
"Mengapa kau terus termenung seperti itu Rong, jika kau tak kunjung juga berbicara, aku akan meninggalkanmu disini sendirian" ancam Yu Su yang mulai bosan hanya dengan menatap sang calon pewaris takhta yang termenung memikirkan sesuatu sejak beberapa jam yang lalu.
Pangeran Rong menghela nafas lelah, ia sejak tadi terus memikirkan nona muda yang ditabraknya siang tadi. Pikiran pangeran Rong tidak bisa lepas dari nona muda tersebut. Sebab ini adalah pertama kalinya ia diperlakukan seacuh itu oleh seorang nona muda.
Biasanya pangeran Rong akan mampu membuat lutut para nona muda di ibukota MingQi lemas hanya dengan pesona dan ketampanannya, namun nona muda yang ia tabrak siang tadi sama sekali tak menunjukan ekspresi yang selalu ia dapatkan dari para nona muda lainnya.
Nona muda itu nampak sangat berani, ia bahkan tak merasa takut ataupun tersipu malu saat mereka tak sengaja bersitatap. Anehnya melihat tatapan tajam dan tidak suka yang diberikan nona muda yang ditabraknya membuat pangeran Rong kepikiran dan merasa tidak nyaman.
Pangeran Rong yang biasa mendapat tatapan penuh puja dari para nona muda merasa tidak terima saat mendapat tatapan tidak suka dan tajam untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
"Mungkinkah kau kepikiran dengan nona muda yang kau tabrak siang tadi?" Tebak Yu Su.
Pangeran Rong kembali mendesah.
"Ini kali pertamanya Ben Wang diperlakukan seacuh itu oleh seorang nona muda" aku pangeran Rong yang berhasil membuat sarjanawan muda Ji Yu Su tertawa.
"Sangat wajar jika orang yang selalu mendapat tatapan penuh puja dari banyak orang merasa tersinggung ataupun marah ketika pertama kali mendapat tatapan benci dan tidak suka dari seseorang" gumam Yu Su terkikik.
"Tks, berhentilah tertawa atau Ben Wang memukulmu" ancam pangeran Rong yang kesal dengan sahabatnya yang seakan mengejek suasana hatinya yang berubah suram dan gelap.
"Sudahlah, mengapa kau terus memikirkan hal itu. Bukankah kau keluar dari istana untuk bersenang - senang?" Tanya Yu Su mengingatkan tujuan utama sahabatnya lari dari kepenatan istana yang semakin gencar mencari dukungan dari berbagai pihak untuk mendapat perhatian pangeran Rong.
"Kau benar, tujuan utamaku melarikan diri dari para predator agresif dan buas itu untuk mencari udara segar dan bersenang - senang!" Sahut pangeran Rong mulai mengingat tujuan utamanya.
.
.
.
Disaat pangeran Rong merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan Ai siang tadi, disisi lain dikediaman keluarga Feng, Ai tengah bermain bersama dengan Bobo dihalaman pavilium Lan.
Qiang yang sedari tadi mengamati adiknya yang tertawa lepas mengelitiki binatang buas yang sangat jinak pada adiknya itu hanya mampu menggelengkan kepalanya tidak percaya.
__ADS_1
"Bukakah tadi ia begitu ketakutan bermain dengan Bobo? Mengapa sekarang mereka nampak begitu akrab hingga keberadaanku terabaikan?" Gumam Qiang tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya.
Tentu saja ia tidak bisa percaya, pemikiran adiknya sangat cepat berubah - ubah. Lihatlah, hanya dalam waktu beberapa jam saat ia meninggalkan adiknya di kediaman, Ai sudah bermain dengan Bobo seperti seorang teman yang baru saja melepas rindu dengan teman lamanya.
"Mei mei" panggil Qiang berusaha merebut perhatian Ai yang masih tertuju pada Bobo.
Ai yang merasa terpanggil lantas menoleh menatap saudaranya yang entah sejak kapan berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini.
"Gege, sejak kapan gege disana?" Tanya Ai tak menyadari keberadaan Qiang sebelumnya.
"Gege sudah disini sejak tiga puluh menit yang lalu, mei mei saja yang terlalu asik bermain dengan Bobo hingga tak menyadari keberadaan gege" rajuknya.
Ai meringis tidak enak hati, ia lalu menghampiri saudaranya dan meninggalkan Bobo yang masih bermain di atas permukaan tanah kasar halaman pavilium Lan.
"Dimana Guang, bukannya tadi ia pergi bersama Gege?" Tanya Ai yang menyadari pengawal pribadinya tak ada disisi Qiang.
"Guang saat ini tengah menjemput pengawal pribadi yang akan di utus yang mulia kaisar Wei untuk menjagamu" jawab Qiang yang membuat Ai melotot terkejut
"Pengawal pribadi? Tks, harus berapa banyak orang lagi yang akan terus mengikutiku setiap hari? Ini tidak adil, Ai juga ingin bersenang - senang, Ai juga ingin bebas bepergian kemana saja tanpa ada yang mengawal" keluh Ai tidak terima.
"Maka dari itu, kau harus terima dan mulai beradaptasi dengan penambahan pengawal disekitarmu. Sebab baik ayah, ibu, maupun gege tak bisa selamanya menemani dan menjagamu disini" tambah Qiang yang membuat Ai merenung.
