnya. Jika saja perutnya tidak sakit, Ai mungkin akan terus menjelajah sore ini seraya mencari angin segar bersama dua pengawalnya.
Suara berisik dari pelanggan kedai mie yang saling mengobrol menjadikan suasana dalam kedai mie tersebut nampak sangat ramai dan hidup. Segala aktivitas mereka tak lepas dari pengamatan Ai, hingga saat pandangan Ai menangkap sosok pemuda berusia 24 tahun memasuki kedai mie bersama pemuda yang seingat Ai merupakan sahabat pemuda yang menabraknya kemarin membuat suasana hati Ai berubah. Ai mendengus, entah mengapa melihat pemuda itu ada perasaan tidak suka yang tiba - tiba saja muncul di hati Ai.
Ai mengabaikan kedua pemuda itu, ia lantas menatap Di Yu dan mulai mencari tahu jati diri dan juga latar belakang Di Yu yang mungkin akan lebih menarik dari kedatangan dua pemuda yang kini mencuri perhatian para pelanggan kedai mie.
Banyak dari para pelanggan yang merupakan nona muda bangsawan ataupun nona muda dari kalangan rakyat biasa yang menjerit histeris saat kedua pemuda itu masuk, walaupun Ai enggan menatap mereka, namun suara para nona muda yang di tangkap oleh pendengarannya begitu mengganggu.
Saat Ai, Di Yu dan Guang terlibat obrolan seru, sebuah suara berat tiba - tiba menyapa mereka.
"Sulit di percaya, takdir kembali mempertemukan kita, nona muda Feng!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC
30 Oktober 2019