Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 4


__ADS_3

Entah apa yang sebenarnya yang terjadi pada kediaman mereka, mereka jelas - jelas baru saja membawa Feng Ru Ai pulang beberapa waktu yang lalu. Lantas bagaimana bisa putri bungsu jendral Holing itu tiba - tiba menghilang?


Ini aneh. Bagaimana tidak? Kediaman Feng merupakan kediaman seorang jendral besar, bagaimana bisa gadis berusia 16 tahun hilang dari pengawasan para penjaga dan prajurit yang sudah di perketat oleh jendral besar Holing dan wakil jendral Qiang.


Terlebih lagi Feng Ru Ai bukanlah anak kecil yang keberadaannya sulit dicari, ia adalah seorang nona muda yang telah memasuki usia yang pantas untuk menikah. Jika Feng Ru Ai menghilang disaat kondisinya masih lemah seperti yang dokter kerajaan BoQing katakan, lantas bagaimana ia bisa bertahan di kondisi yang masih lemah dan rapuh seperti itu?


Mungkin saja mereka kurang teliti mencari putri bungsu kediaman keluarga Feng, tidak mungkin Ai pergi jauh dari kediaman kecuali jika putri bungsu kediaman keluarga Feng di culik.


Memikirkan hal itu lantas membuat Qiang bergerak cepat, sebelum ia keluar melalui pintu ruang kerja ayahnya, Qiang sempat menoleh dan berkata "Kurasa ayah harusnya segera meminta bantuan yang mulia kaisar, jika tak ingin terjadi apa - apa dengan mei mei" kata Qiang memperingati jendral Holing untuk lekas bertindak.


Jendral Holing dengan sigap lantas menyambar lencana identitas militer khusus untuk para petinggi militer, ia berniat meminta bantuan pada yang mulia kaisar Wei sore ini juga. Jendral Holing tak ingin menunda - nunda, pasalnya ini menyangkut keselamatan putrinya juga menyangkut mengenai dalang dari pelaku penculikan putra mahkota Rui.


"Keistana sekarang!" Perintah jendral Holing pada para prajuritnya.


.


.


.


Ai tidak tahu mengapa ketika ia bangun dari tidurnya, ia sudah berada di tengah hutan yang nampak sangat gelap padahal hari masih sore.


Mungkin karena pepohonan yang tumbuh tinggi dan rindang yang membuat pencahayaan di dalam hutan tersebut minim, sehingga Ai yang berada di tengah hutan merasakan aura dingin ketakutan yang mencekam.


Ai tidak tahu, mengapa kakinya membawanya melangkah pergi dari kediaman keluarga Feng menuju hutan yang tidak jauh dari belakang kediaman besar tersebut. Ai tidak tahu, mengapa hatinya seakan terpanggil untuk menuju suatu tempat yang ada di tengah hutan yang nampak sangat menyeramkan tersebut.


Semilir angin akhir musim gugur tak mampu mematahkan keinginan Ai menyusuri jalan setapak penuh bebatuan tanpa alas kaki menuju tempat yang membuat hatinya terasa di panggil, bajunya yang tersibak angin kencang pun tak menjadi penghalang baginya untuk tetap terus melangkahkan kaki walaupun tiupan angin akhir musim gugur cukup kencang dan mampu menerbangkan ataupun menghempaskan tubuh kecil dan mungilnya kapan saja.


Sayang tekat yang ada dalam diri serta rasa penasaran Ai akan tempat yang ia tuju terlalu kuat dan besar, hal itulah yang membuatnya tetap nekat melangkah meneruskan perjalanan menasuki hutan pertama dan juga yang merupakan hutan yang untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya ia masuki seorang diri.


Langkah Ai terhenti ketika menemukan sebuah bangunan mewah di tengah hutan yang nampak seperti sebuah rumah terpencil. Ai melangkah mendekat, hatinya dan tubuhnya seakan bergerak sendiri seperti ada sebuah sihir yang memanggilnya memasuki bangunan yang nampak terawat tersebut.


Tanpa Ai bisa cegah, tubuhnya melangkah menghampiri bangunan yang penuh penerangan tersebut. Ia melewati gerbang utama tersebut dan melangkah dengan pandangan kosong menatap kedepan seakan - akan ada roh lain yang merasuki dirinya.

__ADS_1


Seharusnya Ai tidak masuk, seharusnya ia pergi ketika mengetahui ada bangunan asing dipedalaman hutan yang berada di belakang kediaman besar Feng, seharusnya Ai tidak tinggal dan menyusuri bangunan yang entah mengapa nampak femiliar baginya.


Air mata Ai seketika luruh dari pelupuk matanya, ia tak tahu sejak kapan air matanya mengenang di pelupuk dan kini telah berhasil membasahi pipinya yang mulus.


Ai menunduk dan menyeka air matanya, saat ia mendongak dan kembali memfokuskan pandangannya kedepan, ia tertengun. Di hadapannya kini berdiri seorang pemuda dengan aura kebangsawanan dan keangunan yang begitu kental tengah menatap Ai dengan tatapan tajam dan dingin.


Seharusnya Ai merasa takut dan gemetar saat mendapati tatapan penuh intimidasi yang di lemparkan pemuda itu, sayangnya hati, tubuh dan pikiran Ai berkhianat. Ia justrul merasakan hatinya berdebat, rasa rindu yang entah ada sejak kapan ada pada dirinya seketika membunyah dan mencuak di permukaan.


