Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 26


__ADS_3

Kereta - kereta mewah dari kediaman bangsawan, pejabat pemerintahan dan pejabat militer tengah mengantri di depan pintu gerbang utama istana MingQi.


Upacara penobatan diadakan di halaman aula utama istana MingQi yang luas. Hanya tinggal menghitung jam, segala rangkaian upacara penobatan akan dilangsungkan dan disaksikan oleh para bagsawan terhormat, pejabat pemerintah dan militer yang sangat beruntung dapat menghadiri upacara penobatan tersebut.


Banyak penduduk ibukota MingQi yang berkumpul didepan gerbang menyaksikan kereta - kereta mewah berlalu dihadapan mereka. Tak banyak yang mereka lakukan selain berdecak penuh kekaguman saat para keluarga bangsawan ataupun keluarga para pejabat pemerintahan dan pejabat militer turun dari kereta mereka lalu memasuki istana MingQi yang sangat mewah.


Selain decakan kagum terlontar dari mulut mereka, tak ayal mereka juga melontarkan kalimat - kalimat iri atas pakaian dan perhiasan para nyonya ataupun nona muda yang mereka kenakan.


"Betapa beruntungnya mereka menyaksikan upacara penobatan kaisar"


"Aku tidak begitu suka pesta ataupun upacara - upacara lainnya. Aku yakin didalam sana akan sangat membosankan. Hanya saja aku iri dengan mereka yang berpakaian cantik dan mewah. Andai aku diposisi mereka"


"Aku juga sama denganmu. Aku tidak terlalu suka pesta yang membosankan. Tapi walaupun aku tidak suka, jika memiliki keberuntungan seperti mereka menghadiri upacara penobatan, aku pasti akan datang karena aku hanya suka makan makanan mewah dan tentu saja gratis"


Terlalu banyak kalimat - kalimat kagum dan juga iri yang para penduduk MingQi lontarkan. Terlalu banyak hingga membuat suasana depan gerbang istana MingQi begitu berisik.


Sama halnya dengan suasana diluar gerbang utama istana, di halaman aula utama nampak para kasim dan dayang mulai bergegas menyelesaikan persiapan upacara penobatan. Gerakan mereka yang cepat bahkan suara teriakan dan diskusi atau perdebatan antara kasim dan dayang masalah pendapat yang berbeda kini menjadi latar.


Kepanikan melanda para kasim dan dayang. Acara baru akan dimulai beberapa jam. Tapi para tamu undang sudah berdatangan. Bahkan persiapan untuk upacara penobatan bahkan belum selesai. Halaman utama aula istana masih nampak berantakan. Selain itu hidangan makanan mewah bahkan belum tersedia. Tapi para tamu sudah berdatangan mengisi kursi - kursi yang berjajar sesuai dengan pangkat masing - masing pejabat.


Tamu yang lebih mendominasi halaman adalah para pejabat pemerintah. Mereka tidak perlu terkejut bahwa yang paling bersemangat menghadiri upacara penobatan adalah para pendukung pangeran Rong yang akan segera menaiki takhta. Menggeleng kepala pelan seraya mengenyahkan pikiran mereka. Sebab semakin lama mereka pikirkan antusias para pendukung pangeran Rong, maka semakin lambat mereka menyelesaikan pekerjaan mereka.


Para kasim dan dayang mulai mempercepat gerakan mereka menyelesaikan dekorasi di halaman aula istana. Terlebih matahari semakin naik kepuncak dan acara penobatan akan segera dilaksanakan. Pada akhirnya mereka mampu bernafas lega saat dekorasi telah selesai bertepatan dengan penuhnya kursi yang ada di halaman aula utama. Kursi - kursi itu telah di duduki oleh para pejabat kerajaan MingQi beserta dengan keluarga mereka.


Setelah mengecek bahwa persiapan upacara penobatan telah rampung, para kasim dan dayang akhirnya bisa istirahat sejenak karena tugas mereka untuk saat ini telah selesai. Mereka akan kembali bekerja setelah upacara penobatan selesai, karena saat itu akan memasuki sesi makan siang.


Suasana halaman aula utama semakin ramai akan obrolan para pejabat ataupun para nyonya pejabat. Ai yang duduk bersama Fan Hua di sisi kanan lebih memilih diam walaupun saat ini ibunya tengah mengobrol dengan Nyonya dari keluarga Lim. Ai menyandarkan punggungnya di kepala kursi, ia merasa sangat bosan dan mengantuk secara bersamaan.


