Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 22


__ADS_3

Kaisar Wei bangun dari duduknya dan menggebrak meja kerjanya saat Lie melapor dan juga mengatakan syarat yang putra mahkota Rui pinta agar ia mau kembali dan pulang ke istana MingQi.


"Apa putra mahkota Rui gila? Bagaimana bisa ia meminta Zhen menyerahkan tahkta kekaisar kepada pangeran Rong padahal ia adalah sang penerus yang sah!" Kata kaisar Wei berang


"'Yang mulia tenangkan diri anda" kata Lie memperingati "Yang mulia putra mahkota akan melakukan sebuah rencana di hari penobatan nanti. Saya harap ada baiknya memberi yang mulia putra mahkota Rui kesempatan untuk menjatuhkan dua atau lebih banyak orang dalam satu pukulan" tambah Lie menjelaskan.


Kaisar Wei menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya, ia menghela nafas berat dan memijit kepalanya yang berdenyut sakit. Kaisar Wei tidak percaya putra kesayangannya akan membuka jalan kepada pangeran Rong dan pendukungnya. Bukankah hal itu akan sangat beresiko untuknya sendiri? Lantas mengapa ia ingin mengambil langkah yang beresiko, padahal dengan dirinya pulang saja sudah cukup membuat pangeran Rong dan para pendukungnya terhambat mencapai keinginan dan ambisi mereka.


"Walaupun ia anakku, Zhen jelas tidak tahu pemikirannya segila ini"


.


.


.


Di manor pangeran Yan, suasana di peraduan pangeran Yan sangat hening dan sepi seakan tak ada penghuni di dalamnya. Padahal ada sang pemilik ruangan yang nampak tengah sibuk dalam bacaannya dan juga para kasim dan dayang yang baru saja memasuki peraduannya seraya menjalankan tugas mereka.


Walaupun matanya tertuju pada setiap kalimat pada buku bacaannya, telinganya tak pernah lepas menangkap setiap pergerakan yang menimbulkan sebuah suara berisik dari segala aktivitas para kasim dan dayang yang nampaknya mereka sedang sibuk menyiapkan air hangat untuknya mandi, juga makan malam yang akan ia santap sehabis mandi.


Ditengah suara gerakan dan langkah kaki para kasim dan dayang yang nampak sibuk hilir mudik. Pangeran Yan menangkap suara langkah kaki yang melangkah mendekat dan menghampirinya. Tak perlu untuk pangeran Yan mengalihkan tatapannya dari buku yang ia baca, ia sudah sangat hafal siapa sosok yang menghampirinya kini.


"Yang mulia pangeran"


"Katakan!" Perintah pangeran Yan tanpa menunggu basah basih langsung menuju inti dari kedatangan Tong yang tidak lain pasti ingin melaporkan masalah yang terjadi di dalam istana selama ia menutup mata, telinga, dan mulutnya untuk menikmati kehidupan dan dunianya tanpa niat ikut serta campur tangan atau berurusan dengan masalah pemerintahan dan politik yang menurut pangeran Yan sangat membosankan.


"Baru saja permaisuri Lien dan pengikut pangeran Rong mengakhiri pertemuan mereka. Menurut mata - mata yang menyusup dalam pertemuan itu melaporkan bahwa permaisuri Lien mulai mendesak, merayu dan memprovokasi para pengikut putranya untuk mendesak yang mulia kaisar segera turun tahkta" jelas Tong melaporkan apa yang mata - mata mereka laporkan.


"Ben Wang tidak perlu terkejut dengan laporanmu itu" kata pangeran Yan cuek "permaisuri Lien memang akan selalu bertindak cepat, namun gegabah dan ceroboh diwaktu yang bersamaan. Kau pikir ayahanda akan tetap diam mengetahui hal ini? Kurasa sekarang ayahanda juga menyusun sebuah rencana saat mata - matanya melaporkan pertemuan permaisuri Lien dan para pendukung pangeran Rong" tambah pangeran Yan.


Tuk!


Pangeran Yan menutup buku yang selesai ia baca, wajahnya menampilkan sebuah senyum yang membuat Tong mengernyit dengan perubahan raut wajah junjungannya yang sangat drastis.


"Kurasa akan ada hal yang menarik yang akan terjadi. Ben Wang tidak boleh ketinggalan untuk menonton dan menyaksikan pertunjukan menarik tersebut!" Kata pangeran Yan bersemangat.


Tong yang mendengar itu hanya mampu melongo karena begitu terkejut dengan perkataan dan juga pemikiran pangeran Yan yang sulit ditebak.


Sebenarnya, junjunganya itu bodoh atau idiot?


Disisi lain, tepatnya di manor pangeran Rong. Nampak pemuda berusia 24 tahun yang masih berbalut baju kebesaran seorang pangeran tengah menatap tajam pengawal pribadinya yang baru saja memberinya laporan mengenai pertemuan yang diadakan ibunya bersama para pendukungnya.