Lagi, Ai menjatuhkan air matanya hanya karena melihat sosok pemuda yang entah mengapa sangat ia rindukan.


.


.


.


"Yang mulia, mengapa anda diam saja? Gadis itu menyusup masuk dalam manor anda, apakah kita akan membiarkannya saja?" Tegur Kong Li Yong yang merupakan sahabat sekaligus tangan kanan putra mahkota Rui.


Melihat hal itu tentu saja putra mahkota Rui merasa risih dan terganggu, selama hidupnya tidak ada seorang pun yang tak tunduk dari tatapan mengintimidasinya yang mampu membuat setiap sendi dan tulang semua orang gemetar. Tapi, nona muda yang nampak tak asing dihadapannya kini sama sekali tidak merasakan rasa takut seperti kebanyakan orang yang akan langsung gemetar ketika membalas tatapannya, nona muda yang kini berada dalam halaman manornya malah memberinya tatapan yang sangat sulit untuk putra mahkota Rui artikan dan jabarkan.


Mungkin hanya perasaannya saja, putra mahkota Rui menangkap secerca kerinduan yang mendalam di balik netra bening milik nona muda tersebut. Untuk sesaat putra mahkota Rui terhanyut dalam tatapan tersebut, entah mengapa hatinya yang telah sekian lama membeku kini merasakan getaran hangat yang terasa asing untuknya.


Putra mahkota Rui lantas menggeleng, ia tak boleh terhanyut ataupun terbawa akan suasana yang entah mengapa seakan pernah terjadi pada sebelumnya. Ia lantas menoleh dan menatap sahabatnya dan berkata "antar nona muda itu pulang kekediamannya, pastikan ia tutup mulut sebelum rencana kita selesai" kata putra mahkota Rui lalu meninggalkan Yong yang kini mematung karena tak tahu harus mengantar pulang kemana nona muda yang baru saja menyusup di tempat paling rahasia milik putra mahkota Rui tersebut?


Yong yang mendapati situasi buntu lantas menghampiri nona muda yang terus menatap punggung putra mahkota Rui yang semakin menjauh, ia mengamati pergerakan nona muda yang nampak tidak asing dimata Yong tersebut hingga punggung putra mahkota Rui menghilang dibalik pintu pavilium utama.


"Apakah kau mengenal yang mulia putra mahkota Rui?" Tanya Yong menyentak Ai dari lamunannya.


Ai lantas menoleh menatap Yong, ia lalu menggeleng dan berkata "Aku tidak yakin" jawabnya dengan nada ragu


"Tapi entah mengapa, aku merasa sudah sangat akrab dengan pemuda itu" tambah Ai yang membuat Yong mengernyit kening bingung.


"Apa maksudmu nona muda?" Tanya Yong tidak mengerti

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak tahu dengan diriku sendiri" balas Ai "bisakah kau mengantarku pulang? Kediaman keluargaku tidak jauh dari sini" pinta Ai setelah termenung sesaat.


Yong tentu saja mengangguk, ia lantas mengiring Ai keluar dari manor putra mahkota Rui di temani beberapa pengawal dan prajurit khusus yang selalu mengikuti mereka di balik kegelapan.


Sepanjang perjalanan Yong terus berpikir dan mencari ingatan - ingatan mengenai sosok nona muda yang melangkah dibelakangnya, Yong terus berpikir hingga ia tak sadar kini telah sampai pada gerbang belakang kediaman keluarga Feng.


"Terima kasih telah mengantarku pulang" kata Ai menyentak Yong dari lamunan.


Yong lantas menatap sekelilingnya dan begitu terkejut ketika mengetahui tempatnya saat ini berada tepat di gerbang belakang kediaman jendral besar Feng. Yong mengerjap tidak percaya menatap nona muda di hadapannya, pantas saja ia merasa tidak asing dengan nona muda di hadapannya, ternyata nona muda yang selama ini mereka cari untuk dilindungi begitu dekat. Bahkan nona muda tersebut entah memang sebuah kebetulan atau kesengajaan datang ketempat mereka.


"Kalian cukup mengantarku sampai disini, sekali lagi ku ucapkan terima kasih " tambah Ai saat tak mendapat respon apapun dari pemuda yang usianya seumuran dengan pemuda yang selalu memanggilnya mei mei


Ai hendak berbalik dan memasuki kediaman keluarga Feng, namun langkahnya terhenti saat Yong berkata dengan nada memperingati.


"Pastikan tidak ada yang tahu mengenai hal ini, nona muda Feng!"


Ai menoleh dan mengangguk sebelum kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Sepeninggalan Ai, Yong menghela nafas berat. Takdir seakan mempermudah rencana mereka, namun apakah pertemuan ini bisa mereka katakan keberuntungan atau sebuah keajaiban?


Yong rasa belum saatnya berpikir demikian, pasalnya semua baru saja akan dimulai. Ini baru awal, masih banyak lika liku yang harus mereka hadapi sebelum mencapai merasa puas diri dan merasakan kebahagiaan. Sebab, musuh mereka selalu siap mengintai kapan saja dan dimana saja.


.


.


.


.


.


TBC


10 Oktober 2019

__ADS_1


__ADS_2