"Mengapa lama sekali? Jika seperti ini, seharusnya aku tak usah ikut saja" dumel Ai yang mampu di dengar baik oleh Fan Hua.


Fan Hua berhenti mengobrol dengan nyonya Lim, ia kini menoleh dan menatap putrinya yang menampilkan raut wajah masam dengan bibir yang cemberut namun nampak menggemaskan dimata wanita yang melahirkannya itu. Sebenarnya bukan hanya Fan Hua yang merasa gemas dengan Ai, tapi para tamu lain terutama para pemuda yang tak mampu tak melirik dua kali akan sosok cantik nan mungil yang duduk di antara keluarga militer Feng juga menyetujui pemikiran Fan Hua.


"Bukankah putri jendral besar Holing nampak sangat menggemaskan dengan wajah cemberut seperti itu?" Tanya pemuda yang berada di kursi barisan para pejabat pemerintahan yang berhadapan dengan kursi pejabat militer yang di pisahkan oleh sebuah jalanan yang langsung menuju teras dan aula utama istana MingQi.

__ADS_1


"Kau benar. Betapa beruntungnya pria yang menikahinya nanti" balas pemuda di sampingnya.


Di tengah obrolan mereka mengenai putri jendral Holing yang mencuri perhatian banyak pemuda. Ada banyak nona muda yang merasa tidak senang akan pujian - pujian yang di lontarkan para pemuda untuk Feng Ru Ai. Selain para nona muda yang merasa tidak senang dan iri dengan Ai, di belakang rombongan para pejabat terdapat sosok pria dengan tudung kepala yang terbuat dari jerami dan berbaur dengan rakyat merasa tidak senang dengan tatapan para pemuda yang mengagumi Ai. Tatapan mereka begitu dalam dan intens dan hal itu membuat pria itu tidak senang.


"Setelah ini, Ben Gong tidak akan membiarkan mereka mengagumi wanita Ben Gong"


.


.


.


Satu jam telah berlalu. Namun keluarga kerajaan belum juga menghadiri upacara penobatan. Entah apa yang sedang terjadi. Yang jelas saat ini Ai mulai merutuki keluarga kerajaan dalam hatinya karena mereka, ia harus terperangkap dalam suasana membosankan dan menyebalkan seperti ini.


Beberapa kali Ai menguap, beberapa kali pula ia mengucek matanya dan berusaha untuk tetap terjaga. Jika saja tempat duduk Ayahnya bukan di barisan paling depan, mungkin saja Ai sudah tertidur.


Namun, setelah ia terperangkap dan kembali ke masa lalu. Ai diam - diam mempelajari sopan santun dan segala hal yang berkaitan dengan nona muda bangsawa termasuk belajar 4 seni tanpa sepengetahuan siapapun. Walaupun Ai cukup pandai dalam seni kaligrafi, tapi di MingQi nona muda bangsawan harus pintar setidaknya 2 dari 4 seni. Selain nona muda bagsawan harus pandai 2 seni, mereka juga harus pandai mengurus keuangan sehingga kelak ketika mereka menikah dengan seorang tuan muda dari golongan bangsawan setara tak akan mendapat cela ataupun gunjingan dari keluarga suami ataupun orang luar.


"Huaaammmhp!"


Ada beberapa orang cukup terkejut dengan apa yang Ai lakukan. Pasalnya bagi anak yang ditinggal jauh oleh ibunya di medan perang biasanya akan bersikap bar bar dan juga kasar. Namun dimata mereka putri jendral Holing berbeda. Ia nampak sangat berpendidikan dalam hal sopan santun dan beretika. Tentu saja apa yang mereka lihat jelas sangat berbeda jauh dari apa yang mereka bayangkan.


Lamunan beberapa orang yang memperhatikan Ai seketika buyar ketika sebuah gendang besar di pukul berdatalu - talu. Suara keras nan nyaring yang dihasilkan menyentak dan menyadarkan semua orang yang berada di halaman aula utama istana MingQi. Saat gendang berhenti menghasilkan bunyi, seorang kasim yang berdiri di pintu gerbang samping yang merupakan pembatas antara aula utama dengan bangunan lain lantas berteriak dengan keras dan lantang.


"Yang mulia kaisar dan yang mulia permaisuri telah tiba...."


Mendengar pengumuman dari kasim tersebut, semua orang lantas berdiri dari duduk mereka dan mulai membungkukan badan hingga kaisar Wei dan permaisuri Lien menduduki singgasana mereka masing - masing. Saat kedua petinggi dan penguasa MingQi telah menduduki kursi mereka. Para pejabat pemerintah dan militer pun kembali duduk dikursi mereka masing - masing.


