Feng Ru Ai

Feng Ru Ai
Bab 17


__ADS_3

Ai menatap langit - langit kamarnya. Pikiran Ai saat ini tengah berkelana jauh memikirkan mengenai sosok pemuda yang tinggal di hutan dibelakang kediaman Feng. Entah mengapa sosok pemuda itu tiba - tiba terlintas di benaknya saat ia termenung memikirkan alasan yang masih sulit untuk pikiran dan logikanya terima mengenai keinginan terbesar dirinya kembali ke masa lalu.


Sosok pemuda itu terus memenuhi pikiran Ai, bahkan Ai tidak tahu mengapa hatinya berdebar dan mengapa ia merasakan ada kerinduan mendalam terhadap sosok pemuda itu.


"Mungkinkah dulu sang pemilik raga sebelumnya memiliki hubungan dengan pemuda itu?" Tanya Ai pada diri sendiri


"Tapi jika dipikirkan lagi, ini adalah tubuhku sendiri! Aku sama sekali tidak mengisi raga siapapun. Pada kenyataannya tubuhku yang asli dari masa depan memang tertarik di masa lalu" gumamnya


"Lalu bagaimana bisa akau berhubungan dengan keluarga Feng disini?" Tanyanya lagi


"Margaku memang Feng, namun dimasa depan bahkan aku tak tahu wajah - wajah keluargaku" ucapnya sendu.


"Jika aku adalah aku sendiri dimasa lalu, mungkinkah keluarga Feng dimasa lalu adalah keluargaku juga di masa depan? Tapi dimana mereka saat aku di masa depan? Mengapa mereka tak bersamaku dan bagaimana dengan sosok pemuda yang selalu memenuhi pikiranku? Apa hubungannya ia denganku?" Tanya Ai kembali berpikir.


"Ah sudahlah. Kurasa malam ini aku harus istirahat. Saat ini seluruh tubuhku terasa sakit. Mungkin karena efek berlari siang tadi yang baru terasa malam ini, dan untuk masalah pemuda itu, aku akan mencari jawabanya besok dengan mengunjungi hutan lagi. Kuharap sosok pemuda yang nyaris mencelakaiku sudah pergi" kata Ai "tapi untuk berjaga - jaga, mungkin lebih baik membawa serta Guang bersamaku!" Tambah Ai


"Mungkin itu lebih baik, sekarang aku harus tidur"


Ai menarik selimut hingga dadanya, ia lalu meniup lilin yang berada di atas meja dekat peraduan seraya mematikan pencahayaan yang ada dikamarnya agar ia bisa tidur dengan nyaman.


Keesokan harinya, Ai bangun dari tidurnya cukup siang. Mungkin karena kelelahan sehingga tidurnya lebih lama dari tidurnya kemarin. Pagi ini, Ai tidak lagi terkejut saat mendapati beberapa pelayan telah menanti dan menunggunya bangun. Mungkin karena Ai mulai membiasakan diri sehingga ia tidak begitu terkejut dengan keberadaan mereka seperti kemarin.


Para pelayan membantu Ai untuk mencuci wajahnya terlebih dahulu, setelah Ai membasuh wajahnya dan mengeringkannya dengan kain bersih. Ai ingat jika hari ini ia akan kembali kehutan yang ada dibelakang kediaman Feng. Ai berharap, bahaya tak mengincarnya untuk hari ini dan kedepannya karena jujur saja Ai merasa takut nyawanya kembali terancam seperti kemarin.


.


.


.


Disisi lain, tepatnya dimanor pangeran Rong. Muan baru saja kembali dari rumah pelacuran Qujin. Muan pagi ini berhasil mendapat apa yang pangeran Rong minta dengan mudah. Selain karena ia memiliki koneksi dan hubungan dengan pemilik rumah pelacuran Qujin, uang, posisi, kedudukan dan kekuasaan pangeran Rong juga ikut andil membantu sehingga informasi yang pangeran Rong inginkan kini sudah berada dalam gengamannya.


"Apakah kau sudah mendapatkannya?" Tanya pangeran Rong dari kursi malasnya saat menyadari kedatangan Muan.


"Menjawab yang mulia pangeran, bawahan ini berhasil mendapatkan apa yang anda minta" jawab Muan

__ADS_1


"Kerja bagus" puji pangeran Rong


"Terima kasih atas pujian anda yang mulia, bawahan ini tak bisa melakukannya tanpa kekuasaan anda" balas Muan merendah


"Tak usah buang - buang waktu Muan, sekarang beritahu Beng Wang apa yang kau dapatkan mengenai nona muda itu" tukas pangeran Rong


"Nona muda yang anda maksud adalah nona muda dari keluarga pejabat militer" jelas Muan yang membuat pangeran Rong cukup terkejut


"Benarkah? Pantas saja sikapnya cukup berani dan juga lancang!"


