Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 12


__ADS_3

Ai berhasil keluar dari hutan yang tidak jauh dari halaman belakang kediaman Feng. Ai membungkuk seraya mengatur nafasnya yang memburu hebat, sesekali Ai menoleh kebelakang seraya memastikan bahwa ia telah aman.


Bobo terus memasang sikap waspada, ia terus saja mengitari tubuh Ai yang bergetar hebat, sesekali serigala putih itu mengeram ketika para penduduk kerajaan MingQi yang berlalu lalang menatap Ai dengan raut wajah bingung dan juga penasaran. Selain itu ada beberapa dari mereka yang memilih mengambil jarak lumayan jauh dari keberadaan Ai yang berada di pingir jalan besar ibukota karena takut dan ngeri dengan keberadaan Bobo yang melindungi Ai.


"Hengh.. henghh.."


Nafas Ai masih memburu hebat, Ai tak menyangka mampu berlari secepat itu. Refleks tubuhnya sangat baik ketika mengetahui adanya bahaya yang mengancam nyawanya. Ai tak tahu, mengapa hatinya begitu ingin kembali kemasa lalu. Mengapa hatinya ingin tinggal ketempat yang sama sekali tak mampu memberinya rasa aman dan kebebasan. Keinginan hatinya memang patut di pertanyakan, keinginan hatinya yang terbesar dan paling gila adalah pilihan dimana ia ingin menaruh dirinya dalam mara bahaya.


"Bobo, mari kita pulang!" Kata Ai menegakan tubuhnya melangkah meninggalkan para penduduk yang masih menatap Ai dengan tatapan penasaran akan sosoknya.


Ai yang ditatap seperti itu sama sekali tidak peduli, saat ini yang perlu ia lakukan adalah pulang kekediaman Feng dengan selamat. Mungkin besok - besok ia akan menghindari atau tidak akan pernah mendatangi hutan yang berada dibelakang kediaman Feng. Jujur saja Ai masih merasa takut dan trauma dengan ingatan yang diberikan padanya.


.


.


.


Sepanjang perjalanan, Ai baru saja menyadari bahwa ia mengambil rute yang berbeda. Sebelumnya saat ia hendak kehutan yang berada dibelakang kediaman keluarga Feng, ia tidak perlu melewati jalan raya ibukota MingQi. Tapi dibawah sinar matahari yang terik ini, ia harus melewati jalan yang berbeda untuk menuju kediaman keluarga Feng.


Ai mendesah, karena ketakutan ia berlari mencari jalan keluar yang berbeda dari jalan yang ia masuki. Alhasil saat ini Ai harus menahan diri untuk tidak menyemprot luapan kemarahan yang sudah mencapai ubun - ubunnya karena tatapan penasaran banyak orang yang kini tertuju pada dirinya.


Disaat Ai tengah merutuki kesalahannya yang mengambil jalan yang salah, tiba - tiba saja tubuhnya terhuyung kebelakang dan tubuh mungilnya terhempas jatuh ke atas tanah yang kasar dan memancarkan hawa yang panas.


Buk!


Ai meringis merasakan sakit ketika pantatnya dengan keras menghantam permukaan tanah. Ai mendongak, ia menatap tajam benda yang baru saja menabraknya dengan begitu keras dan kasar.


Dihadapannya, seorang pemuda tampan berusia 24 tahun dengan dibalut baju kebesaran seorang pangeran tengah menatap Ai dengan raut wajah bersalah. Pemuda itu lantas mengulurkan tangannya hendak membantu Ai, namun diluar dugaan, sebelum pemuda itu mengulurkan bantuan, Ai lebih dulu berdiri dengan susah payah dan membersihkan rok bahawannya yang kotor tanpa mempedulikan pemuda yang nampak terkejut dengan sikap yang Ai tunjukan.


Pemuda itu adalah pangeran Rong, siang ini ia memang berencana keluar dari istana menghindari kepenatan dan keagresifan para pejabat pemerintahan yang tak pernah surut datang menemuinya dan terus mencari perhatiannya. Karena bosan dan jenuh, pangeran Rong memilih keluar istana mencari udara segar.


