Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 35 (END)


__ADS_3

"Bagaimana bisa kau membuat putri kesayangan jendral Holing jatuh sakit? Bukannya kau sangat mencintai putri jendral Holing hingga memanfaatkan hadiah sayembara agar Zhen menurunkan anugerah pernikahan untuk kalian?" Tanya kaisar Wei tidak habis pikir dengan segala perilaku dan tingkah putra mahkota Rui yang tidak pernah sejalan dengan pemikirannya. Selalu saja. Selalu saja ada hal - hal yang selalu di luar dugaan kaisar Wei yang kadang kala membuatnya nyaris jantungan.


Saat ini baik kaisar Wei, putra mahkota Rui bahkan pangeran Yan tengah berada di istana barat di pavilium Yue tempat Ai tinggal untuk sementara. Mereka mendapat kabar buruk mengenai putri jendral Holing yang tak sadarkan diri karena terlalu kepikiran masalah pernikahannya, kelelahan dan juga karena jarang makan.


Ketiganya datang membelah dinginnya angin malam demi melihat kondisi Ai dan mendengar masalah keadaannya. Mereka perlu mendengar langsung dari dokter kerajaan yang masih memeriksa Ai yang terbaring di atas peraduannya.


"Ben Gong tak melakukan apapun. Ben Gong hanya berkata jika ia ingin mengetahui siapa calon suaminya, ia harus menikahinya terlebih dahulu untuk mengetahui jawabannya" bela putra mahkota Rui yang membuat kaisar Wei lantas memijit pangkal hidungnya karena kepalanya seketika pening. Sedangkan pangeran Yan melongo tidak percaya dengan apa yang putra mahkota Rui katakan.


"Anak bodoh. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Kau tahu hal itulah penyebab ia terus menerus kepikiran. Apa susahnya jika kau berkata jujur saja? Jika kau berkata jujur, nona Feng tidak akan jatuh tak sadarkan diri seperti ini" geram kaisar Wei


"Ben Gong hanya ingin membuatnya terkejut" Gumam putra mahkota Rui yang masih mampu di dengar kaisar Wei dan pangeran Yan


"Kamu sudah berhasil membuat kejutan. Tapi bukan nona Feng yang terkejut, tetapi kami!" Balas kaisar Wei kesal.


"Walaupun niat kakak kedua baik, tapi Ben Wang rasa itu sangat jauh berbeda dari kebiasaan anda" timpal pangeran Yan yang membuat putra mahkota Rui sadar bahwa ia terlalu jauh merubah karakternya hanya karena seorang nona muda yang membuatnya tergila - gila.


"Sudahlah. Sekarang menjadi masalah adalah keadaan Feng Ru Ai. Jika dokter kerajaan mengatakan ia butuh istirahat yang banyak. Maka kita akan undur pernikahan dan penobatanmu besok" putus kaisar Wei yang membuat putra mahkota Rui terkejut dan langsung mengajukan protes


"Anda tidak boleh membatalkannya begitu saja!"


"Berhenti membantah, ini semua juga karena kesalahanmu" tukas kaisar Wei yang langsung membungkam putra mahkota Rui


Tak berselang berapa lama, dokter kerajaan beserta para tabib dan perawat pun telah selesai memeriksa Ai. Kaisar Wei adalah orang yang lebih dulu menghampiri dokter kerajaan sebelum disusul kedua putranya.


"Bagaimana keadaan Feng Ru Ai?" Tanya kaisar Wei yang tak mampu menutupi nada khawatir dari pertanyaannya.


"Nona Feng hanya butuh istirahat yang cukup, juga asupan makan yang teratur. Dokter ini juga sudah memberi ramuan obat untuk menambah nafsu makan nona Feng, juga menambah daya tahan tubuhnya" jawab dokter kerajaan yang membuat ketiganya menghela nafas lega.


"Dengan kondisinya yang seperti ini, apakah masih memungkinkan untuk melaksanakan pernikahan dan penobatannya besok?" Tanya kaisar Wei lagi.


"Nona Feng tidak mengalami sakit yang parah. Ia hanya butuh istirahat. Sangat memungkinkan acara pernikahan dan penobatannya tetap berlangsung. Jadi anda tidak perlu khawatir" jawab dokter kerajaan yang membuat putra mahkota Rui merasa senang sekaligus haru.