"Benar yang mulia, nona muda itu merupakan putri Di dari jendral besar Feng Hongli dan nyonya Huang Fan Hua , nama nona muda itu adalah nona muda Feng Ru Ai" tambah Muan yang kembali membuat pangeran Rong terkejut


"Benarkah?" Tanyanya tidak percaya


"Benar yang mulia" jawab Muan


"Ini menarik, takdir tak sengaja mempertemukan kita dengan cara yang lucu dan menarik!" Kata pangeran Rong tak lupa senyum menyeringai menghiasi wajah tampannya "Beng Wang telah membiarkanmu tetap hidup. Maka dari itu Beng Wang tidak akan melepaskanmu, nona muda Feng. Kau milik Beng Wang!" Tambahnya.


.


.


.


Namun nampaknya tonik yang sudah ia beri racun sama sekali tidak bekerja. Hal itu sangat permaisuri Lien yakini dilihat dari kondisi kaisar Wei yang mulai berangsur - angsur membaik dan hal itu tentu saja sama sekali tidak membuat permaisuri Lien senang. Tentu saja ia tidak senang, dengan kaisar Wei yang kembali membaik, rencananya untuk membuat pangeran Rong menaiki takhta akan terhambat. Itu berarti permaisuri Lien tidak bisa mengambil alih kekuasaan tertinggi kerajaan MingQi.


Sebenarnya permaisuri Lien ingin menguasai kekuasaan tertinggi MingQi, ia hanya akan menjadikan pangeran Rong sebagai boneka dan pajangan karena sebenarnya permaisuri Lien-lah orang yang begitu berambisi besar merebut takhta dan kekuasaan tertinggi di kerajaan MingQi. Maka dari itu ia bekerja begitu keras dan melakukan berbagai macam cara untuk meraih apa yang ia inginkan.


Jika pangeran Rong menjadi kaisar, ia bisa memanipulasi anaknya. Ia bisa memimpin kerajaan MingQi lewat pangeran Rong. Ia bisa melakukan apa saja dengan memperalat pangeran Rong yang sejak awal hanyalah pion dan batu loncatan untuknya mencapai ambisi besarnya.


"Kau melakukan tugasmu dengan baik bukan?" Tanya permaisuri Lien dingin


"Ha-hamba melakukan se..sesuai apa yang anda perintahkan yang mulia" jawab pelayan itu takut - takut


"Lalu kenapa pria tua itu baik - baik saja?" Tanya permaisuri Lien dengan nada yang sama.

__ADS_1


"Ha.. hamba tidak tahu yang mulia, hamba hanya menjalankan tugas yang anda berikan. Hamba selalu membawa tonik yang anda kirimkan dan menaruhnya di meja yang ada dalam kamar yang mulia kaisar" jawab pelayan itu


"Tetap saja Ben Gong tidak suka, walaupun kau melakukan apa yang Ben Gong katakan. Tetap saja Ben Gong akan memberimu hukuman karena hal ini" tukas permaisuri Lien yang langsung membuat pelayan itu segera meminta pengampunan.


Permaisuri Lien sama sekali tidak mendengar pinta dan permohonan pelayan itu, ia dengan kejam memerintah kepala dayang menghukum pelayan itu dengan hukuman cambuk lima puluh kali.


.


.


.


Di sisi lain, tepatnya di kediaman keluarga Feng, Ai baru saja keluar dari kamarnya. Hari ini Ai mengenakan hanfu berwarna hijau muda tak lupa mengenakan mantel bulu domba putih yang tebal dikarenakan musim dingin akan segera tiba dan udara di ibukota MingQi mulai dingin.


Dihalaman barat di pavilium Lan, Guang telah menunggu nona mudanya bersama dengan pengawal baru yang di utus oleh kaisar Wei untuk membantu Guang menjaga Ai.


Pengawal baru Ai yang bernama Di Yu sebenarnya merupakan prajurit khusus yang dilatih secara khusus oleh putra mahkota Rui dan juga Yong. Namun tak ada yang mengetahui fakta itu kecuali putra mahkota Rui, Yong, kaisar Wei dan juga tangan kanan kaisar Wei, Lie.


"Siapa pemuda yang bersamamu Guang?" Tanya Ai yang kini melangkah mendekat kearah pengawalnya.


"Menjawab nona muda, pemuda di samping hamba merupakan pengawal baru yang di utus yang mulia kaisar Wei untuk menjaga anda" jawab Guang


Ai menghela nafas berat, pengawalnya kini bertambah satu orang lagi. Sampai kapan Ai bisa melakukan semua hal semaunya? Ai ingin bebas! Ai ingin melakukan semua hal yang ingin ia lakukan tanpa merasa adanya batasan, larangan dan segala peraturan ketat yang sangat membuatnya muak! Baik di masa depan ataupun masa lalu, mengapa selalu saja berakhir dengan seperti ini?


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


29 Oktober 2019


__ADS_2