
Guang menatap dengan kesal gerbang utama istana MingQi, sejak beberapa jam yang lalu, ia sudah berada disana menunggu utusan yang mulia kaisar Wei yang mulai malam ini akan bertugas menjaga keselamatan nona Ai bersamanya.
Waktu terus berlalu, malam semakin gelap, udara semakin dingin, suasana gerbang utama yang biasa ramai akan akses keluar masuk para penduduk MingQi yang membawa upeti dan juga segala keperluan istana mulai sepi.
Guang yang menyadari suasana disekitarnya mulai tak seramai tadi hanya mampu menghela nafas berat. Ujian terbesar dalam hidupnya adalah menjadi pengawal pribadi nona Ai yang jelas tidak mudah. Sekarang nampaknya Sang pencipta masih ingin bermain dengannya dan memberi ujian baru dengan keberadaan pengawal pribadi lain yang juga akan menguji kesabaran miliknya.
Guang tidak yakin bisa akur dan mencocokan dirinya dengan pengawal yang kaisar Wei kirimkan, pasalnya dihari pertamanya bekerja ia bahkan sudah membuat Guang kesal dengan menunggunya terlalu lama.
Ini baru hari pertama, bagaimana dengan hari - hari selanjutnya? Guang jelas bukanlah orang yang sabaran. Jika bukan karena perintah langsung dari tuan mudanya, ia mungkin saja sudah meninggalkan pengawal yang akan bekerja bersamanya nanti.
Masa bodoh jika pengawal baru itu kesal karena ia tinggal, Guang tidak peduli. Bukankah itu sendiri adalah salahnya yang tidak tepat waktu dan tidak disiplin?
Seharusnya sebagai seorang yang terlatih, tepat waktu dan disiplin adalah dasar utama yang seharusnya dimiliki seorang pengawal dalam menjalankan tugasnya.
"Jika pengawal baru itu tak datang 10 menit lagi, aku akan pulang dan mengatakan pada tuan Qiang jika pengawal itu tidak datang menemuiku! Masa bodoh dengan pekerjaannya. Jika ia mendapat hukuman ataupun di pecat, itu karena kesalahannya. Yang terpenting aku sudah menunggu disini sejak berjam - jam yang lalu melaksanakan tugas dan perintah tuan muda Qiang" putus Guang kehabisan kesabaran
.
.
.
Bayangan nona muda yang menatapnya dengan tatapan kesal dan tidak suka terus saja berputar dalam pikiran pangeran Rong. Wajah cantik nona muda yang menatapnya dengan tatapan tidak suka sungguh sangat mengganggu ketenangan pangeran Rong.
Selama hidupnya, ia tidak pernah dipelakukan seperti ini. Ia tidak pernah mendapat tatapan yang seakan meremehkan dan menginjak harga dirinya yang tinggi. Sebagai seorang yang besar dengan sanjungan dan pujian, pangeran Rong merasa ego dan harga dirinya diinjak merasa tidak terima diperlakukan seperti itu. Ia ingin selalu mendapat tatapan yang sama dari semua orang, tatapan kagum dan penuh puja. Mendapat tatapan berbeda dari biasa yang ia dapatkan sungguh sangat mengusik dan mengganggu ketenangannya.
Pangeran Rong tidak biasa membiarkan hal itu terus terjadi. Bayangan nona muda itu terlalu menganggu. Pangeran Rong jelas akan melakukan berbagaimacam cara agar membuat nona muda itu juga bertekuk lutut akan pesonannya. Pangeran Rong akan membuat nona muda itu tak mampu lepas dari dirinya, ia sudah bertekad, akan membuat nona itu tak mampu berkutik. Ia akan mengengamnya sangat erat hingga ia tak mampu lepas. Ia akan membuat nona muda itu menyesal pernah melukai harga dirinya.
"Ju Muan!"
Seorang pemuda berusia 25 tahun lantas keluar dari balik pilar yang ada di dalam peraduan pangeran Rong. Pemuda itu adalah pengawal pribadi sekaligus orang kepercayaan pangeran Rong, yang telah lama mengabdi pada pemuda yang berusia satu tahun lebih muda darinya.
"Hamba yang mulia" kata pemuda itu menghadap pangeran Rong yang nampak sangat frustasi dan terganggu dengan bayangan nona muda yang ditabraknya siang tadi.
"Kau mengingat nona muda yang Ben Wang tabrak?" Tanya pangeran Rong memastikan jika Muan melaksanakan tugas dan perintahnya dengan baik
"Tentu" jawab Muan cepat
"Cari informasi nona muda itu, Ben Wang menginginkan semua tentang dirinya besok pagi" perintah pangeran Rong.
"Ben Wang akan membuat ia menyesal karena telah berhasil membuat Ben Wang seperti ini!"
.
__ADS_1
.
.
Seorang pemuda melompat dari atap keatap bangunan istana MingQi, ia melompat tanpa kendala seakan - akan atap miring setiap bangunan yang ada di istana adalah jalan setapak.
Pemuda itu mengenakan pakaian hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki, wajahnya di tutupi cadar dan hanya menyisahkan kedua mata yang memancarkan tatapan tajam.
Pemuda itu adalah tangan kanan pangeran Rong, Ju Muan. Saat ini ia akan keluar istana menjalankan perintah pangeran Rong untuk mencari informasi mengenai nona muda yang membuat pangeran Rong terusik dan terus kepikiran.
