
Yu Su mengerjap matanya berharap apa yang ia lihat dari balkon kedai mie yang ada di lantai dua tempat pribadi dan privasi yang ia dan pangeran Rong pesan adalah sebuah halusinasi.
Bagaimana bisa seorang nona muda bertubuh kecil dan mungil membanting seorang nona muda yang tubuhnya bahkan lebih besar dari dirinya? Hal itu tentu saja sangat sulit Yu Su percaya, ia berpikir apa yang ia lihat bukanlah sebuah kenyataan melainkan hanya mimpi atau hanya sekedar halusinasi belaka.
Namun saat Yu Su mencubit lengannya, ia memekik kesakitan. Tentu saja apa yang ia lihat adalah kenyataan saat tubuhnya, bahkan semua indranya berfungsi dengan sangat baik. Dengan langkah gontai, Yu Su kembali memasuki ruang yang mereka pesan. Raut wajahnya nampak linglung dan hal itu membuat pangeran Rong yang memperhatikan langkahnya sejak ia kembali masuk mengernyit bingung.
"Yu Su ada apa denganmu?" Tanya pangeran Rong
Yu Su yang baru saja duduk dengan raut wajah yang sama lantas menoleh menatap sahabatnya yang berada di atas kursi panjang sambil berbaring dan menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya berkat kipasan dari para pelayan.
"Kau percaya bahwa aku baru saja melihat nona muda Feng membanting seorang nona muda yang tubuhnya dua kali lipat darinya?" Tanya Yu Su
Pangeran Rong yang mendengar pertanyaan Yu Su lantas tertawa kencang " Kau bercanda? Mana mungkin gadis sombong dan nampak lemah itu membanting nona muda yang tubuhnya dua kali lipat dari dirinya? Yang ada ia yang akan di tindih karena tak mampu mengangkatnya" kata pangeran Rong disela - sela tawanya.
"Astaga Yu Su kau sungguh mengada - ada, mungkin karena kau terlalu lelah akhir - akhir ini sehingga berhalusinasi. Ada baiknya jika kau istirahat saja" tambah pangeran Rong
"Sayangnya aku tidak berhalusinasi, itu kenyataan" gumam Yu Su
.
.
.
Ai melangkah pergi meninggalkan kedai tak peduli dengan rintihan kesakitan dari nona muda yang baru saja ia banting, atau tatapan banyak orang yang tertuju padanya.
Ai menulikan telinganya, ia bahkan bersikap sangat tenang walaupun ada beberapa orang yang menhujatnya karena berperilaku dan berkelakuan tidak sopan dan bar bar. Tapi walaupun demikian, ada beberapa orang juga membela sikap Ai. Mereka bahkan mendukung apa yang baru saja Ai lakukan karena para nona muda yang menghadangnya, terutama nona muda Li Ming An yang merupakan nona muda bertubuh gemuk dari keluarga Li memang pantas mendapat kemalangan tersebut karena perilakunya yang menyinggung, mengancam, bahkan berniat mencelakai putri jendral besar Holing.
Mereka yang berpendidikan jelas tak ingin mengambil perkara dengan putri jendral besar Holing yang disegani. Namun para nona muda dari berbagai keluarga pejabat dengan berani menentang nona muda Feng yang sama sekali tak mengusik ataupun mengganggu mereka. Orang - orang berpendidikan jelas mencibir kecerobohan dan tindakan mereka yang tanpa pikir panjang menjerat mereka pada masalah besar. Mereka jelas - jelas menggali lubang kuburan mereka sendiri jika mencari perkara dan masalah pada keluarga Feng. Terlebih lagi, rumor yang pernah beredar bahwa jendral besar Holing yang terhormat dan disegani, juga nyonya Fan Hua sangat menyayangi putrinya. Lantas bagaimana nasib para nona muda dan keluarganya yang posisi dan jabatannya tak sebanding dengan posisi dan jabatan keluarga Feng? Tak perlu berpikir lama untuk mencari jawabannya, tentu saja mereka tidak akan lepas dari cengkraman jendral Holing ketika salah satu jendral besar kerajaan Holing itu tahu, putrinya tengah di ganggu atau di usik oleh seseorang.