Baik putra mahkota Rui, kaisar Wei dan pangeran Yan juga turut senang mendengar kabar itu. Pangeran Yan lantas menghampiri putra mahkota Rui dan menepuk pundaknya "beruntung dewi keberuntungan masih berpihak pada kakak kedua. Jika tidak tamatlah riwayat kakak kedua dalam mengurus laporan pengeluaran yang tentu saja akan membuat kepala kakak kedua pecah saat menghitung berapa banyak uang yang dihabisakan untuk pesta yang gagal"


"Yah, kau benar sekali. Ben Gong tak mampu membayakan bagaimana kacaunya Ben Gong jika hal itu terjadi"


.


.


.


Dokter kerajaan, tabib dan perawat istana pun akhirnya memilih mengundurkan diri. Tak berselang berapa lama, kaisar Wei dan pangeran Yan pun ikut menyusul pergi melanjutkan istirahat mereka dan membiarkan Feng Ru Ai tetap lelap dalam tidurnya. Selain itu, besok mereka akan disibukan dengan dua upacara. Mereka jelas butuh tenaga untuk mengawali hari mereka besok yang hanya tinggal menghitung jam.


Yah, saat ini dini hari telah menyapa mereka. Langit diluar masih gelap, namun udara dingin semakin dingin dan menusuk hingga tulung. Di pavilium Yue hanya ada putra mahkota Rui yang menemani Ai dalam ruangan tersebut. Tanganya senang tiasa menggenggam tangan Ai. Sesekali ia mengusap punggung tangan gadis yang ia puja.


Tatapan matanya memancarkan cinta dan juga rasa bersalah. Jika tahu gadis pujaannya akan jatuh sakit karena kelelahan seperti ini, seharusnya ia beritahu saja saat itu. Namun niatnya yang ingin memberi kejutan pada gadis pujaannya kini berakhir dengan penyesalan.


"Maafkan Ben Gong yang membuatmu seperti ini. Ben Gong sangat menyesal" gumam putra mahkota Rui penuh sesal.


"Istirahatlah yang cukup, agar besok pernikahan kita dapat berlangsung dan kau segera menjadi milik Ben Gong satu - satunya" ucap putra mahkota Rui


"Ben Gong harus pamit pulang ke istana timur. Jika Ben Gong berlama - lama disini, Ben Gong tak yakin masih mampu mengontrol diri Ben Gong untuk tidak menerjangmu saat ini juga" jelas putra mahkota Rui


Putra mahkota Rui lantas beranjak dari duduknya, ia lalu mencium punggung tangan Ai dan berkata "Ben Gong sangat mencintaimu, sampai jumpa besok. Takdirku" putra mahkota Rui lantas menunduk dan mencium puncak kepala Ai penuh sayang.


.


.

__ADS_1


.


Ai bangun!


Feng Ru Ai, kau harus bangun!


Bangunlah Ai, jemputlah takdirmu!


Ini adalah keinginan terbesar hatimu. Inilah alasan terbesar kau kembali kemasalalu.


Bangunlah.. Dia adalah alasan kau berada disini. Kamu adalah takdirnya. Maka jemputlah ia dalam kebahagiaan yang selalu kau nanti.


Bisikan - bisikan itu terus terngiang - ngiang dan mengusik tidur Ai yang lelap. Perlahan kelopak matanya terbuka, mata bulat dan jernih itu kini menata langit - langit pavilium Yue di istana barat kerajaan MingQi. Ai mengerjap beberapa kali sebelum mendudukan dirinya di atas peraduan seraya mengumpulkan semua kesadarannya yang masih terpecah belah.


Setelah kesadarannya terkumpul sepenuhnya. Otaknya dengan cepat mencerna bisikan - bisikan yang sempat mengusik tidurnya. Ai lantas bergumam "Siapa Dia?" Tanya Ai


Tak ada jawaban yang ia dapat. Dikamar yang cukup luas ia tempati saat ini hanya ada dirinya. Angin berhembus kencang melalui cela - cela fentilasi udara, api pada sumbu dan lilin bergoyang dan nyaris padam karena kuatnya hembusan angin yang membuat Ai mengusap lengannya karena menggigil.


Ai tidak tahu mengapa ia mengeluarkan pertanyaan padahal tak ada seorangpun yang akan menjawab pertanyaannya disini. Ia hanya sendiri. Diruangan ini, ia hanya sendiri dengan keheningan. Walaupun hari sudah hampir beranjak pagi, namun para penghuni istana masih bergelung dengan selimut tebal mereka. Tapi, walaupun tak mendapat jawaban. Ai masih saja melontarkan pertanyaan walaupun ia tahu tak akan ada yang menjawab pertanyaannya.


"Takdir apa yang harus ku jemput?"