__ADS_1


Awalnya pangeran Rong membiarkan ibunya melakukan semua hal sesukanya, namun mendengar bahwa hari ini ibunya kembali mengeluarkan taringnya, pangeran Rong mulai merasa muak dan tidak suka atas tindakan yang permaisuri Lien ambil.


Permaisuri Lien selalu berlaku semaunya, ia bahkan mendesak para pendukungnya untuk meminta kaisar Wei segera turun takhta. Bukankah dengan mendesak kaisar Wei sangat beresiko besar untuk mereka semua? Kaisar Wei bukan orang bodoh yang tidak dapat mengartikan jika desakan mereka sebenarnya adalah sebuah 'Penggulingan'.


Bagaimana bisa permaisuri Lien begitu nekat melakukan hal tersebut? Tidakah ia berpikir kaisar Wei akan murka. Terlebih lagi, ibunya itu bahkan tidak menanyai kesiapannya menjadi kaisar jika rencana ibunya berhasil. Padahal saat ini pangeran Rong masih ingin menikmati kebebasan, jika ia menjadi kaisar, maka tidak ada lagi namanya kebebasan untuknya berkeliaran. Semua yang ia lakukan hanya mengurus pemerintahan di balik meja kerjanya dan membayangkan hal itu akan segera menghampiri dan mendatanginya, pangeran Rong tak mampu untuk tidak menghembuskan nafas berat.


Pangeran Rong memijit keningnya yang berdenyut sakit, mengapa ibunya itu tidak bisa bersabar barang sejenak? Mengapa ia selalu melakukan hal tergesah - gesah? Bukannya pangeran Rong tak ingin takhta dan menjadi seorang kaisar, bukan pula ia tak mendukung segala tindakan permaisuri Lien untuknya meraih kekuasaan tertinggi di MingQi. Hanya saja pangeran Rong takut, dengan rencana yang dibuat secara cepat dan tergesah - gesah tanpa melakukan banyak pertimbangan, jelas akan menciptakan sebuah cela dan kelemahan untuk mereka. Walaupun baik ibunya dan dirinya memiliki ambisi yang sama besar, tetap saja pangeran Rong takut semuanya gagal dan pada akhirnya membawa mereka pada kehancuran.


.


.


.


Langit dan matahari cerah menyapa ibukota MingQi dan seluruh wilayah kekuasaan kerjaan MingQi. Para penduduk ibukota MingQi maupun para penghuni kerajaan MingQi dari berbagai golongan dan kasta mulai melakukan aktivitas mereka masing - masing.


Suasana ibukota maupun dalam kerajaan MingQi kini nampak hidup dengan segala aktivitas. Terlepas dari suasana yang nampak hidup ditemani langit dan matahari yang bersinar cerah. Di aula utama kerajaan MingQi, suasana malah sebaliknya dari apa yang nampak diluar.


Dingin yang menusuk hingga tulang belulang, tatapan tajam dari mata elang yang mampu mengoyahkan pertahanan, aura membunuh dan kekejaman yang sangat mengintimidasi hingga para mentri dan pejabat yang berada diruangan tak mampu bernafas dengan kasar dan leluasa.


Setelah mengemukakan permohonan mereka mengenai kekuasaan tertinggi kerajaan yang menjurus pada 'penggulingan' dan rencana kudeta yang sejak beberapa bulan lalu permaisuri Lien dan pangeran Rong lakukan tanpa kendala kepada putra mahkota Rui. Kini permaisuri Lien mendorong para pendukung putranya menuju ombak besar yang siap menghantam mereka kapan saja.


Dibawa tekanan dan tatapan kaisar Wei yang mengintimidasi dan membunuh. Keringat dingin tak henti - hentinya keluar dari pori - pori kulit mereka saking gugup dan ketakutannya. Kepala mereka senang tiasa menunduk seakan lantai keramik yang di buat dari bebatuan langka dan dipoles sedemikian rupa nampak lebih menarik dari pada apa yang tersaji di hadapan mereka.


Setelah mengemukakan keinginan mereka, tak ada lagi yang angkat bicara. Mereka bungkam dengan segala cercaan dari kaisar Wei yang nampak berkali lipat lebih menakutkan dari biasanya.


Wajar saja kaisar Wei bersikap demikian. Saat - saat seperti ini kaisar Wei sangat sensitif mengenai masalah takhta kekaisaran. Putra kesayangannya tak kunjung di temukan, dan saat ini mereka mendorong arus dan menambah ombak yang jelas membuat kaisar Wei sangat murka.


Kaisar Wei meninggalkan aula utama dengan wajah merah padam dan rahang yang mengeras. Lie selaku tangan kanan dan juga penasehat kaisar mengambil alih pertemuan dan rapat pagi yang rutin dilakukan.