Terlepas dari pikiran banyak penduduk yang menyaksikan kegaduhan dan keributan yang di ciptakan Ai dan juga para nona muda dari keluarga Li, dan para putri keluarga pejabat lainnya. Guang dan Di Yu masih berada di tempat mereka. Mereka masih tertengun dan mencerna apa yang baru saja terjadi di ambang pintu masuk dan keluar kedai mei yang terkenal di ibukota MingQi. Jika saja mereka tak di tegur oleh sang kasir yang merupakan menejer sekaligus pemilik kedai memang berada di dekat pintu, keduanya mungkin tak akan sadar jika nona muda mereka telah pergi dan meninggalkan mereka.
"Dimana nona muda Ai?" Tanya Guang yang lebih dulu tersadar
Guang menoleh kanan kiri mencari keberadaan nonanya setelah ia berada di luar kedai bersama Di Yu yang sempat ia seret paksa keluar dari ambang pintu kedai karena mengalangi jalan para pembeli dan pelanggan yang ingin masuk ataupun keluar.
"Apakah kalian mencari nona muda yang baru saja membanting putri pejabat Li?" Tanya salah satu pria paruh baya yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Guang mengangguk "apakah anda melihatnya?"
__ADS_1
"Nona muda itu baru saja pergi kearah sana" jawab pria paruh baya itu menunjuk jalan yang baru saja dilewati Ai
Baik Guang maupun Di Yu segera bergegas pergi setelah mengucap terima kasih pada pria paruh baya itu, mereka melangkah dengan cepat bahkan langkah mereka kini berubah menjadi lari saat menyadari mereka tertinggal sangat jauh di belakang.
"Bagaimana bisa kita tertengun selama itu?" Tanya Guang di sela - sela larinya
"Mana aku tahu. Aku juga tertengun sama sepertimu saat itu, lantas bagaimana aku bisa tahu berapa lama kita tertengun!" Balas Di Yu yang entah mengapa membuat Guang kesal.
Guang merutuki dirinya yang melontarkan pertanyaan bodoh pada Di Yu disaat mereka berdua saat itu sama - sama tertengun. Namun tetap saja walaupun Guang merutuki kebodohannya, Guang jelas tidak suka jawaban Di Yu yang seakan memancing amarah dan kekesalannya. Entah bagaimana mereka kedepannya nanti, mampukah mereka bekerja sama menjaga nona muda mereka dengan baik disaat mereka berdua jelas tidak sependapat dan tidak sejalan? Guang ragu mereka mampu melakukan hal itu.
.
.
.
"Aku tidak bertanya padamu. Aku bertanya pada diriku sendiri!" Kata Guang ketus saking kesalnya dengan Di Yu.
Sejak awal Guang berpikir jika Di Yu sangat mengesalkan. Mulai hari dimana Guang menunggu Di Yu hingga malam dan berjam - jam di depan gerbang masuk istana MingQi yang membuat Guang kesal setengah mati karena keterlambatan Di Yu yang membuat Guang kesemutan karena kelamaan berdiri ataupun duduk, serta dimana Guang harus digigit oleh nyamuk - nyamuk nakal yang semakin membuat kekesalan Guang bertambah kala itu.
Sejak saat itu, Guang tidak terlalu menaruh hormat ataupun ramah tama pada Di Yu yang sejak hari pertama ia memasuki keluarga Feng atau hari pertama ia bertemu dengan Guang di depan gerbang masuk istana. Jika Guang bersama Di Yu, tidak ada hari tanpa kata atau jawaban Di Yu yang mengesalkan. Jika Guang terus bekerja dengan Di Yu, Guang yakin umurnya akanĀ cepat menua 10 tahun karena kesal ataupun karena menahan amarah.
"Bukankah itu nona Ai?" Tanya Di Yu memastikan penglihatannya tidak salah.
Guang tersentak dari lamunan dan pikirannya, ia lantas menatap objek yang sama yang kini berada di hadapan mereka. Disana nampak nona muda yang mereka yakini adalah nona muda mereka walaupun hanya sekilas melihat punggungnya, Guang sangat percayai adalah nona mudanya.
"Tidak salah lagi!" Jawabnya
Guang dan Di Yu lantas mempercepat larinya, saat Guang dan Di Yu telah berhasil mengejar nona muda mereka, Guang lantas mengerutu pada Ai yang masih berjalan dengan santai.