"Siapa dia yang di takdirkan untukku? Apakah maksud dari bisikan itu adalah pernikahan ini adalah takdirku? Apakah bisikan itu mengatakan jika keinginan terbesarku adalah menikah dengan kaisar Wei? Apakah kaisar Wei adalah pria yang di takdirkan untukku?"


"Yang benar saja! Lantas bagaimana dengan putra mahkota Rui? Aku sangat yakin jika ialah takdirku. Sebelum aku terseret dan terjebak di masa lalu, aku sangat ingat jika aku menangis hanya karena membaca namanya dalam buku sejarah Ming yang usang"


Pikiran Ai berkecamuk, namun segala praduganya seketika buyar saat tiba - tiba beberapa dayang dan pelayan memasuki kamarnya dan hal itu membuat perhatian Ai lantas tertuju pada pintu yang baru saja terbuka.


Di sisi lain, para dayang dan pelayan cukup terkejut saat menemukan calon permaisuri MingQi sudah terjaga. Padahal awalnya mereka akan berniat masuk kedalam kamar gadis pujaan putra mahkota Rui dengan mengendap - endap layaknya seorang pencuri agar tak mengganggu tidur lelap putri jendral Holing yang disegani.


"Maafkan atas kelancangan kami yang mulia per - ah maksud dayang ini nona muda Feng" ucap seorang dayang yang nampak lebih tua dari dayang dan pelayan lainnya "kami melakukan hal itu agar tak mengganggu tidur anda. Tapi siapa yang menyangka anda sudah bangun lebih dulu sebelum kami datang. Sungguh kami menyesal atas perbuatan kami" tambahnya


"Masuklah dan lakukan pekerjaan kalian" perintah Ai tak lupa memberi mereka senyum menenangkan.


Para dayang dan pelayan lantas mengerjap beberapa kali. Mereka lantas segera mengucap terima kasih atas kerendahan hati Ai yang langsung dibalas anggukan oleh putri jendral Holing.


.


.


.


Para dayang dan pelayang di pavilium Yue semakin sibuk. Sebentar lagi upacara pernikahan akan di selenggarakan di kuil Wulong. Dan di perkirakan upacara pernikahan yang hanya di hadiri dua keluarga itu berjalan dengan lancar dan akan selesai ketika matahari terbit.


Saat ini, Ai tengah dirias oleh beberapa dayang. Ia telah menyelesaikan ritual mandi, bahkan ia telah mengenakan pakaian Hwa Kun yang merupakan pengantin tradisional khas etnis Tionghoa berwarna merah dengan sulaman bunga serta burung phoenix yang di sulam dengan benang emas. Pakaian pernikahannya sangat berat dan cukup membuat pergerakan Ai sedikit melambat.


Ai terus mendengar segala intruksi mereka tanpa niat membantah. Bisikan dalam tidurnya terus berputar dan hal itu membuat Ai mengambil kesimpulan bahwa pernikahannya adalah takdir terlepas dengan siapa ia menikah, Ai sudah mengabaikan fakta masalah perasaannya dan harapannya yang berlebih pada putra mahkota Rui. Jika memang takdirnya menikah dengan kaisar Wei, ia hanya bisa menerima dengan pasrah garis takdirnya. Bagaimanapun ia memberontak, ia tak bisa melawan kehendak Sang Pencipta.


Setelah riasan di wajahnya selesai, para dayang lantas memakaikan sapu tangan berwarna senada dengan bajunya diatas kepalanya. Hal itu jelas menutup pandangannya. Saat Ai ingin melepasnya, salah satu dayang mencegahnya dengan berkata "nona, anda tidak bisa melepas tudung kepala anda kecuali suami anda yang melakukannya"


Ai yang mendengar hal itu lantas mengurungkan niatnya. Ai lupa jika pernikahannya kali ini mengangkat tema pernikahan tradisional. Tentu saja sangat berbeda jauh di masa depan di mana pernikahannya jauh lebih modern. Mereka tidak perlu menyiapkan banyak hal karena sekarang sudah ada banyak perusahaan Wedding Organiser yang akan menawarkan jasa mereka.


"Nona anda telah selesai, sekarang saatnya kita menuju kuil Wulong. Disana semua orang telah menunggu anda" ucap dayang sebelumnya yang langsung di balas Ai dengan berkata "tuntun aku kesana"


.


.


.

__ADS_1


Ai dan pengantin prianya baru saja menyelesaikan sumpah pernikahan di hadapan pendeta dan orang - orang yang turut hadir. Saat ini ia masih mendengar intruksi dari pendeta untuk melakukan segala ritual.