Setelah semua pejabatnya duduk, kaisar Wei lantas berdiri dan memberi sepatah dua kata sebelum upacara penobatan di laksanakan. Setelah memberi sambutan yang hanya beberapa baris kalimat, kaisar Wei kembali duduk dan mengangkat cangkir anggurnya seraya mengajak para pejabatnya bersulang dan meminum anggur bersama. Semua orang kini menyesap anggur mereka kecuali para nyonya dan nona muda yang hanya meminum teh mereka.


Sambil meminum teh, Ai sesekali melirik kaisar Wei dan permaisuri Lien. Saat ekor mata Ai menatap permaisuri Lien yang nampak begitu angkuh dengan pakaian kebesarannya serta riasan tebal dan segala perhiasan mewah yang dipakainya entah mengapa membuat hati Ai merasakan nyeri. Ai merasa seakan - akan jantungnya diremas kuat.


Perasaan ini bukan kali pertama Ai merasakannya. Ia juga merasakan hal yang sama saat ia bertemu dengan pangeran Rong di kedai mie di ibukota MingQi beberapa waktu yang lalu. Perasaan tidak suka yang lebih di dominasi oleh kebencian membuat Ai tanpa sadar meremas cangkirnya kuat hingga kuku - kukunya memutih.

__ADS_1


Ada amarah yang sangat sulit untuk Ai jabarkan saat melihat permaisuri Lien ataupun putranya. Ai tidak tahu mengapa ia begitu tak menyukai keduanya. Setahu Ai, dari ingatan masalalu yang di anugerahkan olehnya dari Sang Pencipta penguasa takdir, waktu dan alam semesta. Ia tak memiliki masalah yang membuatnya membenci keduanya sampai pada titik ini.


"Ai'er.. apa yang kau lakukan? Tidak sopan menatap yang mulia permaisuri Lien seperti itu" tegur Fan Hua pada putrinya dengan suara yang amat rendah namun mampu didengar sangat baik oleh Ai


Ai mengerjap matanya. Kesadarannya terkumpul secara paksa saat suara Ibunya membuyarkan lamunan dan pikirannya. Kini Ai lantas segera menunduk dan bersikap acuh tak acuh dengan sekitarnya. Beruntung baik permaisuri Lien maupun tamu - tamu undangan tak menyadari tatapan Ai yang terkesan sangat lancang. Jika mereka menyadarinya atau permaisuri Lien menyadarinya, entah apa yang akan Ai hadapi.


Mungkin Ai mendapat teguran, mungkin juga mendapat hukuman. Pendapat kedua Ai rasa yang akan ia dapatkan dari sikap lancangnya. Terlebih lagi dari ingatan masalalunya permaisuri Lien sangat kejam dan kasar.


Ai menghela nafas lelah. Ia selalu lupa jika ia berada di tempat dimana peraturannya sangatlah ketat. Menyinggung orang yang lebih berkuasa maka hukuman mati akan menanti mereka. Jika di masa depan mereka paling - paling hanya dipenjara atau membayar denda. Namun di masa lalu nyawa seseorang seakan - akan sesuatu hal yang remeh dan di sepelekan.


"Ai'er.. mengapa kamu menatap permaisuri seperti itu? Kamu mau dihukum?" Tanya Fan Hua dengan suara lembut namun ada banyak tekanan pada setiap kata yang dilontarkannya.


"Aku tidak tahu!"


Fan Hua menghela nafas berat. Di usapnya kepala Ai dengan penuh kasih sayang. Tindakannya itu jelas menghangatkan dan meredamkan api yang bergejolak di hati Ai. Entah mengapa ia begitu menyukai perbuatan kecil Ibunya yang kadang membuatnya tenang dan nyaman. Mungkin karena selama ini ia kurang kasih sayang. Maka dari itu hal sederhana seperti inipun terasa sangat mewah dan berharga untuknya.


"Lain kali jangan lakukan. Ibu tidak mau kau dimarahi, dipukul ataupun mendapat hukuman dari orang lain. Kau tahu nak, kamu lahir di rahim Ibu. Ibu jelas tidak rela jika ada orang lain yang menyakitimu"


Perkataan Fan Hua menghangatkan hati Ai. Ingin rasanya Ai menangis terharu saat ini juga. Namun semua niatnya seketika menguap saat kasim kembali berteriak dan mengumumkan kedatangan seseorang.


"Yang mulia pangeran Rong dan pangeran Yan telah tiba...!"


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


8 Desember 2019


__ADS_2