Siapa yang menyangka, disaat ia asik bercanda dan bercerita dengan sahabatnya Ji YuSu ditengah keramaian ibukota MingQi yang semakin padat walaupun cuaca siang ini sangat panas, pangeran Rong tak sengaja menabrak seorang nona muda hingga terjatuh dan menghantam permukaan tanah dengan begitu keras.


Pangeran Rong menarik uluran tangannya yang sempat tergantung diudara saat hendak membantu nona muda yang sibuk membersihkan hanfunya yang kotor, pangeran Rong lantas meringis dan berucap "apakah kau tidak apa - apa nona muda?" Tanya pangeran Rong hati - hati pasalnya nona muda dihadapannya nampaknya sangat kesal dengan kejadian yang baru saja di alaminya.


Ai yang mendengar pertanyaan itu mengalihkan tatapannya pada pemuda yang baru saja berhasil membuat pantatnya bercumbu dengan mesra dengan permukaan tanah yang kasar. Ai menatapnya dengan tatapan amat kesal. Coba beritahu Ai, apakah ada seseorang yang tidak marah mendapat perlakuan seperti ini? Walaupun Ai tahu mungkin pemuda dihadapannya tidak sengaja menabrak Ai, tetap saja Ai yang dalam suasana hati buruk merasa marah.

__ADS_1


Ai menghela nafas berat, percuma jika ia membuang waktunya dan tenaganya berhadapan dengan pemuda dihadapannya. Ai cukup menyelesaikan semuanya dengan cepat dan pergi dari kerumunan orang yang semakin menatap mereka dengan tatapan penasaran.


"Saya tidak apa - apa" jawab Ai sopan


"Tapi lain kali, saya harap anda berhati - hati. Ini jalan raya ibukota MingQi, banyak orang yang berlalu lalang disini" Tukas Ai lalu lantas membungkuk meninggalkan pangeran Rong dan YuSu yang tertengun dengan ucapan sarkas Ai yang kini berlalu meninggalkan mereka di bawa tatapan terkejut para penduduk MingQi yang baru saja menyaksikan tontonan yang menarik.


"Entah hanya perasaanku saja, mengapa aku merasa bahwa kita seolah - olah baru saja dicampakan?" Gumam YuSu sepeninggal para penduduk MingQi yang mulai berhamburan meninggalkan tempat mereka berdua.


.


.


.


Lie dan Yong baru saja memasuki halaman manor putra mahkota Rui yang berada di tengah hutan terlarang yang berada dibawah kaki bukit barat kerajaan MingQi.


Lie menatap manor putra mahkota Rui dengan takjub, ia tak habis pikir, bagaimana bisa junjungannya membangun bangunan sebesar ini di tengah hutan dengan begitu megah dan mewah padahal hutan tersebut sudah sangat lama tak terjamah oleh manusia.


Bukankah akan sangat disayangkan jika keindahan dan kemegahan yang manor tersebut miliki disembunyikan tanpa dinikmati banyak orang? Keindahan dan kecantikan manor putra mahkota Rui sangat sayang jika dilewatkan.


Sayang Lie baru saja sadar, jika putra mahkota Rui bukanlah pemuda yang ingin berbagi miliknya begitu saja. Buktinya, saat posisi pewaris kerajaan goyah, ia tidak tinggal diam walaupun saat ini ia tengah melakukan rencana persembunyian untuk memuluskan rencana yang selama ini telah ia susun.


"Hehehe, syukurlah jika gege Lie menyadari hal itu" kekeh Yong.


"Gege iri padamu, disaat kau menikmati menghirup udara segara tanpa kepalsuan dan tipu muslihat, gege malah harus menghirup bau busuk kebohongan yang tidak pernah ada habisnya diistana dalam" keluh Lie disela - sela perjalanan mereka menuju ruang kerja putra mahkota Rui


"Jika kakak Lie lelah, tidak ada salahnya untuk sering berkunjung kesini mencari udara segar dan menjernihkan pikiran. Ben gong sama sekali tidak akan keberatan" sahut putra mahkota Rui yang  entah sejak kapan telah berada di terasa pavilium utama.