Setelah melakukan ritual penghormatan pada orang tua, dan penghormatan pengantin. Kini tibalah saat ritual pembuakaan cadar yang dilakukan mempelai pengantin pria menggunakan tongkat atau kipas.


Putra mahkota Rui lantas membuka cadar Ai menggunakan kipas. Saat cadar terlepas, tanpa menunda - nunda waktu,  Ai langsung memfokuskan tatapannya pada pria yang telah sah di hadapannya. Saat pandangannya bertemu dengan pandangan putra mahkota Rui, ekspresi wajah terkejut Ai tak mampu di sembunyikan lagi.


Kedua mata bulat dan jernih milik Ai lantas melotot tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ai lantas mengerjap, bahkan ia mengucek matanya karena berfikir ia telah bermimpi atau berhalusinasi. Namun sosok dihadapannya masih sama dan hal itu membuat Ai nyaris menangis. Ai merasa lega dan juga senang dengan apa yang ia lihat.


Ternyata perasaannya benar. Putra mahkota Rui-lah pria yang di takdirkan untuknya. Pria yang dihadapannya kinilah adalah alasan keberadaannya disini.


"Hei, jangan menangis. Ben Gong bahkan belum melakukan apapun tapi kedua matamu bahkan sudah berkaca - kaca"


Ai tak peduli dengan perkataan putra mahkota Rui. Ia bahkan tak peduli lagi dengan semua orang yang hadir ataupun dengan ritual yang akan ia lanjutkan. Tanpa aba - aba, Ai lantas melempar dirinya dalam dekapan putra mahkota Rui. Ia memeluk pria yang selalu memenuhi pikirannya dengan sangat erat.


"Mengapa, mengapa anda melakukan ini?" Tanya Ai mulai terisak


"Anda tahu, ini sangat menyiksa!" Keluhnya


Putra mahkota Rui merenggangkan pelukan mereka. Ia lantas memegang pundak Ai dengan salah satu tangannya, dan salah satu tangan lainnya pun mulai mengusap air mata Ai yang membasahi pipi mulusnya.


"Maafkan Ben Gong. Awalnya Ben Gong ingin memberi kejutan padamu. Tapi siapa menyangka jika kau terus kepikiran dan salah paham atas pikiranmu sendiri. Sungguh Ben Gong sangat menyesal" kata putra mahkota Rui penuh sesal.


"Tak masalah, tapi anda tidak boleh mengulangnya lagi" rajuk Ai kembali memeluk putra mahkota Rui dan semakin merapatkan kepalanya seraya bersandar pada dada bidang pria yang telah sah menyadi suaminya.


"Tentu saja, Ben Gong tidak akan melakukan hal itu dan membuat wanita Ben Gong jatuh sakit lagi" jawab putra mahkota Rui


"Janji?" Tanya Ai mendongak menatap putra mahkota Rui


"Iya. Ben Gong janji" balas putra mahkota Rui yang membuat Ai memeluknya semakin erat.


"Hamba mencintai anda, yang mulia" aku Ai


"Ben Gong juga menyayangimu" balas putra mahkota Rui yang membuat Ai melepaskan pelukannya.


"Anda hanya menyayangiku?" Tanya Ai kesal


"Tentu saja tidak" kata putra mahkota Rui kembali menarik Ai dan mendekapnya erat walaupun Ai juga terus memberontak "Ben Gong juga mencintaimu, lebih dari yang kau tahu" tambah putra mahkota Rui yang membuat kekesalan Ai seketika menguap.


Putra mahkota Rui merenggangkan pelukan mereka. Ia lantas memegang kedua pundak Ai dan menatap istrinya dengan tatapan dalam "Ben Gong sangat - sangat mencintaimu, takdirku" akunya.


Tak berselang berapa lama setelah pengakuan itu, putra mahkota Rui mengikis jarak keduanya. Ia membungkam Ai dengan ciuman lembut dan dalam. Bahkan kedua tangan Ai kini mengalun di leher putra mahkota Rui.


"Sampai kapan kalian akan tetap berciuman? Kapan ini selesai?!" Teriak pangeran Yan yang lantas membuat keduanya melepas tautan mereka saat sepenuhnya sadar bahwa mereka sudah menjadi tontonan orang - orang.


"Kita harus selesaikan secepatnya. Nampaknya mereka berdua sudah sangat tidak sabaran" timpal kaisar Wei yang mengundang tawa banyak orang.


.


.


.


.


.


THE END


31 Desember 2019

__ADS_1


__ADS_2