"Apakah kalian akan pergi keperbatasan lagi?" Tanya Ai dengan raut wajah sendu saat memaknai kata 'tak bisa selamanya menemani dan menjagamu disini'
"Untuk saat ini ayah dan ibu berusaha meminta keringanan pada yang mulia kaisar Wei, semoga saja yang mulia berbaik hati mengabulkan keinginan ayah dan ibu yang ingin mengambil cuti perang sementara waktu" jawab Qiang yang tahu keresahan hati adiknya.
"Sudahlah, mei mei tak usah memikirkan masalah tugas berat seperti dunia militer dan perang, otak yang berada dibalik kepala cantikmu tidak akan kuat memikirkan semuanya. Sekarang, mei mei harus temani gege makan malam" ajak Qiang merangkul pundak adiknya penuh sayang.
.
.
.
__ADS_1
Disebuah bangunan yang ada ditengah hutan, nampak tiga orang pemuda saling berhadapan dengan tatapan yang serius. Ketiga pemuda itu ialah putra mahkota Rui, Yong dan juga Lie. Ketiganya saat ini tengah serius membahas masalah yang terjadi di dalam istana dalam.
Lie terus menceritakan semua masalah yang terjadi tiga bulan belakangan di istana kepada putra mahkota Rui dan Yong, Lie bahkan tak melewatkan masalah apapun yang terjadi pada keduanya termasuk kejadian baru - baru ini dimana para pejabat pemerintahan mulai bergerak cepak mencari perhatian pangeran Rong yang kini menjadi satu - satunya kandidat yang akan maju mengambil alih takhta kekaisaran karena mereka berpikir putra mahkota Rui tidaklah lagi selamat mengingat waktu terus berlalu dan keberadaannya masih menjadi misteri.
"Sampai kapan, anda akan terus bersembunyi dan menutup kebenaran yang terjadi? Saat ini istana dalam semakin kacau, yang mulia kaisar Wei bahkan mulai mengabaikan teguran hamba untuk menjaga kesehatannya. Yang mulia terus saja memikirkan anda dan masa depan kerajaan MingQi yang nampak suram tanpa keberadaan anda di istana" jelas Lie panjang lebar.
"Ben Gong pasti akan kembali, tapi tidak sekarang!" Tukas putra mahkota Rui
"Lalu kapan anda kembali? Apakah anda akan kembali ketika istana semakin kacau dengan segala tipu muslihat yang dilakukan oleh permaisuri Lien?" Tanya Lie tidak terima dengan keputusan putra mahkota Rui
"Masih banyak yang harus Ben Gong lakukan, jika semuanya telah selesai, Ben Gong akan kembali merebut apa yang seharusnya menjadi milik Ben Gong. Kakak Lie tak perlu khawatir, permaisuri Lien tak akan mampu berbuat banyak ketika semua kejahatannya kelak terbongkat" balas putra mahkota Rui
"Apa yang Rui katakan benar gege Lie, gege tak usah khawatir, kami memegang kelemahan terbesar permaisuri Lien saat ini" timpal Yong yang sedari tadi diam mengamati perdebatan keduanya.
"Kelemahan besar apa yang kalian pegang? Apakah itu cukup membalikan keadaan yang ada? Saat ini pendukung pangeran Rong semakin banyak dan terus bertambah setiap harinya, apakah kalian yakin bisa merebut semuanya kembali?" Tanya Lie meragu dan tidak yakin.
"Jika hal ini terkuak, maka masa depan permaisuri Lien dan pangeran Rong akan hancur dan musnah. Beruntung jika mereka mati tenggelam karena air ludah penduduk ibukota MingQi, tapi kurasa kelemahan mereka ini lebih besar dari pada yang gege Lie bayangkan. Mereka jelas akan merasakan bagaimana rasanya hidup tapi berasa mati" jelas Yong tak mampu membayangkan kehidupan dua orang yang begitu ambisius mencapai kekuasaan tertinggi dengan setiap darah kotor dan rendahan yang mengalir disetiap pembuluh darah mereka.
"Kelemahan seperti apa itu?" Tanya Lie penasaran dengan kelemahan yang mampu membuat dua orang yang begitu berlagak berkuasa di istana tak mampu berkutik selain menerima nasib dan penderitaan yang mungkin akan memakan jangka waktu yang lama.
"Kakak Lie hanya perlu menunggu dan melihat, biarkan waktu yang menjawab rasa penasaran kakak Lie. Saat ini Ben Gong ingin meminta kakak Lie memberi surat ini pada ayahanda, kurasa ada baiknya jika kakak Lie menceritakan pertemuan kita agar kondisi ayahanda menjadi lebih baik" kata putra mahkota Rui mengakhiri pembahasan mereka dengan menyodorkan sebuah surat yang ia tulis tangan beberapa menit yang lalu untuk kaisar Wei.
"Dengan senang hati bawahan ini akan menyampaikan amanat dan perintah yang mulia putra mahkota" kata Lie mengambil surat yang putra mahkota Rui sodorkan. Lie lantas menyimpan surat tersebut dibalik hanfu yang ia kenakan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC
14 Oktober 2019