"Kalian boleh bubar, untuk kedepannya penasehat ini memberi saran agar tidak membahas masalah takhta kekaisaran diwaktu mendatang. Saat ini suasana hati yang mulia sedang tidak baik" ungkap Lie "tentu saja nasehatku ini bukan hanya sebuah nasehat, tapi juga sebuah peringatan. Jangan pernah membakar api dan menambah minyak jika kalian tak ingin hangus ikut terbakar. Kalian tahu, walaupun usia yang mulia tak lagi muda, namun jiwa kekejamannya masih ada" lanjut Lie yang membuat para mentri dan pejabat mengigil ketakutan saat mengingat masa - masa kejayaan dan kekejaman seorang kaisar Wei.


Tak bisakah mereka memutar waktu dan mundur kemasa dimana mereka tak perlu mencari sokongan? Saat ini, walaupun hanya beberapa baris kalimat dari Lie, mereka mulai gemetar ketakutan.


.


.


.


"Yang mulia, anda yakin tak ingin memberi kesempatan pada yang mulia putra mahkota?" Tanya Lie di belakang kaisar Wei setelah berhasil mengejar junjungannya yang kini melangkah di koridor menuju peraduannya.

__ADS_1


"Hamba pikir, yang mulia putra mahkota Rui memiliki rencana dibalik permintaan dan persyaratan yang ia ajukan" tambah Lie berusaha membujuk junjungannya.


Kaisar Wei menghentikan langkahnya. Dengan refleks, Lie pun menghentikan langkahnya guna tak menabrak sang junjungan yang memegang kekuasaan tertinggi baik diluar maupun di dalam istana.


Kaisar Wei berbalik dan menampilkan raut wajah serius "Zhen melakukan hal ini bukan berarti tak memberi kesempatan pada Rui!" Tegas kaisar Wei


"Walaupun permintaan dan persyaratan yang di ajukannya sangat beresiko dan tidak wajar. Zhen harus percaya dengan apa yang putra mahkota Rui rencanakan, karena dia adalah anak Zhen. Darah daging Zhen. Terlepas dari ide gilanya, Zhen harus mengakui ia adalah anak kesayangan Zhen dan mendiang permaisuri pertama" kaisar Wei menjeda "tapi tak semudah itu Zhen menerima permintaan mereka. Akan sangat mencolok dan tak terduga jika Zhen tiba - tiba menerima permintaan mereka terlebih apapun alasan Zhen -- kaisar Wei mendesah -- mereka bukan orang bodoh. Mereka sangat pintar dan berbakat dalam beberapa hal, jelas akan sangat mencurigakan jika Zhen mengiyakan keinginan mereka walaupun besar keinginan mereka untuk mencapai ambisi yang mereka" lanjut kaisar Wei menjelaskan alasan dari tindakan dan perilakunya hari ini.


"Untuk saat ini, biarkan Zhen melakukan sandiwara ini!"


.


.


.


Disisi lain, tepatnya di sebuah kediaman besar yang di depan gerbang kediaman tersebut tergantung sebuah papan ukiran emas dengan tertulisan keluarga Li.


Disebuah pavilium yang ada di kediaman tersebut nampak seorang pria paruh baya masih dengan pakaian pejabat yang menempel dan membalut tubuhnya tengah mengantar seorang tabib dan juga tukang urut keluar dari pavilium tersebut setelah mereka mengobati Li Ming An.


Kemarin, putri kediaman keluarga Li pulang dengan rintihan kesakitan. Pakaiannya nampak kotor dan juga ada beberapa bagian yang sobek. Penampilannya sangat kacau terlebih ada beberapa daun dari sayur segar, jerami, dan patahan kayu yang menempel dan menyangkut di pakaian Ming An dan juga rambutnya.


Pejabat Li Jung Shi yang saat itu masih berada di kantor pemerintahan tak tahu apa yang putrinya perbuat diluar pengawasannya. Sebab ia terlalu sibuk dengan pekerjaan, urusan pemerintahan dan juga turut serta mencari perlindungan, sokongan dan bantuan dengan ikut andil menjadi salah satu pendukung pangeran Rong demi kedudukan yang lebih tinggi kelak.


Namun siapa yang sangka, saat ia pulang, ia mendapat kabar dari kepala pelayan bahwa putrinya membuat masalah besar yang akan menghambat karirnya. Pejabat Li memijit pelipisnya, kepalanya seakan dihantam sebuah palu besar yang tak kasat mata. Rasanya sakit juga pusing secara bersamaan yang ia rasakan. Pria paruh baya itu bahkan memejamkan matanya saat rasa pusing, dan juga denyutan yang tak kunjung reda dan berhenti berhasil membuatnya meringis memikirkan masalah yang akan keluarganya hadapi karena perbuatan putrinya.


Seharusnya pejabat Li tak memanjakan putrinya yang bahkan di usianya yang telah memasuki 19 tahun tak kunjung menikah ataupun bertunangan. Hal itu dikarenakan putrinya selalu makan banyak disaat berat badan tubuhnya sangat mudah naik.


Pejabat Li menghela nafas berat "diantara banyaknya nona muda, mengapa ia harus menciptakan masalah dengan nona muda dari keluarga militer Feng?"


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


13 November 2019


__ADS_2