Tujuan Muan saat ini jelas menuju rumah pelacuran Qujin. Alasan ia kesana bukan untuk bersenang - senang, tapi karena dirumah pelacuran Qujin, ia bisa mendapat apa saja. Walaupun rumah pelacuran Qujin nampak seperti rumah pelacuran lainnya yang ada di ibukota MingQi, tapi sebenarnya, rumah pelacuran Qujin bukan hanya sekedar rumah pelacuran.
Tidak banyak yang tahu jika rumah pelacuran Qujin juga merupakan tempat perjudian, pengadaian dan juga pasar gelap. Selain menyediakan jasa hiburan, berupa tarian, dan kehangatan untuk memuaskan nafsu para pria bejat, rumah pelacuran Qujin juga menjual minuman keras, wanita, informasi, binatang langka dan barang - barang ilegal lainnya.
Ada beberapa orang yang mengetahui fakta itu, tapi tak ada satupun penduduk yang berani melaporkan transaksi gelap yang biasa terjadi di rumah pelacuran Qujin sebab beberapa dari mereka kadang membutuhkan apa yang rumah pelacuran Qujin jual dan tawarkan.
Muan melompat turun dan menapakan kakinya dengan sempurna di atas tanah yang kasar, ia kini berdiri dihadapan sebuah bangun besar berlantai dua yang masih nampak ramai walaupun malam sudah semakin larut.
Muan melangkah masuk kerumah pelacuran Qujin, saat ia baru saja melangkahkan kakinya memasuki bangunan tersebut, Muan sudah diserbu dan disambut para gadis penghibur dengan pakaian tipis dan transparan yang memamerkan lekuk tubuh mereka yang nampak menggoda.
"Tuan, apakah anda kemari ingin mencari kehangatan?" Tanya seorang gadis penghibur yang mengapit tangan kanan Muan dengan manja.
Muan menunduk menatap gadis penghibur yang bergelayut manja di lengannya, ia menatap gadis itu dengan tatapan datar dan dingin, dan hal itu berhasil membuat gadis penghibur itu merasakan aura mengintimidasi. Dengan cepat gadis itu melepas lengan Muan, karena takut dengan aura yang Muan keluarkan.
"Sikap dinginmu tidak pernah berubah Muan" tegur seorang gadis berbalut hanfu dengan potongan kerah yang rendah sehingga memamerkan buah dadanya.
"Aku tidak peduli" balas Muan melangkah menghampiri gadis itu.
"Jika kau kesini bukan untuk dirayu mereka, lantas apa yang kau cari dengan datang kemari?" Tanya Chenyu yang merupakan asisten menejer sekaligus anak pemilik rumah pelacuran Qujin.
"Dimana menejer Chong?" Tanya Muan mengabaikan pertanyaan Chenyu
"Tks, kau kebiasaan mengabaikan pertanyaan orang lain" dengus Chenyu kesal.
"Karena pertanyaanmu tidak penting!" Balas Muan cepat
"Tentu saja pertanyaanku penting, aku menanyakan alasan keberadanmu disini" sahut Chenyu dengan kekesalan yang sudah mencapai ubun - ubun karena sikap dan perilaku sahabat kecilnya yang selalu berhasil membuatnya kesal setengah mati.
"Bukankah sudah ku jawab dengan mencari keberadaan menejer Chong?" Balas Muan yang berhasil membuat Chenyu mengamuk dengan berlari menerjangnya.
Chenyu sangat kesal dengan Muan, pria itu selalu saja membuat Chenyu ingin memukul ataupun mencakarnya jika ia datang berkunjung kerumah pelacuran Qujin.
Muan yang sadar akan mendapat amukan dari sahabat kecilnya segera menahan kedua tangan Chenyu yang ingin menancapkan kuku - kuku panjang miliknya kewajah Muan yang masih tertutupi cadar.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku brengsek! Aku ingin mencakar wajah menyebalkanmu itu" kata Chenyu meronta.
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu, jika ku lepaskan wajah tampanku akan mendapat luka gores darimu" balas Muan.
"Biarkan saja, biakan saja wajahmu itu mendapat luka gores. Kau sangat menyebalkan Muaaannn!" Teriak Chenyu.
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara berat itu menghentikan aksi keduanya, Muan dengan cepat melepas kedua tangan Chenyu dan dengan cepat melangkah menghampiri pria paruh baya yang kini munuruni setiap anak tangga.
"Manejer Chong" seru Muan
"Anak nakal, mengapa kau terus mencariku jika kau kemari?" Tanya menejer Chong kesal.
"Apakah aku tak boleh mencarimu? Kau jahat sekali!" Kata Muan pura - pura merajuk.
Hal itu jelas membuat Chenyu yang melihatnya nyaris muntah. Tentu saja perkataan Muan tak singkron dengan ekspresi yang ia tampilkan saat ini.
"Siapa bilang tidak boleh?" Tanya menejer Chong pada Muan.
"Mungkin Chenyu" jawab Muan yang langsung mendapat teriakan tidak terima dari Chenyu
"Jangan menyeret - nyeretkan namaku!" Protes Chenyu yang membuat menejer Chong dan Muan terkekeh.
"Jadi, ada apa kau mencariku Muan?" Tanya menejer Chong langsung pada intinya.
"Aku mencarimu karena menginginkan informasi seorang nona muda!"
"Apa?"
.
.
.
.
.
TBC
19 Oktober 2019
__ADS_1