Lie langsung saja membungkuk hormat saat menyadari putra mahkota Rui baru saja nimbrung dalam obrolan mereka "hormat hamba pada yang mulia putra mahkota, semoga anda selalu diberi lindungan keselamatan, lindungan kesehatan serta berumur panjang" kata Lie sopan


"Bangunlah kakak Lie, Ben gong memintamu kemari bukan untuk mendapat penghormatanmu, Ben gong meminta kakak Lie kemari karena Ben gong butuh bantuanmu" kata putra mahkota Rui yang menurut pendengaran Lie seperti sebuah perintah.


Lie menegakan tubuhnya dengan patuh, Yong yang berada disisinya lantas menertawakan kekakuan saudaranya "kurasa gege Lie belum mampu beradaptasi dengan sikap anda yang terlalu ramah. Gege Lie mungkin terkejut dengan sikap anda di pertemuan pertama semenjak kejadian itu yang begitu mengejutkan, yang mulia" kata Yong yang membuat putra mahkota Rui mengangguk geli.


"Kurasa apa yang kau katakan benar Yong, melihat ekspresi kakak Lie yang kaku dan tegang membuat Ben gong merasa bersalah bersikap terlalu ramah di pertemuan pertama sejak kejadian itu. Mungkin kakak Lie berpikir, Ben gong adalah orang yang begitu terburu - buru" balas putra mahkota Rui menertawakan kebodohannya.


Lie yang merasa dirinya tengah menjadi topik pembicaraan yang menarik oleh dua pemuda dihadapannya lantas menekuk wajahnya masam. Ia dengan kesal berkata "Jika kalian berdua hanya ingin mengejek dan menertawakanku, lebih baik aku pulang saja!" Kata Lie merajuk

__ADS_1


.


.


.


Disisi lain, Ai baru saja tiba di kediaman Feng yang kini nampak gaduh karena kepergiannya. Ai menatap para pelayan dan pengawal yang hilir mudik dengan langkah tergesa - gesa dan juga terburu - buru hingga mereka bahkan tak menoleh ataupun menatap Ai yang baru saja menapakan kakinya di halaman kediaman keluarga Feng.


"Paman Zhong!" Teriak Ai ketika pria paruh baya itu hendak melewatinya tanpa menoleh menatap Ai.


Kepala pelayan Zhong yang merasa terpanggil lantas menghentikan langkahnya dan mendongak menatap sosok yang baru saja memanggilnya. Saat wajahnya terangkat, seketika kepala pelayan Zhong menampilkan raut wajah cerah. Wajah yang sedari tadi khawatir dan cemas kini telah digantikan oleh raut wajah lega saat menatap nona muda yang sejak beberapa jam yang lalu sibuk mereka cari diseluruh kediaman Feng.


"Nona Ai, dari mana saja anda?" Tanya kepala pelayan Zhong dengan nada khawatir


"Kami sudah mencari anda sedari tadi, syukurlah anda pulang dengan keadaan selamat" tambahnya


Ai meringis merasa bersalah karena telah membuat keributan dan membuat semua orang karena kepergiannya tanpa memberitahukan siapapun. Ai lantas meminta maaf kepada kepala pelayan Zhong dengan rasa penuh penyesalan


"Maafkan Ai paman Zhong, Ai keluar tanpa memberitahu paman terlebih dahulu. Ai bersalah, Ai tidak akan membuat keributan ataupun menyusahkan kalian lagi" sesal Ai


"Apa yang anda katakan nona Ai?" Tanya kepala pelayan Zhong yang begitu terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Mungkin usianya yang sudah tua membuat pendengarannya menjadi bermasalah. Tentu saja ia akan beranggapan seperti itu, selama ia mengabdikan dirinya di kediaman keluarga Feng, ia tidak pernah sekalipun mendengar nona mudanya meminta maaf pada bawahannya walupun ia berbuat salah sekalipun.


Biasanya nonanya akan bersikap acuh dengan mereka apabila nona muda mereka berhasil membuat mereka kelelahan akan sikap dan perilakunya. Tapi hari ini, nona mudanya baru saja menyesali perbuatannya, mungkinkah nona mudanya terbentur sesuatu sebelum ia kemari? Jika memang ia tolong kembalikan kesadaran dan kewarasan nona mudanya saat ini, karena jujur saja, kepala pelayan Zhong entah mengapa merasa ngeri dan tidak nyaman dengan perubahan sikap nona mudanya yang begitu tiba - tiba.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


14 Oktober 2019


__ADS_2