"Nona muda Ai, bagaimana bisa ada dengan begitu kejam meninggalkan kami?" Gerutu Guang.
"Itu karena kalian terlalu lambat!" Balas Ai
"Guang, bagaimana bisa kaki kecil dan pendek seperti itu membuat kita tertinggal sejauh ini?" Bisik Di Yu dengan nafas yang masih putus - putus. Terkutuklah dirinya yang jarang berolah raga. Walaupun Di Yu pandai bela diri, namun ia merupakan pemuda yang malas berolah raga. Mungkin setelah ini, ia harus membuang rasa malasnya dan mulai berolah raga mengingat hari ini, ia tertinggal jauh oleh nona mudanya yang ternyata begitu lincah dan sangat cepat.
"Di Yu, aku mendengarmu!" Seru Ai yang langsung membuat Di Yu pucat pasi
"Ampun nona Ai"
__ADS_1
.
.
.
Marahari baru saja terbenam di ufuk barat, suasana di hutan lebat mulai menggelap. Para prajurit asuhan putra mahkota Rui mulai berbondong - bondong menyalakan penerang berupa lampion dari lampu minyak dan juga lilin di segala penjuru bangunan dan juga ruangan yang ada.
Disisi lain, tepatnya di bangunan utama. Pangeran Rui tengah kedatangan tamu dari kerjaan MingQi. Siapa lagi kalau bukan Lie yang datang memberi laporan juga perintah dari kaisar Wei yang semakin hari terus mendesaknya segera kembali ke istana MingQi.
"Yang mulia putra mahkota, yang mulia kaisar meminta ada segera kembali keistana saat ini. Suasana di istana dalam semakin panas sebab kondisi yang mulia kaisar yang semakin membaik membuat para pendukung pangeran Rong panik dan khawatir, terlebih lagi permaisuri Lien mulai menjalankan sebuah rencana dimana permaisuri Lien meminta para perdana mentri dan pejabat mendesak kaisar Wei agar segera turun tahkta" jelas Lie panjang lebar.
"Lalu apa masalahnya? Ayahanda cukup membalikan keadaan dengan menyudukan mereka sebagai para pemberontak dan penghianat. Tak perlu meminta Ben Gong untuk lekas kembali ke istana, cara ini sudah cukup mampu membungkam mereka -- putra mahkota Rui menjeda -- Beng Gong sudah meminta orang - orangku untuk menyelidiki semua yang terjadi di istana dalam, kakak Lie hanya perlu menunggu laporan dari mereka sebelum menyerahkan bukti yang mereka bawa. Apabila mereka memang melakukan pemberontakan dan penghianatan, ayahanda cukup mengambil tindak pemusnahan satu keluarga" tambah putra mahkota Rui dingin dan juga kejam.
"Jika yang mulia kaisar tak sekeras kepala itu, bawahannya ini mungkin tak perlu datang kemari menyampaikan permintaan dan juga perintahnya" balas Lie
"Terlebih lagi, yang mulia kaisar mengatakan usianya tidak lagi muda. Ia takut sewaktu - waktu Sang pencipta memanggilnya sebelum anda naik tahkta dan mengangkat permaisuri. Bawahan ini meminta anda mempertimbangkan permintaan dan juga perintah yang mulia, apa yang ia pinta hanya karena yang mulia begitu sayang dan mencintai anda sehingga yang mulia menginginkan yang terbaik untuk anda" tambah Lie berusaha membujuk.
"Tks, kakak Lie dan ayahanda tidak beda jauh. Kalian selalu akan menyerangku dengan kalimat sentimental" decak putra mahkota Rui
"Apa boleh buat. Katakan pada ayahanda bahwa Ben Gong akan kembali, tapi --" kata putra mahkota Rui menggantung di udara
"Yang mulia!" Tegur Yong yang mulai merasakan firasat buruk dengan rencana junjungannya
"Tapi dengan satu syarat" tambahnya tak lupa menyeringai kejam
Baik Lie maupun adiknya Yong meneguk salivanya dengan susah payah. Entah mengapa firasat mereka mulai buruk dan semakin buruk dan tak enak setelah tak sengaja melihat senyum menyeringai putra mahkota Rui yang nampak menyeramkan.
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
6 November 2019