Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 34


__ADS_3

Feng Ru Ai atau biasa di panggil Ai baru saja sampai di istana MingQi beserta dengan rombongannya. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya mereka tiba di istana.


Biasanya dari kediaman keluarga Feng menuju istana MingQi hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Namun untuk kali ini perjalanan mereka memakan waktu satu jam lebih beberapa menit dikarena mereka harus menghadapi beberapa kendala seperti beberapa ternak sapi menghadang mereka di tengah - tengah perjalanan, juga karena padatnya penduduk ibukota MingQi di pusat ibukota yang penasaran dengan rombongannya yang mencuri perhatian mereka.


Ai sungguh merasa seluruh tubuhnya sakit luar biasa. Duduk berdiam diri di dalam kereta membuat punggungnya terasa sakit. Ringisan kecil lolos dibibir tipisnya saat ia beranjak bangun dari duduknya, ia keluar dari kereta yang ia tunggangi dan turun di bantu oleh Guang dan Di Yu.


"Seharusnya ayah tak perlu menambah prajurit yang akan mengantarku ke istana jika hanya akan membuat kita terjebak dan datang terlambat seperti ini" gerutu Ai saat berhasil turun dari kereta.


"Nona muda tenangkan diri anda" tegur Guang


"Seharusnya anda bersyukur dan juga merasa senang dengan tindakan tuan besar. Itu tandanya tuan sangat menyayangi nona sehingga menambah prajurit untuk mengawal anda dengan selamat hingga istana" timpal Di Yu


"Tapi ini sangat berlebihan kakak Di Yu! Kurasa prajurit istana saja sudah cukup mengantar dan mengiring kita" balas Ai keras kepala.


Guang melotot tajam pada Di Yu. Ia lantas memberi isyarat pada Di Yu untuk berhenti berbicara. Sejak beberapa hari yang lalu suasana hati nona muda mereka sedang tidak baik. Dan demi keselamatan mereka berdua, diam adalah jalan terbaik untuk mereka saat ini.


Namun bukan Di Yu namanya jika ia akan menurut dan mendengarkan perintah Guang, pemuda itu memang sejak awal tidak pernah sependapat dengan Guang. Entah berapa banyak persediaan kesabaran yang Guang sediakan untuk menghadapi rekan kerjanya yang kekanakan ini.


"Tapi nona di lu--


"Sudahlah kakak Di Yu. Aku sangat lelah. Dan berhentilah untuk terus membantah perkataanku atau kakak Di Yu tidak lagi berkerja denganku" potong Ai yang membuat Di Yu tak mampu berkata - kata karena ancaman Ai.


Ai meninggalkan mereka saat seorang kasim datang menjemputnya dan membawanya menuju aula utama istana dan meninggalkan dua pengawalnya dan juga pelayannya yang sibuk menurunkan barang bawaan mereka.

__ADS_1


Saat punggung Ai sudah tak terlihat, Guang lantas berkata "bukan sudah kuperingati untuk tetap diam dan tidak bersikap kekanakan serta keras kepala? Lihatlah, nona muda bahkan mengancammu untuk berhenti berkerja dengannya" tukas Guang meninggalkan Di Yu seraya menyusul Ai.


Di Yu mengerjap beberapa saat. Ia terlalu terkejut dengan ancaman Ai sehingga ia nampak seperti orang yang di landa linglung. Ancaman Ai yang memiliki maksud bahwa ia akan di pecat terus terngiang - ngiang di telinganya.


Di Yu menggeleng seraya menghilangkan pikiran buruknya, ia tak ingin di pecat oleh Ai. Ia sudah nyaman dan menikmati kehidupannya yang baru. Walaupun awalnya sangat sulit baginya lepas dan menerima kenyataan jika ia di pindah tugaskan dari prajurit khusus kerajaan. Namun perasaan itu tak bertahan lama saat ia mengenal nona mudanya dengan baik, begitupun keluarga Feng yang memperlakukannya seperti bagian dari keluarga mereka.


"Nona anda tidak boleh memecatku!" Protes Di Yu saat kesadarannya baru saja terkumpul sepenuhnya


.


.


.


Ai bangun dari rebahannya dan mendudukan dirinya di atas peraduan. Ia mendesah tatkala pikiran mengenai pernikahannya yang akan dilangsungkan besok pagi di kuil Wulong membuat hatinya merasa tidak tenang. Bayang dimana ia akan menikah dengan kaisar Wei membuat pemikiran untuk melarikan diri yang sempat hilang kembali mencuak di permukaan.


Sayangnya. Saat pemikiran untuk melarikan diri kembali terbesit. Bayangan akan keluarganya kembali hadir dan membuat Ai merasa bimbang atas tindakan yang akan ia ambil.


Untuk entah sudah yang keberapa kalinya. Ai kembali mendesah. Ia turun dari peraduan dan melangkah menuju jendela besar yang bersisihan tidak jauh dari peraduan. Ai membuka jendela lebar dan hal itu membuat Guang dan Di Yu terkejut karena suara jendela yang terbuka cukup keras. Padahal mereka tengah asik mengobrol di bawah sinar rembulan di teras dekat jendela.


"Astaga!" Pekik Di Yu terkejut


Guang lantas menoleh pada jendela dan menemukan Ai yang mengabaikan keberadaan mereka. Biasanya jika nonanya melakukan kesalahan pada mereka, ia akan langsung meminta maaf. Namun nampaknya masalah yang nonanya hadapi nampak begitu berat sehingga ia nampak sangat tertekan dan kurang semangat sejak dikrit pernikahan diturunkan. Pertanyaan mengenai dengan siapa nonanya akan menikah mungkin sangat mengganggunya sehingga nonanya kerap kali melamun.

__ADS_1


"Nona mengapa anda tidak kunjung tidur?" Tanya Guang mengabaikan Di Yu yang terus mendumel dengan suara pelan tak lupa mengusap dadanya berulang kali.


"Bagaimana bisa aku tidur dengan tenang disaat pertanyaan mengenai siapa yang akan menikah denganku besok begitu sangat mengganggu!" Balas Ai


"Ini sangat melelahkan dan juga menyebalkan. Rasa pesaranan akan sosok mempelai priaku terlalu mengusik bahkan disaat aku tidur sekalipun" Ai menjeda menatap Guang dengan tatapan dalam "tak bisakah mereka memberiku kemudahan agar aku tak terus menerus kepikiran dan merasa resah dan gelisah seperti ini? Mengapa? Mengapa hanya aku yang merasa begitu berat? Mengapa hanya aku yang tak diberitahu alasan dan juga dengan siapa aku akan menikah? Mengapa? Mengapa harus menikah dengannya lebih dahulu agar aku tahu jawabannya!" Keluh Ai dengan air mata mulai berlinang membasahi pipinya.


"Aku sangat lelah, tubuh dan pikiranku sangat lelah. Tapi pertanyaan itu sangat mengganggu. Aku --- perkataan Ai seketika terputus ketika tubuh mungil itu tumbang dan membuat Guang dan Di Yu yang sedari tadi menyimak terkejut dalam kepanikan.


"Nonaaa..."


.


.


.


.


.


TBC


30 Desember 2019

__ADS_1


__ADS_2